8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 18: Mengeroyok Sang Ketua


__ADS_3

*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


Baks!


Ki Rawa Banggir menghantamkan telapak tangannya ke tanah berbatu. Dari titik hantaman itu melesat gelombang sinar merah ke segala arah. Transfernya begitu cepat sehingga sulit dihindari oleh sepuluh pendekar siluman yang datang menyerang dari segala penjuru.


Sepuluh pendekar itu terpental terjengkang, bahkan beberapa sampai jatuh berguling-guling menuruni kemiringan bukit batu itu.


Namun, setelah itu, puluhan pendekar siluman berlompatan sambil melesatkan sinar ilmu masing-masing kepada Ki Rawa Banggir, termasuk Siluman Raksasa.


Zes zes zes…!


Blar blar blar…!


Siluman Raksasa langsung melepaskan sepuluh sinar kuning menyilaukan, ditambah lagi sinar warna-warni dari para pendekar siluman yang lain.


Serangan massal yang tidak tanggung-tanggung itu, membuat Ki Rawa Banggir hanya bisa melindungi dirinya dengan kurungan lapisan sinar merahnya. Ledakan-ledakan dahsyat beruntun terjadi di luar lapisan sinar merah. Banyaknya serangan membuat Ki Rawa Banggir harus merasakan guncangan keras di dalam bentengnya itu.


Swet! Sess! Suit…!


Blar blar blar…!


Belum lagi hening pascaledakan berbagai tenaga sakti ilmu itu, sudah datang kembali belasan sinar ilmu dengan berbagai wujudnya. Kembali menghujani perisai Ki Rawa Banggir, seolah tidak mau memberi kesempatan kepada orang tua itu untuk balas menyerang.


Ledakan-ledakan itu bahkan mengguncang bukit batu tersebut. Sementara di dalam kurungan sinarnya, wajah Ki Rawa Banggir mulai mengerenyit.


“Jika diserang tanpa henti, ilmu bentengku tidak akan sanggup bertahan…” pikir Ki Rawa Banggir.


Ternyata benar. Setelah serangan gelombang kedua, sepuluh pendekar lainnya telah melesatkan sinar-sinar ilmunya.


Bluar!


Satu ledakan lebih dahsyat dari sebelumnya terjadi dengan hancurnya ilmu perisai Ki Rawa Banggir. Namun secara bersamaan, sosok orang tua itu mendadak hilang tanpa terlihat pergi ke mana.


“Racun pelindung!” teriak Siluman Raksasa cepat.


Serentak semua pendekar menaburkan bubuk racun ke udara di atas kepala mereka.


Clap!


Dan tidak lama setelah itu, Ki Rawa Banggir tiba-tiba muncul di hadapan seorang pendekar.


Bakss!


Pendekar itu langsung menyerang Ki Rawa Banggir, tetapi kecepatan gerak si kakek yang lebih tinggi membuatnya mudah menghantam dada lawan dengan pukulan. Pendekar siluman itu terjengkang dangan dada jebol dan hangus, yang jelas membuatnya terbunuh.

__ADS_1


Clap!


Ketika datang serangan pedang dari dua orang pendekar, Ki Rawa Banggir kembali menghilang begitu saja.


Bakss! Bakss!


Kembali Ki Rawa Banggir muncul tiba-tiba dan langsung menghantam dada dua orang pendekar siluman. Nasib keduanya sama seperti rekan mereka yang telah tewas.


Kemunculan sosok Ki Rawa Banggir membuat sejumlah pendekar siluman langsung merangsek maju menyerang dengan ilmu berbahaya siap disarangkan. Namun, tahu-tahu Ki Rawa Banggir sudah menghilang lagi.


Clap! Paks!


Dan Ki Rawa Banggir kembali muncul di titik lain. Ia langsung melesatkan telapak tangannya kepada seorang pendekar siluman. Kesiapan yang sudah dilakukan oleh pendekar siluman itu, membuatnya langsung mengadu pukulan telapaknya yang bersinar biru.


Telapak bersinar merah membara beradu dengan telapak bersinar biru. Hasilnya, pendekar siluman itu terjengkang dan langsung tewas, menunjukkan betapa ganasnya pukulan Ki Rawa Banggir. Orang tua itu sendiri harus terjajar beberapa tindak.


Hal itu membuat Ki Rawa Banggir terkejut, karena kekuatannya jadi melemah. Waktu jeda itu membuat para pendekar yang lain langsung beramai-ramai menyerang.


Sreeets!


Dari sisi atas melesat tiga sinar hijau berwujud jala lebar, bermaksud menjerat meski Ki Rawa Banggir menghilang dari pandangan.


Ki Rawa Banggir terkejut dengan ketersudutannya. Ia sudah pasti akan tertangkap oleh jalan sinar hijau itu. Sementara pada saat bersamaan, tujuh sinar ilmu pendekar siluman datang mengeroyok dari berbagai arah.


