
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Matahari pagi belum muncul di timur, tepatnya di balik punggung Gunung Galang. Namun, kerumunan manusia sudah terjadi di mulut sebuah gua. Tidak begitu lebarnya mulut gua, jika ada keramaian, maka yang terjadi adalah penyumbatan, terlebih orang yang paling depan tidak maju-maju.
Kerumunan yang menumpuk itu bukanlah antrian untuk vaksinasi, atau rebutan mendapatkan bansos, ataupun antri tabung gas medis, tetapi mereka semua adalah para pendekar orang-orang persilatan yang ingin masuk ke Gua Lolongan.
“Woi! Kenapa yang di depan tidak maju!” teriak pendekar lelaki yang ada di belakang, sepertinya nomor antriannya di atas angka seratus.
“Yang di luar juga mau masuk!” teriak pendekar yang lain.
“Jangan sampai aku seruduk!” ancam pendekar berbadan besar seperti binaragawan.
“Dasar cecunguk kampungan paling pojok!” maki satu suara nenek yang cempreng, berteriak dari sisi dalam gua. “Di depan ada jurang, Bodoh!”
“Lompat saja, Nek. Dari pada lama mati, lebih baik cepat mati! Hahaha!” teriak seorang pendekar lelaki kurus asal, lalu tertawa sendiri di tengah-tengah kekesalan para pendekar yang lain.
Wess! Prakr!
“Wuaaah!” pekik para pendekar yang berdiri di sekeliling pendekar kurus itu.
Sebelumnya, tiba-tiba dari sisi depan, dari dalam gua, melesat cepat sesosok tubuh berjubah hitam. Sosok yang adalah nenek berambut putih panjang itu mengayunkan tongkat besinya ke kepala pendekar kurus.
Mengerikan, tanpa jeritan si kurus tewas dengan kepala rompal. Serangan si nenek itu mengejutkan para pendekar sekitar.
“Siapa yang mau mati duluan, majulah dan lompatlah ke dalam jurang!” teriak si nenek marah kepada para pendekar yang rata-rata berusia di bawah lima puluh tahun. Sedangkan dia, fisik dan wajahnya benar-benar sepuh dengan kulit yang kendor bertabur keriput. Ketika berteriak marah, tidak terlihat ada gigi satu pun. Dia merupakan salah satu dedengkot aliran hitam yang ternama dengan julukan Si Tua Kerak Kubur, nama aslinya Nini Kuting. Meski ia adalah golongan hitam, tetapi ia tidak tunduk dibawah organisasi pimpinan Kerajaan Siluman.
“Setiap aku bertemu denganmu, kau pasti sedang marah-marah dan membunuh orang lain, Nini Kutang. Eh, Nini Kutang, hahaha! Maksudku Nini Kuting!” kata seorang lelaki gagah menyapa Nini Kuting.
__ADS_1
Lelaki itu bisa disebut gagah jika dibandingkan dengan sesama orang yang seusianya, yaitu minimal separuh abad. Lelaki itu sebenarnya berusia tujuh puluh tahun, tetapi rambut, kumis dan jenggot seksinya masih berwarna hitam putih, tapi lebih banyak berwarna hitam. Meski tubuhnya tidak seatletis Domba Hidung Merah, tetapi tetap terlihat tegap dan berotot. Ia mengenakan baju biru bagus bertepian putih. Penampilannya rapi dengan gaya rambut yang disisir padat ke belakang bergaya Dewa Judi. Entah minyak rambut merek apa yang dipakainya, tapi ada aroma jeruknya. Ia bernama Abna Hadaya, berjuluk Ki Renggut Jantung, salah satu tokoh aliran putih yang diundang ke Jurang Lolongan.
“Huh! Ki Renggut Jantung!” dengus Nini Kuting dengan lirikan sinis.
“Jangan ketus seperti itu padaku, Kuting. Jarang-jarang kau bertemu orang tua gagah sepertiku,” kata Abna Hadaya.
“Gagah tapi mata keranjang. Coba, sebutkan kepadaku, nenek-nenek mana yang belum pernah kau intip mandi!” kata Nini Kuting.
“Hahaha…!” Meledak tawa para pendekar lain yang mendengar perkataan Nini Kuting.
“Aaah! Jangan bahas persoalan rahasia di tempat ramai seperti ini!” kata Abna Hadaya setengah berbisik sambil mengerenyit tanpa sakit. “Eh, ada apa ramai-ramai seperti ini, Kutang? Jiahahaha! Kutang lagi. Maksudku, Kuting!”
“Sekali lagi kau menyebutku Kutang, aku rontokkan gigimu, Abna!” ancam Nini Kuting.
“Tidak tidak tidak. Hanya pejantan takut istri yang suka masuk ke lubang yang sama berulang-ulang. Ayolah, ceritakan kepadaku. Ada apa ini?” kata Abna Hadaya.
