8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 27: Adu Kiamat Pagi


__ADS_3

*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


Siluman Ratu Siluman yang sedang ada di alam gaib, datang dari atas membokong Sri Rahayu. Entah, apakah Siluman Ratu Siluman lupa atau memang tidak tahu bahwa Sri Rahayu bisa melihat tingkahnya di alam gaib.


Set set set!


Tiba-tiba tangan kanan Sri Rahayu menghentak ke atas, sebelum kedua tangan si nenek membanting sinar merah Amarah Siluman kepada dirinya.


Mengejutkan bagi Siluman Ratu Siluman, lebih mengejutkan daripada surprise hadiah pernikahan. Dari dalam telapak tangan kanan Sri Rahayu melesat sepuluh tongkat kelabang yang tadi ditelan oleh ilmu Dewi Bunga Empat.


Duk! Duk! Duduk…!


Siluman Ratu Siluman sungguh tidak menyangka. Dia berani bersumpah. Ia tidak menyangka jika dari dalam telapak tangan Sri Rahayu yang bersinar hijau menyilaukan melesat keluar sepuluh tongkat. Kejadian itu memberi kesimpulan bahwa ilmu Dewi Bunga Empat bersifat menyedot kesaktian lawan, kemudian menyimpannya sehingga bisa digunakan untuk balik menyerang lawan.


Tongkat pertama menghantam telak dada tua si nenek, membuatnya terlempar di udara. Belum lagi tubuh tua itu jatuh menghantam lantai, tongkat kedua sudah menghantam pula dadanya. Kali ini membuat Siluman Ratu Siluman langsung menghantam lantai. Setelah itu, delapan tongkat secara beruntun menghantam dada si nenek. Kemudian kesepuluh tongkat lenyap dengan sendirinya.


Meski dada Siluman Ratu Siluman sudah tua, tetapi daya tahannya masih muda, terbukti dari tidak matinya si nenek karena mendapat sepuluh hantaman keras.


“Uhhuk!” Siluman Ratu Siluman hanya terbatuk darah. Ia sudah muncul kembali ke dunia nyata. “Dadaku!”


Memang sakit sekali dada si nenek, bukan karena diputusi sang kekasih, seperti memang benar-benar mau hancur.


Wuss! Bdluk!


Segulung angin ganas berhawa sangat panas dan beracun menderu mengerikan menyerang Siluman Ratu Siluman. Itu adalah angin yang tadi disedot oleh kesaktian Sri Rahayu. Sang permaisuri mengeluarkannya untuk menyerang tuannya sendiri.


Buru-buru Siluman Ratu Siluman melompat berkelebat sambil menahan sakit pada lukanya. Namun sayang, sepasang kakinya masih tersambar angin, membuat tubuh si nenek terpelanting menghantam lantai aula utama. Kedua kaki si nenek mendadak terbakar, tetapi itu cepat dengan mudah dipadamkan.

__ADS_1


Setelah itu, Sri Rahayu naik melayang ke udara dengan kedua tangan terangkat ke atas.


Kali ini, Siluman Ratu Siluman benar-benar super-super terkejut, jika bisa kedua matanya sampai melompat ke luar.


Enak sekali Sri Rahayu. Orang yang mati-matian bertahun-tahun berlatih mempelajari demi menguasai ilmu, eh, justru Sri Rahayu dengan mudahnya menyerap dan menguasai ilmu itu hanya dalam waktu setengah menit sedot saja.


Kini, sebuah sinar merah bulat besar menyeramkan telah bercokol di atas kepala Sri Rahayu. Aura kehancuran seolah sudah tergambar nyata.


Tidak ada pilihan lain bagi Siluman Ratu Siluman selain mengadu dengan ilmu yang serupa.


Siluman Ratu Siluman yang sudah terluka dalam itu juga naik melayang di udara. Dalam proses yang cepat, ia juga memunculkan bola sinar merah raksasa di atas kepalanya.


Terkejut Joko Tenang melihat situasi berbahaya itu. Sementara Ratu Aninda Serunai tetap tenang, karena Tongkat Jengkal Dewa masih ada padanya.


Bluarrr!


Lantai, dinding, langit-langit, dan berbagai benda di dalam aula itu hancur lebur. Ledakan itu juga mengenai Ratu Aninda Serunai, tapi tidak bagi Joko Tenang.


