8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 9: Ramainya Desa Lamongan


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


Joko Tingkir dan Putri Manik Sari akhirnya tiba di Desa Lamongan. Mereka melangkah memasuki desa.


“Desa ini ramai oleh orang-orang persilatan,” kata Putri Manik Sari mengomentari suasana desa di sore itu.


Keduanya memang melihat sejumlah orang berperawakan pendekar ada di desa itu. Ada yang sedang berjalan entah mau ke mana, ada yang sedang bersantai di balai-balai rumah warga, ada yang sedang berbicara dengan warga pemilik rumah, dan ada yang sedang berkopi di warung kecil.


Khusus di warung, semua pelanggan yang adalah orang persilatan, padat berkerumun, tidak mengindahkan protokol kesehatan jaga jarak.


Sejumlah warga desa pemilik rumah terlihat bekerja sedang membenahi beberapa bagian rumahnya, agar terlihat lebih bagus dari sebelumnya.


“Rumah ini masih kosong! Ada dua kamar! Harga semalam diberi murah! Pelayanan sepanjang malam!” teriak seorang warga lelaki kepada khalayak yang melintas di jalan depan rumahnya.


“Satu kamar lagi masih tersisa! Pendekar, jagoan dan jawara, satu kamar lagi! Pelayanan memuaskan! Jika tidak puas, silakan pergi!” teriak warga pemilik rumah yang lain.


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir mendengar teriakan penawar kedua. Sambil tertawa ternyata tangan kanan Joko Tingkir bergerak senyap memegang tangan Putri Manik Sari yang berjalan di sisinya.


Mendelik sang putri saat merasakan tangannya digenggam. Ia memandang Joko Tingkir yang tertawa seolah pura-pura tidak mengerti maksud tatapannya.


Bress!


“Akk!” jerit Joko Tingkir sambil cepat menarik tangan kanannya, karena tiba-tiba tangan Putri Manik Sari yang digenggamnya mengeluarkan api untuk sejenak.


“Jangan lancang! Ini tangan seorang putri!” ketus Putri Manik Sari seraya tersenyum sinis.


“Dia lupa bahwa akulah dewa penolongnya,” gerutu Joko Tingkir berbicara kepada dirinya sendiri, tapi bermaksud memperdengarkannya kepada sang putri.


“Urusan menolong adalah adab sebagai manusia, tidak ada hubungannya dengan pegang-pegang!” kata Putri Manik Sari.


“Iya, aku tidak akan memegangmu lagi, kecuali kau yang memegangku,” kata Joko Tingkir.


Tak!


“Aww!” pekik Joko Tingkir lagi tiba-tiba, setelah ada suara nyaring di kepalanya.


Lalu terlihat ada sebutir batu sebesar jempol jatuh ke tanah. Joko Tingkir memegangi kepalanya sambil cepat menengok ke belakang. Putri Manik Sari juga cepat menengok ke belakang.


Mereka berdua melihat seorang nenek berjubah kuning yang pinggangnya dililit oleh lingkaran bambu kuning. Nenek yang masih sehat bugar itu tidak lain adalah Emping Panaswati, yang lebih terkenal dengan julukan Nenek Tongkat Lentur.


“Kau melemparku, Nenek Tongkat Lentur?” tanya Joko Tingkir kepada si nenek sambil mengusap-usap kepalanya.


“Hihihi! Jangan bangga mengaku sebagai murid Ki Sombajolo jika dilempar batu sekecil itu kau menangis, Tingkir!” kata Emping Panaswati menertawakan.


“Aku tidak menangis, Nek. Hanya sakit!” gerutu Joko Tingkir.

__ADS_1


“Kau harus malu meringis di depan kekasih secantik ini, Tingkir!” kata Emping Panaswati.


Disebut “secantik ini”, Putri Manik Sari hanya tersenyum sedikit malu. Ia tidak mengenal siapa nenek itu, bahkan julukan ternamanya ia tidak pernah dengar.


“Kau tidak bersama gurumu?” tanya si nenek.


“Tidak. Guru langsung dari perguruan, aku sebelumnya kelayapan dulu, dan paman Gujara berangkat dari Pantai Garis Hitam,” jawab Joko Tingkir.


