
*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*
Kerling Sukma laksana bidadari pencabut nyawa. Ia melesat datang kepada Tembangi Mendayu dengan tangan siap menghantamkan pukulan bertenaga dalam tinggi. Tembangi Mendayu dengan percaya diri berdiri tenang siap menerima pukulan maut Kerling Sukma.
Clap!
Namun, tiba-tiba Kerling Sukma menghilang dalam lesatannya begitu saja. Hal tu membuat Tembangi Mendayu berubah sikap menjadi lebih siaga. Ia yakin, Kerling Sukma akan menyerang dari arah lain, kemungkinan besar dari belakang.
Sress!
Tahu-tahu Kerling Sukma muncul dari atas kepala Tembangi Mendayu. Lengan kanannya menghentak dengan telapak terbuka. Tembangi Mendayu mendelik mengetahui serangan muncul dari atas.
Melihat kecepatan gerak Kerling Sukma, Tembangi Mendayu jadi sadar bahwa ia menghadapi lawan yang jauh lebih sakti dari Kusuma Dewi.
Dari telapak tangan kanan Kerling Sukma melesat sangat cepat sinar-sinar hijau panjang, yang kemudian membentuk seperti kurungan ayam. Sangat cepat sehingga ujung sinar-sinar itu menancap di lantai aula mengurung tubuh Tembangi Mendayu. Setelah itu, sinar Kurungan Ayam Dewa itu bergerak merapat hendak menjepit Tembangi Mendayu.
Bzuss!
Tembangi Mendayu cepat menghentakkan kedua lengannya ke bawah. Satu gelombang tenaga sakti yang besar muncul menghancurkan ilmu Kurungan Ayam Dewa.
Wuss!
Namun, kebebasan Tembangi Mendayu disambut dengan segulung gelombang angin dahsyat yang dilepaskan oleh Kerling Sukma.
Tubuh Tembangi Mendayu seolah dililit angin lalu dibawa terbang ke arah pintu aula. Di saat tubuh Tembangi Mendayu melesat terbang, tahu-tahu tubuh Kerling Sukma melesat terbang di atas tubuh lawannya.
Kerling Sukma melancarkan agresi pukulan berkecepatan tinggi, tetapi Tembangi Mendayu mampu menangkis semua serangan berkecepatan tinggi itu. Ia bahkan membalas dengan ledakan sinar merah di telapak tangan kanannya.
Blar!
Ketika sinar itu muncul, Kerling Sukma cepat melesat menghilang ke luar aula. Ledakan sinar itu terjadi tanpa korban. Tembangi Mendayu telah mendarat di pintu aula.
Tembangi Mendayu cepat mencari keberadaan wanita bermata hijau. Dilihatnya Kerling Sukma berdiri di halaman aula yang lapang untuk bertarung.
“Giliran aku yang menunjukkan gigi!” seru Tembangi Mendayu lalu berlari dan melompat menerjang.
Tubuh Tembangi Mendayu berputar deras seperti bor dengan kedua kaki rapat meruncing menyerang Kerling Sukma.
Bugg!
Kerling Sukma menyambut ujung kaki Tembangi Mendayu dengan tinju bertenaga dalam tinggi. Tembangi Mendayu terhenti dan mendarat dengan kokoh. Sementara Keling Sukma terjajar beberapa tindak, menunjukkan bahwa tenaga sakti Tembangi Mendayu sangat tinggi.
Sess! Buss! Blar!
__ADS_1
Kerling Sukma melesatkan piringan sinar putih kepada Tembangi Mendayu dalam jarak yang terhitung dekat. Kerling Sukma terkejut ketika dengan mudahnya wanita berbaju merah itu menampar ilmu Cinta Penjemput Nyawa, membuat sinar putih tipis itu terpental dan menghancurkan tembok bangunan Istana.
Selanjutnya Tembangi Mendayu merangsek maju dengan cepat. Kedua tangannya berbekal asap merah dari ilmu Bara Angin. Kerling Sukma dengan mudah mengelaki semua serangan tinju Tembangi Mendayu karena ia memiliki kecepatan lebih tinggi. Namun, ia harus melangkah mundur karena pukulan Bara Angin mengandung panas yang bisa melumerkan besi, akan repot urusannya jika mengenai kulit.
