8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 21: Menjinakkan Macan Betina


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


Akhirnya Joko Tenang mengistirahatkan rombongannya. Ia harus mengobati Pangeran Mabuk dan menyelesaikan perselisihan paham dengan Tembangi Mendayu.


“Ternyata ilmu pengobatanmu lebih hebat dari tuakku, Gusti Prabu,” puji Linglung Pitura setelah sehat kembali dari luka dalam dan ancaman racun ganas.


“Jadi kau kenal dengan orang-orang yang mau membunuhmu, Kek?” tanya Joko Tenang.


“Kedua kakek itu adalah anggota Lima Siluman Putih, tetapi tiga orang lainnya tidak terlihat,” jawab Linglung Pitura.


“Kami pun sedang memburu tiga nenek lainnya. Berarti mereka membagi diri menjadi dua kelompok untuk melakukan pembunuhan terhadap pendekar tua,” kata Joko Tenang.


“Jadi mereka ada dua kelompok?” tanya Lanang Jagad seolah tidak mendengar perkataan Joko Tenang tadi.


“Benar. Selain guru Joko Tingkir dan gurumu, mereka juga telah membunuh Nenek Tongkat Lentur dan Hantu Kaki Tiga,” kata Joko Tenang.


“Hah!” kejut Linglung Pitura yang mengenal nama dua tokoh yang turut dibunuh oleh Lima Siluman Putih.


“Siapa sebenarnya mereka? Apakah mereka orang Kerajaan Siluman?” tanya Joko Tenang.


“Mereka itu tokoh hitam yang sudah puluhan tahun dianggap hilang atau mati. Jika urusan dengan Kerajaan Siluman atau Malaikat Dewa Raja Iblis, aku tidak tahu-menahu,” jawab Linglung Pitura.


“Oh ya, aku ingin memberitahukan kepadamu, Kek, Surya Kasyara sudah menikah,” kata Joko Tenang.


“Appa?!” pekik Linglung Pitura. Ia pun berubah emosi. “Anak kurang ajar! Ketika dia sudah sukses sebagai orang kerajaan, dia melupakanku. Apakah dia kira aku tidak pantas masuk ke dalam istana?”


“Hahaha!” tawa Joko Tenang. “Pernikahannya terlalu mendadak, mungkin sudah tidak tahan.”


“Datanglah ke Sanggana Kecil jika kau memang mau menjewernya,” kata Joko Tenang seraya tersenyum.


“Aku yang akan menjewernya!” sahut Rara Sutri. “Awas saja jika dia menikahi wanita yang tidak lebih cantik dariku!”


“Hahaha…!” tawa Joko Tenang agak keras.


Hal itu membuat Rara Sutri terkejut dan heran, karena menurutnya ia tidak sedang melucu.


“Apakah aku berkata lucu, Gusti Prabu?” tanya Rara Sutri.


“Tidak. Adik seperguruanmu yang lucu. Karenanya, kau harus berkunjung ke Sanggana Kecil,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum lebar. Ia lalu bangkit berdiri, hendak pergi ke tempat Tembangi Mendayu dan kakaknya menyendiri.


“Joko Joko Joko!” panggil Joko Tingkir dan cepat menahan sahabatnya itu. Lalu tanyanya, “Eh, apa hubunganmu dengan nenek cantik itu?”


“Kenapa? Kau curiga sama seperti Tembangi?” tanya balik Joko Tenang.


“Hehehe! Jika kau tidak memberi tahu, aku mana tahu,” kata Joko Tingkir.

__ADS_1


“Kami hanya sebatas pendekatan, tidak akan sampai saling mencinta,” kata Joko Tenang.


“Tidak saling mencinta, tapi saling sentuh-sentuhan,” kata Joko Tingkir tidak percaya.


“Dasar!” rutuk Joko Tenang tersenyum sambil menepuk kepala sahabatnya itu.


Joko Tenang lalu meninggalkan Joko Tingkir, pergi ke bawah pohon tempat Gadis Cadar Maut dan adiknya berada.


“Prabu Joko datang ke mari,” bisik Gadis Cadar Maut yang masih duduk sambil merangkul bahu adiknya.


Tembangi Mendayu hanya melirik sejenak ke arah kedatangan Joko Tenang.


“Selesaikan masalahmu dengan kepala dingin, jangan kedepankan amarah,” kata Gadis Cadar Maut. Ia menepuk bahu adiknya dengan dua ketukan, tapi itu bukan kode rahasia apa pun.


Gadis Cadar Maut lalu bangkit berdiri dan meninggalkan adiknya seorang diri.


“Buatlah dia mengerti dengan lembut, Gusti Prabu,” kata Gadis Cadar Maut saat berpapasan dengan Joko Tenang.


“Akan aku usahakan, Kak,” kata Joko Tenang kaya lembu (kalem).


Gadis Cadar Maut berlalu dan Joko Tenang mulai menghampiri Tembangi Mendayu yang berwajah sembab seperti rujak disiram sambal gula merah, tetap manis dalam kemarahan.


Tiba-tiba Tembangi Mendayu melempar, tetapi yang dilempar adalah dedaunan rumput yang dijambaknya dari sisinya.


“Pergi! Mau apa dekat-dekat?!” sentak Tembangi setelah melempar rerumputan yang hanya sebatas setengah lemparan saja.


“Aku ingin bersamamu sejenak,” jawab Joko Tenang sambil duduk di tanah berumput, tepat di sisi kiri si gadis.


“Iiih, sana! Aku benci!” jerit Tembangi Mendayu setengah berteriak, sambil mendorong keras lengan Joko Tenang agar menggeser menjauh.


