8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 11: Tawa di Kamar Tiga Puluh


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


Gentabaya memimpin empat murid lelaki yang tingkatannya lebih rendah untuk memeriksa kamar-kamar, yang telah dipersiapkan sebagai tempat istirahat para tamu.


Hingga hari H-2 belum ada satu pun tamu yang datang. Diprediksi besok akan menjadi hari super sibuk, karena dipastikan besok para tamu agung akan berdatangan.


Demi acara besok lusa, Perguruan Bukit Dalam telah membangun enam rumah panggung panjang. Setiap rumah panggung berisi sepuluh kamar tamu, lebih banyak dari jumlah tamu undangan, dengan asumsi tidak semua tamu undangan akan datang.


Pemeriksaan itu dilakukan tepat setelah gelap, agar bisa mengecek pula berfungsinya dua dian dan satu obor setiap kamar di kala malam. Setelah dipastikan semua berfungsi, maka dian dan obor kembali dimatikan.


Kamar itu dirancang tertutup rapat dengan dinding berbahan papan tebal tanpa celah, satu jendela pada dinding belakang di buat agak lebar untuk memungkinkan angin berembus masuk menyejukkan. Di plafon kamar juga ada jendela yang bisa dibuka dan ditutup, tetapi tidak bisa berfungsi sebagai pintu darurat.


Jadi, isi rumah panggung itu seperti rumah kos-kosan dengan satu lorong lebar dan sepuluh pintu kamar. Setiap pintu kamar diberi nomor untuk memudahkan tamu menemukan kamarnya.


“Hahahak…!”


Tiba-tiba Gentabaya dan keempat juniornya dikejutkan oleh suara tawa keras terbahak dua orang lelaki. Tawa itu terdengar berkepanjangan dan sumbernya berasal dari kamar ujung yang belum mereka periksa, tepatnya di kamar nomor tiga puluh.


Kelima lelaki itu benar-benar terkejut. Pasalnya, mereka tahu betul bahwa keenam puluh kamar tamu belum satu pun yang terisi, karena memang belum satu pun tamu yang datang. Tidak mungkin ada tamu yang menempati kamar tanpa seizin tuan rumah.


“Bukankah belum ada tamu?” tanya Gentabaya kepada keempat rekannya.


Keempatnya menjawab dengan anggukan. Gentabaya lalu berjalan cepat menuju ujung lorong. Keempat juniornya segera mengikuti.


Koridor itu memiliki lebar yang memadai untuk dipakai berjalan orang banyak. Pada malam hari, ada enam obor yang dinyalakan untuk menerangi koridor.


“Hahahak…!”


Suara tawa dua orang tua itu terdengar berkepanjangan, seolah mereka sedang menertawai sesuatu yang sangat lucu.


Gentabaya dan keempat rekannya tiba di depan pintu kamar nomor tiga puluh. Sangat jelas bahwa suara tawa dua orang tua itu berasal dari balik pintu.


Sebab yakin bahwa orang di dalam kamar adalah tamu ilegal, Gentabaya langsung mendorong pintu. Pintu yang aslinya belum terisi oleh tamu pasti tidak terkunci. Ternyata benar, pintu kamar itu tidak dikunci. Mereka bisa langsung melihat ke dalam kamar yang gelap, kecuali cahaya obor dari depan kamar yang membias masuk.


Seiring terbukanya pintu kamar, suara tawa dua lelaki tua tadi langsung menghilang. Suasana berubah senyap seketika, bahkan tidak ada sisa suara tawa.


Werss!


Mendadak Gentabaya dan keempat temannya jadi merinding melihat kenyataannya kamar itu kosong, padahal jelas-jelas suara tawa itu berasal dari dalam kamar tersebut.


“Aku merinding,” ucap salah satu murid.


“Ada yang mau main-main dengan kita,” kata Gentabaya menyimpulkan.


“Lebih baik kita lapor Guru, Kang,” usul yang lain.


Gentabaya lalu menutup kembali pintu kamar tersebut.

__ADS_1


“Periksa dulu kamar yang tersisa!” perintah Gentabaya.


Mereka lalu meninggalkan depan kamar itu untuk memeriksa tiga kamar yang belum mereka cek perapiannya.


“Hahahak…!”


“Hihihik…!”


Tiba-tiba suara tawa kedua lelaki tua itu kembali terdengar meledak. Namun, kali ini ada suara tawa wanita yang menyertainya juga. Dari jenis suaranya, terdengar wanita itu belum tua, berbeda seperti suara tawa lainnya.


Alangkah terkejutnya Gentabaya dan keempat rekannya mendengar kemunculan suara itu lagi. Meski terkejut, Gentabaya cepat berlari ke pintu kamar tiga puluh dan langsung membuka pintunya.


