
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Dua puluh tiga tahun berlalu.
“Kita sudah sampai, itulah Gunung Prabu!” kata pemuda berambut gondrong lurus yang mengenakan rompi merah terang pelapis pakaian putihnya. Pemuda itu memiliki wajah yang bisa dibilang cantik, karena kulit wajahnya bersih tanpa noda jerawat atau bekasnya dan memiliki bibir merah alami seperti bergincu. Lelaki berperawakan gagah itu adalah Joko Tenang, putra Anjas Perjana dan Ningsih Dirama yang telah dewasa dan beristri banyak.
Ia duduk di atas pangkal leher burung rajawali raksasa yang terbang cepat di langit, sambil memeluk mesra punggung seorang wanita muda cantik jelita.
Wanita itu berkulit kuning langsat bersih dengan model mata yang agak sipit, memberi kecantikan yang khas, ditambah bibir bawahnya memiliki belahan yang membuatnya sulit dicari duanya. Ia mengenakan pakaian serba putih yang indah lagi mahal. Rambutnya disanggul indah dengan hiasan rambut emas bertahta permata. Wanita itu sebenarnya memiliki usia yang jauh lebih tua dari Joko Tenang, tetapi kecantikannya awet terpelihara. Ia adalah Putri Yuo Kai, istri pertama Joko Tenang alias Permaisuri Pertama, karena Joko Tenang kini adalah seorang raja yang bernama Prabu Dira Pratakarsa Diwana.
Pemaisuri Yuo Kai yang digelari Permaisuri Negeri Jang itu juga adalah calon Dewi Bunga pertama dalam ilmu Delapan Dewi Bunga.
Burung rajawali raksasa yang mereka kendarai adalah burung milik Joko yang bernama Gimba.
Yang unik adalah keberadaan beban yang dibawa oleh kaki ceker Gimba. Pada kakinya ada tali tambang yang menggantungi sebuah wadah kayu papan. Pada papan itu ada empat orang wanita yang diangkut terbang.
“Gimba, beri pesan ke Kerajaan!” perintah Joko Tenang.
Kaaak!
Gimba tiba-tiba berkoak kencang, membuat keempat wanita di bawah harus mengerenyit menahan sakit pada gendang telinga mereka.
__ADS_1
Koakan Gimba yang keras sampai kepada Istana Kerajaan Sanggana dan seluruh warganya, baik yang ada di Kadipaten Gunung Prabu maupun yang ada di Kadipaten Malam Abadi.
“Kakang Prabu datang, Ginari!” sebut Tirana sumringah gembira. Tirana adalah seorang wanita muda yang cantik jelita. Kecantikannya sejuk dipandang dan selalu murah senyum. Hari ini ia memakai pakaian merah gelap yang lehernya rapat mencekik leher. Ada kalung perak pada lehernya. Rambut panjangnya ditata rapi dengan hiasan pernak-pernik yang indah. Tirana adalah calon Dewi Bunga Kedua yang digelari Permaisuri Penjaga, diambil dari gelar sebelumnya yaitu Gadis Penjaga.
Adapun gadis yang sedang ia rapikan pakaian mewah hitamnya bernama Ginari. Parasnya demikian cantik, hanya tingkahnya seperti orang tanpa pengetahuan. Gadis bermata bening dan berhidung bangir itu hanya memandangi Tirana dengan dingin. Ginari sebenarnya adalah calon istri pertama Joko Tenang, tetapi karena kemalangannya, ia kini menjadi wanita hilang ingatan tanpa pakai gila.
“Ayo, kita sambut kedatangan Kakang Prabu!” ajak Tirana lembut kepada Ginari.
Ginari mengangguk sekali tanpa ekspresi selain kedinginan. Ia seperti anak kecil yang harus dituntun. Tangannya digandeng oleh Tirana.
Sementara di ruangan lain, Ratu Getara Cinta sedang mengepang rambut lebat Sandaria menjadi beberapa kepangan.
Ratu Getara Cinta adalah seorang wanita berusia empat puluh tahun, tapi kecantikannya sangat terpelihara dengan kulit yang putih bersih. Kecantikan dengan rasa dewasa dan wibawa begitu menyatu pada parasnya, sehingga wajah jelitanya selalu membuat rindu, karena begitu mudahnya kecantikan jenis itu membuat kediaman permanen di dalam memori setiap lelaki. Saat itu ia mengenakan pakaian merah terang seterang bibirnya. Ada tiara pada kepalanya. Ratu Getara Cinta digelari Permaisuri Darah Suci dan calon Dewi Bunga ketiga.
“Kakang Prabu pasti tidak akan mengenalimu dengan tampilan rambut yang lebih langsing,” kata Ratu Getara Cinta kepada Sandaria.
“Hihihi! Jadi tidak sabar mau pamer kecantikan baru di depan suami,” kata Sandaria, memperdengarkan suaranya yang serak-serak basah tanpa hujan.
