
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Akhirnya pertarungan di simpang tiga berakhir.
Nenek Rambut Merah, Hantu Kaki Tiga, Empat Kapak Loreng, dan orang-orang Perguruan Pedang Kilat sepakat berhenti. Namun, mereka tetap akan pergi ke Gua Lolongan dengan berbekal peringatan bahwa kabar tentang pusaka itu adalah jebakan.
Jika Empat Kapak Loreng melanjutkan perjalanan dengan tetap berbekal kapaknya, murid-murid Perguruan Pedang Kilat harus pergi tanpa pedang mereka lagi.
Para pendekar lain yang tidak bisa disebutkan namanya satu per satu, juga melanjutkan perjalanan menuju Gua Lolongan.
Siluman Harimau Hitam menepi di pinggir untuk menghentikan pendarahannya. Surya Kasyara diperintahkan untuk memberikan tuaknya kepada Datuk Kramat.
Setelah berbincang seperlunya saja dengan Kusuma Dewi dan Tirana, Nenek Rambut Merah dan Hantu Kaki Tiga memilih ikut yang lain, yaitu melanjutkan perjalanan menuju Gua Lolongan.
Setan Ngompol kali ini tidak percaya diri untuk mendekat kepada para bidadari cantik yang saktinya membuat berdecak. Ia tidak mau mengganggu suasana dengan bau pesingnya yang menyengat, kontras dengan para permaisuri yang memiliki aroma harum yang beraneka.
Sementara Limarsih memilih tidak ikut gurunya, meski mereka sama-sama akan pergi ke Gua Lolongan. Ia memilih bersama adiknya, Kusuma Dewi. Ia sangat ingin tahu tentang adiknya itu, terutama tentang Joko Tenang. Sangat mengejutkan, Kusuma Dewi yang belum lama ini adalah anggota penjahat Gerombolan Kuda Biru, tiba-tiba menjadi seorang permaisuri.
Di saat mereka sedang membantu Siluman Harimau Hitam dari Negeri Andalas, Limarsih dan Kusuma Dewi berbincang-bincang sambil duduk di tanah berumput, agak menjauh dari rombongan.
“Jadi kalian berenam adalah istri-istri Joko Tenang?” tanya Limarsih, melanjutkan rentetan keterkejutannya.
“Benar. Aku Permaisuri Ketujuh,” jawab Kusuma Dewi seraya tersenyum manis kepada kakaknya.
“Apakah wanita bermata hitam yang bersama Joko Tenang tadi malam adalah permaisuri Joko juga?”
“Benar. Namanya Permaisuri Nara, yang berjuluk Dewi Mata Hati. Tokoh sakti aliran putih berusia seratus tahun.”
“Gajah duduk!” umpat Limarsih karena saking terkejutnya mengetahui fakta itu.
__ADS_1
“Hihihi…!” tawa Kusuma Dewi melihat reaksi kakaknya.
“Benar, seratus tahun umurnya?” tanya ulang Limarsih lagi, khawatir ada setan di lubang telinganya yang menyesatkan pendengarannya.
“Iya. Di antara kedelapan permaisuri, akulah yang paling rendah tingkat kesaktiannya. Tapi aku mendapat ilmu pedang baru dari Permaisuri Dewi Mata Hati. Dia pun akan mengajariku ilmu kesaktian baru seusai masalah besar ini berakhir,” tutur Kusuma Dewi.
“Aku justru sedih mengetahui kau berbagi suami. Itu sangat menyakitkan, Dewi!” kata Limarsih setengah berbisik, menekankan bahwa ia sangat prihatin dengan nasib cinta adiknya.
“Sebelum aku memutuskan menikah dengan Joko Tenang, aku sudah menangisinya. Ya, hatiku memang sakit dan sangat sakit. Namun, jika aku tidak menahan sakit itu, aku mungkin akan menjadi wanita sakit hati hingga saat ini. Mungkin juga tidak akan bisa merasakan betapa perkasanya Joko di ranjang. Hihihi!”
“Mesum!” umpat Limarsih sambil tangan kirinya menyodok dahi Kusuma Dewi dengan dua jarinya.
“Apanya yang mesum? Aku bergulat dengan suamiku, bukan dengan lelaki tetangga!” tandas Kusuma Dewi. Ia semakin menggoda kakaknya, “Ternyata terbukti, meski Joko memiliki banyak istri, tapi rasa tidak berkurang sedikit pun. Hihihi…!”
“Sudah sudah sudah! Jangan bicara masalah itu, aku belum cukup umur!” hardik Limarsih merengut dengan wajah cantiknya yang memerah.
“Sebenarnya Kakang Prabu bukan lelaki haus birahi. Ia terjebak oleh kondisi. Penyakitnya memaksanya ia harus menyembuhkan diri dengan cara memiliki istri banyak. Dan ada tuntutan tugas mulia di balik itu semua, yaitu untuk menguasai satu ilmu sakti demi menjadi penjaga kedamaian dunia persilatan. Jika mau menuruti kebahagiaan diri sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan wanita lain, mungkin Permaisuri Tirana tidak akan membiarkan dirinya memiliki madu. Yaaa, aku mungkin memang ditakdirkan meraih kebahagiaan setelah merasakan kepahitan yang sangat pahit. Kau tidak akan bisa merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan, karena kau tidak mungkin bisa menikah dengan Joko selagi aku masih istrinya,” tutur Kusuma Dewi.
