
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Seluruh penghuni Padepokan Hati Putih menjadi geger mendengar berita kematian guru besar mereka, yaitu Resi Tambak Boyo. Itu sangat mengejutkan, sungguh mengejutkan.
Perseteruan antara Joko Tingkir dan Tembangi Mendayu harus ditengahi.
Sembari menunggu selesainya persiapan pemakaman bagi Ki Sombajolo, Gujara dan dua murid Padepokan Hati Putih, sejumlah murid utama Resi Tambak Boyo bertemu khusus dengan Joko Tingkir, Gadis Cadar Maut dan Tembangi Mendayu.
“Orang yang pertama menemukan mayat Resi adalah warga desa, kemudian aku. Kami bertiga hanya lewat dan kondisi Resi sudah tewas dengan luka lubang pada sisi leher dan tubuh beracun!” jelas Tembangi Mendayu memaparkan kronologi ditemukannya mayat Resi Tambak Boyo.
“Kami mohon maaf, para guru. Kondisi mayat Resi yang beracun, ditambah adanya petunjuk yang ditinggalkan oleh si pembunuh, membuat kami terpaksa mengubur Resi di tempat kami menemukannya, dan kami harus buru-buru datang ke sini,” kata Gadis Cadar Maut yang namanya sudah mereka semua ketahui sebagai pendekar wanita ternama. “Jadi, Tingkir, kau tidak bisa menyalahkan keterlambatan kita kepada pemakaman Resi.”
Joko Tingkir yang masih menahan sedih, hanya diam.
“Lalu bagaimana bisa Ki Sombajolo tewas di gerbang padepokan?” tanya Gadis Cadar Maut.
“Kami semua tidak tahu. Ketika kami datang karena mendengar adanya keributan di gerbang depan, Ki Sombajolo, Gujara dan dua murid kami yang berjaga di gerbang, semuanya sudah dalam kondisi tidak bernyawa. Keempatnya tewas dengan luka tusukan sebesar jari. Yang membuat nyawa mereka cepat melayang adalah karena racunnya yang ganas,” kata Ranggasula.
“Aku bersumpah akan mencari pembunuh Guru!” desis Lanang Jagad yang juga usai menangisi kematian Resi Tambak Boyo.
“Pembunuh itu juga meninggalkan jejak kalimat, yang sepertinya merupakan petunjuk tentang target berikutnya. Tapi kami kurang mengerti siapa orang yang dimaksud,” kata Ranggasula.
“Apa bunyi petunjuknya?” tanya Gadis Cadar Maut.
“Tuak dan air sama,” jawab Ranggasula.
“Tuak dan air sama?” ucap ulang Gadis Cadar Maut.
Suasana berubah hening, seolah mereka semua sedang memikirkan arti atau maksud dari kalimat “tuak dan air sama”.
“Aku heran, kenapa Guru dan Paman Gujara baru sampai di padepokan ini? Mereka berdua meninggalkan Kerajaan Sanggana Kecil sudah tiga hari, selisih dua hari denganku. Tetapi kenapa baru sampai?” tanya Joko Tingkir heran. “Lalu kenapa pula Resi Tambak ada di perjalanan?”
“Guru sudah kembali dari Jurang Lolongan, tetapi ada perkara mendesak sehingga Guru pergi sendiri ke Kadipaten Jembaran. Adapun Ki Sombajolo, kami tidak tahu-menahu kenapa baru tiba hari ini,” kata Ranggasula.
__ADS_1
“Petunjuk pembunuh itu pasti tentang seorang pendekar, sama seperti petunjuknya di mayat Resi yang menunjukkan tentang target berikutnya,” kata Tembangi Mendayu.
“Itu artinya akan ada pendekar yang dibunuh lagi,” kata Ranggasula.
“Apakah kalian tidak ada yang tahu tentang orang sakti yang memiliki ciri membunuh dengan satu tusukan di leher dan beracun?” tanya Gadis Cadar Maut kepada para pemuka Padepokan Hati Putih itu.
Ranggasula, Jagad Lanang dan para guru padepokan lainnya hanya diam, mereka tidak bisa menjawab.
“Calon pendekar yang dibunuh pasti berada tidak jauh dari padepokan ini,” kata Joko Tingkir.
“Kita harus memetakan siapa saja pendekar ternama yang kediamannya paling dekat dengan padepokan,” kata Gadis Cadar Maut.
“Ada Tabib Rakitanjamu di Kadipaten Surosoh,” kata Ranggasula.
“Tidak, Tabib Rakitanjamu sekarang tinggal di Kerajaan Sanggana Kecil sebagai tabib kerajaan,” kata Joko Tingkir.
