
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Ratu Getara Cinta duduk di singgasananya sebagai seorang ratu. Tampak begitu jelita di dalam kewibawaan sebagai seorang ratu. Agak berbeda dari ruang sidang di Aula Sanggana Perkasa, di ruangan itu tidak ada kursi untuk sang raja. Kursi yang paling tinggi dan utama adalah tahta ratu.
Beberapa hari sebelumnya, satu tim arsitek dari Kerajaan Sanggana telah tiba di Sanggana Kecil. Mereka bekerja cepat dan bagus melaksanakan permintaan dari Keluarga Istana. Salah satu permintaan Ratu Getara Cinta yang didukung oleh para permaisuri dan disetujui oleh Joko adalah membuat Aula Dewi Bunga.
Maka dibuatlah Aula Dewi Bunga yang menjadi aula keratuan. Jika Prabu Dira berhalangan memimpin sidang, menerima tamu atau menerima laporan, maka sidang akan dilaksanakan di aula itu di bawah pimpinan Ratu Getara Cinta. Para tamu dan utusan pun akan diterima oleh Ratu Getara dan para permaisuri di Aula Dewi Bunga.
Kursi singgasana yang paling depan dan megah adalah kursi Ratu Getara Cinta. Barulah di belakangnya terdapat kursi-kursi megah para permaisuri yang jumlahnya sesuai jumlah istri Joko Tenang. Semakin di belakang posisi kursinya, maka posisinya semakin tinggi, sehingga para tamu atau pejabat yang menghadap bisa melihat dengan jelas semua permaisuri dalam kejelitaan dan kewibawaannya masing-masing.
Di Aula Dewi Bunga itu kini telah duduk Ratu Getara Cinta. Di kursi belakang duduk masing-masing Permaisuri Nara, Permaisuri Kerling Sukma dan Permaisuri Sri Rahayu.
Datang menghadap di aula pada sore hari itu adalah Senopati Duri Manggala, Adipati Sewa Legit, Sepak Bilas dan Tepuk Geprak. Mereka berempat adalah para punggawa di Kerajaan Baturaharja.
Dalam hati mereka terpukau ketika melihat aura keagungan empat wanita berparas jelita. Siapa yang tidak betah untuk terus memandang keindahan yang memanjakan mata dan selera kelelakian itu? Namun, siapa yang berani menatap lancang lama-lama keempat wanita sakti itu? Sosok yang paling mengerikan adalah Permaisuri Nara yang meski cantik jelita, tetapi sepasang matanya yang hitam seolah sudah memberi pesan maut yang tidak tertulis.
Senopati Duri Manggala dan ketiga rekannya duduk dengan lebih banyak menunduk. Perhatian mereka lebih cenderung fokus kepada Ratu Getara Cinta tanpa berani jelalatan memandang yang lain. Seperti itulah tingginya tekanan atmosfir bagi para tamu di dalam Aula Dewi Bunga.
“Kami berkeyakinan tinggi bahwa tahta Kerajaan Baturaharja telah berada di tangan kami. Itu karena perebutan dipimpin langsung oleh dua Permaisuri Sanggana Kecil, terlebih kekuatan Baturaharja pecah dengan pengiriman pasukan ke Kadipaten Kelang dan Repakulo. Senopati sendiri telah berpihak kepada pewaris tahta yang sah. Tahta akan kami berikan kepada Prabu Banggarin, bukan kepada Putri Wilasin,” ujar Ratu Getara Cinta.
“Prabu Banggarin?” ucap ulang Senopati Duri Manggala karena terkejut. “Bukankah Prabu Banggarin sudah mati?”
“Permaisuri Mata Hati yang menyelamatkan nyawa Prabu Banggarin,” kata Ratu Getara.
“Aku tidak bisa kembali ke Baturaharja jika Prabu Banggarin kembali berkuasa. Aku telah bersalah kepada Keluarga Istana,” kata Senopati Duri Manggala.
“Bagaimana denganmu, Adipati Sewa Legit?” tanya Ratu Getara Cinta.
“Hamba tidak memiliki masalah dengan pemerintahan pusat. Kami para adipati hanya mengikuti siapa yang berkuasa,” jawab Adipati Sewa Legit.
__ADS_1
“Baiklah, berarti kau bisa kami ajukan untuk menempati jabatan di pemerintahan Baturaharja. Namun, sebelum itu semua, kita harus tetap menunggu laporan dari sana. Kami sudah mengutus utusan untuk memastikan hasil yang diraih,” kata Ratu Getara Cinta. Lalu katanya kepada Senopati Duri Manggala, “Lalu kau mau ke mana jika tidak mau kembali ke Baturaharja, Senopati?”
“Eee… jika diizinkan, hamba ingin menetap di Sanggana Kecil, Gusti Ratu,” jawab Senopati Duri Manggala.
“Bagaimana, para Permaisuri, tentang permohonan Senopati Duri Manggala?” tanya Ratu Getara Cinta tanpa menengok ke belakang.
“Jika Senopati memiliki kesalahan besar pada Keluarga Istana Baturaharja, Istana Sanggana Kecil harus meninjau pula sebesar apa kesalahan Senopati. Jika ternyata kesalahan Senopati besar, seharusnya kita pun tidak melindungi Senopati, tapi tidak juga menjeratnya, biarkan urusan Senopati murni dengan pihak Baturaharja,” kata Sri Rahayu.
