8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 18: Pertemuan di Tengah Jalan


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


Pada hari pertamanya tiba di Kerajaan Sanggana Kecil, Putri Sri Rahayu tidak menyangka akan bertemu dengan seorang abdinya.


Saat menuju ke kamarnya, tiba-tiba sesosok lelaki bonsai berpakaian abu-abu muncul begitu saja di depan sang putri. Ia berlutut menghormat. Lelaki bersabuk putih itu memiliki rambut sepanjang bokong yang dikepang. Di sabuk kanannya ada sebuah kantong kain berwarna hitam sebesar genggaman. Entah apa isinya.


“Kau ada di sini, Mata Setan?” tegur Putri Sri Rahayu.


“Hamba selalu mengikuti Joko, tapi dalam jarak tertentu,” jawab orang yang bernama lengkap Siluman Mata Setan.


“Bangunlah!” perintah Putri Sri Rahayu.


Siluman Mata Setan segera bangun.


“Aku ada tugas untukmu. Pulanglah ke Istana Kerajaan Siluman secepat pungkin. Katakan kepada Ayahanda dan Ibunda, tiga hari lagi aku akan menikah dengan Joko!” perintah Putri Sri Rahayu.


“Baik, Bidadari!” ucap Siluman Mata Setan.


“Pergilah sekarang juga!” perintah Putri Sri Rahayu.


“Baik, Bidadari!” ucap Siluman Mata Setan.


Clap!


Setelah menghormat, Siluman Mata Setan menghilang begitu saja.


Siluman Mata Setan adalah salah satu abdi setia Putri Sri Rahayu. Tugasnya adalah mengintai. Cara dia mengintai adalah masuk ke alam gaib. Ia selalu mengawasi keberadaan Joko Tenang, tetapi tidak berani dalam jarak dekat jika ada Permaisuri Mata Hati dan Permaisuri Serigala. Ia berada di kerajaan itu sejak awal.


Siluman Mata Setan memiliki kelebihan dalam kecepatan. Karenanya ia sanggup tiba ke Kerajaan Siluman dalam perjalanan yang kurang dari sehari.


Namun, dalam perjalanan pulangnya, Siluman Mata Setan bertemu dengan Ratu Sri Mayang Sih dan Lima Pangeran Dua Putri di tengah jalan.


“Hormat hamba, Gusti Ratu!” ucap Siluman Mata Setan yang tiba-tiba muncul menghadang.


“Siluman Mata Setan!” sebut Ratu Sri Mayang Sih agak terkejut. “Bangunlah!”


“Hamba dalam perjalanan ke Istana untuk bertemu dengan Gusti Prabu, Gusti Ratu!” ujar Siluman Mata Setan setelah berdiri sempurna.


“Gusti Prabu Raga sudah tewas dan sekarang aku menjadi buruan Kerajaan Siluman,” kata Ratu Sri Mayang Sih.


“Apa?!” kejut Siluman Mata Setan. “Apa yang terjadi, Gusti Ratu?”

__ADS_1


“Ayah Joko Tenang telah membunuh suamiku,” desis Ratu Sri Mayang Sih seolah menaruh dendam kepada Anjas.


“Apa?!” pekik Siluman Mata Setan tambah terkejut. “Tapi, Gusti. Aku diperintahkan oleh Bidadari Asap Racun untuk menyampaikan kepada Gusti, bahwa Putri dan Joko akan menikah tiga hari lagi!”


“Apa?!” pekik Ratu Sri Mayang Sih, gantian terkejut. “Ini tidak boleh terjadi!”


Tampak Ratu Sri Mayang Sih berubah gelisah.


“Berapa lama perjalanan menuju Kerajaan Sanggana Kecil?” tanya Ratu Sri Mayang Sih.


“Dua hari perjalanan kuda sedang. Jika cepat akan memakan waktu satu setengah hari. Jika Gusti Ratu mengizinkan, aku bisa kembali ke Kerajaan Sanggana Kecil dalam waktu kurang dari sehari,” kata Siluman Mata Setan.


“Jika kami bisa tiba tepat waktu, lebih baik tidak usah, Mata Setan. Kau aku perintahkan untuk masuk ke Istana Siluman untuk memantau kondisi di sana. Kau bisa masuk tanpa diketahui oleh para prajurit!” perintah Ratu Sri Mayang Sih.


“Baik, Gusti!” ucap Siluman Mata Setan patuh.


“Tapi kau harus hati-hati, Mata Setan. Orang yang berkuasa di Istana sekarang adalah Jin Gurba, buyut dari Prabu Raga yang sangat jahat. Jangan pernah mendekatinya!” pesan Ratu Sri Mayang Sih.


“Baik, Gusti Ratu,” ucap Siluman Mata Setan. “Aku sarankan Gusti Ratu mencari kuda yang kuat. Setibanya di Kadipaten Repakulo, Gusti Ratu bisa berganti kuda agar kuda tidak kelelahan. Kadipaten Repakulo kini dikuasai oleh Siluman Gendut. Gusti Ratu bisa meminta kuda-kuda yang kuat kepadanya dan bersitirahat sejenak di sana.”


“Baiklah. Kau boleh pergi, Mata Setan!” perintah Ratu Sri Mayang Sih.


“Hamba mohon diri, Gusti Ratu!” ucap Siluman Mata Setan menghormat. Setelah itu, ia pun menghilang masuk ke alam gaib, lalu pergi menuju Istana Siluman untuk menyusup.


