8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 1: Bukit Buruan


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Permaisuri Lima Pesona menyuguhkan wadah dari daun pisang yang berisi belahan ubi bakar kepada Putri Wilasin. Ubi itu masih berasap karena memang baru diangkat dari api dan baru dikupas.


Permaisuri adalah seorang wanita yang cantik jelita. Kecantikannya tidak pudar oleh usia yang sudah mendekati kepala empat. Entah bagaimana awalnya sehingga ia dinamai Lima Pesona. Nama itulah yang kemudian terus melekat hingga ia menikah dengan Prabu Arta Pandewa.


Kini tinggal ia dan putrinya yang berusia dua belas tahun yang masih hidup. Suaminya dan kakak-kakak Putri Wilasin, serta semua anggota keluarga besar kerajaan, telah dibantai oleh orang-orangnya Menak Ujung.


Sudah tiga pekan lamanya anak ibu itu dikurung di Bukit Buruan. Bukit itu adalah tempat berburunya raja-raja Kerajaan Baturaharja. Kini Bukit Buruan dikurung oleh pagar gaib yang dibuat oleh kesaktian Menak Ujung yang kini menjadi Raja Baturaharja. Pemagaran itu membuat Permaisuri Lima Pesona yang bersembunyi di Bukit Buruan tidak bisa meninggalkan bukit.


“Ibu, kapan kita bisa pulang?” tanya Putri Wilasin yang belum menyentuh makanannya.


“Kita harus menunggu ada orang baik yang menolong kita, Wilasin,” jawab Permaisuri lembut. “Orang-orang jahat itu sangat berbahaya.”


“Apakah rumah kita sudah diambil oleh Paman Menak Ujung?” tanya Wilasin yang cantik.


“Iya, jadi kita tidak bisa pulang, tetapi kita harus pergi. Sudah, makanlah ubi bakarnya. Ini selalu enak, Wilasin.”


“Hihihi! Ibu lucu. Ibu selalu mengatakan ubi itu enak!” kata Wilasin.


Permaisuri hanya tertawa pendek mendengar putrinya masih bisa tertawa, tawa yang unik karena terdengar melengking nyaring.


Guk guk guk…!


Tiba-tiba terdengar sejumlah anjing menggonggong di kejauhan.


Terkejutlah Permaisuri dan Putri mendengar suara gonggongan tersebut. Meski masih jauh sumber suaranya, tetapi jelas itu adalah ancaman.


“Ayo, Wilasin! Kita harus pergi menjauh sampai suara anjing-anjing itu tidak terdengar!” kata Permaisuri sambil buru-buru menarik tangan kanan putrinya.


Tangan kiri Wilasin masih sempat membungkus dan membawa ubi bakar yang belum dimakannya.


Mereka berdua lalu pergi meninggalkan lubang besar di bawah pohon itu. Api di tungku batu dibiarkan terus menyala kecil.


Suara ramainya gonggongan anjing berasal dari bawah bukit. Karenanya, untuk menjauhi suara anjing-anjing itu, Permaisuri harus mendaki menuju puncak bukit berhutan itu.


“Apakah anjing-anjing itu akan menangkap kita, Ibu?” tanya Wilasin ketakutan.


“Tidak jika kita cepat lari!” jawab Permaisuri yang bawahannya hanya mengenakan kain. Ia harus merobek sisi kanan dan kiri dari kainnya agar langkahnya bisa lebih lebar, membuat betis indahnya terlihat terang.


Keduanya terus berjalan terburu-buru mendaki tanah bukit. Sementara itu, suara gonggongan banyak anjing terdengar lebih keras, menunjukkan bahwa jarak posisi mereka semakin dekat dengan posisi Permaisuri dan Putri.


“Ayo, Wilasin. Kita harus pergi ke sungai!”


Keduanya menyusuri jalan setapak yang salah satu sisinya adalah jurang. Itu jalan yang akan membawa mereka sampai ke sebuah sungai. Jalan itu membuat mereka agak melambat, sebab harus berjalan hati-hati.