Aninda Serunai tetap berdiri di tempatnya, karena ia kebal terhadap kekuatan apa pun. Hanya saja, tubuhnya jadi penuh debu. Sementara Joko Tenang mengerahkan ilmu Hijau Raga, membuat tenaga dan benda apa pun yang datang kepadanya tidak bisa mengenai raga dan ruhnya. Ia menjadi manusia hologram.


Butuh waktu untuk menyaksikan apa hasil dari adu dua ilmu Kiamat Pagi. Harus menunggu kabut debu memudar.


Setelah ledakan yang membutakan pandangan sekilas, suasana berubah hening sejenak, seolah diam menunggu udara kembali bening.


Secara perlahan terlihatlah kondisi yang hancur. Lantai sudah tidak rata karena hancur dan penuh oleh reruntuhan bebatuan dinding dan langit-langit. Tempat yang awalnya indah dan megah, kini benar-benar seperti tempat yang telah diruntuhkan. Bentuk langit-langit aula sudah tidak beraturan.


Di atas reruntuhan batu di dekat dinding yang jebol besar, tergeletak sosok Sri Rahayu, tetapi terlihat tangannya masih bergerak.

__ADS_1


Sementara itu, sosok Siluman Ratu Siluman sudah tidak terlihat di tempat itu. Yang terlihat hanyalah bercak-bercak darah di bebatuan puing.


Tubuh atas Sri Rahayu tampak bergerak bangun. Terlihat darah belepotan pada bibir, dagu dan pakaian pada area dada. Sri Rahayu menderita luka dalam yang parah, tetapi dia telah menang.


Kemenangan Sri Rahayu dalam adu ilmu Kiamat Pagi itu terjadi karena Siluman Ratu Siluman dalam kondisi terluka parah saat beradu. Itu membuat tenaga yang dikerahkan oleh Siluman Ratu Siluman jauh lebih rendah dari ilmu Kiamat Pagi Sri Rahayu.


Dengan dikeluarkannya kembali semua ilmu lawan yang diserapnya menggunakan ilmu Dewi Bunga Empat, berarti Sri Rahayu sudah tidak memiliki ilmu itu lagi. Jadi ilmu Dewi Bunga Empat bersifat hanya bisa menyimpan sementara ilmu yang diserapnya, lalu hanya bisa digunakan sekali pakai, bukan menguasai untuk selamanya.


Kini yang tersisa tinggal pertarungan antara Joko Tenang melawan Ratu Aninda Serunai.


Sosok Joko Tenang kini telah kembali menjadi manusia normal, ia sudah tidak menggunakan ilmu Hijau Raga.


“Gurumu sudah mati, Aninda. Serahkan saja tongkat itu dengan baik-baik,” kata Joko Tenang, masih berusaha membujuk adik tirinya.


“Karena guruku tidak sesakti aku. Wajar jika ia mati. Tapi aku, tidak mungkin mati, karena aku tidak bisa dibunuh oleh ilmu apa pun!” tandas Aninda Serunai.


Namun, Joko Tenang tidak melihat keberadaan Tongkat Jengkal Dewa pada diri Aninda Serunai sejak tadi. Itulah sebabnya kenapa Joko Tenang dan Aninda Serunai masih bertarung tanpa jelas hasilnya. Aninda Serunai tidak bisa dilukai, sementara Joko Tenang terlalu sakti.


Bak bak bak…!


Joko Tenang tiba-tiba melepaskan pukulan Tapak Kucing berulang-ulang. Salah satu ilmu tertinggi Joko Tenang itu menghujani tubuh depan Aninda Serunai. Gadis cantik jelita yang sedang dekil itu hanya tersentak-sentak kecil tubuhnya, tanpa mengalami luka sedikit pun. Padahal Tapak Kucing bisa membunuh seorang pendekar sakti hanya sekali hantam. Tapi tidak bagi Aninda Serunai, ia tetap kebal, mau seberapa banyak pun pukulan Tapak Kucing yan menghantamnya.


Namun, status orang tanpa tanding tidak otomatis membuat Aninda Serunai juga menjadi orang yang mudah membunuh lawan tarungnya. Terbukti kali ini.


Setelah mendapat hujan pukulan jarak jauh, Aninda Serunai balas melesat cepat sambil menghantamkan dua bola sinar biru menyilaukan dari ilmu Dua Matahari.


Joss! Joss! Bluar! Bluar!

__ADS_1


Dua sinar biru menyilaukan itu menghancurkan lantai yang sudah rusak menjadi lebih hancur, karena Joko Tenang telah hilang dari tempatnya. (RH)


__ADS_2