Suasana seketika lengang tanpa tawa saat pintu dibuka. Tawa itu berhenti mendadak seperti ditebas putus oleh pedang. Kejadian itu membuat Gentabaya sebagai murid senior di tempat itu agak emosi. Jelas pemilik suara tawa itu bermaksud mempermainkan dia dan keempat rekannya.


Gentabaya melangkah masuk ke dalam kamar. Dia pergi menyalakan kedua dian dan sebuah obor di dalam kamar. Ketiga penerangan itu menyala normal. Kamar pun terlihat lebih terang. Suasana kamar terlihat normal tanpa ada tanda atau jejak aneh. Kamar itu rapi layaknya kamar yang belum ditempati oleh seseorang. Kasur dan bantal di atas ranjang kondisinya rapi sempurna seperti sebelumnya.


“Mohon maaf, Tetua! Siapakah kalian? Sudikah menunjukkan diri?” kata Gentabaya santun, meski di dalam hatinya ia merasa jengkel. Ia memandang berputar ke seantero kamar yang memang cukup besar.


Gentabaya dan keempat temannya yang berdiri di ambang pintu terdiam, seolah menunggu jawaban dari pihak yang ditanya. Namun, hingga sepuluh hitungan, tidak ada suara tawa lagi atau ada suara lain sebagai jawaban dari pertanyaan Gentabaya.


“Kalian periksa dulu kamar yang lain!” perintah Gentabaya kepada keempat rekannya. Sementara dia memilih tetap berdiri di dalam ruang kamar tersebut.


“Baik, Kang!” jawab mereka.


Keempat murid berbaju putih bercelana merah gelap itu bergerak pergi untuk menuntaskan tugasnya di tiga kamar lainnya. Gentabaya bergerak duduk di pinggiran ranjang. Pria berusia tiga puluh tujuh tahun itu masih mengawasi isi kamar.


Hingga akhirnya keempat murid datang kepadanya kembali, tidak ada kejadian aneh yang terjadi di dalam kamar.


Mereka pun keluar dari kamar.


Brek!


“Hehehek!”


Baru saja Gentabaya menutup pintu kamar dan tangannya belum lepas dari gagang pintu, tiba-tiba terdengar suara tawa cekikikan dua lelaki tua dan seorang perempuan di dalam kamar. Suara tawa mereka seperti sedang ditahan karena mereka tidak ketahuan wujudnya.


Gentabaya langsung saja mendorong pintu hingga terbuka separuh. Suara tawa itu kembali hilang seperti dipenggal golok algojo. Suasananya hening kembali.


Keempat murid junior Gentabaya semakin merinding dan takut. Entah setan atau manusia? Pikir mereka.


Akhirnya Gentabaya menutup pintu kembali.


“Hahahak…!” Suara tawa itu kembali meledak tanpa ditahan.


Kali ini Gentabaya tidak terpancing untuk membuka pintu. Ia abai. Ia memilih melangkah pergi meninggalkan depan kamar tersebut. Keempat rekannya buru-buru mengikuti.


Seturunnya dari rumah panggung panjang kokoh tersebut, Gentabaya memberi perintah kepada keempat juniornya.

__ADS_1


“Kalian lanjutkan memeriksa tiga rumah lainnya. Aku akan melapor kepada Guru tentang kejadian di kamar tiga puluh!”


“Tapi, Kang.... Jika suara tawa itu muncul lagi bagaimana?” tanya seorang dari mereka berat hati.


“Abaikan saja dan jangan lari!” jawab Gentabaya sambil melangkah pergi.


Keempat murid itu hanya bisa saling pandang dan kemudian pergi melaksanakan tugas dan perintah.


Daerah itu adalah sebuah dasar jurang yang dalam, dikelilingi oleh tebing batu yang tinggi dengan corak alaminya. Suasana dasar jurang yang tergelapkan oleh malam, tidak begitu gulita, karena banyak obor tersebar di berbagai tempat, bahkan hingga di dinding tebing yang tinggi ada sejumlah obor batu.


Suasana dasar jurang juga mendapat penerangan ekstra dari cahaya rembulan, yang semalam lagi akan mencapai kesempurnaan purnama. Pada malam purnama itulah akan berkumpul puluhan tokoh tua dan sakti pendekar aliran putih di tempat itu.


Di dasar Jurang Lolongan tersebut ada sebuah bukit batu campur tanah, yang puncaknya menjadi pusat Perguruan Bukit Dalam. Sementara keenam rumah panggung panjang terletak di sisi utara badan bukit.


Di sisi barat dasar jurang dan bukit ada celah tebing yang lebar, sebagai jalan terbuka kepada sebuah hutan yang lebat dan luas. Sementara dunia luar ada jauh di atas jurang sana.