Sementara agak di bawah, rombongan prajurit pembawa anjing-anjing berhasil menemukan bekas tempat membakar ubi.


Sebanyak lebih dari dua puluh prajurit yang masing-masing membawa dua ekor anjing, dipimpin oleh Salik Jejaka yang berjuluk Pendekar Elang Gunung. Ia adalah seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun. Ia mengenakan pakaian merah dan membawa senjata berupa tongkat pendek yang panjangnya setengah dari ukuran normal.


“Lepas sebagian anjingnya, baunya sudah tercium!” perintah Salik Jejaka kepada pasukannya. Meski masih muda, tetapi orang ini kejam.


Guk guk guk…!


Sebagian anjing lalu dilepas lehernya dari tali kekang. Maka dengan liar puluhan anjing yang dilepas itu langsung berlarian kencang, seolah mereka sudah tahu posisi calon korban mereka. Suara gonggongannya begitu ramai dan berisik.


Anjing-anjing itu berlari naik. Para prajurit pun dipaksa berlari cepat untuk mengikuti para anjing.


“Peluk ibu yang kuat, Wilasin!” kata Permaisuri yang semakin ketakutan karena suara anjing yang mengejar semakin dekat di belakang, meski belum terlihat.


Wilasin pun memeluk tubuh ibunya kuat. Permaisuri lalu melompat masuk ke sungai yang tidak terlalu dalam. Permaisuri berenang ke seberang lalu bergerak naik ke arah hulu. Wilasin dengan suara tangis yang lirih terus memeluk ibunya dalam gendongan. Ia menangis ketakutan.


Guk guk guk…!


Para anjing pemburu akhirnya tiba di pinggir sungai. Di sana para anjing itu bergerak-gerak sambil mengendus-endus mencari bau yang sedang mereka ikuti.


Namun, tampaknya rute mereka dalam mengejar bau Permaisuri dan putrinya menghilang di sungai itu. Mungkin disebabkan buruan mereka baunya sudah berubah karena terendam oleh air sungai.


“Mereka pasti ke hilir!” teriak Salik Jejaka.


Maka anjing-anjing kembali diikat leher-lehernya dan diarahkan ke hilir mengikuti arus.

__ADS_1


Sejak itu, para pemburu kehilangan Permaisuri dan putrinya. Anak ibu itu bersembunyi di sebuah gua gelap yang mereka temukan agak tinggi di puncak bukit, tidak jauh dari mata air.


Permaisuri bisa lega karena hari itu mereka bisa selamat dari anjing-anjing buruan. Hingga malam tiba, keduanya terus mendekam di dalam kegelapan gua.


Untuk berjaga-jaga, Permaisuri memutuskan tidak pergi keluar selama dua hari lamanya, sehingga ia dan putrinya harus menanggung lapar.


Setelah itu, barulah ia memutuskan keluar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.


Hingga lima hari lamanya, Permaisuri dan putrinya tidak kedatangan pasukan pemburu.


Pada suatu pagi, ketika menjelang siang, tiba-tiba pasukan anjing pemburu kembali terdengar.


Guk guk guk…!


Saat itu Permaisuri Lima Pesona dan Putri Wilasin sedang mandi di sungai. Permaisuri buru-buru berenang ke tepi dan mengenakan pakaiannya.


“Ibuuu!” panggil Wilasin yang seketika itu dilanda ketakutan.


Mereka cepat naik ke darat lalu berlari menuju ke gua.


Salik Jejaka menyebar pasukannya untuk mencari keberadaan Permaisuri. Hingga akhirnya mereka kembali sampai di pinggir sungai.


Zess! Bross!


Salik Jejaka melesatkan satu sinar hijau berbentuk peluru yang menghancurkan batang pohon besar. Pohon itu tumbang dan melintang di atas sungai.


