
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Pagi-pagi, banyak hati lelaki yang berbunga-bunga, berdesir-desir indah hingga bahagia. Meski hanya bisa memandang, tidak apa-apa. Setidaknya itu bisa menjadi inspirasi bagi khayalan indah untuk hari-hari ke depannya.
Itulah suasana hati sejumlah pendekar lelaki ketika mereka melihat wajah-wajah jelita dari para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil.
Saat para pendekar itu sedang berjalan menuju Gua Lolongan, mereka dilewati oleh sebuah rombongan besar yang dipimpin oleh enam wanita jelita. Lima berkendara serigala, satu berkendara kuda. Selebihnya adalah tujuh belas pendekar Pasukan Pengawal Bunga.
“Bidadari-Bidadari,” ucap beberapa pendekar lelaki saat melihat keindahan sebening embun di pagi hari.
Namun, mereka hanya bisa menikmati dengan pandangan saja. Pendekar sakti mana yang berani mengusik atau bersikap sok kenal dengan para jelita itu, yang dikawal oleh rombongan besar, terlebih akan ngeri jika melihat besarnya serigala yang mereka tunggangi.
Ketika mereka sampai pada jalan yang menanjak tinggi berbatu seperti tebing miring, kuda-kuda harus ditinggalkan dan ditambatkan pada tempat yang kira-kira aman. Berbeda dengan kelima serigala yang bisa menempuh medan apa saja.
Permaisuri Tirana yang awalnya berkuda, ikut di punggung Satria, duduk di belakang Sandaria. Pasukan Pengawal Bunga kini berjalan kaki mengikuti para serigala yang memutuskan berjalan biasa saja.
Pada salah satu tempat dari jalan menuju Jurang Lolongan atau Gua Lolongan, tampak Joko Tingkir alias Pangeran Perkasa Dunia, sedang asik duduk di atas dahan pohon yang tinggi. Ia menikmati pemandangan para pendekar yang melintas. Sejumlah pendekar ia kenal, tetapi ia tidak berniat untuk menyapa mereka. Joko Tingkir hanya berniat untuk menikmati kecantikan para pendekar wanita muda yang melintas.
“Eeeh!” dengung Joko Tingkir terperangah dengan mata melebar dan bibirnya ternganga. Barulah ia tersadar dari keterpanaannya saat ada setetes air liur terjun bebas dari bibir bawahnya.
Buru-buru Joko Tingkir yang tampan itu menutup bibirnya dan mengusapnya dengan lengan baju kanannya. Itu sampai terjadi karena Joko Tingkir memandangi lima wanita muda nan jelita yang melintas di bawah sana.
“Bidadari dunia!” ucapnya seraya tersenyum sendiri. Entah apa yang sedang ia gambarkan di dalam otaknya.
Namun, mendadak wajah Joko Tingkir berubah serius dan keningnya berkerut. Ia fokus memandangi Kerling Sukma yang menunggangi Bulan, serigala berbulu putih bersih bermata merah.
“Seperti kenal,” ucap Joko Tingkir lirih kepada dirinya sendiri.
Joko Tingkir lalu naik berdiri dari duduknya. Selanjutnya ia berkelebat cepat di udara untuk turun menghadang rombongan itu. Ia ingin memanggil wanita yang pernah dikenalnya, tetapi ia lupa namanya.
Set!
Karena datang tiba-tiba dari samping atas, Bo Fei sebagai salah satu Pengawal Bunga melesatkan pedang terbangnya.
“Waw!” pekik Joko Tingkir terkejut saat tahu melihat serangan pedang itu.
Sing!
Dari pada mati muda dan belum kawin, Joko Tingkir cepat menangkis pedang Bo Fei dengan tangan yang bersinar putih seperti lampu neon. Dengan tangkisan itu membuat tangan Joko Tingkir tidak terluka dan pedang Bo Fei melesat ke lain arah, lalu pulang kepada tuannya.
__ADS_1
Jleg!
Ketika Joko Tingkir mendarat di tanah jalan depan rombongan, enam pendekar Pengawal Bunga langsung berkelebat maju dan mengepung posisi Joko Tingkir.
Gerrr!
Satria yang berjalan paling depan bahkan maju menggeram setengah depa di depan wajah Joko Tingkir.
Pemuda tampan itu hanya bisa pejamkan mata sambil mengerenyit ngeri. Di dalam dadanya, jantungnya berdetak empot-empotan.
“Tahan!” seru Kerling Sukma dan Kusuma Dewi bersamaan.
Kekompakan itu membuat Kerling Sukma dan Kusuma Dewi saling pandang, seolah ada pertanyaan yang tidak tertanyakan.
“Aaah! Kusuma Dewi!” pekik Joko Tingkir terkejut senang sambil menunjuk Kusuma Dewi. Sebab, tadi ketika di pohon, dia tidak mengenali, hanya mengenali Kerling Sukma yang ia lupa namanya.
Sebagai seorang permaisuri di antara para permaisuri besar lainnya, Kusuma Dewi menahan diri untuk tidak heboh karena senang bertemu sahabat lamanya. Ia hanya tersenyum lebar melihat reaksi Joko Tingkir.