Gentabaya pergi mencari di mana gurunya berada. Setelah bertanya kepada seorang murid yang bertugas sebagai pelayan kediaman pribadi gurunya, Gentabaya lalu pergi menuju ke kediaman pribadi gurunya, yang justru terletak di kaki bukit sebelah selatan.


Pemuda berpakaian putih-putih tersebut menuju ke sebuah rumah besar dan lebar yang bagus, berbahan batu dan kayu. Pada teras rumah yang cukup luas terlihat penerangan lebih terang dari malam biasanya.


“Hahahak…!”


Samar-samar Gentabaya mendengar suara tawa terbahak beberapa orang, termasuk suara tawa gurunya. Ada pula tawa beberapa wanita yang menyertai.


Semakin dekat kepada rumah gurunya, Gentabaya bisa melihat keberadaan sejumlah tamu yang sedang dijamu oleh gurunya.


Tamu pertama adalah seorang lelaki tua bertubuh besar lagi gemuk penuh lemak. Ia berjubah putih besar. Model wajahnya bulat, berambut putih dan memelihara jenggot putih. Ia tertawa hingga tubuhnya terguncang semua, sementara tangan kanannya memegang sebuah pisang besar yang sudah dikupas setengah bugil. Orang itu tidak lain adalah Ewit Kurnawa yang berjuluk Malaikat Kipas Putih.


Tamu kedua adalah seorang lelaki kurus berjubah hijau gelap. Rambutnya yang berwarna hitam dan putih digelung sederhana dan diikat dengan tali kulit pohon. Ia bernama Iblis Timur, berjuluk Malaikat Kipas Hijau.


Dan tamu ketiga adalah seorang wanita berjubah merah gelap. Fisiknya begitu jauh lebih muda dari kedua rekan lelaki tuanya. Wanita yang ditaksir berusia empat puluhan tahun itu masih memiliki kulit yang kencang seperti anak muda. Wajahnya mulus tanpa punya keriput atau kantung mata. Ialah yang bernama Minati Sekar Arum, berjuluk Malaikat Kipas Merah.


Ketiga orang inilah tokoh persilatan yang begitu melegenda. Selain kesaktiannya yang sulit dicari bandingannya, mereka juga adalah guru dari sejumlah tokoh tua persilatan. Guru Joko Tenang yang bernama Ki Ageng Kunsa Pari adalah salah satu muridnya. Bahkan mereka bertiga menjadi guru langsung dari Joko Tenang. Mereka dikenal dengan nama legendanya, yaitu Tiga Malaikat Kipas.


Ketiga orang sakti ini dijamu langsung oleh seorang lelaki tua serba putih. Rambutnya putih, penutup kepalanya kain putih, alisnya putih, kumis pendeknya putih, jenggot sedadanya putih, berbaju dan celana putih, bersabuk putih, dan berjubah putih. Kulit tubuhnya pun putih bersih. Namun, sepasang matanya seperti memiliki lapisan merah tipis, melapisi putih dan pupil matanya yang hitam. Ialah orang nomor satu di Jurang Lolongan dan di Perguruan Bukit Dalam. Namanya Ki Rawa Manggir dengan julukan populer Pendekar Ganesa Putih.


Di sisi kanan Ki Rawa Manggir duduk dua wanita usia tua yang adalah istrinya. Di sisi kirinya duduk dua wanita berusia separuh abad yang juga adalah istrinya. Ki Rawa Manggir selalu memiliki empat istri. Sudah tujuh wanita yang dia nikahi dalam hidupnya. Tiga istrinya yang lain sudah lebih dulu wafat.


Melihat tamu yang dijamu lengkap oleh Ki Rawa Manggir bersama keempat istrinya, menunjukkan bahwa tamu itu sangat agung, meski Gentabaya menilainya sangat berisik. Hal itu membuat Gentabaya ragu untuk menemui gurunya.


“Suara tawa ketiga orang itu seperti suara tawa yang ada di kamar tiga puluh…” pikir Gentabaya. “Jika memang mereka, lebih baik aku tidak buat masalah.”


“Ewit, lihat lelaki itu!” kata Minati Sekar Arum kepada kakek gemuk sambil melirik kepada Gentabaya yang berhenti agak jauh di depan rumah.


Ewit Kurnawa lalu menengok ke depan rumah. Demikian pula dengan Ki Rawa Manggir, keempat istrinya, dan Iblis Timur, mereka beralih memandang kepada Gentabaya.


“Ke marilah, Anak Muda!” panggil Ewit Kurnawa sambil melambaikan tangan kanannya.

__ADS_1


Cukup terkejut Gentabaya dipanggil datang.


“Ke marilah, Gentabaya!” panggil Ki Rawa Manggir juga seraya tersenyum. (RH)


__ADS_2