
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
“Bopooo!” teriak Ningsih Dirama menangis sambil melambaikan tangan.
“Nini… Ningsih?” ucap Demang Yono Sumoto lirih tergagap. Suaranya bergetar halus karena sangat terkejut. “Apakah aku sudah terlalu tua? Sampai melihat yang tidak-tidak.”
“Bopooo! Ini aku Ningsih!” teriak Ningsih lagi. Sambil menangis dia buru-buru turun dari pedati, padahal pedati itu masih bergerak hendak masuk ke halaman rumah.
Surina Asih yang mendengar teriakan Ningsih itu hanya mendelik liar tidak berdaya. Jiwanya meronta.
Keterkejutan juga melanda Rumih Riya dan para abdi lama yang ada di dalam rumah, ketika mereka samar-samar mendengar teriakan Ningsih Dirama.
Demang Yono Sumoto benar-benar dilanda keraguan, sampai-sampai dia sulit untuk beranjak menyambut kedatangan Ningsih yang berlari dengan berurai air mata.
“Bopooo! Huuu…!”
Ningsih Dirama langsung menabrak peluk kedua kaki ayahnya dengan tangisan yang pecah. Sementara Demang Yono Sumoto berdiri gemetar menahan gejolak kegembiraan yang seolah sulit untuk keluar. Sepasang matanya sudah meluberkan air mata seraya memandang kepala wanita yang memeluk kakinya. Tangan kanannya bergerak pelan tapi gemetar, hendak menyentuh kepala wanita itu.
“Dia memang Ningsih Dirama. Dia memang anakku. Wajahnya sangat mirip. Bibirnya masih merah…” ucap Demang Yono Sumoto dalam hati, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak berhalusinasi. Lalu ucapnya pelan tapi berat, “Nduk….”
Ningsih Dirama segera mendongak memandang wajah tua ayahnya, menunjukkan wajahnya yang sudah basah banjir air mata.
“Ningsih pulang, Bopooo! Jangan buang Ningsih lagi, Bopooo!” ucap Ningsih dalam tangisnya.
“Huaaa!” Seketika itu meraunglah Demang Yono Sumoto dalam tangisan seorang ayah. Hatinya terasa sangat teriris-iris mengenang keputusannya yang kemudian hari ia nilai sangat kejam. Rasa penyesalannya yang begitu dalam kembali terekspresi. Ini adalah tangisannya yang paling emosional sebagai seorang bapak dan lelaki.
Ia buru-buru mengangkat kedua lengan putrinya lalu memeluknya dengan erat.
“Maafkan Bopo, Nduk. Maafkan bopomu yang jahat ini! Huuu…!” ratap Demang Yono Sumoto sambil menangis dahsyat.
Para prajurit penjaga rumah dan abdi yang ada di sekitar sampai terbawa arus suasana haru dan sedih. Hal yang sama dialami oleh Anjas, Tirana dan Gurudi.
“Ningsih!” Tiba-tiba ada panggilan suara perempuan yang melengking dari teras rumah.
Ningsih Dirama dan yang lainnya langsung memandang ke arah teras. Di sana sudah berdiri Rumih Riya yang di belakangnya berdiri tiga abdi. Semuanya menangis. Rumih Riya kini sudah tidak menggunakan tongkat penyanggah untuk berjalan.
Melihat wajah wanita yang memeluk suaminya, terkesiaplah Rumih Riya. Sebab, wanita itu jelas adalah Ningsih Dirama, putrinya yang telah hilang kabar lebih dua puluh tahun.
“Mboook!” teriak Ningsih Dirama sambil melepaskan pelukannya pada ayahnya. Ia hendak berlari mendatangi ibunya yang dilihatnya semakin tua.
__ADS_1
“Ningsiiih!” jerit Rumih Riya histeris sambil menangis dan berjalan terpincang hendak turun dari teras.
Bruk!
Tiba-tiba Rumih Riya jatuh pingsan di lantai teras karena tidak tahan menahan rasa emosi kebahagiaan yang berkecamuk di dalam dada dan pikirannya.
“Mboook!” teriak Ningsih Dirama terkejut.
“Rumih!” sebut Demang Yono Sumoto terkejut.
“Ndorooo!” jerit para abdi sambil buru-buru mendatangi tubuh majikan perempuannya.
“Mboook, jangan mati, Mboook!” ratap Ningsih Dirama sambil mengguncang-guncang tubuh ibunya.
“Ibu, Nenek tidak mati,” kata Tirana yang juga sudah berada di antara mereka.
“Biar Bopo mengangkat ibumu, Nduk,” kata Demang Yono Sumoto hendak mengangkat tubuh istrinya.
“Izinkan aku yang mengangkat Ibu, Bopo!” ucap Anjas Perjana lembut kepada mertuanya. Melihat fisik Demang Yono Sumoto, Anjas khawatir mertuanya itu akan mengalami kesulitan.
