8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 22: Muni Kelalap Cipta Rusuh


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


Meski mengaku pendekar, tetap saja susah diatur. Mulut gua yang tidak begitu lapang kian berdesakan. Sementara itu, seiring sang surya mulai naik dengan wibawanya yang menyilaukan, satu per dua pendekar yang lain mulai berdatangan pula dengan berbagai caranya.


“Aaa…! Akk…!” jerit tiga orang pendekar yang terdorong oleh desakan massa di belakangnya.


Ketiganya yang berposisi paling depan dan berada di bibir jurang, terdorong sehingga jatuh ke dalam jurang. Ketiganya harus mati sebelum mencoba menyeberangi jurang itu.


“Cebong Budukaaan!” teriak seorang pendekar lelaki separuh baya bersenjata golok mungil, kontras dengan fisiknya yang besar gendut.


Dia salah satu pendekar yang sudah berdiri di bibir jurang. Selangkah lagi maka ia akan jatuh. Ia begitu marah dengan kondisi tidak terkendali di gua itu.


“Siapa yang mendorooong?! Sekali lagi ada yang mendorong, akan merasakan golok besarku!” teriaknya lagi dengan mata memerah, tapi guratan wajahnya menunjukkan rasa takut juga. Sebab, jika ada yang mendorong, jatuhlah dia.


“Jangan mendorong, kami akan jatuh!” teriak pendekar wanita yang lain.


“Jangan dorong! Jangan dorong!” teriak pendekar tinggi jangkung yang berdiri di tengah-tengah kerumunan.


“Munduuur!” teriak yang lain, yang peduli dengan nyawa sesama pendekar.


Para pendekar yang berdesak-desakan itupun bergerak mundur. Jika tadi yang depan terdorong maju, maka sekarang giliran belakang yang terdesak mundur. Beruntung tidak terjadi insiden injak-menginjak.


Namun, insiden lain terjadi.


Tak!


“Akk!” pekik seorang lelaki berbadan besar berkumis tebal, saat kepalanya dihantam oleh sesuatu yang keras lagi menyakitkan. Bahkan terasa ada gelombang denyut-denyut di dalam kepalanya.


Lelaki berkumis bersenjata kapak itu cepat menengok ke belakang sambil meringis kesakitan. Tangannya mengusap-usap kepalanya yang benjol.


“Apa yang kau lakukan, Muni Kelalap?!” bentak pendekar yang bernama Kapak Walet. Ia mengenali nenek tua bertongkat yang memukul kepalanya, tepat di belakangnya.


“Kau menyikut dada montokku!” tukas nenek yang memang adalah Muni Kelalap adanya.


“Hahaha…!” tawa khalayak ramai mendengar tudingan Muni Kelalap.


“Jangan menuduhku, Nenek Genit!” bantah Kapak Walet. Ia sudah berbalik dan berhadapan langsung dengan si nenek yang hanya berjarak tiga jengkal darinya.


“Kau sudah mesum, melecehkan perempuan di dalam keramaian, tapi tidak berani mengaku!” umpat Muni Kelalap.


Sementara itu di luar gua, Abda Hadaya yang masih bersama Nini Kuting, terkejut. Ia sangat mengenali suara nenek yang sedang ribut di dalam. Ia segera bangun berdiri dan memandang ke arah dalam.


“Rupanya kau masih ingat suara mantan kekasihmu,” celetuk Nini Kuting.


“Sejak kapan dia ada di dalam, Kuting?” tanya Abda Hadaya.


“Aku juga tidak tahu. Aku yakin dia akan membuat kekacauan,” kata Nini Kuting yang menunda upayanya untuk melewati jurang.


Tak!


Tiba-tiba sudah terdengar suara senjata beradu, antara tongkat dan kapak dalam posisi rapat.


Bentrokan itu mengejutkan sejumlah pendekar yang ada di sekililing mereka. Karena tidak mau terkena serangan salah sasar dan arah, mereka refleks bergerak mundur di dalam kerumunan. Akibatnya, dorongan mendadak terjadi, baik ke depan, maupun ke belakang dan samping.


“Aaak…! Akk…! Aaa…!”

__ADS_1


Bukan lagi tiga orang yang terdorong jatuh ke dalam jurang menjadi korban kekonyolan, tetapi enam orang. Dua pendekar bahkan bergelantungan di bibir jurang. Tangannya masih dapat berpegangan pada tanah keras bibir jurang.


Mengetahui banyak yang jatuh, Abda Hadaya cepat berteriak keras.


“Cepat keluar! Cepat keluar!” teriak Abda.


Tang ting tang…!


Muni Kelalap dan Kapak Walet yang mendapat ruang longgar, semakin menjadi dalam bertarung. Kapak dan tongkat kayu yang sekeras besi saling beradu berulang kali.


