8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 23: Payung VS Api


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


Bidadari Payung Kematian untuk sementara menggunakan satu payungnya yang berwarna merah.


Brus brus brus!


Ketika Siluman Api-Api menghujani nenek gemuk itu dengan bola-bola api, payung menjadi perisai yang tidak bisa ditembus.


Bukan sekedar sebagai perisai, payung juga itu berfungsi seperti tongkat yang bisa menusuk, memukul dan menggaet.


Gagal dengan bola-bola api kecil, Siluman Api-Api lalu main api besar. Api-api yang awalnya hanya sebesar-besar kepalan tinju, kini yang dilempar bola-bola api sebesar-besar buah nangka besar.


“Heaat!” teriak Siluman Api-Api sambil bergantian tangannya melesatkan api besar sebesar buah nangka.


Broass! Broass!


Bidadari Payung Kematian mutlak berlindung di belakang payungnya. Jelas, semakin besar serangan, maka semakin besar pula daya hantamnya. Kali ini, kuda-kuda Bidadari Payung Kematian tersurut sejauh tiga langkah.


Setelah itu, si nenek mengatupkan kembali payungnya dan tangan kirinya mendorong gagang payung hijau di punggungnya. Payung hijau melesat naik lurus ke udara lalu mengembang sendiri. Namun kemudian, payung warna hijau itu melayang tetap, tidak bergerak turun atau naik lagi, atau bergeser ke samping.


Siluman Api-Api tidak tahu tujuan dari payung yang diterbangkan itu. Yang pastinya, Bidadari Payung Kematian telah bergerak maju menusuk-nusukkan ujung payungnya. Dengan gesit ia mengelaki serangan-serangan ujung payung itu.


Dak! Tak!


Namun, ada satu gerakan payung yang berhasil menghantam dada Siluman Api-Api, membuatnya terdorong, kemudian disusul satu pukulan payung yang mementalkannya ke lantai.


Broass!


Ketika Bidadari Payung Kematian mengejar, Siluman Api-Api masih bisa melepaskan bola api sebesar nangka. Bidadari Payung Kematian cepat berhenti sambil membuka payung merahnya.


Sadar bahwa lawan begitu kuat dalam bertahan, Siluman Api-Api memutuskan melompat menjauh. Ia harus mengerahkan ilmu tingginya.


Bidadari Payung Kematian melompat maju sejauh satu tombak sambil mengembangkan payung merahnya menghadap posisi lawan.


Bsess!


Dari kembangan payung itu, melesat sebidang sinar merah berbentuk pola payung mengembang yang tegak berdiri.


Zersss! Broass!


Siluman Api-Api menantang dengan menghentakkan kedua lengannya. Dua semburan api panjang melesat dari kedua tangan Siluman api. Semburan dua api besar itu menghantam sinar merah pola payung, menimbulkan benturan dua tenaga sakti yang berbeda tingkat.


Siluman Api-Api terlempar ke belakang menghantam dinding Istana. Sementara Bidadari Payung Kematian hanya terjajar beberapa tindak. Pada bibir Siluman Api-Api merembes segaris darah.


Bsess! Blaar!


Bidadari Payung Kematian kembali maju sambil mengembangkan kembali payungnya. Sebidang sinar merah berpola kembangan payung kembali melesat menyerang.


Kali ini, Siluman Api-Api memilih melompat menghindar seperti lompatan kucing lalu berguling beberapa kali di lantai.

__ADS_1


Bres bres bres…!


Setelah bergulingan di lantai, kedua tangan dan kedua kaki Siluman Api-Api diselimuti api berwarna biru muda. Ia berkelebat langsung menyerang Bidadari Payung Kematian.


Si nenek dengan gesit meladeni serangan berapi-api Siluman Api-Api. Si nenek harus lebih hati-hati karena api kali ini lebih tajam dan panas. Ia harus benar-benar menjaga wajah dan rambut kepalanya dari lidah-lidah api.


“Akk!” jerit Bidadari Payung Kematian satu ketika. Tangan kiri bajunya terbakar setelah menangkis tendangan Siluman Api-Api.


Buru-buru Bidadari Payung Kematian melompat mundur guna memadamkan api pada tangannya. Untung tidak sampai membakar kulit, tapi tangan bajunya jadi robek hangus.


Siluman Api-Api pun terus memburu, berusaha mendesak tokoh sakti tua itu. Namun, justru Siluman Api-Api yang melompat mundur ketika si nenek mengibaskan payungnya setengah putaran tubuh.


Set! Blak!


Tiba-tiba Bidadari Payung Kematian melemparkan payungnya melesat dalam kondisi terkatup ke arah Siluman Api-Api. Namun, sebelum payung itu sampai kepada lawan, tiba-tiba ia mengembang di tengah jalan, membuat lesatannya terhenti dan mengerem di udara, beberapa tombak dari posisi Siluman Api-Api.


Hal itu membuat keberadaan Bidadari Payung Kematian terhalangi dari pandangan Siluman Api-Api.


Sress!


“Hah!” pekik Siluman Api-Api terkejut, karena nenek gemuk itu tahu-tahu muncul dari balik payung dan langsung melepaskan bola sinar biru beraliran listrik putih.


Bluar!


Terbirit-birit Siluman Api-Api melompat jauh ke samping seperti kucing, membuat bola sinar biru lolos terus jauh dan melubangi dinding Istana.


