
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Nara berjalan bersama. Di belakangnya berjalan para dayang yang berbaris memanjang.
Kedua wanita sakti itu pergi menuju kamar pengantin baru, tepatnya kamar Permaisuri Sri Rahayu.
“Yang Mulia Gusti Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Nara tiba!” teriak prajurit penjaga pintu kamar Permaisuri Sri Rahayu.
Tidak berapa lama, pintu kamar dibuka dari dalam. Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Nara segera masuk, sementara para dayang diperintahkan menunggu di luar kamar.
Di dalam kamar, tampak Joko Tenang sedang terbaring tanpa baju di atas ranjang. Di sisi ranjang tampak Tabib Rakitanjamu sedang bekerja memeriksa bagian tubuh Joko yang ada di bawah selimut.
“Hihihi…!” tawa Permaisuri Sri Rahayu meledak ketika tatapan Ratu Getara Cinta bertanya kepadanya. Ia duduk di sisi kepala Joko Tenang.
Tawa Permaisuri Sri Rahayu turut membuat Joko tersenyum lebar.
“Kami mendengar bahwa Kakang Prabu memanggil Tabib Rakitanjamu khusus ke kamar pengantin, jadi kami khawatir terjadi sesuatu yang buruk kepada kalian berdua dalam berhubungan,” ujar Ratu Getara Cinta.
“Hihihi…!” Permaisuri Sri Rahayu masih saja tertawa. Entah apa yang membuatnya merasa ada yang begitu lucu?
“Aku rasa dibutuhkan waktu satu hari untuk benar-benar pulih. Jangan dipaksa dulu, kasihan burungnya nanti justru bisa bunuh diri,” kata Tabib Rakitanjamu seraya merapikan kain selimut yang menutupi perut dan kaki Joko Tenang. “Nanti jika salepnya sudah kering, dioleskan lagi, Gusti Prabu!”
“Terima kasih, Tabib,” ucap Joko Tenang.
“Jika demikian, hamba mohon diri, Gusti Prabu,” ucap Tabib Rakitanjamu lalu menjura hormat kepada Joko dan para istrinya.
Seperginya Tabib Rakitanjamu, Permaisuri Sri Rahayu kembali tertawa, tetapi tidak senyaring tadi.
“Joko Kecil pasti keracunan,” terka Permaisuri Nara.
“Hahaha!” tawa Joko Tenang lalu menarik badannya ke atas agar bisa duduk bersandar pada tumpukan bantal.
Ratu Getara Cinta kembali memandang kepada Permaisuri Sri Rahayu, seolah Bidadari Asap Racun adalah tersangkanya. Ia lalu bergerak mengangkat tepian selimut untuk melihat pusaka suaminya.
“Hihihi!” tawa Ratu Getara Cinta lalu meletakkan kembali selimutnya. “Ini bencana bagi kita.”
“Tidak, hanya sehari. Inipun jatah Permaisuri Sri yang terpangkas,” kata Joko Tenang.
“Apakah akan selalu seperti ini, Permaisuri Sri?” tanya Permaisuri Nara.
“Tidak, nanti akan kebal dengan sendirinya. Itu memang harus terjadi, Permaisuri Nara,” jawab Permaisuri Sri Rahayu.
“Beruntung aku sudah kebal racun. Jika tidak, bukan hanya pusakaku yang bengkak, seluruh tubuhku mungkin akan membengkak pula,” kata Joko Tenang.
“Jangan sampai peristiwa ini diketahui oleh permaisuri yang lain, karena akan menjadi bahan tertawaan,” kata Nara. “Daging ikan yang banyak durinya itu jauh lebih legit dibanding yang tidak.”
“Hihihi…!” tawa Ratu Getara Cinta meledak mendengar perkataan Permaisuri Nara.
Seorang dayang mendadak masuk tanpa dipanggil.
“Sembah hamba, Gusti Prabu. Ada utusan Ratu Sri Mayang Sih ingin bertemu dengan Gusti Permaisuri Sri Rahayu,” lapor dayang tersebut.
__ADS_1
Terkejutlah Permaisuri Sri Rahayu.
“Ratu, dampingi Permaisuri Sri menerima utusan dari Ratu Sri!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Kakang Prabu,” ucap Ratu Getara Cinta patuh.
Setelah menghormat kepada suami mereka, Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Sri Rahayu melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut.
Sepeninggal kedua istrinya, Joko Tenang memilih bermanja kepada Permaisuri Nara.
Ternyata utusan dari Ratu Sri Mayang Sih yang tiba di Istana Sanggana Kecil adalah Pangeran Botak.
“Sembah hamba, Gusti Putri. Hamba adalah Pangeran Botak dari Lima Pangeran Dua Putri!” ucap Pangeran Botak menjura hormat saat Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Sri Rahayu tiba.
“Aku mengenal Lima Pangeran Dua Putri sebagai pengawal Ratu Sri Mayang. Bangunlah!” perintah Sri Rahayu.
Pangeran Botak segera bangkit berdiri. Ia kini berhadapan langsung dengan Sri Rahayu yang tampil penuh wibawa.
“Apa yang terjadi dengan ibuku?” tanya Sri Rahayu dengan tatapan serius.
“Gusti Ratu jatuh ke jurang saat sedang menuju ke sini,” jawab Pangeran Botak.
“Apa?!” kejut Sri Rahayu. “Bagaimana bisa Ibunda terjatuh ke jurang?”
“Kami diserang oleh Panglima Siluman Pedang,” jawab Pangeran Botak.