Sejumlah pendekar segera berkelebatan ke luar gua lewat atas, karena langit-langit gua cukup tinggi.


Wut!


Saat tongkat Muni Kelalap membabat, Kapak Walet memilih menghindar mundur karena ruangan gua sudah cukup lega, meski masih ada sejumlah pendekar yang masih memilih berdiri bergerombol di pinggiran gua. Mulut gua jadi penuh sesak oleh pendekar, karena mereka ingin menyaksikan pertarungan yang dipicu masalah sepele.


Zess!


Tangan kiri Muni Kelalap mengeluarkan sinar biru berpijar seperti kembang api kecil. Kapak Walet yang mengenal ilmu itu jadi mendelik.


“Muni Kelalap! Apa kau gila?!” teriak Kapak Walet.


“Cepat munduuur!” teriak pendekar tua lainnya yang juga mengenal ilmu yang akan dilepaskan Muni Kelalap.


Para pendekar yang menumpuk di mulut gua cepat bergerak panik. Akibatnya, dorong-dorongan terjadi. Beberapa pendekar yang tidak bisa menyesuaikan posisi dalam desakan jadi terjatuh, lalu terinjak-injak.


Bluar!


Pendekar yang terinjak-injak tiba-tiba meledakkan satu ilmunya yang berbahaya, di saat banyak orang ada di atas dan di dekatnya. Akibatnya, sejumlah pendekar mengalami kehancuran pada anggota tubuhnya. Beberapa pendekar menemui ajal.


“Akk! Aaa…! Akhr!”


Suasana pun berubah kacau dan tidak terkendali, terlebih di sisi dalam pertarungan terus berlanjut.


“Matilah kau, Kapak Walet!” teriak Muni Kelalap sambil menghentakkan lengan kanannya.


Zerss! Bsess! Bluar!


Kapak Walet yang tidak mau mati cepat mengadu ilmu kesaktiannya yang bernama Gempar Alam. Sinar hijau berwujud tinju melesat cepat menemui sinar biru Muni Kelalap di tengah jarak.


Hasilnya, ledakan tenaga sakti terjadi keras yang seakan mengguncang gua tersebut. Muni Kelalap terjajar dua tindak, sementara Kapak Walet terlempar deras dengan punggung menghantam dinding gua.


Namun yang mengejutkan, tidak hanya membuat sejumlah orang terdorong karena daya ledaknya. Dari sinar ilmu Hantam Beranak Maut Muni Kelalap melesatkan sinar biru kecil-kecil ke berbagai arah, setelah pertemuan dua ilmu itu.


Ctar ctar ctar…!


Penyebaran sinar biru secara acak itu mengejutkan, selain menimbulkan ledakan di sejumlah titik di dalam gua, beberapa orang bernasib apes karena terkena tanpa siap untuk menghindar.


Tiga orang tewas begitu saja.


“Kau begitu kejam, Muni Kelalap! Kau mengerahkan ilmu seperti itu di tengah keramaian hanya karena kau merasa dada tuamu tersenggol!” teriak Kapak Walet yang mulutnya penuh darah. “Lihat! Akibat ulahmu, banyak pendekar yang mati tanpa ada hubungan dengan masalahmu!”


“Adikku mati karenamu, Nenek Perusuh!” teriak seorang lelaki yang adiknya mati terkena ilmu milik Muni Kelalap.


“Nenek sejahat ini jangan dibiarkan hidup!” teriak yang lain.

__ADS_1


“Benar!” sahut yang lain juga sambil maju siap bertarung.


“Ayo kita bunuh bersama!” teriak pendekar yang lain.


Akhirnya, sebanyak tujuh pendekar yang tidak memiliki hubungan tali perkawinan maju mengepung posisi Muni Kelalap.


“Baik, ayo kita buktikan sampai di mana nyawa kalian bisa bertahan!” tantang Muni Kelalap tanpa gentar.


“Tunggu!” seru seorang lelaki dari sisi luar gua.


Tampak terkejut Muni Kelalap mendengar suara itu. Namun, pemilik suara tahu-tahu sudah berdiri di hadapan Muni Kelalap tanpa terlihat datangnya. Semakin berubah ekspresi Muni Kelalap melihat wajah tampan Ki Renggut Jantung yang adalah mantan suaminya, pasangan terlama dan terdalam yang pernah ia miliki.


“Apa yang terjadi denganmu, Muni Jantungku? Kenapa kau berubah sejahat ini? Apakah Domba Hidung Belang…? Eh, kok Domba Hidung Belang sih? Maksudku Domba Hidung Merah. Apakah dia yang membuatmu seburuk ini?” tanya Abda Hadaya, yang keseriusannya jadi terkurangi bobotnya karena salah kata.