“Siapa kau?” tanya Demang Yono Sumoto.
Terkesiaplah Demang Yono Sumoto dan para abdi. Demang langsung teringat bahwa ayah dari cucunya adalah seorang raja.
“Hormat hamba, Gusti Prabu!” ucap Demang Yono Sumoto sambil buru-buru bersujud di dekat kaki Anjas Perjana.
Para abdi yang berkumpul di sekitar tempat itu jadi turut bersujud di tempatnya masing-masing.
Anjas Perjana, Ningsih Dirama dan Tirana jadi terkejut melihat tindakan Demang Yono dan para abdinya.
“Bangunlah, Bopo. Jangan lakukan itu!” kata Anjas sambil buru-buru menuntun Demang Yono untuk berdiri. Lalu katanya pula kepada yang lainnya, “Bangunlah kalian semua!”
Lalu dengan gagahnya Anjas mengangkat tubuh Rumih Riya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Yang lainnya juga mengikuti menuju kamar.
“Hihihik…!” tawa Gurudi sambil ikut berjalan masuk di belakang.
Marti dan abdi lainnya jadi memandangi Gurudi dengan keheranan. Diperhatikan seperti makhluk asing, membuat Gurudi semakin tertawa terkikik.
“Pak Jumung, tolong bawa Mbakyu Surina masuk!” pinta Ningsih Dirama kepada pembantu lelaki lamanya.
“Iya, Ndoro,” ucap lelaki yang usianya lebih tua dari Demang Yono Sumoto.
__ADS_1
“Kalian semua, bersihkan dan rapikan kamar untuk Ningsih dan suaminya, juga untuk Gusti Permaisuri Tirana. Kita juga akan merayakan pesta tiga hari atas kepulangan putriku,” kata Demang Yono Sumoto kepada para abdinya yang berkumpul sebanyak enam orang.
“Maafkan aku, Bopo. Lebih baik jangan mengadakan pesta, karena itu akan memancing bahaya,” kata Anjas kepada Demang Yono.
“Kenapa, Gusti Prabu?” tanya Demang Yono Sumoto.
“Nanti aku ceritakan,” jawab Anjas.
“Jumung, siapa yang kau bawa?” tanya Demang Yono Sumoto saat melihat dua abdi lelakinya melintas di depan kamar dengan menggotong sesosok tubuh perempuan. Ia segera berjalan ke pintu kamar.
“Ini… ini Surina, Ndoro,” jawab Jumung tapi takut-takut.
“Tidak! Bawa ke luar lagi dan lempar ke jalanan! Dosanya tidak akan bisa terampuni!” teriak Demang Yono Sumoto tiba-tiba marah.
Kemarahan itu membuat para abdi itu jadi takut.
“Jangan, Bopo!” teriak Ningsih cepat, membuat para abdi tidak langsung melaksanakan perintah majikannya.
Ningsi segera menghampiri ayahnya. Ia meraih tangan tua ayahnya. Seraya menangis, Ningsih membujuk ayahnya.
“Kasihan Mbakyu Surina, Bopo. Ningsih sudah tahu apa kejahatan Mbakyu terhadapku, tapi itu sudah sangat lama. Tolong jangan usir Mbakyu, Bopo!”
Sementara itu, Surina hanya mendelik memandang liar ke sana ke sini tanpa bisa bersuara ataupun bergerak. Tubuhnya masih dalam kondisi tertotok.
“Bopo, Surina bisa aku obati. Mudah-mudahan raga dan pikirannya bisa sehat kembali,” kata Anjas kepada mertuanya.
Demang Yono Sumoto terdiam sejenak, berusaha meredam amarahnya. Tentunya ia akan bersikap lancang jika bersikeras menolak saran baik seorang raja.
“Baiklah,” ucap Demang Yono Sumoto akhirnya. Lalu katanya kepada Jumung, “Bawa Surina ke kamarnya!”
Ketika pindah ke Kademangan Uruk Sowong, kondisi Surina masih normal dan kejahatannya belum terungkap. Jadi dia memiliki kamar sendiri di rumah itu. Demang Yono Sumoto juga membuatkan kamar untuk Ningsih, berharap bahwa suatu hari nanti Ningsih akan pulang.
“Ningsih…” sebut Rumih Riya lirih. Ia sudah siuman.
“Mbok, aku di sini!” sahut Ningsih cepat sambil buru-buru menghampiri ibunya di ranjang, lalu meraih tangannya.
Seketika itu juga, Rumih Riya kembali berlinang air mata. Ia memegangi wajah Ningsih, seolah ingin memastikan bahwa wajah yang dilihatnya bukanlah fatamorgana.
“Nduuuk!” sebut Rumih Riya sambil menarik putrinya dan memeluknya, mengajaknya untuk menangis bersama.
Suasana sedih dan haru kembali tercipta di kamar itu. (RH)
__ADS_1