
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Yakin sudah bagi Tirana bahwa wanita yang ada di seberang kolam ikan itu adalah ibu dari suaminya. Ningsih memiliki bibir yang merah natural dan wajah cantiknya mirip dengan Joko Tenang.
“Hihihik…!” tawa Gurudi melihat pertemuan Ningsih dengan Tirana. Ia melompat-lompat kecil di tempat sambil tepuk-tepuk tangan tanpa suara.
Tirana langsung mengembangkan senyum yang menyejukkan mata kepada ibu mertuanya yang memandanginya tanpa berkedip. Ia berjalan memutari pinggiran kolam.
“Hormat sembahku, Ibu!” ucap Tirana sambil turun berlutut di depan kaki Ningsih yang agak bingung karena tidak mengenal wanita jelita itu.
“Ningsih Ningsih Ningsih! Tititi… Tirana adalah istrinya Jojojo… Joko!” kata Gurudi memberitahukan.
Terkesiaplah wajah cantik Ningsih Dirama. Seketika perasaan di dalam dadanya bergejolak emosional. Ia menangis saat itu juga.
“Kau, kau, kau istrinya anakku? Kau menantuku?” tanya Ningsih tergagap, seakan tidak percaya. Dia tinggal menunggu jawaban dari wanita jelita di depannya itu, maka ia akan memeluk habis Tirana.
“Benar, Ibu,” jawab Tirana seraya tersenyum dengan wajah sedikit mendongak.
“Menantukuuu!” pekik Ningsih Dirama sambil buru-buru mengangkat lengan Tirana agar berdiri. Lalu ia langsung memeluk Tirana begitu erat. Ia menangis syahdu dalam pelukan itu.
Tirana juga memeluk tubuh wanita yang baru pertama kali dijumpainya itu.
“Hihihik…!” Gurudi semakin gembira melihat adegan di depannya.
‘Siapa namamu, Nak?” tanya Ningsih dalam posisi masih memeluk erat Tirana.
“Tirana, Ibu,” jawab Tirana lembut.
“Di mana Joko? Di mana anakku?” tanya Ningsih sambil merenggangkan pelukannya dan menatap wajah jelita Tirana yang nyaman dipandang. Ia seperti seorang ibu yang begitu gembira karena pasti akan bertemu dengan putranya yang hilang lebih dua puluh tahun lalu.
“Kakang Prabu sedang beristirahat. Ia tidak bisa bebas bergerak karena orang-orangnya Prabu Raga mengawasi,” jawab Tirana.
“Joko…” sebut Ningsih lirih.
“Jika Ibu bersedia, aku bisa membawa Ibu menemui Kakang Prabu,” kata Tirana.
“Kakang Prabu? Kau menyebut anakku Kakang Prabu?” tanya Ningsih Dirama.
“Benar, Ibu. Joko Tenang sekarang adalah seorang raja. Kami datang untuk mendapat restu dari Prabu Raga karena Kakang Prabu ingin menikahi Putri Sri Rahayu,” kata Tirana.
“Menikahi Putri Sri. Tidak tidak tidak! Prabu Raga orang jahat!” kata Ningsih cepat dengan ekspresi yang berubah panik.
“Tapi Putri Sri bukan orang jahat, Ibu,” kata Tirana lembut. Lalu katanya lagi, “Kakang Prabu sudah tahu bahwa Prabu Raga adalah orang jahat dan licik. Ibu tidak perlu cemas, ya.”
“Tapi….”
“Ibu mau aku bawa menemui Kakang Prabu?” tawar Tirana.
__ADS_1
“Nanti saja. Aku sudah sangat bahagia mengetahui keberadaan Joko. Aku ingin mendengar cerita tentangmu dan putraku dulu. Ayo, Nak, kita berbincang di dalam,” kata Ningsih Dirama.
“Baik, Bu.”
“Kau cantik sekali, Tirana,” puji Ningsih sambil menyentuh pipi halus Tirana seraya tersenyum bahagia.
Tirana pun memberikan senyuman lembut kepada ibu mertuanya.
