
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Berulang kali Joko Tenang terlompat lalu jatuh terbanting ke lantai gua. Meski Joko Tenang tahu arah dari serangan gaib itu, tetapi serangan yang tidak terlihat itu terlalu cepat.
Joko Tenang mengerahkan ilmu Tinju Dewa Hijau-nya sebagai upaya untuk melindungi diri. Ketika serangan itu dirasakan datang, Joko Tenang dengan cepat menghantamkan tinjunya ke arah sesuatu yang datang.
Buk! Blugk!
Namun, tinju Joko seperti menghantam udara kosong, meski tinjunya mengenai kekuatan yang menabraknya. Tetap saja Joko Tenang terhantam dan terbanting lagi dan lagi.
Beberapa kali Joko Tenang mencoba meninju, tetapi hasilnya benbar-benar kosong. Joko Tenang benar-benar merasa tidak memiliki ide untuk menangkal serangan-serangan makhluk gaib itu. Mungkin lain ceritanya jika ia bisa mengerahkan ilmu Merah Raga yang sedang tersegel bersama ilmunya yang lain.
Akhirnya Joko hanya pasrah. Perjuangan yang ia lakukan hanya terus melangkah maju untuk masuk lebih dalam.
Permaisuri Tirana dan Putri Sri Rahayu hanya menyaksikan dari depan mulut Gua Mutiara. Selama Joko Tenang belum masuk ke ruangan gua berikutnya, kedua wanita jelita itu masih bisa melihat pemuda yang mereka cintai.
Keduanya agak khawatir melihat Joko Tenang berulang kali jatuh terbanting tanpa ada cara untuk menghentikan serangan itu.
Joko Tenang merasa tubuhnya hancur efek dari terbanting berulang sampai puluhan kali.
Namun, akhirnya Joko Tenang berhasil masuk ke ruangan gua kedua.
Bless!
Ketika memasuki ruang kedua, Joko Tenang merasakan seperti menembus lapisan udara yang agak padat. Dengan masuknya Joko ke ruang kedua, maka Tirana dan Putri Sri Rahayu tidak bisa melihat keberadaan Joko.
Ruangan kedua itu seperti kafe remang-remang. Di dinding ada batu-batu cahaya berwarna biru dan merah, tetapi tidak memberikan penerangan yang maksimal. Di sebagian sisi dari ruangan itu tetap gelap.
“Pasti serangan di sini akan lebih berat,” pikir Joko Tenang.
Ternyata benar, tidak sampai tiga tarikan napas, serangan gaib jenis baru muncul.
Ses ses ses…!
Dari batu-batu bersinar redup yang berserakan di dinding gua berlesatan bayangan-bayangan sinar merah dan biru. Dengan gerakan gesit, Joko Tenang mengelaki semua serangan yang memang mengarah kepadanya. Meski sinar-sinar itu tidak mengenai sasaran, tetapi mereka tidak menimbulkan kerusakan apa-apa ketika mengenai dinding gua atau lantai gua. Mereka lenyap begitu saja.
Setelah itu, serangan dari batu-batu itu berhenti. Joko Tenang tetap bersiaga penuh. Hingga lima tarikan napas, barulah serangan muncul lagi.
Ses ses ses…!
Meski jenis serangan sama, tetapi kali ini volume serangnya nonstop.
Setiap batu sinar melesatkan sinar terus-menerus dengan jarak yang rapat. Entah berapa banyak sinar yang dilesatkan, bisa dihitung dengan cara jumlah batu sinar yang ada di dinding gua dikali jumlah tembakan dari setiap batu. Bahkan setan pun tidak sanggup menghitung dan menjawabnya.
Serangan itu benar-benar seperti hujan dari segala arah yang hanya mengarah kepada satu target, yaitu Joko Tenang.
Joko Tenang berusaha mengelak dan menghindar. Namun, secepat-cepatnya gerakan hindar Joko Tenang, tetap saja satu dua sinar menghantam tubuh Joko Tenang.
__ADS_1
Joss joss!
“Hukh!” keluh Joko Tenang dengan tubuh terpental keras menghantam dinding gua, lalu jatuh.
Joss joss joss…!
“Akh! Akk! Akh!” jerit Joko berulang-ulang dengan tubuh tersentak-sentak saat dihujani berulang-ulang oleh sinar merah dan biru itu. Sampai-sampai mulut Joko Tenang mengeluarkan darah kental.
“Caranya adalah melewati ruangan ini…” pikir Joko Tenang sambil menolakkan kedua kakinya pada dinding gua, membuat tubuhnya terdorong keras di lantai menghindari serangan sinar yang tidak berhenti.
Ses ses ses…!
Serangan sinar-sinar itu terus mengikutinya. Sambil melompat naik ke udara, Joko Tenang kembali mengerahkan Tinju Dewa Hijau. Ia mencoba meninju sinar yang datang. Pikirnya, jika sinar itu bisa menyentuhnya, tinjunya juga pasti bisa menyentuh sinar-sinar itu.
Joss joss joss!
“Hukh! Akk!” keluh Joko Tenang dengan tubuh kembali terpental menghantam dinding gua lalu jatuh.
Setelah itu, habislah Joko Tenang menjadi bulan-bulanan hujan sinar itu.
Ternyata logika Joko tidak berlaku di tempat ini. Sinar-sinar itu bisa menyentuh tetapi tidak bisa disentuh seperti rasa.
“Hukr!”