“Katanya di Gua Lolongan ini ada pusaka tanpa tanding. Aku sampai tidak tidur demi tiba lebih dulu di gua ini. Di tengah gua ternyata ada jurang tidak berdasar. Untuk sampai ke dalam gua, kita harus melompati jurang. Sudah ada beberapa pendekar yang jatuh ke dalam jurang. Mereka jatuh karena di atas jurang ada udara padat yang bisa memperlambat laju tubuh. Ketika mereka melompat ke seberang jurang, di tengah jalan mereka melambat dan akhirnya lompatannya tidak sampai. Makanya yang di depan jadi ragu-ragu untuk menyeberang, akhirnya menumpuk seperti lemak,” tutur Nini Kuting.
“Hah! Si Tua Kerak Kubur!” sebut sebagian pendekar yang mengetahui tentang nama itu. Mereka cukup terkejut. Sebab jika nanti mereka harus bertarung rebutan pusaka dengan si nenek itu, pastilah mereka akan kalah.
“Di depan ada jurang berbahaya. Untuk sampai ke dalam gua, kalian harus melompati jurang. Namun, di atas jurang ada udara padat yang akan memperlambat gerakan kalian dan memungkinkan kalian jatuh ke jurang kemiskinan! Eh, jurang kemiskinan, hahaha! Maksud aku jurang saja!” teriak Abna Hadaya.
“Bukan waktunya untuk berceramah! Minggir!” teriak seorang pendekar bertubuh gagah sambil berkelebat di udara dari barisan belakang.
Pendekar berbaju merah itu berlari di udara dengan beberapa kali menjadikan bahu orang lain sebagai tolakan. Ia melesat masuk ke dalam gua. Setibanya di dalam, ia melihat sebuah jurang menganga.
Ia mendarat tepat di bibir jurang, di depan orang banyak yang menumpuk di bibir jurang. Ia tidak berhenti, ia lalu langsung melompat jauh ke depan sambil kakinya berlari cepat di udara untuk sampai ke bibir jurang di seberang sana.
__ADS_1
“Dia melambat!” seru seorang pendekar wanita di antara yang lain.
Lesatan tubuh pendekar berbaju merah melambat tepat di atas mulut jurang. Si pendekar yang merasakan menerobos satu lapisan udara yang agak keras, jadi terkejut karena gerakannya maju secara pelan pada titik itu.
Ketika tubuhnya berhasil melewati lapisan udara yang berat itu, tubuhnya sudah tidak memiliki daya dorong. Ia pun jatuh ke bawah sebelum sampai ke bibir jurang di seberang.
“Aaa…!” jerit pendekar baju merah panjang seiring suaranya yang menjauh, lalu lenyap oleh kedalaman jurang yang gelap.
Kejadian itu memberi perasaan ngeri bagi sebagian pendekar yang ingin mencoba keberuntungannya di Gua Lolongan itu. Mereka yang merasa memiliki kesaktian biasa-biasa saja, jadi ragu.
Mereka yang berada di mulut gua dan masih di luar, hanya bisa mendengar jeritan pendekar takabur tadi yang hilang ke dasar jurang.
“Jika tempatnya sempit karena kalian menumpuk, akan sulit untuk bisa mengambil ancang-ancang melompat. Lebih baik kalian keluar semua terlebih dahulu, lalu cobalah bergantian. Aku akan membantu mengatur kalian agar tidak rusuh!” seru Abna Hadaya.
“Hei, Orang Tua! Memangnya kau siapa, hah?! Punya hak apa kau mengatur di sini?” teriak seorang wanita separuh abad berbedak tebal.
“Hahaha! Kau tidak kenal aku, Cantik!” kata Abna Hadaya sambil tertawa jumawa. “Aku adalah Ki Renggut Janda. Ealah, Ki Renggut Janda, maksudku Ki Renggut Jantung. Hahaha!”
“Hah! Ki Renggut Jantung?” ucap sebagian pendekar terkejut karena mereka tahu cerita tentang tokoh sakti bernama Ki Renggut Jantung.
“Hati-hati jantung kalian!” bisik salah satu pendekar kepada rekannya.
“Orang itu bisa mencopot jantung dari jarak jauh semudah memetik buah jambu,” kata pendekar yang lain.
“Dengarkan! Aku tidak memiliki niat berebut pusaka dengan kalian, aku hanya ingin memudahkan kalian. Aku punya pusaka sendiri yang hebat dan perkosa. Eh, kok perkosa. Maksudku perkasa!” teriak Abna Hadaya yang suka terpeleset kata.
“Hahaha!” tawa rendah sebagian pendekar.
__ADS_1
“Jika kalian tidak mau aku atur, aku mau lihat, sampai kapan kalian akan menumpuk di mulut gua ini seperti tumpukan rayap!” kata Abna Hadaya lalu duduk pada sebongkah batu.
“Aku sudah tahu cara menyeberang!” desis Nini Kuting gembira. (RH)