Sebutan “Muni Jantungku” yang berarti “Suara Jantungku” itu menusuk hati Muni Kelalap. Sebutan itu mengingatkannya kepada kasih dan cinta Abda Hadaya yang tulus selama tiga puluh tiga tahun, hingga akhirnya dia membelot hati kepada Domba Hidung Merah yang kini menjadi kekasih masa tuanya.


Sebelum Abna Hadaya tiba di gua itu, Muni Kelalap sudah berada di antara para pendekar, ikut berdesak-desakan. Demi melaksanakan tugasnya untuk menciptakan kekacauan di pagi hari, dia tidak sempat beristirahat setelah pertemuan tadi malam. Ketika Abna Hadaya berteriak-teriak kepada khalayak ramai, ia sudah mengenali suaranya.


“Bukan urusanmu!” ketus Muni Kelalap, berusaha menutupi reaksinya.


“Jelas menjadi urusanku. Kau membunuh banyak orang, kau menjadi jahat. Aku tidak pernah rela jika wanita yang pernah aku sayangi dan kangkangi…. Eh, kok kangkangi sih? Maksudku cintai, menjadi orang jahat!” kata Abna Hadaya.


“Ki Renggut Jantung!” sebut Kapak Walet. “Walaupun kau mantan suami Muni Kelalap, bukan berarti kejahatannya akan gugur tanpa tanggung jawab. Dia harus membayar nyawa yang hilang!”


“Diam dulu kau, Kapak Walet!” bentak Abna Hadaya sambil menunjuk Kapak Walet tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Muni Kelalap.


“Muni Jantungku, dengarlah saranku. Pergilah dari sini,” kata Abna Hadaya begitu lembut kepada Muni Kelalap.


“Ini sudah jalanku, Abna. Jangan ikut campur. Lupakan masa lalu yang indah itu! Hiaat!” tandas Muni Kelalap lalu merangsek maju menyerang mantan suaminya dengan ganas.


Bang!


Setelah menangkis sejumlah serangan kaki dan tongkat Muni Kelalap, Abna Hadaya tiba-tiba meledakkan satu tenaga sakti tak terlihat dari telapak tangannya. Ledakan itu membuat Muni Kelalap terpental ke belakang dan menghantam dinding gua.


“Baiklah! Aku akan kubur kisah cinta kita yang indah! Aku tidak akan peduli lagi kau mau mati atau mau menjadi janda. Eh, kok janda sih? Maksudku mau menjadi jahat!” seru Abda Hadaya kepada Muni Kelalap dengan suara yang bergetar. Bahkan ada setetes air mata tua yang diteteskan oleh Abda Hadaya.


Terkejut Muni Kelalap melihat mantan suaminya itu menangis. Lelaki gagah itu tiba-tiba menghilang. Dia pergi ke luar gua untuk meratap.


“Seraaang!” teriak Kapak Walet berkomando.


Maka sebanyak tujuh pendekar yang awalnya mengepung, bergerak serentak menyerang Muni Kelalap. Si nenek tidak tinggal diam. Ia melawan dengan sengit.


“Hihihi! Aku duluan yang menyeberang!” teriak seorang nenek bersuara cempreng.


Nenek lain itu tidak lain adalah Nini Kuting, Si Tua Kerak Kubur. Ia berkelebat cepat lewat atas kerumunan dan tidak mengindahkan pertarungan yang terjadi.


Nini Kuting mendarat di bibir jurang lalu melemparkan tongkat besinya dengan sangat kuat. Trik Nini Kuting saat dia melemparkan tongkatnya, pegangannya pada tongkat tidak ia lepas, sehingga tubuh sepuhnya itu ikut terbawa melesat bersama tongkat.


Lesatan tongkat dan tubuh Nini Kuting begitu cepat. Ketika melewati atas jurang, kecepatan tongkat dan tuannya itu melambat. Namun, ketika lapisan udara itu terlewati, lesatan tongkat besi kembali cepat, tetapi tidak secepat awal.


Tang!


Hasilnya, tongkat besi itu berhasil mencapai bibir jurang di seberang dan jatuh ke tanah lantai gua. Hasil yang sama juga di alami oleh Nini Kuting, ia berhasil mendarat baik di seberang.


“Hihihi…!” tawa Nini Kuting sambil memandang ke seberang.

__ADS_1


Semua yang melihat keberhasilan Nini Kuting jadi terkejut.


Jadilah Nini Kuting sebagai orang pertama yang berhasil masuk ke seberang. Itu artinya, dia memiliki kesempatan lebih besar untuk mencari dan menemukan pusaka tanpa tanding. (RH)


__ADS_2