Para prajurit yang mengerti maksud pimpinannya, segera mengarahkan anjing-anjingnya melewati batang pohon itu untuk menyeberang.


Setelah menyeberang, para anjing disebar. Ada yang melacak ke arah atas, sebagian pula ke arah bawah.


Guk guk guk…!


Hingga akhirnya, sejumlah anjing yang naik ke daerah atas menunjukkan tindakkan agresif, mereka sepertinya mengendus target. Para prajurit pun berlarian lebih kencang mengikuti para anjing.


“Ibuuu!” pekik Wilasin ketakutan di dalam gua sambil memeluk erat ibunya.


Ibu anak itu mendengar suara gonggongan anjing-anjing semakin dekat dengan mulut gua.


“Ayo, Wilasin! Kita harus lewat belakang!” ajak sang ibu.


“Di sana ada gua!”


Tiba-tiba Permaisuri dan Wilasin mendengar suara teriakan yang terdengar jauh dari luar gua. Teriakan itu justru membuat Permaisuri dan putrinya semakin panik.


“Aak! Ibuuu!” jerit Wilasin menangis, padahal tangannya sedang dipegangi oleh sang ibu.


Permaisuri terkejut. Ia cepat melihat kondisi putrinya di dalam gelap.


“Kakiku, Ibuuu!” jerit Wilasin lagi.


“Tenang, Sayang. Tidak apa-apa!” kata Permaisuri saat melihat kaki kiri Wilasin terperosok pada cela batu gua yang dipijaknya. Kaki itu masuk hingga terjepit pada pergelangan kaki. Permaisuri berusaha mengeluarkan kaki putrinya. “Tahan sedikit ya, Nak!”


“Akk!” pekik Wilasin ketika ibunya menarik kakinya. Ia kemudian menangis karena kakinya terluka tergores batu.


Guk guk guk…!


Suara gonggonang sudah berada jelas di mulut gua.


“Ayo, Wilasin! Kita sudah terkejar!” kata Permaisuri panik.


“Akk! Aku tidak bisa berjalan, Ibu!” kata Wilasin, pergelangan kaki kirinya terasa sakit saat dipakai berjalan.


Tanpa banyak pikir, Permaisuri cepat menggendong putrinya di punggung. Ia buru-buru berjalan menuju ujung lorong yang sudah terlihat.


Sementara itu, anjing-anjing sudah mulai berlarian masuk ke dalam gua. Bau mangsa mereka semakin kuat tercium.


“Aaa!” jerit Permaisuri terkejut, tepat ketika ia keluar, dua ekor anjing sudah muncul di belakangnya.


Melihat mangsa sudah terlihat, kedua anjing itu sprint hendak langsung menerkam Permaisuri dan Wilasin.


Tepat ketika kedua anjing itu melompat menerkam, Permaisuri bergeser ke balik dinding mulut gua. Akibatnya, kedua anjing itu keterusan masuk ke dalam jurang batu.

__ADS_1


Namun, sejumlah anjing yang lain juga telah memasuki gua. Wilasin terus menangis ketakutan, terlebih setelah melihat dua anjing yang jatuh ke jurang. Permaisuri pun semakin cemas. Buru-buru Permaisuri meniti jalan kecil yang langsung bersinggungan dengan jurang. Jalan batu itu rutenya naik ke tempat yang lebih lebar.


Permaisuri benar-benar harus hati-hati, terlebih ia menggendong putrinya.


Guk guk guk…!


Tepat ketika Permaisuri sampai di tempat yang agak lebar, sejumlah anjing muncul di mulut gua dan langsung berbelok mengejar Permaisuri yang sudah naik.


Yakin bahwa mereka tidak bisa lolos lagi dari kejaran anjing-anjing itu, Permaisuri cepat menurunkan putrinya.


“Cepat lari, Wilasin! Lariii!” teriak Permaisuri sambil memungut sebatang ranting dan berdiri siap menghadang tiga ekor anjing yang berlari naik.


