8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 9: Pendekatan Petra Kelana


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Pemuda berbaju putih dan bercelana putih berjalan mendekati Murai Manikam yang baru saja bekerja keras membuat liang.


Wuss!


Murai Manikam yang menangkap warna pakaian putih dengan ujung matanya, cepat berbalik dan langsung melepaskan angin pukulan berbahaya.


Pemuda yang diserang cepat meloncat tinggi, membuat angin pukulan berbahaya tersebut lewat di bawah kaki si pemuda.


“Kenapa kau menyerangku, Nisanak Cantik?” tanya si pemuda seraya tersenyum saat mendarat. Pertanyaannya membuat lidahnya sekilas terlihat putih seputih kapas.


Murai Manikam langsung bisa mengenali pemuda berikat kepala pita panjang warna merah terang itu. Dua ujung pitanya panjang sampai ke bokong. Pemuda itu ada di antara tokoh-tokoh tua sakti aliran putih saat pertemuan di Jurang Lolongan.


“Oh, aku kira tiga nenek yang membunuh Nenek Emping. Maaf!” kata Murai Manikam.


“Kenapa Emping Panaswati bisa mati seperti ini?” tanya pemuda berlidah putih itu.


“Saat aku tinggalkan sendiri, Nenek Emping dikeroyok tiga orang nenek, Kisanak,” jawab Murai Manikam.


“Namaku Petra Kelana atau Pangeran Lidah Putih. Bukankah kau waktu itu datang bersama para permaisuri? Aku kira kau juga salah satu dari permaisuri Raja Joko,” kata Petra Kelana, tanpa begitu terkejut menyikapi kematian Emping Panaswati.


“Aku Murai Manikam, murid Putri Bibir Merah. Aku belum menjadi istri Prabu Dira,” kata Murai Manikam.


“Oh, belum? Berarti nanti akan, ya?” kata Petra Kelana sambil tersenyum memamerkan gigi putih bersih dan rapinya.


Murai Manikam hanya tersenyum kecil.


“Lima belas jari menapak bumi,” baca Petra Kelana saat melihat kalimat darah di pakaian mayat Emping Panaswati.


“Aku tidak tahu maksud dari kata-kata itu,” kata Murai Manikam.


“Hmm, aku jadi penasaran. Aku jadi ingin tahu apa maksud tulisan itu. Tidak mungkin tulisan itu dibuat jika tidak ada maksud. Jelas itu pesan bagi orang yang menemukan mayat ini,” ucap Petra Kelana sambil berpikir.


Petra Kelana lalu berjongkok di sisi mayat untuk melihat luka pada leher Emping Panaswati.


“Mayatnya beracun, Petra,” kata Murai Manikam yang menyangka pemuda itu lebih muda darinya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, aku kebal terhadap racun,” kata si pemuda sambil tersenyum manis kepada Murai Manikam. Lalu katanya, “Lukanya seperti tusukan jari, tetapi lingkaran lubangnya lebih halus. Ini ditusuk oleh sebuah benda, bukan jari tangan. Sebagai orang yang mengetahui banyak jenis racun, aku pernah mencium jenis racun ganas ini, tapi aku perlu mengingat-ingatnya dulu karena ini racun yang langka. Jika aku ingat nama racunnya, aku pasti tahu siapa pembunuhnya.”


“Pembunuhnya tiga orang nenek,” kata Murai.


“Tiga nenek ya. Yang aku kenal adalah Tiga Nenek Centil, tapi mereka tidak memiliki racun seperti ini, kecuali aku memang tidak tahu,” kata Petra Kelana. “Biar aku yang menguburkannya.”


“Terima kasih,” ucap Murai seraya tersenyum.


“Sudah sewajarnya lelaki yang bekerja, tidak pantas rasanya jika gadis cantik harus bekerja dan berkotor-kotor,” kata Petra Kelana seraya tersenyum lebih lebar, memperlihatkan gigi kemilaunya.


Murai semakin tersenyum malu.


Petra Kelana yang mengaku kebal terhadap racun dengan mudah mengurusi pemakaman bagi Emping Panaswati.


“Aku harus kembali ke kediaman guruku,” ujar Murai Manikam setelah pemakaman selesai.


“Apakah aku boleh ikut? Aku rindu kepada Anai Layang,” kata Petra Kelana.


“Kau mengenal baik guruku, Petra?” tanya Murai dengan kedua alis yang naik.


“Iya. Kami akrab, sahabat lama. Bahkan dulu aku hampir menjadi kekasih gurumu,” kata Petra Kelana dengan tetap murah senyum.