Belum lagi Siluman Api-Api siap sempurna, payung merah Bidadari Payung Kematian sudah melesat dalam kondisi terkatup. Ia kembali melompat jauh seperti kucing dan bergulingan di lantai seperti putaran ban. Payung merah melesat menancap di tembok yang cukup jauh.


Wajah Bidadari Payung Kematian cepat mengikuti arah pergerakan lawan. Namun, tiba-tiba dia berhenti dan tersenyum sambil melemaskan otot-ototnya.


Sementara itu, Siluman Api-Api terkejut dan panik, sebab ia telah masuk perangkap. Ketika ia tanpa sengaja melintas di bawah payung hijau yang melayang di udara, maka otomatis dia terjerat dan tidak bisa ke mana-mana. Kekuatan dari payung hijau di atas kepalanya membuatnya tidak bisa melangkah.


Set! Tap!


Bidadari Payung Kematian menghentakkan tangan kanannya ke arah payungnya di dinding. Payung merah itu melesat balik seolah tertarik oleh tenaga sedot yang kencang. Dengan mantap tangan si nenek menangkapnya.


“Kau sudah tidak bisa ke mana-mana. Hihihi!” kata Bidadari Payung Kematian lalu tertawa.


Meski terjerat di bawah payung hijau, tetapi Siluman Api-Api masih bisa memberi perlawanan. Ia hanya tidak bisa ke mana-mana, tapi kesaktiannya tidak terpengaruh. Karenanya, dia mengerahkan ilmu tertingginya untuk beradu dengan si nenek gemuk.


Brass! Zwess!


Kini kedua lengan Siluman Api-Api diselimuti oleh api berwarna biru. Ia lalu melakukan gerakan tangan yang singkat, lalu berujung dengan hentakan bersamaan ke depan.


Bidadari Payung Kematian yang juga telah bersiap, cepat mengembangkan payung merahnya. Dari bidang payung itu melesat sinar merah tebal tanpa putus, menyambut gelombang api biru yang mengerikan.


Bzross!


Pertemuan sinar merah dengan dua gelombang api sejenak terhenti di pertengahan jarak, karena kedua kekuatan saling dorong.

__ADS_1


Zwess! Bross!


Namun, pada detik ketiga, dua gelombang api biru terdorong secepat kilat, sehingga sinar merah menabrak tubuh Siluman Api-Api yang tidak bisa ke mana-mana.


Hasilnya, tubuh Siluman Api-Api sudah bugil total, tetapi seluruh kulitnya hangus terbakar parah.


Bidadari Payung Kematian melompat berkelebat di udara menyambar payung hijaunya. Maka, mayat Siluman Api-Api tumbang jatuh ke lantai.


Sementara di sisi lain, puluhan prajurit dari Pasukan Penjaga Istana sudah bergelimpangan dengan berbagai kondisi. Gadis Cadar Maut bersama Tembangi Mendayu, Arya Permana, Lanang Jagad, Arya Mungga, dan Riskaya, sudah mengatasi para prajurit itu.


Mereka lalu pergi bersama untuk menyusul Raja Anjas.


Ketika mereka memasuki sebuah ruangan besar, ada empat pendekar yang sedang bertarung sengit, yaitu Nenek Rambut Merah melawan Ki Bandel Perawan dan Setan Ngompol melawan Lemak Iblis.


Pertarungan mereka disaksikan oleh puluhan prajurit yang berbaris sebagai suporter pendekar bayaran tuan rumah. Di lantai pun ada berserakan belasan mayat prajurit dengan kondisi tubuh mengalami luka sayatan-sayatan yang tajam.


“Seraaang!” teriak komandan prajurit saat melihat kemunculan ketujuh orang asing itu.


“Seraaang!” puluhan prajurit Pasukan Penjaga Istana itu berteriakan sambil berlari menyerang Gadis Cadar Maut dan rekan-rekan mudanya.


Pertarungan pun berlangsung ramai.


Set set set!


Tombak emas Tembangi Mendayu langsung melesat terbang menembusi tubuh-tubuh prajurit yang datang.


“Hentikan!” seru Gadis Cadar Maut keras menggelegar.


Seketika puluhan prajurit itu mengerem mendadak langkahnya. Pertarungan keempat pendekar bahkan ikut di-pause. Mereka semua memandang kepada Gadis Cadar Maut.


“Jika kalian tidak ingin mati, pergilah berlindung di taman belakang Istana!” seru Gadis Cadar Maut kepada para prajurit.


Seruan itu membuat para prajurit saling pandang. Ternyata ada hasilnya. Sekitar separuh dari pasukan itu tiba-tiba berlari pergi ke luar ruangan besar tersebut. Hal itu mengejutkan sang komandan.


“Siapa yang berkhianat akan dihukum mati!” teriak sang komandan. “Hekr!”


Namun, sang komandan akhirnya mengejang untuk terakhir kalinya, ketika dari belakang lehernya ditembusi oleh tongkat emas Tembangi Mendayu.


Melihat hal itu, belasan prajurit yang tersisa jadi mati nyalinya lebih dulu. Mereka buru-buru berlari kabur, mengikuti teman-teman mereka yang menyelamatkan diri ke taman belakang Istana.


Dua pertarungan duel kembali berlanjut.


“Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol, apakah kalian butuh bantuan?” tanya Gadis Cadar Maut.


“Tidak! Pergilah susul Gusti Prabu!” teriak Nenek Rambut Merah sambil menghindari serangan Ki Bandel Perawan.


“Ayo, Kawan-Kawan!” ajak Gadis Cadar Maut.


Gadis Cadar Maut dan yang lainnya segera berlalu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2