Disebutnya nama Kerajaan Sanggana Kecil membuat Tembangi Mendayu teringat kepada Joko Tenang. Ia sangat penasaran karena belum pernah melihat wajah mantan pemuda idamannya itu yang versi dewasa. Namun, ia sudah menjatuhkan talak sebelum nikah setelah kalah menyakitkan dari Kerling Sukma.
“Ada Rara Sutri, kekasihku,” ucap Lanang Jagad lirih.
“Sepertinya tidak. Tapi, jika tentang tuak, adik seperguruan Rara Sutri adalah berjuluk Pendekar Gila Mabuk,” jawab Lanang Jagad.
“Aku rasa dia adalah korban berikutnya!” tandas Tembangi Mendayu.
“Tapi, menurut kekasihku itu, adik seperguruannya itu sudah ikut mengabdi kepada Pangeran Joko Tenang,” kata Lanang Jagad.
“Prabu Joko Tenang di Kerajaan Sanggana Kecil,” ralat Joko Tingkir.
“Pembunuh ini adalah tokoh tua berkesaktian tinggi, sebab ia sangat kenal dengan Resi Tambak Boyo dan Ki Sombajolo. Aku menduga kuat, pembunuh ini tidak begitu kenal dengan para pendekar muda, tetapi mengenal banyak tokoh tua aliran putih,” kata Gadis Cadar Maut menganalisa.
“Jika murid memiliki ilmu tuak, berarti guru juga pasti memiliki ilmu tuak. Itu artinya….”
“Gurunya Rara Sutri!” sebut Lanang Jagad kencang terkejut, memotong perkataan Joko Tingkir. Buru-buru Lanang Jagad bangkit dari duduknya. “Aku akan pergi ke kediaman Rara Sutri!”
__ADS_1
Lanang Jagad segera berlari ke luar ruangan.
“Aku ikut, Lanang!” teriak Joko Tingkir sambil ikut segera keluar.
“Joko, penguburan gurumu!” teriak Ranggasula mengingatkan.
“Aku serahkan kepadamu, Guru!” sahut Joko Tingkir.
Tanpa berkata lagi, Tembangi Mendayu juga menyusul keluar.
“Biarlah pemakaman Ki Sombajolo kami percayakan kepada Padepokan. Mengejar pembunuh itu lebih penting,” ujar Gadis Cadar Maut. “Tapi kami perlu kuda baru.”
Akhirnya keempat pendekar yang dipimpin oleh Gadis Cadar Maut itu melesat pergi bersama kuda tunggangannya. Mereka menuju kediaman Rara Sutri, pendekar wanita yang berjuluk Putri Cemeti Bulan, kakak seperguruan Surya Kasyara.
Kuda yang digunakan oleh Gadis Cadar Maut, Tembangi Mendayu dan Joko Tingkir adalah kuda baru. Seperti halnya tadi, mereka menggebah kuda dengan kecepatan tinggi. Ketika ada orang berada di jalanan, mereka mengeraskan suara gebahannya agar orang-orang yang berada di jalan segera menyingkir.
Di Kadipaten Surosoh, Arya Permana sedang bersama pengawalnya yang bernama Bukira. Keduanya duduk di kuda yang tidak berjalan, sedang memperhatikan pembangunan sebuah rumah di dekat persimpangan tiga.
Suara ribut dari jauh yang datang mendekat dengan cepat, menarik perhatian Arya Permana dan Bukira.
Arya Permana adalah seorang pemuda tampan yang belum menikah. Ia mengenakan pakaian bagus ala bangsawan berwarna hijau gelap dengan hiasan sulaman benang perak. Ia baru saja diangkat sebagai Adipati Kadipaten Surosoh oleh Prabu Banggarin, Raja Kerajaan Baturaharja. Arya Permana menggantikan mendiang ayahnya. Dia juga merupakan cucu dari Resi Tambak Boyo.
“Bukankah itu Lanang Jagad?” kata Arya Permana kepada pengawalnya, saat mengenali penunggang terdepan.
Kuda Lanang Jagad memang berlari paling depan, karena ialah yang tahu jalan menuju kediaman kekasihnya Rara Sutri.
Begitu seriusnya Lanang Jagad, sampai-sampai dia tidak melihat keberadaan dua orang berkuda yang agak jauh dari pinggir jalan.
“Lanang Jagad!” teriak Arya Permana kencang, saat melihat rombongan empat kuda itu tidak ada tanda-tanda berhenti sedikit pun.
Panggilan itu membuat keempat penunggang kuda menengok, tanpa memelankan laju kudanya.
Setelah mengenali dua orang yang memanggilnya, Lanang Jagad hanya melambaikan tangan kanan dan terus berlalu.
__ADS_1
Tidak berhentinya Lanang Jagad dan rombongannya, jelas membuat Arya Permana kian heran.
“Bukira, aku akan mengejar mereka!” kata Arya Permana, lalu segera mengarahkan kepala kudanya dan menggebahnya berlari, “Heah!” (RH)