Sess! Sess! Wezz! Ctarr! Ctarr!
Karena tidak bisa menangkal ilmu Bara Angin Tembangi Mendayu, Kerling Sukma akhirnya memilih mundur sambil kedua tangannya melesatkan sinar berwujud bola api berwarna putih.
Tembangi Mendayu yang meyakini serangan dua bola api putih lebih dahsyat dari sebelumnya, cepat mengeluarkan ilmu perisainya. Tubuh Tembangi Mendayu tiba-tiba dibungkus penuh oleh selubung warna hitam seperti kepompong warna hitam.
Dua sinar ilmu Api Putih menghantam ledak lapisan ilmu Selimut Gelap. Ledakan dua sinar putih itu mementalkan tubuh Tembangi Mendayu, seiring lapisan hitamnya lenyap dengan sendirinya. Meski Tembangi Mendayu terguling-guling, tetapi ia cepat bangkit berdiri dengan keadaan tetap bugar. Ia menatap tajam kepada Permaisuri Mata Hijau.
Sementara itu, selain Ratu Getara Cinta dan para permaisuri yang menyaksikan pertarungan tersebut, para tamu Kerajaan Sanggana Kecil telah berkumpul menjadi penonton yang baik. Bahkan Ratu Sri Mayang Sih yang baru selesai diobati oleh Tabib Rakitanjamu, turut keluar dari kamarnya dan pergi ke sumber suara pertarungan. Ia kini menggunakan kayu penyanggah dalam berjalan, tetapi tetap didampingi oleh Putri Embun dan Putri Pelangi.
Hadir pula Ratu Lembayung Mekar dan para pejabatnya yang masih berada di Istana.
Pasukan keamanan Istana terlihat berbaris di sekeliling pelataran Aula Dewi Bunga. Namun, tidak terlihat adanya keberadaan Joko Tenang. Meski laporan kedatangan Tembangi Mendayu sudah sampai kepadanya, tetapi Joko benar-benar memilih beristirahat di kamarnya.
“Masih adakah kesaktian yang belum kau keluarkan, Permaisuri?” tanya Tembangi Mendayu menantang. “Baiklah, giliranku!”
“Sesumbarmu sebentar lagi akan aku bungkam!” balas Kerling Sukma.
Ses ses ses…!
Setelah melakukan gerakan tangan singkat, Tembangi Mendayu lalu melesatkan sinar-sinar biru berpijar ke atas, tepatnya di udara di atas posisi Kerling Sukma.
Ctar ctar ctar…!
Namun, pihak Istana tidak perlu khawatir. Kerling Sukma memiliki ilmu perisai Payung Kebajikan.
Permaisuri Mata Hijau menghentakkan lengan kirinya ke atas dengan talapak tangan lurus ke atas. Tiba-tiba satu tombak di atas kepala muncul lapisan sinar merah, tipis tapi datar dan luas.
Ces ces ces…!
Semua taburan sinar biru jatuh lenyap ketika menyentuh lapisan sinar merah.
Melihat ilmu Hujan Maut-nya gagal, Tembangi Mendayu melesat maju sambil melepaskan sepuluh sinar hijau kecil sebesar gundu. Kerling Sukma justru maju pula dengan kecepatan nyaris tidak terlihat. Tubuhnya melesat rendah lewat di bawah kesepuluh sinar hijau.
Ketika Tembangi Mendayu hendak menghajar Kerling Sukma dengan kibasan tendangan bertenaga dalam tinggi, permaisuri itu lenyap seperti setan melakukan teleportasi.
Ctar ctar ctar…!
Bersamaan dengan ledakan yang ditimbulkan oleh kesepuluh sinar hijau dari ilmu Mata-Mata Setan di tempat kosong, Kerling Sukma muncul sangat dekat di belakang Tembangi Mendayu.