Sandaria segera bangkit berdiri. Sejenak ia meraba rambut-rambut kepangnya, memastikan bahwa rambutnya sudah rapi. Setelahnya, ia mendahului Ratu Getara Cinta pergi ke luar. Ia tidak perlu meraba dalam berjalan, cukup ujung tongkat birunya diletakkan di depan langkahnya tanpa menyentuh lantai.
Di tempat lain, seorang wanita muda cantik jelita, tetapi berambut pendek seperti lelaki, sedang duduk di atas sebuah dipan batu. Wanita berjubah kuning itu memiliki hidung mancung dan bibir yang bentuknya sempurna, yang jika terus memandanginya tidak akan jemu, justru akan muncul hasrat untuk memilikinya. Namun, wanita jelita itu memiliki sepasang mata yang semuanya berwarna hitam kusam, karena itu adalah bola mata palsu. Sama seperti Sandaria, wanita yang sebenarnya sudah berusia lebih seratus tahun ini juga buta. Meski demikian, dia adalah salah seorang tokoh sakti legendaris yang dimiliki oleh pendekar aliran putih. Namanya Nara yang lebih top dengan julukan Dewi Mata Hati. Ia adalah permaisuri kelima Joko Tenang yang digelari Permaisuri Mata Hati. Ia calon Dewi Bunga kelima. Ialah orang paling sakti di Kerajaan Sanggana Kecil.
Tidak jauh di depan Nara, seorang wanita muda jelita pula sedang berlatih ilmu pedang. Ia adalah Kusuma Dewi. Di masa lalu, ia cinta pertama Joko Tenang. Kini ia telah menjadi permaisuri ketujuh dari Joko dan digelari Permaisuri Pedang. Namun, karena kesaktiannya masih ditingkat menengah, ia tidak bisa masuk sebagai calon Dewi Bunga. Saat itu Permaisuri Kusuma Dewi sedang mempelajari ilmu pedang yang diajarkan oleh Dewi Mata Hati, namanya Satu Langkah Sepuluh Tebas.
__ADS_1
Nara menurunkan satu ilmu pedang yang dimilikinya untuk menaikkan level kesaktian Kusuma Dewi, sebab dia harus lebih sakti dari para pendekar yang dipimpinnya, yaitu Pasukan Pedang Putri.
Kusuma Dewi berdiri pada kuda-kudanya. Ia memegang erat katana atau pedang samurainya. Ia berkonsentrasi untuk melakukan eksekusi.
Set!
Tiba-tiba Kusuma Dewi melesat maju sejauh tiga tombak hanya sekali gerak. Mata biasa hanya melihat ia maju lalu diam dalam posisi tubuh yang sama. Namun sebenarnya, ada sepuluh gerakan menebas yang dilakukan oleh Kusuma Dewi, tetapi itu tidak terlihat karena terlalu cepatnya.
“Bagus, tapi kurang sempurna. Beberapa kali latihan lagi itu akan sempurna. Pergilah membersihkan diri, sebentar lagi suami kita akan mendarat!” kata Nara kepada Kusuma Dewi.
“Baik, Kak,” ucap Kusuma Dewi seraya tersenyum.
Kusuma lalu berlari pergi, ia harus buru-buru. Ia tidak mau ketinggalan dalam menyambut kedatangan suami tercintanya. Ia pun tidak mau menyambut dalam kondisi berkeringat.
Sementara itu di luar istana, permaisuri yang lain sedang menghadapi sebanyak dua puluh pendekar. Permaisuri itu adalah Dewi Mata Hijau yang bernama asli Kerling Sukma.
Permaisuri Kerling Sukma juga seorang yang jelita dengan ciri khasnya pupil mata yang berwarna hijau terang. Hidungnya bangir indah dengan bibir bawah dan dagu memiliki model belahan yang indah, membuatnya begitu cantik. Sepasang alisnya hitam berketebalan sedang. Ia pun memiliki bentuk tubuh yang ideal bagi seorang wanita. Rambutnya juga panjang. Saat itu ia mengenakan pakaian jingga. Ia adalah murid Dewi Mata Hati, tetapi sama-sama istri dari Joko Tenang. Ia digelari Permaisuri Mata Hijau dan merupakan calon Dewi Bunga keempat.
Kedua puluh orang pendekar yang ada dihadapan Kerling Sukma adalah para prajurit nonmiliter yang tergabung dalam Pasukan Pengawal Bunga.
“Pertemuan ini kita cukupkan sampai di sini. Pembagian tugas akan dilakukan besok!” kata Permaisuri Kerling Sukma kepada Pasukan Pengawal Bunga.
Sekilas ia menengok melihat ke arah pelataran. Para permaisuri sudah bermunculan keluar untuk menyambut kedatangan sang raja. Dari langit utara juga telah muncul sosok Gimba yang terbang mendekat. (RH)
__ADS_1