
*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*
Kaaak!
Gimba, sang burung rajawali raksasa mendarat di tengah pelataran Istana Sanggana Kecil. Ratu Getara Cinta dan para permaisuri lainnya segera datang menyambut kepulangan Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
Permaisuri yang bersama Ratu Getara Cinta adalah Permaisuri Yuo Kai, Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Nara. Bersama mereka juga ada Putri Sagiya Riangga Liya dan Mahapati Turung Gali.
Namun, mereka harus terkejut dan bertanya-tanya. Tubuh Joko Tenang diturunkan menggunakan selimut asap merah milik Putri Sri Rahayu. Mahapati Turung Gali segera menadahkan tangannya untuk menggendong tubuh Joko Tenang. Putri Sri Rahayu turun dengan tubuh yang sudah tidak berasap merah lagi.
Asap pada tubuh Joko pun hilang setelah tubuhnya berada dalam gendongan tangan kekar mertuanya.
“Terima kasih, Gimba!” teriak Putri Sri Rahayu kepada Gimba.
Kaaak!
Gimba berkoak pelan lalu bertolak terbang meninggalkan pelataran Istana.
“Apa yang terjadi dengan Kakang Prabu, Putri?” tanya Ratu Getara Cinta bernada panik.
“Sepertinya dia terkena racun Mutiara Ratu Panah,” jawab Putri Sri Rahayu sambil melangkah cepat mengikuti Mahapati Turung Gali yang berjalan cepat membawa tubuh Joko.
“Seharusnya Kakang Prabu sudah kebal terhadap semua jenis racun,” kata Ratu Getara Cinta.
“Itu hanya dugaan, Gusti Ratu. Aku sepenuhnya tidak tahu, tapi itu ada kaitannya dengan Mutiara Ratu Panah yang diambil Kakang Joko,” kata Putri Sri Rahayu.
“Prajurit, cepat panggil Tabib Rakitanjamu!” perintah Permaisuri Kerling Sukma kepada seorang prajurit yang berjaga.
“Baik, Yang Mulia!” ucap prajurit tersebut.
“Mutiara Ratu Panah adalah senjata gaib milik Ratu Tanpa Wujud dan dilindungi oleh makhluk-makhluk gaib. Bagaimana bisa Kakang Prabu berurusan dengan senjata itu?” kata Permaisuri Nara.
“Ayahku memberi tantangan kepada Kakang Joko untuk mengambil Mutiara Ratu Panah sebagai syarat untuk menikahiku,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Lalu di mana Permaisuri Tirana?” tanya Permaisuri Kerling Sukma.
“Kami berpisah, karena Tirana mendapat tugas untuk membebaskan Ibu Kakang Joko yang dijadikan selir oleh ayahku,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Apa?!” kejut mereka semua.
“Aku tidak akan apa-apa. Tirana pun tidak akan apa-apa,” ucap Joko Tenang yang masih tersadar, ia segera mengalihkan keterkejutan para istrinya.
“Aku dan Tirana sudah mengobati, tetapi tidak memberi pengaruh,” kata Putri Sri Rahayu.
__ADS_1
Sementara itu, Tabib Rakitanjamu segera pergi dengan langkah yang cepat setelah mendapat panggilan melalui prajurit. Tabib bertubuh kurus itu kini mengenakan jubah putih bersih. Sebagai Tabib Kerajaan, sudah tidak pantas jika tabib sakti berjuluk Tabib Teguk Getir itu mengenakan jubah lusuh.
Setibanya di kamar Prabu Dira, Tabib Rakitanjamu menghormat kepada orang-orang yang sudah menunggunya.
Kini Joko Tenang sudah terbaring di kasur tebal nan empuknya. Tubuhnya lumpuh.
“Apa yang terjadi?” tanya sang tabib.
“Kakang Prabu memegang Mutiara Ratu Panah,” jawab Ratu Getara Cinta.
“Oh,” desah Tabib Rakitanjamu. “Jika demikian, hamba mohon pamit diri. Tiga hari lagi Gusti Prabu akan pulih sepenuhnya!”
“Hanya seperti itu, Ki?” tanya Kerling Sukma terkejut.
“Apakah ketika Gusti Prabu menyentuh mutiara itu, mutiaranya dalam kondisi bersinar?” tanya Tabib Rakitanjamu.
“Benar, Ki,” jawab Joko Tenang.
“Gusti Prabu terkena serangan gaib Mutiara Ratu Panah, bukan racun. Serangan gaib itu terjadi jika ia disentuh dalam kondisi bersinar. Setelah sinarnya padam, mutiara itu tidak akan menyerang tanpa dikehendaki oleh pemiliknya. Sifatnya hanya melumpuhkan untuk beberapa hari saja, paling lama tiga hari tanpa mengancam nyawa Gusti Prabu,” jelas Tabib Rakitanjamu.
“Apakah kau tahu cara penggunaan Mutiara Ratu Panah, Ki?” tanya Putri Sri Rahayu.
“Maafkan hamba, bolehkan aku tahu Nisanak siapa?” tanya Tabib Rakitanjamu. Ia memang belum pernah bertemu dengan Putri Sri Rahayu.
“Aku penasaran, bagaimana Gusti Putri memiliki tubuh beracun seperti ini,” kata Tabib Rakitanjamu.
“Aku satu-satunya yang mewarisi kulit beracun leluhurku,” jawab Putri Sri Rahayu.