“Aku berbeda pandangan, Gusti Ratu. Siapa pun Senopati adanya, karena dia telah meminta perlindungan, seharusnya kita memberi perlindungan. Sama seperti ketika Putri Wilasin meminta perlindungan kepada kita,” kata Kerling Sukma.
“Kedua saran Permaisuri ada benarnya. Lebih baik kita menunggu kejelasan laporan dari Baturaharja lebih dulu. Apa pun kondisinya, kita tidak akan mempersulit Senopati karena kita tidak memiliki permasalahan dengannya,” kata Nara.
“Baiklah, Senopati. Untuk saat ini kalian menginaplah di Sanggana Kecil sampai ada kabar yang jelas dari Baturaharja. Saat ini Gusti Prabu belum bisa menerima tamu hingga tiga hari ke depan!” kata Ratu Getara Cinta.
“Baik, Gusti Ratu. Terima kasih atas kebijaksanaan yang diberikan kepada kami,” ucap Senopati Duri Manggala. “Jika demikian, kami mohon mengundurkan diri!”
“Silakan, Senopati,” kata Ratu Getara Cinta.
“Permaisuri Pedang tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu depan aula.
Ratu Getara Cinta dan ketiga permaisuri segera memusatkan perhatiannya ke arah pintu besar aula.
Ketika rombongan Senopati Duri Manggala berjalan keluar, berjalan masuklah dua orang wanita muda cantik jelita ke dalam aula.
Wanita muda pertama adalah Permaisuri Kusuma Dewi yang berjuluk Permaisuri Pedang. Ia mengenakan pakaian berwarna merah hati dengan rambut lurus sebahu. Penampilannya sederhana dengan sabuk berwarna putih. Tangan kirinya membawa sebuah pedang bengkok dari Negara Yamato yang terletak jauh di timur laut seberang lautan. Kali ini pedang samurai itu sudah memiliki warangka baru.
Di sisi kanan Kusuma Dewi berjalan seorang wanita muda cantik jelita berpakaian merah terang dengan celana berwarna hitam. Ia memiliki sorot mata yang cantik tapi tajam, seolah menunjukkan bahwa ia adalah wanita berkesaktian. Rambut panjangnya diikat pada sisi kiri saja dengan pita emas yang indah. Pada pinggul kanannya menggantung sebuah tombak pendek. Mata tombak itu berwarna emas karena memang terbuat dari emas murni. Gadis yang belum menikah itu memiliki bentuk tubuh yang bagus dengan ukuran dada yang cukup mendebarkan.
“Kenapa istana ini penuh dengan wanita cantik?” tanya Tepuk Geprak heran kepada Sepak Bilas setelah mereka melewati kedatangan kedua wanita itu.
“Bukankah kita pernah bertemu dengan Prabu Dira di jalan? Kau bisa lihat, betapa tampannya dia. Kau tidak perlu heran jika istana ini memiliki seratus bidadari,” kata Sepak Bilas.
__ADS_1
Tampak gadis teman Kusuma Dewi melangkah yakin dengan pandangan berani menatap tajam keempat wanita penguasa itu satu per satu. Ia tidak menunjukkan gelagat bahwa ia akan bersikap tunduk di hadapan singgasana keratuan.
Dan itu benar ketika Kusuma Dewi menjura hormat kepada Ratu Getara Cinta dan para madunya.
“Hormatku, Gusti Ratu dan para permaisuri yang mulia!” ucap Kusuma Dewi.
Namun, teman Kusuma Dewi tidak menghormat. Wajahnya tegas dan dingin serta terbilang lancang bagi seorang tamu asing.
“Lancang kau, Nisanak!” teriak Kerling Sukma melihat sikap teman Kusuma Dewi.
“Aku datang untuk membuat perhitungan kepada Joko Tenang!” teriak wanita itu lantang.
“Siapa dia, Permaisuri Kusuma?” tanya Ratu Getara Cinta tetap bernada tenang.
“Gadis ini bernama Tembangi Mendayu, adik Gadis Cadar Maut, wanita yang pernah mencintai Kakang Prabu tujuh tahun yang lalu,” jawab Kusuma Dewi.
“Kenapa Permaisuri membawanya ke mari jika hanya membuat keangkuhan seperti ini?” tanya Ratu Getara.
“Aku bertemu dengannya di Kerajaan Walangan dan kalah bertarung. Jadi sebagai pihak kalah, aku membawanya untuk bertemu Kakang Prabu,” jawab Kusuma Dewi.
“Aku harus menuntut pertanggungjawaban kepada Joko karena telah melupakan cintaku di saat aku dengan setia menjaga cinta itu!” kata Tembangi Mendayu dengan nada tinggi.
“Maaf untukmu, Tembangi. Saat ini Kakang Prabu tidak bisa menerima tamu hingga tiga hari ke depan!” tandas Ratu Getara Cinta.
“Jika begitu, aku akan memaksa untuk bertemu!” seru Tembangi Mendayu.
Sikap keras menantang Tembangi Mendayu jelas membuat marah Ratu Getara dan permaisuri lainnya. Namun, mereka tetap tenang, kecuali Kerling Sukma.
“Kalahkan dulu semua istri Kakang Prabu!” teriak Kerling Sukma marah, sambil tubuhnya melesat cepat melewati atas singgasana Ratu dan menyerang ke arah Tembangi Mendayu.
Tembangi Mendayu tetap berdiri tenang tanpa memasang kuda-kuda untuk menerima serangan dari Kerling Sukma. (RH)
__ADS_1