Joko Tenang membiarkan dirinya didorong hingga hampir terjungkal jatuh.


“Hikh!” sentak Tembangi Mendayu hendak tertawa melihat Joko Tenang nyaris terjungkal. Namun, ia cepat menahannya, sebab ia masih marah dan sakit hati.


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir yang menonton dari jauh bersama, Lanang Jagad, Arya Permana, dan Rara Sutri.


Sementara Gadis Cadar Maut memilih berbincang dengan Pangeran Mabuk dan Bidadari Wajah Kuning.


“Aku saja sulit menaklukkan macan betina itu, apalagi Joko Tenang,” kata Joko Tingkir.


“Hahaha!” tawa Lanang Jagad, Arya Permana dan Rara Sutri mendengar perkataan Joko Tingkir.


“Kenapa kalian tertawa?” tanya Joko Tingkir.


“Kau harus bisa menerima kenyataan, Tingkir. Pesonamu tidak akan pernah bisa mengalahkan Prabu Joko,” kata Arya Permana.

__ADS_1


“Aaah, kau meremehkanku, Sahabat,” sungut Joko Tingkir.


“Benar, jika pesonamu tinggi, aku pun pasti akan beralih dari Kakang Lanang jadi melirikmu,” kata Rara Sutri pula bermaksud menggoda Joko Tingkir.


Sementara itu, Joko Tenang kembali menggeser duduknya untuk merapat ke sisi Tembangi Mendayu.


“Sudah aku bilang, sana, jangan dekat-dekat!” kata Tembangi Mendayu dan kembali mendorong lengan Joko Tenang.


Kembali pula Joko Tenang terdorong, tetapi tidak sampai seperti tadi. Ia tetap kembali mendekat, membuat sang gadis semakin jengkel.


“Perg… aaww!” pekik Tembangi Mendayu sambil kembali mendorong lengan Joko Tenang. Ia berujung terkejut.


Raja muda itu sedikit jahil, ia agak memundurkan badannya ketika si gadis mendorong, membuat tangan Tembangi tidak mengenai lengan Joko, tetapi justru terperosok terus. Tubuh Tembangi ikut terperosok dan menabrak tubuh Joko Tenang, sampai-sampai bibir gadis itu menabrak pipi kanan Joko Tenang.


“Cie cie cieee!” ucap Arya Permana dari tempatnya menonton.


“Hahaha!” tawa Lanang Jagad sambil menepuk bahu Joko Tingkir yang justru cemburu, terlihat dari gaya bibirnya yang agak maju.


Sementara itu, Tembangi Mendayu jadi malu sendiri lalu memukuli dada dan lengan kanan Joko Tenang, tetapi hanya menggunakan tenaga wanita biasa. Joko Tenang membiarkan dirinya dipukuli seperti seorang maling ayam tanpa daya.


Namun akhirnya, Tembangi Mendayu berhenti memukuli Joko Tenang. Ia kembali duduk tegap menatap ke depan dengan wajah yang merengut. Joko Tenang melirik bibir itu, membuatnya tersenyum. Jika seandainya saja saat itu Tembangi Mendayu adalah kekasihnya, mungkin ia sudah mencaplok bibir merengut itu sehingga selesailah permasalahan di antara mereka.


Meski wajahnya merengut dan sikapnya sangat tidak bersahabat, tetapi ada pemekaran bunga-bunga di dalam hati dan perasaan Tembangi Mendayu. Hati kecilnya harus mengakui bahwa ia senang Joko Tenang memaksa dekat dengannya.


“Tembangi Cantik, maafkan aku!” ucap Joko Tenang lembut.


Dengan lirikan yang tajam, Tembangi Mendayu sedikit menengok memandang wajah tampan pemuda berbibir merah itu. Tujuh tahun lebih ia selalu memikirkan wajah berbibir merah itu, kini sudah ada jelas di depan matanya.


“Ingin sekali aku memelukmu, Joko. Ingin sekali aku menciummu seperti ketika aku pertama menciummu. Aku sangat rindu denganmu…” kata Tembangi Mendayu, tetapi hanya di dalam hati.


Namun, ….


“Tidak, aku tidak akan memaafkanmu!” ketus Tembangi Mendayu, kontras dengan suara hatinya.


“Baiklah jika hatimu sudah tertutup untukku. Aku sudah meminta maaf dan aku sudah mencoba. Aku tidak akan memaksa membuka pintu hati yang tertutup, nanti justru akan rusak. Aku pun akan melupakan kenangan indah kita, dan aku pun akan melupakan wajah cantik jelitamu. Selamat melupakanku, Tembangi,” ujar Joko Tenang akhirnya mengambil sikap.


Terkesiap Tembangi Mendayu mendengar perkataan Joko Tenang. Hatinya mendadak sedih mendengarnya. Itu jelas pernyataan yang berniat mencampakkannya.


Raja muda itu lalu bangkit berdiri. Ketika Joko Tenang hendak melangkah pergi, ia tertahan. Sesuatu menahan langkah Joko Tenang.


Ternyata Tembangi Mendayu telah memegang kuat tangan kanan Joko Tenang.


“Jangan lupakan aku, Joko,” ucap Tembangi Mendayu lirih dan sedih, ia telah kembali menangis tanpa suara.


Tembangi Mendayu kemudian cepat bangun dan menghamburkan diri memeluk pemuda itu seraya menangis sedikit lebih memilukan.

__ADS_1


Semakin cemburulah Joko Tingkir melihat adegan itu. Dan semakin tertawalah Lanang Jagad, Arya Permana dan Rara Sutri menertawai Joko Tingkir. (RH)


__ADS_2