8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 2: Kalah Terhormat


__ADS_3

*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


 


“Hahaha! Baiklah, Kawan. Ayo kita mulai pertarungan hidup matinya!” kata Petra Kelana kepada lawan tarungnya, Raja Tanpa Istana.


Petra Kelana lalu memiringkan arah badannya, kemudian menghentakkan kedua tangannya ke arah depan dan belakang dengan telapak terbuka.


Swiit!


Secara bersamaan, di depan dan belakang Petra Kelana muncul dinding sinar merah seperti neon. Petra Kelana mulai mengerahkan ilmu Seratus Pintu.


Slep!


Petra Kelana melompat mundur begitu saja menabrak dinding sinar merah yang wujudnya dua kali tinggi dan lebar pintu biasa. Tubuhnya masuk menghilang seperti batu masuk ke dalam air. Petra Kelana menghilang dan Raja Tanpa Istana waspada dengan kedua tangan telah diselimuti sinar hijau pekat.


Swiit!


Tiba-tiba dinding sinar merah serupa muncul di samping kanan Raja Tanpa Istana. Meski reaksinya dingin, tetapi Raja Tanpa Istana cepat menengok dan menduga akan ada serangan yang keluar dari dinding merah yang baru muncul.


Set!


“Satu!”


Bak!


Tiba-tiba dari dalam dinding sinar merah yang di depan Raja Tanpa Istana, keluar melesat sosok Petra Kelana yang begitu cepat. Sambil berteriak, Petra Kelana mendaratkan satu pukulannya ke dada Raja Tanpa Istana yang sedang memandangi dinding yang baru muncul.


Raja Tanpa Istana terjajar beberapa tindak, tetapi pukulan Petra Kelana tidak membuatnya terluka. Ia tahu bahwa Petra Kelana sengaja tidak mengerahkan tenaga dalam besar yang bisa melukainya.


Swiit!


Petra Kelana menghentakkan kedua tangannya ke arah bawah. Tiba-tiba muncul dinding-dinding sinar merah serupa berjumlah sepuluh, tapi posisinya tersebar acak.


Kini Raja Tanpa Istana di keliling oleh tiga belas dinding sinar merah secara acak.


Slep!


Petra Kelana kembali melesat masuk ke salah satu dinding sinar merah. Raja Tanpa Istana kembali waspada. Ia tidak boleh hanya fokus menduga satu dinding, tetapi harus siap menerima serangan dari mana saja.


Sezz! Bluar!

__ADS_1


Tiba-tiba dari dalam sebuah dinding sinar itu melesat bola api biru menyerang Raja Tanpa Istana. Lagi-lagi dugaan tokoh hitam itu salah. Ia menyangka yang akan muncul adalah Petra Kelana langsung.


Raja Tanpa Istana langsung menangkis sedapatnya dengan bidang lingkaran sinar putih sebagai perisai. Ledakan bola api biru menghantam lapisan sinar putih, tapi membuat Raja Tanpa Istana terdorong cepat ke belakang.


Set!


“Dua!” teriak Petra Kelana yang muncul melesat dari pintu lain.


Bak!


Petra Kelana melintas di dekat tubuh Raja Tanpa Istana sambil mendaratkan satu pukulan tidak berbahaya.


Karena terhantam dua kali, Raja Tanpa Istana kali ini terjengkang, tetapi tidak membuatnya terluka. Ia buru-buru bangkit. Dua kali serangan yang mengenainya, tapi tidak membuatnya luka, justru membuatnya merasa dilecehkan.


“Aku tidak menerima mengibaanmu, Lidah Putih!” teriak Raja Tanpa Istana. Ia lalu memasang kuda-kuda dan mendorong kedua tangannya lurus ke atas. Kedua tangan itu sampai bergetar. Pada kedua tangan itu muncul sinar merah.


Bruass!


Blar blar blar…!


Raja Tanpa Istana kemudian menghentakkan kedua tangannya ke lantai. Sinar merah melesat ke lantai lalu meledak menyebar ke segala arah. Semua dinding sinar merah terkena gelombang sinar merah yang menghancurkan ketiga belas dinding itu.


Semua dinding sinar merah sirna, lalu di mana Petra Kelana?


Swiit! Jleg! Swiit!


Sebuah dinding sinar merah muncul menggantung di langit-langit. Dari dalam dinding itu muncul melompat turun Petra Kelana. Ketika ia mendarat di lantai, sebanyak seratus dinding sinar merah muncul sekaligus, menciptakan kurungan dinding yang berlapis-lapis.


Wuss!


Sebelum Raja Tanpa Istana melakukan sesuatu untuk merusak formasi Seratus Pintu itu, Petra Kelana lebih dulu mengayunkan kedua tangannya, melepaskan angin pukulan kuat. Angin itu bisa mendorong Raja Tanpa Istana masuk ke dalam salah satu dinding sinar merah.