“Tinggallah bersama kami di Istana Sanggana Kecil, Kak. Lihat kondisimu sekarang, terlihat menyedihkan.”
“Ini semua gara-gara Joko Tingkir bajing bulukan itu!” maki Limarsih.
“Kau bertemu dengannya?” tanya Kusuma Dewi.
“Aku adalah kekasihnya. Tapi aku memergokinya dengan wanita lain yang juga mengaku kekasihnya. Aku bertarung dengan wanita gunung itu, tapi dia lebih sakti. Aku nyaris dibunuhnya jika Guru tidak muncul menolongku. Tadi malam kami hampir membunuhnya, tetapi Joko Tenang muncul dan justru menolongnya. Joko Tingkir dan suamimu sama saja. Aku dianggapnya bukan wanita yang mereka kenal. Setelah menolong wanita gunung itu, Joko Tenang justru pergi tanpa mempedulikanku. Joko Tingkir lebih keterlaluan lagi. Saat aku bertaruh nyawa mempertahankan cintaku, dia justru pergi meninggal aku bertarung dengan wanita gunung itu. Mungkin aku harus membesarkan dadaku supaya mereka beralih memandangku!” celoteh Limarsih penuh emosi.
“Tadi kau begitu senang mengaku bertemu dengan Joko, kenapa sekarang kau marah kepadanya?” tanya Kusuma Dewi.
“Itu sebelum aku tahu bahwa dia memelihara banyak perempuan cantik dan kau termasuk di dalamnya!” kata Limarsih dengan wajah merengut.
“Jika memang Joko Tingkir memiliki banyak kekasih, lebih baik kau tinggalkan. Kami baru saja bertemu dengan Joko Tingkir. Ketika tahu aku adalah istri Joko, dia malah tertarik dengan istri Joko yang lain….”
__ADS_1
“Sekarang di mana Tingkir? Aku benar-benar ingin menamparnya sepuluh kali. Dia mengatakan sangat mencintaiku. Karena terlalu cintanya, sampai-sampai dia mengaku bisa tidur nyenyak meski hanya memeluk pakaian bekasku. Tapi buktinya, tidak sampai satu purnama dia sudah bersama dedemit perempuan lain!” Limarsih tampak begitu emosi membicarakan tentang Joko Tingkir.
“Mungkin Tingkir masih di belakang. Dia begitu sedih mendengar wanita-wanita yang pernah diliriknya menjadi istri Joko. Dan dia sangat terpukul mendengar Joko kini menjadi seorang raja,” kata Kusuma Dewi. “Kak, kau lihat para pendekar itu. Kau bisa memilih salah satunya untuk kau jadikan kekasih. Atau, jika kau mau yang tampan, di Istana ada beberapa pemuda tampan yang sedang tinggal.”
“Ah, sudahlah. Nanti, aku pasti menemukan lelaki yang lebih baik daripada Joko Tingkir, tapi mungkin tidak lebih baik dari Joko Tenang.”
“Tapi, apakah kau mau menerima ajakanku untuk tinggal di Kerajaan Sanggana Kecil. Parsuto sudah memilih hidup damai di sana sebagai seorang petani,” kata Kusuma Dewi.
“Oh ya? Parsuto menjadi petani?”
“Iya. Alasannya dia harus menjaga istrinya yang buta. Padahal, Kakang Prabu menawarinya jabatan sebagai pengawal raja,” jelas Kusuma Dewi.
“Ah, dia itu selalu saja bodoh ambil keputusan,” ucap Limarsih. “Aku akan pertimbangkan tinggal di sana, tapi aku harus berbincang banyak dengan Joko lebih dulu.”
“Baiklah.”
“Apa yang akan kalian lakukan di Gua Lolongan?”
“Mencegah terjadinya banyak kematian. Kami pun akan membunuh para perancang siasat kejam ini,” jawab Kusuma Dewi.
“Kau jelas sangat beruntung, Dewi. Kalian benar-benar rombongan yang mengerikan. Hanya dengan seorang permaisuri saja, orang setingkat Guru saja tidak berdaya.”
“Orang-orang yang ada di Gua Lolongan aku yakin jauh lebih berbahaya. Dan kita harus menghadapi ratusan orang pendekar yang sangat ingin mendapatkan pusaka tanpa tanding itu,” kata Kusuma Dewi. “Siapa orang-orang yang bersama Guru itu?”
“Saudara seperguruan Guru.”
“Aku kira Guru tidak tertarik dengan perkara pusaka sakti,” kata Kusuma Dewi.
“Entahlah. Tapi, siapa yang tidak tergiur jika bisa menjadi pendekar tidak terkalahkan.”
“Ayo, sepertinya kita akan berangkat!” kata Kusuma Dewi saat melihat para pendekar Pasukan Pengawal Bunga telah bergerak masuk ke dalam barisan di belakang kelima serigala. (RH)
__ADS_1