8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 22: Nara - Dewi Ara Ambil Keputusan


__ADS_3

*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


 


Joko Tenang harus menghabiskan satu hari lagi setelah malam pertamanya bersama istri kesembilan. Seperti layaknya seorang bos baru, para bawahan hari itu menyampaikan berbagai laporan kepada Joko Tenang.


Beberapa hal yang membuat tertarik untuk dipelajari dari keberhasilan Kerajaan Balilitan, Joko Tenang tindak lanjuti dengan mengadakan kunjungan kerja dan studi banding. Yang banyak Joko Tenang pelajari untuk tahap awal adalah keunggulan warga Kerajaan Balilitan dalam bidang perdagangan, termasuk mempelajari cara-cara berdagangnya, bagaimana membangun pasar, serta memelihara jaringan dan relasi atau mitra.


Namun, ketika Joko Tenang menemukan aturan yang cenderung merugikan rakyat secara umum, dia meminta aturan itu segera direvisi agar bersifat lebih bersahabat tanpa merugikan Kerajaan maupun rakyat.


Setelah belajar dari Kerajaan Balilitan dan meremajakan sejumlah peraturan, Joko Tenang memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Sanggana Kecil. Ia meninggalkan Ratu Lembayung Mekar untuk memimpin Balilitan sebagai seorang ratu, yang harus memendam rasa rindu sejak sebelum suaminya pergi.


Dengan masih menggunakan jasa Gimba yang bisa dipanggil menggunakan peluit bambu, Joko Tenang tiba di Istana Sanggana Kecil. Kedatangannya di Istana disambut oleh para permaisuri, bahkan Ginari ikut menyambut.


Melihat Ginari ikut menyambut, tersenyumlah Joko Tenang. Ia langsung mendatangi wanita jelita bermata indah nan lugu itu, lalu membelai kepalanya.


“Joko!” panggil Ginari sambil berjalan setengah berlari lalu memeluk lengan Joko dengan manja.


“Kau sudah cantik dan harum, Ginari. Apakah kau lakukan khusus menyambutku?” tanya Joko Tenang lembut, seperti sedang berbicara kepada anak kecil.


“Iya, Joko! Hihihi!” jawab Ginari sambil manggut-manggut dan tertawa kaku.


Perkembangan Ginari itu membuat Tirana terharu sehingga menitikkan setetes air mata.


“Permaisuri Guru sudah ada di kamarnya!” bisik Kerling Sukma kepada Joko Tenang yang kemudian mengangguk sekali.


“Bagaimana kondisi Pangeran Arda?” tanya Joko Tenang kepada para permaisurinya.


“Sudah sehat kembali, Kakang Prabu,” jawab Ratu Getara Cinta.


“Mata Hijau, perintahkan Permaisuri Guru untuk menghadap!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Kerling Sukma lalu menjura hormat dan pergi.


“Permaisuri Penjaga, panggilkan Dewi Ara untuk menghadap! Penyelesaian harus dituntaskan hari ini!” kata Joko Tenang.

__ADS_1


Singkat cerita.


Di dalam Ruang Keadilan Sanggana Kecil, Joko Tenang duduk di belakang meja Hakim Agung. Di deretan kursi pada sisi kanan, duduk Ratu Getara Cinta dan para permaisuri lainnya. Di kursi terdakwa, duduk Dewi Ara, sementara bayinya berada nyaman dalam gendongan Sandaria.


Beberapa tombak di belakang kursi terdakwa berdiri anggota Keluarga Istana dan para pejabat lainnya.


Suasana hening, karena mereka menunggu kehadiran Permaisuri Nara, yang hari itu tidak bertindak sebagai Hakim Agung, tetapi sebagai penggugat yang menuntut haknya atas kematian kedua orangtuanya.


Sebenarnya itu bukan persidangan, tetapi lebih kepada upaya penengahan seteru lama dua Dewi.


“Gusti Permaisuri Mata Hati tiba!” teriak prajurit penjaga pintu.


Semua mata seketika tertuju ke arah pintu, kecuali mata Dewi Ara. Ia tetap duduk tenang menghadap ke arah meja Hakim Agung.


Suasana sangat hening ketika Nara muncul dengan jubah kuningnya. Ia muncul bersama muridnya, Kerling Sukma. Nara yang bisa tahu formasi posisi orang-orang di dalam ruangan itu dan siapa saja mereka, melangkah menuju kursi penggugat yang ada di sebelah kiri ruangan. Namun, setibanya di sana, Nara tidak duduk. Dia tetap berdiri.


Sementara Kerling Sukma pergi duduk di antara para permaisuri.


“Apakah kau sudah siap bertanggung jawab, Ara?” tanya Nara datar.


“Apakah kalian tidak ingin mengedepankan cinta dan perdamaian?” tanya Joko Tenang.


“Tidak!”


Yang menjawab lebih dulu adalah Dewi Ara.