Tembangi Mendayu yang menyadari kemunculan lawan di belakang, langsung memutar tubuh dengan tinju Bara Angin berkelebat sangat cepat.
__ADS_1
Blar! Blar!
Namun, sebelum tinju Bara Angin mengenai lawan, Kerling Sukma telah menghantamkan dua sinar Api Putih ke tubuh Tembangi Mendayu.
“Akk!” jerit Tembangi Mendayu dengan tubuh terpental jauh akibat dua ledakan dahsyat itu.
Kerling Sukma dan para penonton terkejut, Tembangi Mendayu hanya mengalami luka dalam. Pendekar sakti pun akan mengalami raga hancur jika terkena langsung ilmu Api Putih.
Tembangi Mendayu menyeka darah yang keluar dari mulutnya. Terlihat pakaian Tembangi Mendayu rusak terbakar, memperlihatkan kulit tubuhnya yang tidak terbakar sedikit pun. Beruntung Tembangi karena kain bajunya yang rusak bukan pada bagian dada, sehingga tidak membuatnya begitu malu.
Set!
“Kita lihat, sehebat apa kau mengatasi tombak emasku!” seru Tembangi Mendayu. Ia merasa masih jauh dari kata kalah. Ia masih memiliki kesaktian yang belum dikeluarkan.
Kali ini, tombak yang sejak tadi menggantung di pinggangnya, bergerak terbang melayang di udara tanpa dipegang. Tombak itu kemudian diselimuti sinar kuning keemasan sehingga terlihat indah.
Set! Tek! Tek! Tek…!
Setelah tombak pendek itu berputar mengitari tubuh tuannya, si tombak kemudian melesat sangat cepat menusuk tubuh Kerling Sukma.
Namun sayang, setiap tombak itu melesat menusuk dari berbagai arah, selalu terbentur oleh tiga lapis sinar kuning yang melengkung melindungi tubuh Kerling Sukma.
Ketika tombak itu menusuk dari depan, tiga lapis sinar kuning muncul di depan tubuh Kerling Sukma. Ketika menusuk dari arah belakang, ilmu Benteng Tiga Lapis muncul di belakang. Demikian pula jika tombak itu bergerak menusuk dari atas, maka ilmu Benteng Tiga Lapis muncul di atas kepala Kerling Sukma.
“Sial! Perempuan ini begitu sakti!” rutuk Tembangi Mendayu mulai frustasi.
Permainan tombak Tembangi Mendayu yang sebenarnya bisa menembus perisai sakti biasa, benar-benar tidak memiliki jalan untuk menembus Benteng Tiga Lapis Permaisuri Mata Hijau.
Akhirnya Kerling Sukma berlari maju ke arah Tembangi Mendayu.
Seet! Tek!
Pada saat berlari seperti itu, tombak emas melesat cepat membokong Kerling Sukma. Namun, hasilnya tetap sama. Tiga lapis sinar kuning muncul membentengi tubuh belakang Kerling Sukma.
Zess!
Tembangi Mendayu akhirnya menghentikan pengendalian tombaknya sehingga jatuh begitu saja di lantai pelataran. Ia memilih mengeluarkan sinar merah pada kedua tangannya untuk menyambut serangan Kerling Sukma. Itu ilmu Pecah Darah yang sifatnya juga meledakkan.
Clap!
Baru saja Tembangi Mendayu hendak melepaskan sinar merah ilmu Pecah Darah-nya, tiba-tiba Kerling Sukma menghilang kembali dari pandangan.
Sess! Blar! Blar!
Insting Tembangi Mendayu membuatnya cepat berbalik sambil melesatkan dua sinar merahnya. Namun, tidak ada siapa pun di belakang, membuat dua sinar merahnya meledak sendiri di kejauhan.
__ADS_1
“Kau salah besar, Tembangi!” kata Kerling Sukma yang berada di belakang Tembangi Mendayu. Ternyata Kerling Sukma tidak berpindah tempat. Ia berhasil mengecoh Tembangi Mendayu.
Alangkah terkejutnya Tembangi Mendayu mendengar suara di belakangnya. (RH)