8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 1: Melacak Pasukan Siluman


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Bidadari Payung Kematian yang baru saja buang hajat di balik batang pohon besar, merapikan celananya.


Srek!


Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara dedaunan kering yang tersepak oleh langkah kaki yang cepat.


“Eh, ada pengintip!” ucapnya lirih tapi terkejut.


Nenek berpakaian kuning itu segera melongok untuk melihat situasi. Ia menduga kuat ada orang yang mengintipnya buang hajat.


“Itu dia!” ucapnya lirih, saat melihat sosok lelaki berpakaian biru gelap bersenjata kapak bermata tiga di belakang pinggangnya.


Lelaki berperawakan pendekar itu sedang mengintai dari balik sekumpulan batang pisang, tapi bukan mengintai ke arah posisi Bidadari Payung Kematian.


“Dia mengintai seseorang di jalan bawah sana. Berarti dia tidak mengintipku,” pikir nenek gemuk itu.


Bidadari Payung Kematian lalu melangkah mengendap-endap tanpa suara mendekati lelaki pengintai. Ia mengerahkan ilmu peringan tubuhnya yang tinggi, sehingga ketika dia melangkah, tidak mematahkan selembar pun dedaunan kering.


Setibanya di tempat lelaki itu, Bidadari Payung Kematian ikut nimbrung melihat ke sisi bawah jalanan. Ternyata, lelaki itu sedang memperhatikan pergerakan puluhan pendekar yang pergi meninggalkan tempat itu.


“Sedang lihat siapa?” tanya Bidadari Payung Kematian.


“Mengintai,” jawab lelaki itu, tetap fokus mengintai tanpa menengok melihat orang yang menanyainya.


“Aku tahu kau mengintai, tapi siapa yang kau intai?” tandas Bidadari Payung Kematian.


“Baru saja aku tiba di sini,” jawab lelaki itu lagi.


Bidadari Payung Kematian jadi kerutkan kening dan hidung pendeknya mendengar jawaban yang tidak tersambung itu. Sepertinya ia salah nomor telepon. Ia sejenak menatap samping wajah lelaki yang ditanyainya.


Tak!


“Hei, Kisanak!” panggil Bidadari Payung Kematian sambil memukulkan ujung payungnya ke bahu lelaki itu.


Lelaki itu terkejut lalu berpaling memandang Bidadari Payung Kematian. Ternyata lelaki itu tidak lain adalah Siluman Kuping Buntu.


“Yaaak!” teriak Siluman Kuping Buntu sambil refleks melompat mundur menjauhi Bidadari Payung Kematian, tangan kanannya juga refleks meloloskan kapak tiga matanya. “Siapa kau?!”


“Aku Bidadari Payung Kematian,” jawab Bidadari Payung Kematian bersikap tenang.


“Hah? Pancung Kelamin?!” kejut Siluman Kuping Buntu.


“Hei! Lelaki muka mesum! Jangan kurang ajar kau dengan orang tua!” bentak Bidadari Payung Kematian.

__ADS_1


“Kenapa kau marah?!” sewot Siluman Kuping Buntu.


“Kau menghina namaku!” bentak Bidadari Payung Kematian masih dengan mata mendelik.


“Siapa yang memanggilmu mama?” bantah Siluman Kuping Buntu.


“Kenapa kau tidak pernah benar menjawab pertanyaanku?” tanya Bidadari Payung Kematian dengan nada yang lebih turun. Ia mulai curiga terhadap lelaki di depannya itu.


“Aku mengintai Pasukan Siluman,” jawab Siluman Kuping Buntu.


“Yang tadi kau intai itu Pasukan Siluman dari Kerajaan Siluman?” terka Bidadari Payung Kematian.


“Rahasia, kau tidak boleh tahu siapa yang menyuruhku. Aku boleh mati dalam tugas, tapi rahasia tidak boleh bocor. Hehehe!” kata Siluman Kuping Buntu sambil menyelipkan kembali gagang kapaknya di lilitan sabuknya. Lalu pamitnya, “Sampai bertemu di lain kesempatan, Pancung Kelamin!”


Setelah itu, Siluman Kuping Buntu berlari pergi dengan sedikit mengandalkan ilmu peringan tubuh.


“Kurang ajar, namaku yang cantik tapi menakutkan, diubah menjadi menakutkan tapi mesum!” gerutu Bidadari Payung Kematian. “Siapa sebenarnya lelaki itu? Aku harus tahu siapa yang menugaskan orang tidak beres seperti dia.”


Clap!


Tiba-tiba Bidadari Payung Kematian menghilang dari tempatnya.


Sejatinya, si nenek gemuk makmur itu sedang melesat secara senyap mengikuti kepergian Siluman Kuping Buntu.


Pada suatu tempat yang sepi, Siluman Kuping Buntu mendadak berhenti. Bidadari Payung Kematian juga berhenti dan mengawasi.


Fuuuk fuuuk!


Namun, setelah tidak ada yang terjadi, Siluman Kuping Buntu kembali melesat pergi. Bidadari Payung Kematian juga segera mengikuti dari jarak aman.


Cukup jauh Siluman Kuping Buntu pergi berlari. Bahkan sejauh dua bukit dilalui.


“Lama-lama aku bisa kurus kalau setiap hari diajak berlari seperti ini,” gerutu Bidadari Payung Kematian. Sampai-sampai dahi si nenek gemuk mulai berkeringat.


Setelah melewati dua bukit, Siluman Kuping Buntu kembali berhenti.


Fuuuk fuuuk!