Mereka lalu berjalan bersama menuju ke rumah kayu yang megah. Gurudi mengikuti sambil melompat-lompat kecil seperti kelinci.
Ketika berjalan ke dalam rumah, Ningsih selalu memegang tangan Tirana seolah tidak mau berpisah dengan menantunya.
“Sudah berapa lama kalian menikah?” tanya Ningsih.
“Belum lama, baru sepurnama, Ibu,” jawab Tirana.
“Kenapa Joko masih mau menikah, bukankah dia sudah memiliki istri yang sangat cantik sepertimu, Tirana?”
“Ceritanya panjang, Ibu. Sekarang Kakang Prabu sudah memiliki tujuh orang istri,” kata Tirana.
“Apa?!” pekik Ningsih terkejut, sampai berhenti di ambang pintu rumah.
“Hihihik…!” Gurudi justru tertawa cekikikan lebih keras.
“Apakah Joko punya kelainan terhadap wanita?” tanya Ningsih dengan wajah mengerenyit kepada Tirana.
Untuk cerita lebih lengkapnya tentang penyakit Luluh Jantan yang diderita Joko Tenang dan proses penyembuhannya, dapat dibaca di novel sebelumnya, yaitu “Pendekar Sanggana”.
Sambil duduk santai di tepian ranjang yang berkasur empuk, Tirana menceritakan secara detail tentang Joko Tenang. Sementara Gurudi sibuk di dapur menyiapkan minuman untuk Tirana.
“Kau diutus langsung oleh Kang Mas Anjas?” tanya Ningsih lagi setelah mendengar bahwa Tirana diperintahkah khusus oleh Raja Anjas Perjana Langit untuk menjadi istri dan penjaga Joko Tenang.
“Benar, Ibu. Pagi ini, aku dan Kakang Prabu bertamu ke rumah Demang Yono Sumoto, yang kemudian kami ketahui bahwa ia adalah Kakek Kakang Prabu….”
“Kalian bertemu dengan ayahku? Bagaimana keadaan Bopo, Tirana?” tanya Ningsih begitu terkejut.
“Kondisi mereka baik-baik saja. Hanya Nenek yang kakinya lumpuh sebelah, tapi sudah aku obati,” kata Tirana.
“Tapi, kenapa demang? Bopo adalah seorang adipati.”
“Hal itu aku tidak tahu, Ibu. Sekarang giliran Ibu bercerita, kenapa Ibu bisa dipenjara seperti ini,” kata Tirana.
Dengan ekspresi sedih, mulailah Ningsih bercerita tentang dirinya yang memang dijodohkan untuk menjadi selir Prabu Raga Sata, kemudian ia diteluh lalu dibuang ke Hutan Angker, hingga akhirnya bertemu dengan Anjas Perjana yang berujung dengan perpisahan.
“Sebelum kedatangan Gurudi, Prabu Raga berhasil memperkosaku…. Hiks hiks hiks…!”
Pada cerita bagian itu, Ningsih Dirama menangis sesegukan, mengenang peristiwa mengerikan yang dialaminya. Cukup lama Ningsih larut dalam tangisan. Tirana memeluk ibu mertuanya guna memberi rasa nyaman.
__ADS_1
“Ketika aku memutuskan untuk bunuh diri pada suatu hari dua puluh tiga tahun yang lalu….”
“Hamba menghadap, Gusti Selir!” seru Panglima Siluman Pedang tiba-tiba berada di balik pintu kamar.
Ningsih Dirama yang saat itu telah menyangkutkan lehernya pada tali yang digantung di atas langit-langit, terkejut. Ia yang dalam kondisi wajah bersimbah air mata, buru-buru menarik kembali kepalanya keluar dari lingkaran tali.
“Ada apa?” tanya Ningsih dengan suara agak serak.
“Ada seorang cebol yang menyusup masuk ke Istana dan mengaku sebagai abdi setiap Gusti Selir. Namanya Gurudi!” lapor Panglima Siluman Pedang.
“Gurudi!” sebut Ningsih terkejut.
