
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Kedatangan Pangeran Tajilingga jelas menarik perhatian Pendekar Raja Kawin dan keenam istrinya.
Pangeran Tajilingga membiarkan Agung Jarak. Ia mendatangi Janila yang telah menghajar Agung Jarak. Istri cantik Senggara Bolo itu memberi senyum tipis tapi manis kepada Pangeran Tajilingga. Namun kemudian, dia pergi kembali duduk di kursinya meninggalkan sang pangeran.
Pangeran Tajilingga berdiri menghadap kepada Pendekar Raja Kawin dan keenam istrinya. Senggara Bolo tersenyum lebar kepada sang pangeran.
“Silakan duduk, Gusti Pangeran, jika ingin bicara denganku,” kata Senggara Bolo tanpa bangun dari duduknya.
“Apa yang kalian lakukan terhadap temanku?” tanya Pangeran Tajilingga dingin.
“Memberinya sedikit pelajaran. Hahaha!” jawab Senggara Bolo lalu tertawa santai.
“Siapa kau, Kisanak? Sedang apa kau di Ibu Kota?” tanya Pangeran Tajilingga.
“Hahaha! Aku Pendekar Raja Kawin. Ini adalah keenam istriku,” kata Senggara Bolo.
“Pendekar Raja Kawin? Sepertinya aku pernah mendengar namamu disebut oleh ibuku, Ratu Lembayung Mekar,” kata Pangeran Tajilingga sambil menunjukkan raut sedang berpikir.
“Hahaha!” tawa Senggara Bolo. “Aku datang ke sini karena aku mendengar bahwa Prabu Galang Madra telah mati. Jadi aku bermaksud melamar Ratu Lembayung Mekar.”
“Apa?” kejut Pangeran Tajilingga.
“Hahaha!” tawa Senggara Bolo lagi. “Sebelum ibumu menjadi istri ayahmu, aku sudah lebih dulu tergila-gila kepada ibumu. Jadi, saat mendengar ibumu sudah menjanda, aku segera datang.”
“Beraninya kau menjadikan penguasa Balilitan sebagai candaan, Pendekar!” kecam Pangeran Tajilingga.
“Oh, tidaaak!” sahut Senggara Bolo cepat membantah. “Aku sangat serius. Aku tidak main-main. Mendapatkan Ratu adalah tujuan hidupku saat ini!”
“Baiklah. Jika demikian, izinkan aku duduk bersama kalian,” ujar Pangeran Tajilingga.
“Silakan!” kata Senggara Bolo seraya tersenyum senang.
“Aku ingin mengatakan bahwa kau telat, Pendekar. Ibuku telah menikah dengan orang lain, seorang raja,” kata Pangeran Tajilingga setelah duduk sempurna.
“Apa?” kejut Senggara Bolo. Ia menatap tajam pangeran di depannya.
Salah seorang istri Senggara Bolo menuangkan minuman untuk Pangeran Tajilingga.
__ADS_1
“Raja siapa yang menikahi wanita yang aku cintai?” tanya Senggara Bolo, serius. Keceriaannya seolah hilang sejak mendengar berita pernikahan Ratu Lembayung Mekar.
“Raja tukang kawin, sama sepertimu, Pendekar. Namanya Prabu Dira, Raja Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Pangeran Tajilingga.
“Bah! Tukang kawin?” kejut Senggara Bolo lagi. Ia tampak bermasalah ketika mendengar Prabu Dira Pratakarsa Diwana adalah raja tukang kawin. “Kerajaan Sanggana Kecil? Aku baru mendengarnya. Berapa banyak istrinya?”
“Ibuku adalah istri yang kesembilan,” jawab Pangeran Tajilingga.
“Hah! Masih kalah denganku. Hahaha! Aku sudah menikah dua puluh satu kali!” kata Senggara Bolo bangga. Namun kemudian, dia sedih, “Tapi aku sakit hati sekali. Wanita yang aku sangat cintai telah disambar orang.”
“Apakah kau ingin memisahkan ibuku dengan suaminya?” tanya Pangeran Tajilingga setengah berbisik, sambil agak memajukan wajahnya ke arah Senggara Bolo yang berseberangan meja dengannya.
“Ya, asalkan ada jalan,” jawab Senggara Bolo antusias.
Pangeran Tajilingga kembali menarik wajahnya pada posisi yang normal.
“Aku dan kakakku tidak suka dengan ayah tiriku yang usianya hampir sama dengan kami. Jika kau bisa memisahkan ibuku dengan suami barunya, dan menaikkan kakakku sebagai raja, maka aku tidak akan mencegahmu untuk memiliki ibuku,” ujar Pangeran Tajilingga.
“Cara seperti itu sangat mudah. Cukup membunuh raja tukang kawin itu,” kata Senggara Bolo tanpa jeda waktu untuk berpikir.
“Kau bisa membunuh raja itu?” tanya Pangeran Tajilingga.