Maka, mereka segera mencari kuda di daerah permukiman terdekat. Pembelian delapan kuda membuat sang ratu harus mengorbankan sejumlah perhiasannya.


Setelah itu, mereka menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa. Kuda yang mereka tunggangi dipacu dengan kecepatan tinggi.


Dalam perjalanannya, Ratu Sri Mayang Sih harus terkejut. Secara kebetulan, tanpa ada janjian lewat pesan Facebook atau WhatsApp lebih dulu, ia bertemu kembali dengan Raja Anjas Perjana Langit dan rombongannya.


Di dalam rombongan Anjas, ikut istrinya Ningsih Dirama, Permaisuri Tirana, Gurudi, Demang Yono Sumoto, Rumih Riya yang sudah sembuh dari kelumpuhan, Surina Asih yang kondisinya lebih cantik dan bersih, dan para abdi keluarga Demang.


Awalnya Ratu Sri Mayang Sih dan rombongannya tidak mempedulikan rombongan yang terdiri dari satu kereta kuda dan tiga pedati kuda itu. Jalan yang tidak begitu lebar membuat Ratu Sri Mayang Sih dan rombongan agak memelankan laju kudanya ketika menyalip.


“Ratu Sri Mayang!” panggil Anjas tiba-tiba, saat dia yang mengusiri satu pedati mengenali sosok wanita berkuda yang lewat di sisinya.


Alangkah terkejutnya sang ratu ketika mendapati keberadaan Anjas. Ia langsung menghentikan kudanya dan melompat ke pedati, tepat di sisi Anjas.


“Kau harus membayar perbuatanmu dengan kematianmu, Anjas!” teriak Ratu Sri Mayang Sih sambil melancarkan sejumlah tendangan bertenaga dalam tinggi.


Teriakan Ratu Sri Mayang Sih mengejutkan semua orang dalam rombongan Anjas, termasuk Anjas sendiri. Ia terkejut dengan serangan tiba-tiba sang ratu.


Namun, mudah bagi Anjas menangkis semua tendangan dan pukulan yang menyerangnya, tanpa bangun dari duduknya. Gerakan tangan Anjas begitu cepat dalam menangkis.

__ADS_1


“Maafkan aku, Gusti Ratu!” seru Tirana tiba-tiba sambil tubuhnya melesat menerjang kepada Ratu Sri Mayang Sih.


Dak!


Terjangan dari wanita sakti itu membuat sang ratu menangkis dengan kedua tangannya. Peraduan tendangan dan kedua tangan membuat Ratu Sri Mayang Sih kalah tenaga. Sang ratu pun terlempar dari tempat sais pedati.


Namun, Putri Pelangi segera menangkap tubuh ratunya sehingga tidak sampai jatuh ke tanah jalanan.


“Bukankah urusan kita sudah selesai, Ratu?” tanya Anjas ramah seraya tersenyum manis.


Sementara Ningsih Dirama dan orang lain di dalam rombongan hanya memandangi dengan perasaan tegang. Demang Yono Sumoto dan istrinya mengintip lewat jendela bilik kereta kuda.


“Urusan kita selesai ketika aku tidak punya kekuatan. Kini aku punya kekuatan untuk menuntut kematian suamiku!” seru Ratu Sri Mayang Sih.


“Hanya dengan aku saja, kau dan para pengawalmu tidak akan sanggup mengurusku. Apalagi sekarang aku bersama Permaisuri Tirana,” kata Anjas.


“Kau begitu licik, Permaisuri!” tukas Ratu Sri Mayang Sih yang membuat Tirana terkesiap. “Di saat kau dan Prabu Dira datang melamar putriku, kalian justru bersekongkol membunuh suamiku!”


“Maafkan aku, Gusti Ratu. Ada kesalahpahaman di antara kita. Aku dan suamiku….”


“Cukup!” teriak Ratu Sri Mayang Sih memotong kata-kata Tirana. “Untuk saat ini aku menunda urusan kita. Aku tidak akan membiarkan Prabu Dira memperistri putriku!”


Terkejutlah Tirana mendengar hal itu.


“Jangan lakukan itu, Gusti Ratu. Jangan membuat dua hati yang saling mencintai berpisah!” kata Tirana.


“Benar kata Permaisuri. Urusan orangtua adalah urusan kita, jangan korbankan putra-putri kita!” timpal Anjas.


“Selama aku masih hidup dan kau masih hidup, maka dendam ini tidak akan berakhir!” tandas Ratu Sri Mayang Sih.


Wanita yang masih cantik itu lalu melompat naik ke pelana kudanya.


“Hiah!” gebah Ratu Sri Mayang Sih meninggalkan rombongan Anjas.


Putri Pelangi segera naik pula ke kudanya. Lima Pangeran Dua Putri segera menyusul junjungannya yang sudah melesat kencang.


Anjas Perjana menghempaskan napas berat.


“Sepertinya, permasalahanku mengacaukan urusan putraku,” ucap Anjas kepada Tirana.


“Apakah aku harus mencegah Ratu Sri untuk sampai ke Sanggana Kecil, Gusti Mulia?” tanya Tirana.


“Tidak perlu. Biarkan permasalahan itu mengalir secara alami. Jika Joko memang berjodoh dengan Putri Sri Rahayu, maka Ratu Sri tidak akan berhasil mencegahnya,” kata Anjas. (RH)

__ADS_1


__ADS_2