“Siluman Pedang menyerang Ibunda Ratu?” tanya Sri Rahayu tidak percaya, karena baginya itu tidak mungkin terjadi.
Jlegerr!
Laksana mendengar suara petir di atas ubun-ubun, Sri Rahayu sangat terkejut.
“Ayahanda sudah mati?” tanya Sri Rahayu dengan suara bergetar. “Apa yang sebenarnya terjadi, Pangeran Botak?”
“Hamba tidak berwenang untuk menyampaikan kabar yang hamba sendiri tidak mengetahui secara lengkap, Gusti Putri,” kata Pangeran Botak.
“Lalu, bagaimana kondisi Ibunda?” tanya Sri Rahayu cepat.
“Ketika hamba berangkat kemari, kami belum mengetahui kondisi Gusti Ratu. Teman-teman hamba sedang turun ke jurang untuk memastikan kondisi Gusti Ratu,” kata Pangeran Botak.
“Gusti Ratu, aku harus pergi mencari ibuku,” kata Sri Rahayu kepada Ratu Getara Cinta.
“Izinlah kepada Kakang Prabu,” kata Ratu Getara Cinta.
“Baik.”
Maka Permaisuri Sri Rahayu pergi minta izin kepada Joko Tenang.
“Biar aku menemanimu, Sayang,” kata Joko Tenang.
“Tapi bagaimana kondisi Kakang Prabu?” tanya Sri Rahayu.
“Yang bengkak burungku, bukan kedua kakiku. Aku bertanggung jawab atas keselamatan Ibunda,” kata Joko Tenang.
__ADS_1
Kondisi yang darurat membuat Joko Tenang memutuskan tidak membawa pengawalan. Ia, Permaisuri Sri Rahayu dan Pangeran Botak menggunakan kuda untuk sampai ke jurang tempat Ratu Sri Mayang Sih jatuh.
Sementara itu di dasar jurang batu, Lima Pangeran Dua Putri berhasil menemukan keberadaan Ratu Sri Mayang Sih. Saat mereka tiba di dasar jurang, posisi Ratu Sri Mayang Sih masih tergeletak di batu, sementara Anyam Beringin setia menunggu.
“Kisanak, kenapa kau hanya memandangi Gusti Ratu seperti itu?!” bentak Pangeran Keriting.
Anyam Beringin hanya mendelik tidak langsung menjawab. Namun, ia merasa percuma saja jika ia membela diri.
Putri Embun dan Putri Pelangi segera membantu Ratu Sri Mayang Sih. Putri Pelangi memberikan pengobatan kepada kaki dan tangan sang ratu. Pengobatan itu tidak menyembuhkan, tetapi cukup untuk mengurangi rasa sakit pada tulang yang cedera.
Putri Embun dan Putri Pelangi membantu dengan memapah Ratu Sri Mayang Sih.
“Terima kasih sudah menyelamatkan Gusti Ratu, Kisanak,” ucap Pangeran Basah kepada Anyam Beringin.
“Akhirnya ada yang menghargai jasaku,” ucap Anyam Beringin.
Ratu Sri Mayang Sih hanya melirik sinis kepada Anyam Beringin.
“Gusti Ratu, orang yang menyerang kita adalah Panglima Siluman Pedang,” lapor Pangeran Keriting.
“Sepertinya kita tidak bisa lari dari buruan Kerajaan Siluman,” ucap Ratu Sri Mayang Sih.
“Kita harus melawan, Gusti Ratu. Sebentar lagi seluruh orang-orang Kerajaan Siluman akan memburu Gusti Ratu,” kata Putri Embun.
“Tenang saja, aku akan selalu setia melindungi ratu kalian!” sahut Anyam Beringin.
“Tugasmu hanya satu, Kisanak, bunuh Raja Anjas!” timpal Ratu Sri Mayang Sih.
“Baik,” kata Anyam Breingin.
“Aku mengutus Pangeran Botak untuk melapor kepada Gusti Putri Sri tentang keadaan Gusti Ratu,” kata Pangeran Keriting.
“Pasti Sri Rahayu sudah menikah dengan Prabu Dira,” kata Ratu Sri Mayang Sih kecewa.
“Tapi kita harus tetap pergi ke Kerajaan Sanggana Kecil, Gusti Ratu. Kita tidak ada tujuan lain,” kata Putri Pelangi.
Dengan susah payah dan perjuangan lebih, akhirnya mereka bisa membawa Ratu Sri Mayang Sih keluar dari dasar jurang.
Sementara Anyam Beringin hanya mengikuti. Meski ia sangat berjasa dalam menolong Ratu Sri Mayang Sih saat jatuh ke jurang, tetapi ia disikapi seperti tidak ada.
Tepat ketika mereka berhasil tiba di atas bibir jurang, dari arah utara datang tiga ekor kuda. Ketiga penunggang kuda itu tidak lain adalah Joko Tenang, Sri Rahayu dan Pangeran Botak.
“Ibunda!” seru Sri Rahayu sambil berkelebat mendapati ibunya dengan raut wajah yang cemas.
“Apakah kau sudah menikah dengan Prabu Dira, putriku?” tanya Ratu Sri Mayang Sih sambil menatap tajam kepada Joko Tenang.
“Sudah, Ibunda,” jawab Sri Rahayu.
“Kau menikahi orang yang telah membunuh ayahandamu!” kata Ratu Sri Mayang Sih.
“Apa?!” kejut Sri Rahayu tapi bingung.
Mendengar perkataan mertuanya, Joko Tenang pun tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. (RH)
__ADS_1