“Tentunya akan lancang jika hamba terlalu banyak bertanya tentang hal itu. Mutiara Ratu Panah baru bisa dilihat kesaktiannya jika dia ditelan dan bersemayam di dalam tubuh, tetapi hanya oleh tubuh yang kosong. Jika pada tubuh yang sudah memiliki penghuni lain, nantinya akan terjadi pertarungan kekuatan yang justru akan membahayakan pemiliknya. Gusti Prabu sudah memiliki Permata Darah Suci seperti halnya Gusti Ratu, termasuk penghuni pedang. Sementara para permaisuri sudah memiliki penghuni Cincin Mata Langit. Jadi, tidak bisa untuk menyimpan pusaka milik Ratu Tanpa Wujud,” tutur Tabib Rakitanjamu.
“Mutiara itu sudah aku serahkan untuk Prabu Raga Sata,” kata Joko Tenang.
“Apa?” kejut beberapa orang, termasuk Tabib Rakitanjamu.
“Itu akan sangat berbahaya, Gusti,” kata Tabib Rakitanjamu. “Prabu Raga Sata adalah nama asli dari Malaikat Dewa Raja Iblis, tokoh sakti dan salah satu pemimpin golongan hitam. Mutiara Ratu Panah adalah senjata sakti. Jadi akan sangat berbahaya jika benda itu berada di tangannya.”
“Mutiara Ratu Panah masih ada di tanganku, belum aku berikan kepada ayahku,” kata Putri Sri Rahayu.
“Apa?” kejut Tabib Rakitanjamu seorang, sebab hanya dia yang ada di ruangan itu yang belum tahu siapa adanya Putri Sri Rahayu.
“Putri Sri Rahayu adalah putri dari Malaikat Dewa Raja Iblis, Rakitanjamu,” kata Permaisuri Nara yang usianya jauh lebih tua dari sang tabib.
“Aku tidak akan memberikannya kepada ayahku. Mutiara ini tetap adalah milik Kakang Joko, karena dialah yang berhasil mengambilnya,” kata Putri Sri Rahayu.
__ADS_1
“Jika Gusti Prabu dan semua permaisuri tidak mempermasalahkan siapa Putri adanya, tentunya tidak pantas bagiku untuk mempersoalkannya. Hamba mohon pamit, Gusti Prabu!”
“Terima kasih, Tabib. Pengetahuanmu sangat membantu,” ucap Joko Tenang.
“Nanti hamba akan buatkan minuman ramuan agar Gusti Prabu segera pulih,” kata Tabib Rakitanjamu.
Sang tabib pun menjura hormat lalu berbalik pergi.
“Lalu kapan kita akan menikah, Putri?” tanya Joko Tenang kepada Putri Sri Rahayu.
“Tentunya setelah Kakang pulih,” jawab sang putri.
“Maafkan aku, Kakang. Tapi apakah bisa berhubungan? Bukankah Putri Sri seluruh tubuhnya beracun?” tanya Putri Sagiya yang memendam rasa penasaran.
“Seharusnya bisa. Kakang Prabu itu sudah kebal racun sejak menelan Permata Darah Suci,” kata Ratu Getara Cinta.
“Tapi aku pernah keracunan ketika menyentuh kulit Putri Sri sebelum aku bertemu kembali dengan Permaisuri Mata Hijau,” kata Joko Tenang yang kemudian tersenyum mengingat insiden lucu antara ia dan Putri Sri Rahayu.
“Itu biasa terjadi untuk racun-racun ganas. Sebutannya perkenalan, tapi tidak sampai membunuh, sebab tubuh akan cepat menyesuaikan. Untuk kedua kali dan seterusnya, akan kebal. Jika tidak percaya, Putri Sri bisa mencoba menyentuh Kakang Prabu lagi. Aku sudah lama jadi pemilik Permata Darah Suci, jadi aku sangat tahu,” jelas Ratu Getara Cinta.
“Cobalah, Putri. Agar kita semua tidak penasaran!” kata Joko Tenang.
“Baik,” ucap Putri Sri Rahayu. Ia lalu membuka satu sarung tangannya.
Ia kemudian menghampiri calon suaminya lebih dekat. Tanpa ragu ia meraih tangan kanan Joko dan memegangnya.
Setalah beberapa tarikan napas.
“Ternyata benar, Kakang sudah kebal terhadap racunku!” kata Putri Sri Rahayu sumringah, setelah tidak terjadi apa-apa pada kulit Joko.
“Hahaha! Ternyata racun pun tidak bisa memisahkan cinta kita, Putri,” kata Joko Tenang, membuat Putri Sri Rahayu jadi tersenyum malu.
“Hormat hamba, Yang Mulia Gusti Prabu!” lapor Senopati Batik Mida di luar pintu kamar yang terbuka.
“Bangunlah, Senopati!” perintah Joko Tenang lemah.
“Ada ribuan pasukan perang telah tiba di barat kaki Gunung Prabu!” lapor Senopati Batik Mida.
“Apa!” kejut beberapa permaisuri.
“Pasukan kerajaan mana mereka?” tanya Joko.
“Hamba tidak kenal, Yang Mulia. Tetapi, pasukannya berpakaian warna kuning hitam,” jawab Senopati Batik Mida.
__ADS_1
“Itu pasukan Kerajaan Balilitan!” kata Mahapati Turung Gali. (RH)