Semakin banyak Joko Tenang memuntahkan darah kental dari dalam mulutnya. Tubuhnya pun terasa semakin sakit dan seolah remuk.
Joko Tenang mau mencoba peruntungannya seperti ketika berada di Ladang Anjing.
Cesc es ces…!
Sambil berlari sempoyongan, Joko Tenang menangkis semua serangan sinar merah dan biru itu dengan tebasan Pedang Singa Suci. Ternyata Joko Tenang memang beruntung menggunakan pedang buntung itu.
Pedang itu bisa menghancurkan setiap sinar yang ditebasnya.
“Kenapa tidak dari tadi. Jokooo… Joko!” ucap Joko Tenang menggerutui dirinya sendiri sambil terus menebasi sinar-sinar yang menyerangnya.
Sambil menebasi sinar-sinar gaib itu, Joko Tenang melangkah menuju pintu ruangan gua berikutnya yang terlihat lebih terang cahayanya.
Beruntung Joko Tenang, akhirnya dia berhasil melewati ruangan dua dan masuk ke ruangan gua yang ketiga, ruangan yang lebih besar dan terang. Ia tetap menggenggam pedang pusakanya.
Sama seperti sebelumnya, Joko seperti menembus lapisan udara padat.
Ruangan ketiga adalah ruangan terakhir, karena Mutiara Ratu Panah ada di ruangan itu. Pada sebuah tiang batu yang terletak di sudut terdalam gua itu, di atasnya ada satu benda yang memancarkan sinar ungu, tetapi tidak bisa terlihat wujudnya karena jarak pandang yang jauh. Tiang batu itu memiliki ketebalan diameter satu depa.
Ruangan itu diterangi oleh enam obor batu besar dengan api abadi, maksudnya akan menyala tanpa disuplai minyak karena bahan bakarnya memang terasup otomatis dari alam.
Namun, yang membuat Joko Tenang merinding adalah pemandangan di langit-langit gua.
__ADS_1
Di atas sana ada banyak sosok wanita berwarna putih dan halus. Maksudnya bukan warna kulitnya yang halus, tetapi wujudnya yang serba putih dan tidak berkaki. Hanya kepala, tangan dan badan yang tanpa baju, tidak ada anggota tubuh dari pinggang ke bawah. Tidak ada wujud daging. Sosok itu seperti ubur-ubur yang melayang-layang di dalam air laut yang bening. Atau seperti bendera kain putih yang sudah termakan angin.
Selain wujudnya, hal yang membuatnya begitu mengerikan adalah wajahnya yang menyeramkan dengan mata merah tanpa pupil dan tanpa alis. Wajah putih itu sedikit pun tidak menunjukkan kecantikan seorang wanita. Bibirnya tidak merah dan ketika membuka mulut, maka yang tampak adalah deretan gigi seperti gigi gergaji. Rambut panjangnya juga berwarna putih total.
Yang lebih membuat ciut adalah jumlahnya yang mencapai lebih dua puluh sosok.
“Makhluk apa itu?” tanya Joko Tenang dalam hati.
“Hiii…!” jerit para wanita makhluk halus itu melengking sambil memamerkan keseraman giginya. Seolah-olah mereka marah melihat kemunculan Joko Tenang.
“Hiii…!” jerit para wanita itu lagi, tapi kali ini sebagian dari mereka melesat cepat turun terbang ke arah Joko Tenang.
“Hah!” kejut Joko Tenang sambil menyambut serangan massal itu dengan permainan pedangnya.
Beberapa sosok perempuan memang hancur musnah saat ditebas pedang lalu menghilang seolah tertelan udara, tetapi ada dua makhluk yang berhasil mencekal kedua lengan Joko Tenang.
Pencekalan itu membuat Joko tidak bisa menebaskan pedangnya. Tubuhnya justru diangkat naik ke udara.
Bluss! Bluss!
Ada dua perempuan yang terbang menabrak dan menembusi tubuh Joko Tenang.
“Fukrr!” Joko Tenang menyemburkan darah dari dalam mulutnya.
Setelah itu, Joko berubah kehilangan tenaga. Terlihat bahwa tubuh Joko Tenang kini menggantung tanpa tenaga di dalam cekalan dua makhluk itu.
Bluss! Bluss!
Kembali ada dua makhluk yang terbang menembusi tubuh Joko Tenang.
“Fukrr!”
Untuk kedua kalinya Joko menyemburkan darah segar. Kondisi Joko sudah benar-benar tanpa daya.
Ting!
Pedang Singa Suci terlepas dan jatuh ke lantai gua. Mata Joko Tenang pun sudah tertutup. Tidak terlihat tanda-tanda kehidupan pada Joko, bahkan gerak napasnya tidak terlihat.
“Hiii…!” jerit para makhluk itu.
Dua makhluk yang menggantung tubuh Joko Tenang lalu kompak membanting tubuh Joko ke bawah. Tubuh Joko pun meluncur deras ke lantai.
Bress! Bukk!
Namun, sebelum tubuh Joko Tenang menghantam lantai batu gua, rompi merah Joko lebih dulu bersinar emas yang langsung menyelimuti tubuh pemuda itu. Barulah setelah itu menghantam lantai gua.
Namun pula, Joko Tenang tergeletak tanpa ada gerakan lagi. Bahkan dada bidangnya tidak ada gerakan naik turun yang menunjukkan bahwa ia masih bernapas. Wajah tampannya telah berubah putih seperti sudah tidak memiliki darah di balik kulitnya. (RH)
__ADS_1