“Ibu, Ibuuu! Huuu…!” jerit Wilasin lalu menangis histeris melihat ibunya siap menghadapi anjing-anjing itu.


“Lari, Wilasiiin!” teriak Permaisuri histeris, seiring seekor anjing sudah datang paling awal.


Gregrr!


“Aaak!” jerit Permaisuri saat kaki kanannya digigit oleh anjing terdepan.


“Ibuuu!” jerit Wilasin yang juga bingung harus berbuat apa di dalam ketakutannya.


“Lariii…!” teriak Permaisuri sambil memukuli kepala anjing dengan ranting.


Gregrr!


Namun, satu anjing lagi melompat menggigiti tangan Permaisuri yang memegangi kayu. Satu lagi anjing datang yang menggigiti kaki kiri. Permaisuri jatuh terbaring. Ketiga anjing itu menggigiti dengan brutal. Permaisuri hanya bisa menjerit-jerit kesakitan.


“Ibuuu! Ibuuu! Huuu…!” teriak Wilasin sambi berlari terpincang-pincang mendaki jalan batu yang agak menanjak. Di atas ada tanah lapang yang merupakan daerah di atas gua.


Di mulut gua, kembali muncul sejumlah anjing, kali ini bersama beberapa prajurit.


Guk guk guk…!


Dua anjing segera berlari naik dan bergabung menggigiti tubuh Permaisuri yang menjerit tanpa henti. Dua ekor anjing lainnya berlari melewati Permaisuri dan terus naik mengejar Wilasin.


“Aaa…!” jerit Wilasin ketakutan bukan main saat dua anjing itu datang kepadanya.


Set!


Aikk!


Tiba-tiba dua batang kayu kecil muncul melesat dari atas jurang dan menusuk tubuh kedua anjing yang mengincar Wilasin. Kedua anjing itu mendengking kencang dengan tubuh tergeletak terkapar sekarat.


Para prajurit yang ada di mulut gua terkejut melihat munculnya serangan terhadap anjing.


Seset!


Aikk! Aikk!


Selanjutnya, sejumlah kayu-kayu kecil berlesatan dan menusuki semua anjing yang menggigiti Permaisuri. Sebagian anjing bahkan terlempar jatuh ke dalam jurang.


Kini, Permaisuri tergeletak dalam kondisi mengerikan. Ia bersimbah darah dengan tubuh penuh luka gigitan yang mengerikan. Bahkan ada luka besar di leher yang membuatnya sekarat.


Guk guk guk…!


Anjing terus bermunculan di mulut gua. Yang lebih mengejutkan, ternyata ada sekelompok anjing juga yang muncul dari jalan atas. Ternyata mereka juga menemukan jalan lewat atas. Semakin ketakutanlah Wilasin.


Anjing yang bermunculan di mulut gua berlarian langsung mendapati kembali tubuh Permaisuri.


Tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat di atas jurang dan mendarat di dekat Wilasin.


“Aaa…!” jerit Wilasin saat melihat wajah orang tua yang mendatanginya.


Orang tua berambut putih itu memiliki wajah buruk yang kasar seperti kulit kayu tua. Ia mengenakan jubah warna abu-abu. Kedua tangan orang tua itu juga terlihat seram seperti tangan dari kayu saja.


“Ikut aku, Nak. Ibumu sudah tidak bisa ditolong!” kata lelaki tua itu dengan suara serak.


Gerombolan anjing telah berlarian dari dua arah hendak menyergap Wilasin dan si orang tua menyeramkan. Namun, orang tua itu cepat membawa Wilasin berkelebat dan terjun ke dalam jurang.


“Aaa…!” jerit Wilasin panjang.

__ADS_1


Sementara itu, Salik Jejaka yang memimpin perburuan baru tiba. Ia hanya sempat melihat Wilasin dibawa terjun.


Sementara itu, Permaisuri Lima Pesona harus tewas dengan mengerikan oleh gigi-gigi buas para anjing. (RH)


__ADS_2