Abdi Permaisuri Sri Rahayu itu kembali menciptakan suara burung perkutut ngebet kawin.


Fuuuk fuuuk!


Tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara tiupan yang sejenis, tetapi sumbernya berasal dari tempat yang agak jauh.


“Oh, rupanya di sana tadi dia memberi tanda, tetapi tandanya tidak ada yang melirik. Di sini ada yang sejenis, pasti langsung kawin. Jadi penasaran…” batin Bidadari Payung Kematian.


Setelah mendengar suara sahutan tiupan yang serupa, Siluman Kuping Buntu lalu berkelebat mendekati asal sumber suara burung balasan. Ternyata untuk suara burung, telinga Siluman Kuping Buntu bersifat jujur. Suara burung perkutut yang didengarnya tidak berubah menjadi suara bebek.

__ADS_1


Bidadari Payung Kematian segera mengikuti ke mana Siluman Kuping Buntu pergi.


Dalam waktu yang sebentar, lelaki berkapak itu tiba di sebuah tanah tinggi, yang di bawahnya adalah jalan umum yang cukup lebar. Di tempat itu, Siluman Kuping Buntu mendatangi seorang lelaki yang tidak memiliki dua tangan, sehingga kedua lengan bajunya hanya melambai-lambai. Meski demikian, dia menyandang pedang di punggungnya. Dia termasuk satu dari anggota Pasukan Siluman Generasi Pertama, namanya Siluman Tangan Setan. Jangan ditanya bagaimana caranya dia menggunakan pedang.


“Rombongan Siluman Generasi Puncak tidak akan lewat jalan ini, mereka lewat jalan barat untuk pulang ke Kerajaan,” ujar Siluman Kuping Buntu.


“Hah, baguslah kau datang. Jadi aku tidak perlu lama-lama di sini. Di sini banyak nyamuk jandanya, hahaha!” kata Siluman Tangan Setan, lalu kaki kanannya dengan luwes naik menekuk ke atas, kemudian menggaruk lehernya yang gatal. Hal itu begitu mudah dilakukan oleh Siluman Tangan Setan.


“Apa yang membuat dadamu bonyok remuk?” tanya Siluman Kuping Buntu, buntut salah terjemah dari pendengarannya.


“Hahaha!” Siluman Tangan Setan hanya tertawa mendengar ketidakkonekan rekannya.


“Ayo kita ke tempat Bidadari Asap Racun!” ajak Siluman Kuping Buntu. “Kau tahu kan tempat mereka berada?”


Siluman Tangan Setan hanya mengangguk. Jika ia jawab, ia yakin akan berbuntut melingkar jadinya.


Siluman Tangan Setan melesat lebih dulu. Siluman Kuping Buntu mengikuti. Bidadari Payung Kematian juga mengikuti.


“Siapa sebenarnya mereka? Apakah mereka kumpulan orang-orang cacat? Yang satu tidak punya tangan, yang satu pasti memang tuli, tapi lagaknya seperti orang normal. Pantas kacau!” batin Bidadari Payung Kematian.


Setelah berlari cukup jauh, kedua siluman lelaki itu akhirnya tiba di sebuah pinggiran hutan bambu. Di tempat itu berkumpul banyak orang. Mereka adalah Joko Tenang, Permaisuri Sri Rahayu, Raja Anjas Perjana Langit, Ratu Sri Mayang Sih, Lima Pangeran Dua Putri, Pangeran Lidah Putih, Bidadari Wajah Kuning, Gadis Cadar Maut, Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol, Tembangi Mendayu, Joko Tingkir, Arya Permana, Lanang Jagad, Arya Mungga, dan Riskaya. Semoga tidak ada yang lolos dari absen.


“Sembah hamba, Gusti Prabu!” ucap Siluman Kuping Buntu dan Tangan Setan seraya menghormat kepada Joko Tenang.


“Bangunlah!” perintah Joko Tenang.


Siluman Tangan Setan bangkit berdiri tegak. Sementara Siluman Kuping Buntu bangkit dan membungkuk, lalu diam.


Melihat hal itu, tertawa rendahlah Joko Tenang dan yang lainya.


Tik!


Sri Rahayu menjentikkan jari tangannya, membuat Siluman Kuping Buntu mendongak memandang kepada junjungan wanitanya. Sri Rahayu lalu menggerak-gerakkan jari jemarinya, berbicara kepada Siluman Kuping Buntu dengan bahasa isyarat.


“Oooh, hahaha!” tawa Siluman Kuping Buntu sambil menegakkan kembali punggungnya. Ia tertawa mengandung malu hati.


Joko Tenang baru tahu bahwa istrinya yang beracun itu ternyata mengerti bahasa jari atau isyarat.


Sri Rahayu kembali berbicara kepada Siluman Kuping Buntu dengan bahasa isyarat.


“Pasukan Siluman Generasi Puncak lewat jalan barat. Jika kita memutari Bukit Tiga Pucuk, kemungkinan kita bisa menyergap mereka, Gusti Permaisuri!” lapor Siluman Kuping Buntu lancar.


“Jika begitu, kita harus bergerak cepat!” kata Joko Tenang.


“Tertangkap basah kau, Nenek!”


Tiba-tiba mereka diusik oleh teriakan seseorang di tempat yang agak jauh. Teriakan itu adalah suara Siluman Mata Setan yang tiba-tiba muncul di belakang Bidadari Payung Kematian.

__ADS_1


Si nenek pembawa payung jadi terkejut dan langsung menengok ke belakang. (RH)


__ADS_2