Ki Rawa Banggir lebih memilih kembali melindungi dirinya dengan ilmu perisainya. Ia pun masuk dalam kurungan tiga jalan sinar hijau dalam kondisi tetap dalam benteng perisai sinar merah.


Blar blar blar…!


“Apa yang terjadi? Apakah aku keracunan?” batin Ki Rawa Banggir.


Zes zes zes…!


Blar blar blar…!


Bersama sejumlah sinar lain ilmu lain, Siluman Raksasa kembali melesatkan sepuluh sinar kuning terang menyerbu Ki Rawa Banggir. Ledakan beruntun kembali terjadi yang berpusat pada ilmu perisai Ki Rawa Banggir.


“Hoekh!”


Meski ilmu perisainya tetap kuat, tetapi Ki Rawa Banggir tiba-tiba muntah darah.


“Dia sudah terluka!” teriak Siluman Raksasa semakin bersemangat.


Puluhan pendekar itu terus menyerang secara bergelombang. Sementara Ki Rawa Banggir menyadari bahwa ilmu perisainya kali ini tidak akan kuat lagi.


“Sepertinya aku tidak akan lolos dari kematian…” pikir Ki Rawa Banggir sambil cepat duduk bersila.

__ADS_1


Presss! Seses seses!


Bluar blarblar! Bros bros bros!


Sebelum serangan berikutnya menghujaninya, Ki Rawa Banggir yang sudah dalam kondisi terluka dalam, menghentakkan kedua lengannya ke atas. Seiring munculnya semburat sinar merah menyilaukan dari dalam tubuhnya, ketiga jalan sinar hijau yang menjeratnya di luar perisai jadi musnah, bersamaan lenyap pulalah benteng perisai sinar merah.


Namun, dari tubuh Ki Rawa Banggir berlesatan puluhan sinar merah berekor menyilaukan ke segala penjuru.


Bersamaan dengan melesatnya sinar-sinar merah menyilaukan ke segala arah, sinar-sinar kesaktian para pendekar siluman menghujani tubuh Ki Rawa Banggir yang sudah tanpa perisai. Maka hancur meledaklah tubuh Ki Rawa Banggir tanpa bentuk lagi.


Sementara serangan terakhir yang dilepaskan oleh Ki Rawa Banggir sebelum kematiannya, berhasil menjebol tubuh tujuh pendekar siluman yang telat menghindar.


“Guruuu!” teriak seorang murid utama Perguruan Bukit Dalam yang menyaksikan tubuh gurunya hancur dari kejauhan.


Sementara itu, salah satu murid senior perguruan yang bernama Sudarma, segera mengambil komando.


“Munduuur! Selamatkan diri kaliaaan!” teriak Sudarma kepada murid-murid yang masih tersisa.


Maka para murid yang tersisa cepat memilih mundur dari pertarungan melawan musuh-musuh sakti itu, seiring jatuhnya mental juang mereka setelah mengetahui sang guru telah tewas.


Siluman Kaki Tajam, salah satu pemimpin pasukan pendekar siluman, berkelebat menyerang Sudarma sebelum ia pergi melarikan diri.


Sudarma yang diserang dengan satu tendangan mengibas, cepat menangkis dengan tangan kanannya. Namun ia harus terkejut saat melihat kilauan logam pada kaki Siluman Kaki Tajam.


Sets!


“Akkh!” jerit Sudarma ketika tangannya yang menangkis tendangan putus, terpotong oleh pisau yang ada kaki Siluman Kaki Tajam.


Seet! Joss!


Sudarma harus mati ketika satu kekuatan tidak terlihat menusuk jebol dadanya. Kekuatan tidak terlihat itu adalah panah gaib yang dilepaskan oleh Siluman Panah Kosong.


“Lariii! Lariii!” teriak Gentabaya, salah satu murid Perguruan Bukit Dalam. Dengan terpincang-pincang, dia berusaha meninggalkan area pertarungan.


Seet! Joss!


“Aaak!”


Siluman Panah Kosong yang berpenampilan seksi segera memanah ke arah Gentabaya. Satu anak panah gaib melesat dan menusuk tembus paha Gentabaya, membuat pemuda itu menjerit dengan tubuh terpelanting.


Gentabaya jatuh berguling, kemudian jatuh lagi ke jurang bukit. Selanjutnya tidak jelas nasibnya.


“Habisi mereka semua!” teriak Siluman Raksasa.


Maka para pendekar itu melakukan perburuan, setelah orang tersakti di Bukit Dalam tewas di tangan mereka.

__ADS_1


Seperti hewan buas yang mengejar kijang-kijang, para pendekar itu membunuhi siapa saja yang mereka temui dan capai. Namun, pada dasarnya mereka tidak mengenal seluk beluk area itu, sehingga banyak murid perguruan dan keluarganya yang luput karena berlindung di dalam tempat persembunyian. (RH)


__ADS_2