“Perbuatan ayah Nara telah menghancurkan keluargaku. Maka aku pun akan menghancurkan keluarganya sampai kepada Nara. Setelah itu, tuntas urusan ini!” tandas Dewi Ara.


“Aku sudah mendapat cerita yang sebenarnya dari Resi Kumbalabatu dan Resi Kasa Sinatra tentang persekongkolan yang dilakukan ayahku. Aku harus akui bahwa ayahku dan komplotannya bersalah,” kata Nara, membuat Joko Tenang menemukan celah untuk menyelesaikan seteru itu secara damai.


Ratu Getara Cinta dan para permaisuri juga seolah menemukan satu titik terang untuk perdamaian.


“Namun, aku tetap harus menuntut nyawa kematian kedua orangtuaku. Nyawa dibayar nyawa, tidak peduli apa alasan di balik pembunuhan itu!” tandas Nara, yang seketika menutup harapan yang sempat dilihat oleh Joko Tenang dan para permaisurinya.


Joko Tenang hanya mengembuskan napas yang samar. Saat di dasar jurang, ia telah berjanji untuk memfasilitasi penyelesaian seteru antara Dewi Ara dan Nara tanpa keberpihakan, demi memboyong Dewi Ara ke Istana dan mau menjadi calon Dewi Bunga kedelapan. Adapun risiko bahwa akan ada yang mati dari salah satunya adalah harga yang harus dibayar kemudian.

__ADS_1


“Jika dendam ini tidak diakhiri, maka akan tercipta dendam berantai. Jika Permaisuri Mata Hati yang tewas, aku yakin murid-muridnya akan menuntut balas dendam, termasuk Permaisuri Mata Hijau. Jilka Dewi Ara yang terbunuh, maka kelak Arda Handara yang akan mendendam. Ini tidak akan ada habisnya,” kata Joko Tenang mencoba memberi gambaran dampak buruk panjangnya.


“Aku tegaskan, dendam ini hanya sampai di sini. Dengarkan oleh kalian semua, jadi saksilah bahwa Dewi Mata Hati melarang seorang pun untuk membalaskan kematiannya!” seru Dewi Mata Hati.


“Aku pun menetapkan, anakku haram menuntut balas atas kematianku jika itu terjadi!” seru Dewi Ara pula.


“Kalian akan bertarung di luar benteng Istana. Namun, sebelum aku mengizinkan pertarungan kalian berdua, aku beri waktu sejenak untuk mempertimbangkannya kembali,” ujar Joko Tenang.


Suasana di dalam Ruang Keadilan itu seketika hening tanpa suara satu kata pun.


“Aku tetap pada pendirianku, Kakang Prabu!” tegas Nara.


“Aku juga!” kata Dewi Ara pula.


“Baiklah!” seru Joko Tenang sambil berdiri dari duduknya. “Dengan penuh berat hati dan teramat sedih, aku memutuskan, pertarungan antara Permaisuri Mata Hati melawan calon permaisuri Dewi Ara dilaksanakan di luar benteng Istana. Pertarungan akan dinyatakan berakhir jika ada salah satu petarung yang menyerah, atau memaafkan, atau mati. Pertarungan dimulai setelah telur ini pecah di lantai!”


Tidak disangka, Joko Tenang telah menyiapkan sebutir telur yang kemudian dia lambungkan ke depan.


Pcrak!


Slap! Slap!


Bertepatan dengan pecahnya telur ayam menghantam lantai ruang sidang, sosok Nara dan Dewi Ara langsung menghilang dari tempat berdirinya.


Joko Tenang segera melangkah menuju ke luar ruangan. Ratu dan para permaisuri mengikuti di belakangnya. Setelah itu, barulah yang lain mengikuti.


Zerzz! Zerzz! Zerzz…!


Setibanya di luar, para penghuni Cincin Mata Langit berkeluaran dari dalam tubuh para permaisuri, kecuali Sri Rahayu yang mengandalkan asap beracunnya untuk melesat terbang.


Ratu Getara Cinta, Permaisuri Tirana, Yuo Kai, Kerling Sukma, dan Kusuma Dewi naik ke atas punggung makhluk sinarnya masing-masing. Sementara Joko Tenang memilih naik ke atas punggung kuda sinar ungu Sandaria. Hal itu dikarenakan nanti malam adalah giliran Sandaria mendapat jatah ranjang asmara.


“Hihihi!” tawa Sandaria begitu girang, karena Joko Tenang memilih kebersamaan bersamanya.


Joko Tenang dan para permaisurinya segera melesat terbang menuju luar benteng Istana. Keluarga Istana dan para pejabat segera difasilitasi untuk bisa sampai ke arena pertarungan. Adapun para prajurit pendekar, mereka segera berkelebat pergi mengejar. Mereka jelas tidak mau ketinggalan acara besar dan langka. (RH)

__ADS_1


__ADS_2