Ia buru-buru turun dari kursi tempat ia berdiri untuk gantung diri. Ia berlari ke pintu dan membukanya. Maka tampaklah sosok Panglima Siluman Pedang berdiri di depan pintu kamar Ningsih.
“Di mana Gurudi?” tanya Ningsih.
“Ada di pelataran Istana dalam kondisi hampir mati,” jawab Panglima Siluman Pedang.
“Katakan kepada rajamu, jika sampai Gurudi mati, aku pun akan mati saat ini juga!” teriak Ningsih penuh emosi bercampur tangis ketidakberdayaan.
“Baik, Gusti Selir,” ucap Panglima Siluman Pedang lalu berbalik pergi meninggalkan Ningsih yang berada di Istana Terlarang.
Ningsih pun melanjutkan ceritanya kepada Tirana.
“Bersyukur Gurudi bisa selamat setelah dikeroyok oleh orang-orangnya Prabu Raga. Keberadaan Gurudi yang membuatku membatalkan niat bunuh diriku. Akhirnya lahirlah adik tiri Joko, Aninda Serunai. Namun, Gurudi membawa pesan dari Kang Mas Anjas bahwa suamiku itu akan datang suatu hari nanti. Kang Mas Anjas tidak bisa menghadapi Kerajaan Siluman seorang diri. Namun, sebagai seorang raja, Kang Mas Anjas juga tidak mau mengorbankan banyak nyawa prajuritnya dengan peperangan antara dua kerajaan. Kang Mas Anjas pernah datang menyusup beberapa kali menemuiku, tetapi dia tidak bisa masuk ke Istana Terlarang ini, kami hanya bertemu di pintu halaman tanpa bisa bersentuhan. Kang Mas Anjas memintaku untuk terus bertahan dan bersabar, karena dia pasti akan membebaskanku.”
Ningsih Dirama mengakhiri ceritanya.
“Jadi, Raja Anjas sudah beberapa kali menyusup ke Istana ini?” tanya Tirana.
“Hihihik…!” Gurudi hanya tertawa.
“Prabu Raga tidak tahu bahwa Gurudi adalah prajurit setia Kang Mas Anjas. Aku mengancam Prabu Raga, jika dia menyakiti Gurudi, maka aku akan bunuh diri. Seiring waktu, Prabu Raga sudah tidak begitu peduli denganku, mungkin karena aku sudah semakin tua. Ia pun meyakini bahwa Gurudi adalah semata-mata abdiku dan selama di sini Gurudi tidak pernah berbuat masalah, padahal Gurudi sudah mengetahui hampir semua jalan rahasia di Istana ini,” jelas Ningsih Dirama.
“Ibu harus bersabar lebih dulu, sebab Kakang Prabu harus menyelesaikan rencananya lebih dulu. Jika aku menghilang dari sisi Kakang Prabu, Prabu Raga bisa menaruh curiga, dan itu justru akan membahayakan Ibu dan Kakang Prabu. Sebab, aku yakin Prabu Raga menaruh curiga kepada Kakang Prabu. Warna bibir dan kemiripan dengan Ibu membuat Kakang Prabu gampang dicurigai. Aku harus segera kembali kepada Kakang Prabu dan akan menceritakan semuanya. Aku harap Ibu sabar menunggu,” ujar Tirana. Lalu katanya tiba-tiba, “Ada yang datang!”
Terkejutlah Ningsih Dirama dan Gurudi. Mereka yakin, orang yang masuk ke Istana Terlarang adalah Prabu Raga Sata.
“Aku harus pergi, Ibu,” ucap Tirana sambil memegang kedua tangan mertuanya.
“Hati-hati, Nak,” pesan Ningsih Dirama lalu mengecup pipi kanan dan kiri Tirana.
Cup!
Tirana pun membalas dengan mengecup dahi mertuanya, memberikannya ilmu Kecupan Malaikat.
Bress!
__ADS_1
Tirana kemudian melepaskan ilmu Lorong Laba-Laba di dinding kamar. Ia lalu melesat masuk ke dalam jaring sinar merah. (RH)