Dengan masuknya Raja Tanpa Istana ke dalam dinding, Petra Kelana juga cepat masuk ke dalam salah satu dinding merah.


Raja Tanpa Istana muncul di sisi lain di antara dinding-dinding sinar merah. Saat yang sama, muncul pula Petra Kelana dari dinding yang lain dan langsung menghantam keras tubuh Raja Tanpa Istana.


Tokoh hitam itu dipaksa terdorong lagi masuk ke dinding, lalu muncul di dinding lain. Demikian pula yang dilakukan oleh Petra Kelana dan mendaratkan serangannya.


Raja Tanpa Istana selalu dipaksa masuk ke dinding sinar merah berkali-kali. Setiap ia muncul di dinding yang lain, kondisi awalnya selalu hilang arah.


Berbeda dengan Petra Kelana yang mengendalikannya, sehingga ia dengan mudah menyerang. Namun, Petra Kelana sengaja tidak mencederai Raja Tanpa Istana.

__ADS_1


Hingga akhirnya, Raja Tanpa Istana mengamuk dengan mengerahkan ilmu dahsyatnya. Ketika ia berpindah tempat lagi, ia menghentakkan kedua tangannya ke atas tapi agak merentang.


Dari dalam tubuh Raja Tanpa Istana keluar aliran sinar biru terang yang kemudian memutari tubuh. Aliran sinar yang banyak itu makin bermain makin besar wujudnya.


Bluarr bluarr bluarr…!


Ledakan dahsyat yang beruntun dan cukup lama terjadi dahsyat memekakkan gendang telinga, ketika sinar biru besar itu berputar menyapu semua dinding sinar merah.


Bidadari Wajah Kuning yang sudah menjauhkan diri dari pusat pertarungan, harus mengerenyit karena ledakan beruntun itu benar-benar ingin merobek gendang telinganya.


Hingga akhirnya, semua ledakan berhenti. Keheningan tercipta. Lantai, dinding dan langit-langit berhancuran sebagian akibat sembilan puluh sembilan ledakan yang tercipta beruntun. Namun, kehancuran yang tercipta tidak separah di aula utama Istana.


Tiba-tiba sosok Petra Kelana muncul melayang di udara, tapi masih berhadapan dengan Raja Tanpa Istana.


“Kau belum menghancurkan pintu yang di atas, Raja,” kata Petra Kelana.


Raja Tanpa Istana cepat mendongak, melihat keberadaan satu dinding sinar merah yang menggantung di langit-langit, tepat di atasnya.


“Aku mengaku kalah denganmu, Lidah Putih,” ujar Raja Tanpa Istana.


“Hahaha! Apakah tidak terlalu cepat?” tanya Petra Kelana.


“Seharusnya aku sudah mati jika kau ingin membunuhku!” tandas Raja Tanpa Istana.


“Aku itu menghargai nyawa orang jahat sepertimu, Raja. Aku sudah lama mengenal perjalanan hidupmu. Kejahatan yang dilakukan oleh Aninda Serunai sudah tanpa kendali. Dia melakukan kejahatan tanpa peduli golongan mana yang menjadi korbannya. Jika mau dihitung-hitung, sebenarnya ratu kalian itu telah mengorbankan para pendekar golongan hitam lebih banyak dibandingkan membunuh golongan putih,” tutur Petra Kelana.


“Aku kalah, jadi aku tidak akan berusaha mencegah kalian untuk merebut kerajaan ini,” kata Raja Tanpa Istana.


“Terima kasih, Raja Tanpa Istana,” ucap Petra Kelana seraya menghormat dengan mempertemukan kedua telapak tangannya di depan dahi yang menunduk.


Raja Tanpa Istana pun memberi hormat kepada Petra Kelana. Setelahnya, ia melangkah pergi.


Bidadari Wajah Kuning cepat berkelebat menghampiri Petra Kelana.


“Petra Kelana, apa yang kau lakukan? Kau melepaskan musuh!” tanya Bidadari Wajah Kuning.


“Kemenangan itu tidak harus membunuh. Jika memang bisa mengalahkan musuh dengan cara yang lebih lunak, maka cara itu lebih baik,” kata Petra Kelana.


Tiba-tiba perhatian mereka ditarik oleh kemunculan sesosok manusia raksasa dari balik dinding.


Raksasa Biru muncul dengan memanggul dua tubuh manusia di bahunya. Kedua orang itu tidak lain adalah Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol.

__ADS_1


Petra Kelana dan Bidadari Wajah Kuning menatap dengan mendelik. (RH)


__ADS_2