“Aku tidak habis pikir, katanya pertemuan rahasia, tapi kenapa begitu banyak orang-orang persilatan yang tidak jelas asal-usulnya mau pergi ke Jurang Lolongan,” kata Emping Panaswati yang sudah akrab dengan Joko Tingkir.


“Mungkin mereka mau pergi ke Gua Lolongan, bukan ke Jurang Lolongan, Nek,” kata Joko Tingkir.


“Hah? Ke Gua Lolongan? Siapa orang yang begitu kurang ajar mengadakan acara jaipongan di dekat Jurang Lolongan di saat yang bersamaan?!” kata Emping Panaswati sewot.


“Tenang, Nek. Itu bukan acara jaipongan. Hahaha!” kata Joko Tingkir lalu tertawa sendiri.


“Kalau bukan acara jaipongan, lalu acara apa, hah?!” tanya si nenek agak membentak.


“Kami juga tidak tahu. Nenek bisa tanya langsung kepada mereka,” kata Joko Tingkir.


“Untuk apa bertanya kepada mereka? Aku akan pergi melihat langsung ke sana. Ah, aku tadinya mau menawarkanmu gadis cantik untuk calon istri, Tingkir. Tapi aku lihat kau sudah punya yang baru lagi. Kau pasti berharap aku cepat pergi karena merasa kemesraanmu terganggu!” kata Emping Panaswati.


“Hahaha! Hati-hati, Nek!” ucap Joko Tingkir yang hanya tertawa mendengar kata-kata Nenek Tongkat Lentur.


“Pasti gadis cantik itu kenal Tingkir di jalanan. Dia tidak tahu kalau Tingkir itu gampang ganti-ganti perempuan,” celoteh Emping Panaswati kepada dirinya sendiri seperti bintang sinetron, sambil berjalan.


Joko Tingkir dan Putri Manik Sari masih bisa mendengar dengan jelas celotehan si nenek. Putri Manik Sari mendelik menatap Joko Tingkir, minta penjelasan.


“Kenapa kau menatapku seperti itu, Putri?” tanya Joko Tingkir pura-pura tidak mengerti.


“Aku mendengar apa yang dikatankan oleh nenek itu,” jawab Putri Manik Sari.


“Aku tidak jelas mendengarnya. Nenek Tongkat Lentur memang suka menceracau tidak jelas jika jalan seperti itu. Makannya dia suka mencari teman seperjalanan,” kelit Joko Tingkir. “Ayo kita mencari tempat menginap yang bagus. Tentunya seorang putri tidak pantas menginap di rumah warga seperti itu.”


Joko Tingkir berjalan lebih dulu. Putri Manik Sari pun kemudian mengikutinya.


Ternyata, semakin mereka masuk ke pusat desa, suasana semakin ramai oleh para pendekar, bahkan ada yang bergerombol dan berseragam. Mereka bukan PNS, tetapi mereka adalah murid-murid dari sebuah perguruan.


Di pusat Desa Lamongan ada sebuah rumah makan besar yang sebelahnya dilengkapi dengan penginapan sederhana, tetapi cukup besar dengan areanya yang cukup luas.


Rumah makan besar itu tampak penuh oleh pengunjung yang mungkin semuanya adalah kalangan pendekar. Benar-benar seperti ada acara besar yang semua pesertanya adalah para pendekar dari segala golongan.


Di halamannya ada banyak kuda milik para pendekar yang tertambat. Sedemikian penuhnya, bahkan sejumlah pendekar memilih makan di luar karena tidak ada tempat duduk kosong. Banyaknya pendekar yang baru tiba di desa itu, rumah makan dan penginapan tetap ramai meski sebentar lagi matahari terbenam.


Joko Tingkir dan Putri Manik Sari memasuki pintu lebar rumah makan itu. Mereka berhenti untuk mencari lihat apakah ada meja yang masih kosong pengunjung.

__ADS_1


Seorang pelayan lelaki segera datang bersama senyumnya, menyambut kedatangan Joko Tingkir dan Putri Manik Sari.


