8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 15: Ancaman Negeri Tanduk


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


Akhirnya malam menyelimuti alam. Sebelum langit gelap, sejumlah tokoh tua aliran putih tiba di Jurang Lolongan. Mereka di antaranya: Malaikat Serba Tahu, Nyi Mentara Senata, Malaikat Istana Maut, Resi Kasa Sinatra, Resi Buyut Putih, Iblis Lontar Sumpah, Nyi Karang Jeblos, Siluman Kera Langit, Raja Pisau Langit, Ratu Solek Pemikat, Pendekar Mustika Pelingkar Dewa, Bidadari Payung Kematian, dan Nenek Lembah Perawan Tua.


Mau tidak mau, mereka yang baru datang harus ketinggalan peristiwa penting dan hanya kebagian cerita saja.


Ada sebanyak tiga puluh empat tokoh tua yang hadir dalam pertemuan pada malam itu. Lima orang yang dijadwalkan hadir telah pulang, yaitu Joko Tenang, Dewi Mata Hati, Tabib Teguk Getir, Iblis Takluk Arwah, dan Raja Akar Setan.


Setelah mukadimah dan sambutan dari tuan rumah, yaitu Ki Rawa Banggir alias Ganesa Putih, Ewit Kurnawa alias Malaikat Kipas Putih mengambil alih kendali forum.


“Pada pertemuan tadi siang, sebagian kalian menyimpulkan bahwa ada tiga kekuatan hebat yang akan kita hadapi, yaitu Dewi Geger Jagad, pemilik Tongkat Jengkal Dewa dan Jin Gurba. Namun, ada satu hal yang kami ketahui tetapi belum kami beri tahu kepada kalian, yaitu ancaman dari Negeri Tanduk. Apakah kalian pernah mendengar tentang Negeri Tanduk?” ujar Ewit Kurnawa lalu bertanya kepada forum.


“Pernah!” jawab sebagian besar dari mereka.


“Negeri Tanduk ada jauh di seberang lautan, bagaimana bisa memberi ancaman kepada negeri ini?” tanya Resi Buyut Putih, seorang lelaki tua berpakaian hitam tetapi semua rambutnya berwarna putih. Wajah tuanya nyaris tertutupi semua oleh rambut kepala, alis yang tebal dan panjang, kumis dan jenggot yang panjang.


“Negeri Tanduk berniat menguasai seluruh Tanah Jawi untuk dijadikan negeri baru mereka. Negeri Tanduk adalah wilayah luas yang dikelilingi oleh lautan, secara perlahan tanah negeri itu semakin tenggelam dari tahun ke tahun. Mungkin mereka tidak akan menyerang dalam waktu dekat, mungkin bisa setahun lagi atau lebih. Namun, kita sebagai orang-orang yang diberi kelebihan dalam bentuk kesaktian, harus mempersiapkan diri sejak sekarang, agar ancaman itu bisa kita atasi dengan lebih mudah tanpa menimbulkan banyak korban. Selain kesiapan masing-masing diri, diperlukan juga kesiapan kelompok. Itulah alasan pertama kami mengundang kalian untuk berkumpul dan membahas ini,” kata Ewit Kurnawa.


“Bersiap menghadapi ancaman jelas langkah tepat dan bijak. Namun, yang tidak aku mengerti, kenapa mesti kalian bertiga yang mengumpulkan kami? Bukankah tanah-tanah pesisir yang berseberangan langsung dengan Negeri Tanduk dikuasai oleh kerajaan-kerajaan. Seharusnya mereka yang memimpin persiapan ini,” kata Nyi Karang Jeblos, seorang nenek berkulit hitam dan sudah bungkuk raganya. Sesuai namanya, dia tinggal di kawasan air asin.

__ADS_1


“Jika kami yang langsung pergi menemui raja-raja itu, mereka tidak akan percaya, karena berita yang kami dapat sangat rahasia, terlebih tidak ada tanda-tanda itu akan terjadi. Karenanya, kita membutuhkan satu orang yang bisa para raja itu percaya, yaitu seseorang yang juga memiliki kedudukan sederajat dengan para raja itu,” kata Ewit Kurnawa.


“Di sini ada Raja Pisau Langit, ada Ratu Naga dan ada Ratu Sobek…. Eh, kok Ratu Sobek, Ratu Solek maksudku, hahaha!” kata Abna Hadaya lalu tertawa yang diikuti oleh tawa sebagian peserta.


“Kau jangan menjadikan namaku jadi lelucon, Abna!” bentak Ratu Solek Pemikat. Ia seorang nenek cantik dengan wajah seperti masih empat puluhan tahun. Riasan wajahnya begitu cantik karena kelihaiannya dalam berbedak. Namun, kecantikan itu sangat kontras dengan fisiknya yang sudah berkulit kendur sebagaimana wajarnya seorang nenek.