“Itu perkara mudah. Hahaha!” jawab Senggara Bolo lalu tertawa.
“Cukup pertemukan aku dengan raja tukang kawin itu. Maka dia akan takluk, seperti takluknya istri-istriku. Hahaha!” jawab Senggara Bolo, lalu tertawa lagi.
“Hihihi…!” tertawa ramai pula keenam istri Senggara Bolo.
“Aku bisa memberimu kesempatan untuk bertemu dengan Prabu Dira, tapi kau harus menunggu. Sebab Prabu Dira jarang datang ke Istana. Dia harus menggilir istri-istrinya,” kata Pangeran Tajilingga.
“Itu cara yang merepotkan. Seharusnya seperti aku, sekali bermain, semua istriku aku satukan,” kata Senggara Bolo, mengungkap rahasia kamarnya.
“Aku harus bicara lebih dulu kepada kakakku,” kata Pangeran Tajilingga. Ia lalu berdiri dari duduknya. “Jangan pergi dari Ibu Kota. Aku akan segera mengirim utusan jika Pangeran Barasungka menyetujui rencana ini.”
“Baiklah. Tapi, apakah Gusti Pangeran tidak ingin makan dulu bersamaku?” kata Senggara Bolo.
“Heh!” Pangeran Tajilingga hanya tersenyum sinis, membuat Senggara Bolo tertawa rendah.
Pangeran Tajilingga lalu berbalik dan melangkah pergi.
__ADS_1
“Ayo!” ajak Pangeran Tajilingga kepada Agung Jarak dan Bara Makaya.
Agung Jarak yang masih menahan sakit menuruti perkataan Pangeran Tajilingga. Mereka bertiga keluar dari rumah makan itu.
Setibanya di luar, Pangeran Tajilingga berkata kepada Agung Jarak dan Bara Makaya.
“Pendekar Raja Kawin dan istri-istrinya adalah tamuku, jadi jangan memperpanjang dendammu dengannya, Agung!” kata Pangeran Tajilingga memperingatkan.
“Baik,” ucap Agung Jarak dan Bara Makaya bersamaan.
Pangeran Tajilingga lalu pergi naik ke punggung kudanya. Empat prajurit yang mengikutinya segera berlari mengikuti setelah kuda Pangeran berlari pergi.
Tidak berapa lama, Pangeran Tajilingga memasuki gerbang benteng Istana. Di dalam lingkungan Istana, sang pangeran langsung menuju ke kediaman kakaknya, yaitu Pangeran Barasungka.
Di kediamannya, Pangeran Barasungka sedang memberi makan seekor burung di dalam sangkar dengan pisang.
Pangeran Barasungka adalah seorang pemuda yang usianya tiga tahun lebih tua dari Pangeran Tajilingga. Saat itu dia bertelanjang dada, memperlihatkan badannya yang berotot bagus dan atletis. Bentuk ototnya halus. Ia memelihara rambut gondrong yang agak ikal. Namun, dari segi wajah, ia tidak lebih tampan dari adiknya.
“Kakang Barasungka!” panggil Pangeran Tajilingga.
Pangeran Barasungka menengok sebentar melihat kedatangan adiknya.
“Ada apa?” tanya sang kakak.
“Aku punya rencana yang bisa memisahkan Ibunda dengan Prabu Dira,” ujar Pangeran Tajilingga.
Perkataan adiknya itu membuat Pangeran Barasungka kembali memandang adiknya. Ia lalu memasukkan begitu saja sisa potongan pisang ke dalam sangkar.
“Jika rencana itu tidak meyakinkan, lebih baik tidak usah. Itu justru akan membahayakan nyawa kita berdua,” kata Pangeran Barasungka.
“Kita menggunakan tenaga seorang pendekar. Dia yakin bisa membunuh Prabu Dira, karena pendekar itu sangat mencintai Ibunda,” kata Pangeran Tajilingga.
“Siapa?” tanya Pangeran Barasungka sambil mengambil kerisnya yang tergeletak di atas meja.
“Pendekar Raja Kawin,” jawab Pangeran Tajilingga.
“Di mana kau bertemu dengannya?”
“Di rumah makan. Dia dan keenam istrinya bertengkar dengan Agung Jarak. Dia mengaku datang ke Ibu Kota untuk meminang Ibunda. Jadi aku menawarkan Ibunda kepadanya jika dia bisa memisahkan Ibunda dengan Prabu Dira,” jelas Pangeran Tajilingga.
__ADS_1
“Ibunda pernah bercerita kepadaku tentang Pendekar Raja Kawin itu. Dia pendekar sakti yang sulit dicari tandingannya. Makanya, banyak wanita sakti yang juga mau dikawini olehnya. Jika dia memang bisa membunuh Prabu Dira, biarkan saja, asalkan tahta bisa menjadi milikku,” kata Pangeran Barasungka. “Dia harus bertemu dulu denganku. Setelah itu kita buat siasat.”
“Baik, Kakang.” (RH)