“Selamat datang di Rumah Makan Nyi Blotot, Den Pendekar. Tapi maaf, semua meja terisi. Jika Aden berdua sudi menunggu, akan segera aku beri tahu,” kata pelayan itu menyapa dengan ramah.


“Baik, kami akan menunggu,” kata Putri Manik Sari.


“Aku tinggal sebentar, Den Pendekar,” kata pelayan itu sambil membungkuk merendah diri.


Namun, ketika pelayan itu baru berbalik hendak pergi, tiba-tiba ia berbalik lagi menghadap kepada Joko Tingkir dan Putri Manik Sari.


“Den Pendekar, di sebelah kanan ada yang sudah selesai!” kata pelayan itu bersemangat. “Mari, sebelum ada yang mendahului!”


Joko Tingkir dan Putri Manik Sari segera mengikuti pelayan itu ke arah sisi kanan rumah makan tersebut.


Terlihat ada dua orang pendekar lelaki yang bangkit dari duduknya, setelah mereka usai bersantap besar. Mereka berjalan ke arah kasir yang posisinya dijaga oleh seorang pendekar muda lagi tampan.


Pelayan yang menuntun Joko Tingkir dan Putri Manik Sari segera membereskan sisa makan di meja yang telah ditinggalkan. Dengan sehelai kain yang dibawanya, pelayan itu mengelap permukaan meja hingga bersih. Seiring itu, Joko Tingkir dan Manik Sari duduk lesehan di sisi meja.


“Mau pesan apa, Den Pendekar?” tanya si pelayan yang cekatan itu. Pelayan di rumah makan itu akan mendapat bonus khusus dari majikannya dengan menghitung berdasarkan jumlah pelanggan yang mereka layani.


“Siluman Gendut! Kau harus pertanggungjawabkan perbuatanmu!” teriak kencang seorang wanita tua tiba-tiba yang mengejutkan semua orang di tempat itu.


Seorang lelaki bertubuh gendut berbaju longgar warna biru terang yang sedang makan dengan lahap, terkejut karena namanya dipanggil dengan kasar. Lelaki gendut berambut gondrong yang diikat sederhana dengan pita putih itu tidak lain adalah Siluman Gendut, pemimpin pemberontak di Kadipaten Repakulo.


Teriakan itu juga mengejutkan teman Siluman Gendut yang adalah seorang lelaki berpakaian hitam. Ia bersenjatakan pedang pada pinggangnya. Ia adalah Sepa Maraga, pengawal Siluman Gendut.


Wut wut brakr!


Sebatang tongkat kayu berputar-putar melesat di udara. Lalu kepala tongkat itu menghantam hancur meja makan tempat Siluman Gendut dan Sepa Maraga bersantap senja.


Namun, sebelum meja itu hancur bersama hindangannya, kedua lelaki itu sudah sama-sama melompat mundur dan mendarat di lantai yang kosong. Meski gendut, tampak sekali Siluman Gendut memiliki gerakan yang tangguh, baik ketika melompat dan ketika mendarat yang langsung pasang kuda-kuda.


Tongkat yang menyerang mendadak melesat sendiri ke udara lalu disambar oleh sosok berjubah cokelat. Sosok itu mendarat pula di lantai rumah makan di antara keberadaan para pengunjung.


Orang bertongkat itu adalah seorang nenek yang rambut putihnya digelung rapi. Ia tidak lain adalah Muni Kelalap, kekasih Domba Hidung Merah. Sebelumya Muni Kelalap adalah anggota Kelompok Tinju Dewa pimpinan Siluman Gendut.


Semua mata kini tertuju kepada ketiga orang yang sedang bersitegang tersebut. Sementara para pelayan rumah makan tidak peduli dengan apa yang terjadi. Mereka tetap fokus bekerja cepat dalam melayani para pelanggan yang menunggu demi meraih bonus besar. (RH)


 


****************************


CATATAN:


Di seasson ini READERS akan disuguhkan banyak nama tokoh baru dan lama, harap READERS lebih bersabar jika terpapar kepusingan karena faktor bingung mengingat nama2 itu. Mohon maaf sebelumnya dari AUTHOR.

__ADS_1


__ADS_2