“Eh, kau jangan marah padaku, Kutilantik. Jika kau marah, nanti aku rengkuh jantungmu…. Eh kok rengkuh, nanti aku renggut jantungmu!” gertak Abna Hadaya.


Ratu Solek Pemikat yang bernama asli Kutilantik itu hanya merengut.


“Sebelumnya di sini ada raja sungguhan, tapi sayang, dia telah pulang dan lebih memilih berpihak kepada wanita jahat,” ucap Pangeran Tapak Tua.


“Jangan salah, Pangeran Tapak. Raja yang kau maksud tadi sedang bersama muridmu saat kami mengangkatnya menjadi murid. Aku pikir dia bagian dari istri-istri Joko Tenang,” kata Minati Sekar Arum yang sedikit tersinggung karena muridnya disebut.


Ketika Tiga Malaikat Kipas mengangkat Joko Tenang sebagai murid, murid Pangeran Tapak Tua yang bernama Kembang Buangi memang bersama dengan Joko Tenang dan Tirana.


“Kau perlu tanyakan kepada muridmu, kenapa dia tidak menjadi salah satu dari istri Joko Tenang!” timpal Pendekar Seribu Tapak.


“Bukankah cucu dari Dewa Kematian adalah seorang raja?” tanya Resi Kasa Sinatra, seorang tua berpakaian putih berwibawa, tetapi tanpa sorot mata karena sepasang matanya buta.

__ADS_1


“Kerajaan kami memiliki aturan turun-temurun untuk tidak terlibat dengan dunia luar, jadi tidak bisa,” jawab Dewa Kematian. “Orang yang tepat adalah Joko Tenang, meski ia tidak hadir. Cicitku orang yang lurus dan kalian sudah lihat kesaktiannya. Dia murid langsung Tiga Malaikat Kipas dan Kunsa Pari. Dia pun dikelilingi oleh banyak orang sakti.”


“Tidak bisa!” teriak Bidadari Wajah Kuning lantang.


Semua mata tertuju kepada wajah cantik dan kuning wanita itu.


“Jelas-jelas pemuda beristri banyak itu berpihak kepada Wanita Iblis. Itu sudah menjadi cacat. Orang seperti itu sudah tidak bisa dipercaya. Tidak peduli apakah dia murid Tiga Malaikat Kipas atau Ki Ageng Kunsa Pari. Kekuasaan, kesaktian dan wanita sudah membuatnya membuang hormat kepada gurunya. Di depan orang banyak orang dia berani membantah seorang guru. Cukup sudah. Buang namanya dari pertimbangan kalian!” kata Bidadari Wajah Kuning lantang.


“Aku tidak sependapat dengan Bidadari. Dengan bergabungnya Dewi Geger Jagad di dalam lingkaran cinta raja muda itu, justru itu akan mengekang kejahatan Dewi Geger Jagad. Aku termasuk orang yang cukup banyak tahu tentang cerita kematian kedua orangtua Dewi Geger Jagad dan Dewi Mata Hati. Perilaku jahat sejumlah pendekar yang mengaku sebagai orang-orang aliran putih adalah pihak yang membentuk seorang Dewi Geger Jagad. Pembunuhan terhadap kedua orangtuanya membuat Dewi Ara memandang putih dan hitam sama saja wataknya, hanya beda nama,” kata Resi Kumbalabatu.


“Menurutku, biarkanlah urusan Dewi Geger Jagad menjadi urusan keluarga Raja Joko. Untuk sementara abaikan dulu Dewi Geger Jagad,” kata Resi Tambak Boyo.


“Tidak bisa, Resi,” bantah Dewi Tangan Tunggal dengan lembut. “Aku dan Bidadari Wajah Kuning memiliki dendam nyawa pula kepada Dewi Geger Jagad.”


“Lalu kenapa kalian tidak tuntaskan dendam kalian saat Wanita Iblis itu ada di sini?” tanya Serigala Perak.


“Aku tidak mau mengacaukan suasana acara ini,” kilah Bidadari Wajah Kuning.


“Meski aku marah kepada muridku itu, tetapi untuk menunjuknya sebagai pemimpin yang bisa mengajak raja-raja untuk menghadapi ancaman dari Negeri Tanduk, ia adalah orang yang tepat,” kata Ki Ageng Kunsa Pari.

__ADS_1


“Jika kalian menunjuk Raja Joko sebagai pemimpin itu, maka aku tidak akan ikut!” tandas Bidadari Wajah Kuning.


“Aku juga!” kata Dewi Tangan Tunggal. (RH


__ADS_2