“Hahaha!” tawa Petra Kelana agak panjang. “Aku mengerti keterkejutanmu, Murai. Pasti kau menyangka aku semuda wajahku yang tampan ini. Ketahuilah, usiaku itu jauh lebih tua dari gurumu, Murai.”


“Hah! Jadi kau sebenarnya kakek-kakek?” tanya Murai dengan wajah mengerenyit terkejut.


“Eeeh! Umurku memang tua, tetapi semua anggota tempurku masih perjaka tulen dan kekencangannya bisa dibanggakan,” kata Petra Kelana jumawa.


“Hihihi…!” gelak Murai Manikam sambil membekap mulutnya dengan telapak tangannya.


“Kenapa kau tertawa sekencang itu? Menertawakanku, ya?” tanya Petra Kelana pura-pura merengut dengan lirikan yang lucu.


“Aku malu mendengar perkataanmu,” kata Murai Manikam seraya senyum-senyum malu.


“Hahaha! Maafkan aku!” ucap Petra Kelana sambil tertawa rendah dan salah tingkah. Jiwa mudanya seolah telah kembali ke raganya usai menghilang sedemikian lama.


“Tidak apa-apa, Kek,” kata Murai.


“Eh eh eh! Jangan panggil aku Kakek. Nanti orang-orang tidak akan percaya!” sergah Petra Kelana cepat. “Cukup kau panggil aku Petra, agar kita lebih akrab.”

__ADS_1


“Hihihi!” tawa Murai. “Tapi maaf, Petra, aku tidak bisa mengizinkanmu ikut ke kediaman Guru tanpa seizinnya lebih dulu.”


“Oh, baiklah. Namun, sebelum kita berpisah, aku ingin mengajakmu makan bersama lebih dulu. Kau pasti belum makan hari ini?” kata Petra Kelana.


“Tapi…” ucap Murai ragu.


“Tidak apa-apa. Menolak kebaikan orang itu tidak baik, menyenangkan hati orang itu mulia,” kata Petra Kelana.


“Baiklah,” ucap Murai Manikam akhirnya.


“Kita pergi ke desa terdekat,” kata Petra Kelana.


Kedua insan berbeda jenis itu lalu meninggalkan makam Emping Panaswati. Murai hanya memberi tanda khusus pada sisi kepala makam agar kelak ia tidak lupa.


Hati Murai Manikam tidak begitu terpukul dengan tewasnya Emping Panaswati, karena kedekatannya dengan bibi dari gurunya itu tidak seakrab gurunya, hanya sebatas tahu bahwa ia adalah kerabat gurunya.


Menjelang senja, barulah mereka menemukan sebuah desa terdekat. Mereka mampir ke sebuah kedai sederhana di pinggir jalan desa.


Meski sudah kenyang dengan asam garamnya rasa cinta, Petra Kelana tetap saja merasa bahagia bisa berteman dengan seorang gadis cantik. Urusan dia agak lebih dewasa usianya, itu perkara keseratus satu. Pikirnya, setidaknya hingga malam hatinya bisa bahagia.


Berjalan pergi hanya berdua dengan seorang pemuda adalah perkara pertama kali bagi Murai Manikam. Karena itu, rasa berdebar-debar kerap melanda jantungnya, terlebih jika ada sentuhan-sentuhan kulit yang terjadi karena faktor ketidaksengajaan, bukan faktor X.


Di saat mereka sedang makan, tiba-tiba sejumlah warga desa berlarian ke satu arah.


“Ada mayat! Ada mayat!” teriak sejumlah warga gempar.


“Ada apa toh, Kang?” tanya ibu pemilik kedai dengan wajah yang mengerenyit terlebih dulu.


“Itu loh, Nyi. Warga menemukan mayat pendekar di sumur belakang rumah penginapan!” kata warga lelaki dengan wajah begitu serius, seolah kematian itu menimbulkan kegawatan bagi warga sekampung.


“Pendekar itu selalu aneh-aneh, mati saja pilihnya di sumur!” rutuk ibu pemilik kedai.


“Kami juga pendekar, Nyi!” sahut Petra Kelana yang sedang menekuni makanannya.


“Hehehe, iya!” ucap ibu pemilik kedai sambil tersenyum sapi.


“Apakah tidak sebaiknya kita melihat siapa pendekar yang mati itu, Petra?” usul Murai.


“Pendekar mati di masa dunia persilatan seperti ini sudah hal biasa. Tidak perlu dihiraukan,” kata Petra Kelana yang tidak mau terusik kebersamaannya dengan Murai Manikam. (RH)

__ADS_1


__ADS_2