“Biarkan dia!” perintah Kerling Sukma kepada keenam Pengawal Bunga yang maju mengepung Joko Tingkir.
“Baik, Gusti Permaisuri!” ucap keenam Pengawal Bunga serentak sambil menjura hormat. Mereka kemudian melangkah pergi meninggalkan Joko Tingkir yang tetap berhadapan dengan Satria, yang di atasnya duduk Tirana dan Sandaria.
Joko Tingkir hanya bisa mendelik mendengar sebutan “Gusti Permaisuri”. Dan untuk menenangkan jantungnya, Joko Tingkir memilih mundur beberapa tindak sambil tersenyum kambing.
“Hahaha!” tawa Joko Tingkir dengan maksud menenangkan dirinya. “Justru aku berani menghadang kalian karena kau. Tapi aku lupa namamu. Memalukan, aku yang tampan selangit ini sampai lupa nama orang cantik.”
“Hihihi!” tawa rendah Tirana, Sandaria dan Kusuma Dewi.
“Setelah mendarat, aku baru tahu bahwa ada Kusuma Dewi juga. Hahaha! Alangkah senangnya hatiku bertemu dengan dua gadis cantik yang dulu pernah aku harapkan menjadi kekasihku. Mudah-mudahan belum terlambat,” cerocos Joko Tingkir di selingi tawa-tawa keakraban.
“Hihihi…!” tawa Sandaria kencang sendirian. Ia menilai Joko Tingkir lucu. Lalu katanya, “Dia masih berharap. Apa daya, yang diharap kini jadi istri orang. Hihihi…!”
“Hah!” kejut Joko Tingkir. Ekspresinya mendadak berubah sedih tanpa air mata buayanya.
Sandaria dan Tirana justru menertawakan kesedihan Joko Tingkir.
“Kusuma Dewi, daaan…” ucap Joko Tingkir sambil berpikir dan menunjuk Kerling Sukma.
“Kerling Sukma!” sebut Tirana.
“Aaa, iya iya iya. Kerling Sukma, mantan kekasih ingusan si Joko Tenang. Hahaha!” pekik Joko Tingkir teringat lalu tertawa santai. Lalu tanyanya, “Kusuma, Kerling, apakah di antara temanmu ini ada yang belum punya suami? Atau belum punya kekasih?”
__ADS_1
“Hihihi…!” tambah meledak tawa Sandaria.
“Lelaki seperti ini perlu dikubur hidup-hidup!” celetuk Yuo Kai yang selama ini lebih banyak diam.
“Hihihi!” tawa kelima permaisuri lainnya.
Terkejutlah Joko Tingkir mendengar perkataan Yuo Kai.
“Joko Tingkir! Aku bukan mantan Joko Tenang, karena sekarang aku adalah istri Joko Tenang!” kata Kerling Sukma.
“Hah!” kejut Joko Tingkir. “Lalu kau, Kusuma? Kau menikah dengan siapa?”
“Aku menikah dengan cinta masa laluku. Aku menikah dengan Joko Tenang,” jawab Kusuma Dewi.
“Appa?!” pekik Joko Tingkir lebih keras karena lebih terkejut. “Apa-apaan ini? Bagaimana bisa Joko Tenang menikahi kalian berdua sekaligus? Wah, si Joko, benar-benar anak itu. Tega sekali dia menyakiti hati kalian berdua. Awas kalau bertemu, aku hajar bolak-balik si Joko itu!”
“Aku ingin lihat, sesakti apa orang yang ingin menghajar bolak-balik suamiku,” kata Tirana dingin.
“Istrinya Joko juga?” tanya Joko Tingkir seakan tidak percaya.
Jleg! Wuss!
Tirana sudah mendarat beberapa langkah di depan Joko Tingkir. Seiring itu, ada gelombang angin halus yang menerpa tubuh Joko Tingkir.
Joko Tingkir terkejut bukan main. Sebab, ia tidak bisa bergerak sedikit pun, kecuali wajah dan gerakan mata.
“Apa yang ingin kau lakukan, Cantik?” tanya Joko Tingkir dengan mata yang nyalang.
“Namaku Tirana. Istri kedua Joko Tenang. Aku hanya ingin tahu, apakah Joko Tingkir ini bisa sehebat mulutnya, sehingga mau menghajar suami kami bolak-balik!”
“Apa sebenarnya yang terjadi? Mudah-mudahan aku segera terbangun dari mimpi buruk ini!” ucap Joko Tingkir bingung.
“Hihihi…!” tawa Sandaria tanpa henti mengetahui kondisi tersudut Joko Tingkir yang katanya sahabat kental suami mereka. (RH)
***************************
DEMI 3 CHAPTER
Bulan ini Author merasa dirugikan oleh sistem di MT. Meski sudah kejar target per bulan, tetapi Level Karya justru turun satu tingkat, sehingga Author tidak dapat apa-apa dari novel ini di bulan ini, kecuali rupiah dari view pembaca.
Author ingin mencoba atur strategi agar sehari dapat 3 chapter. Namun, agar itu bisa terwuju, Author akan membatasi jumlah kata pada setiap chapter sekitar seribu.
__ADS_1
Jadi, Author mohon maaf kepada Readers, jika setiap chapter ke depannya akan terasa pendek. Harap maklum.