8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 43: Sinar dan Tangis Bayi Aneh


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


 


“Hihihi…!” tawa Putri Aninda Serunai panjang, merayakan kemenangannya.


Ia membiarkan para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil dan pasukannya mundur. Ia tidak bermaksud mengejar kakak tirinya.


Sangat jelas bahwa para permaisuri itu memiliki kesaktian yang tinggi-tinggi, yang mungkin adalah kelompok manusia tanpa lawan. Namun, mereka semua takluk dengan mudah di bawah kesaktian pusaka Tongkat Jengkal Dewa.


“Sekarang tidak ada lagi yang perlu aku takutkan!” desis Aninda Serunai. “Yang terpenting sekarang adalah merebut tahta Kerajaan Siluman!”


Putri Aninda Serunai lalu melangkah keluar dari gua. Ia tidak peduli dengan para pendekar yang ada di seberang jurang dalam gua dan yang masih berkerumun di luar. Ia bahkan masih melihat buntut pasukan Kerajaan Sanggana Kecil yang meninggalkan daerah gua itu.


Aninda Serunai memandangi mayat-mayat dari pasukannya.


“Gusti Putri!” sebut Siluman Cemeti Kutuk yang datang dengan terhuyung. Ia menderita luka dalam dari pertarungannya.


Siluman Bola Kilat dan Siluman Benteng yang juga masih tersisa dari pasukan Kerajaan Siluman datang mendekati junjungannya.


“Kita kembali ke Istana Siluman, aku ingin merebut tahta dan menjadi ratu. Aku sebagai orang tanpa tanding, perlu sebuah singgasana!” kata Aninda Serunai. “Setelah Kerajaan Siluman kita kuasai, barulah kita hancurkan perempuan-perempuan budak ***** itu!”


Brusss!


Tiba-tiba mereka semua yang ada di tempat itu dikejutkan oleh suara yang memekakkan gendang telinga. Para permaisuri dan pasukannya yang sudah cukup menjauh dari gua, juga terkejut karena mendengar keras suara itu. Mereka kompak menengok ke arah daerah gua yang sudah cukup jauh.


Mereka hanya melihat sinar putih panjang dan menyilaukan. Mereka masih melihat bahwa sinar seperti pilar itu melesat memanjang ke langit.


“Sinar apa itu?” tanya Kerling Sukma yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.


“Sepertinya berasal dari gua,” kata Yuo Kai.


“Tanpa Sanding!” panggil Tirana.


“Hamba, Gusti Permaisuri!” sahut Tanpa Sanding sambil berlari menghadap. Ia termasuk Pengawal Bunga yang tidak terluka dalam pertarungan tadi.


“Cepat kau kembali ke gua dan pastikan apa yang terjadi. Cari tahu tentang sinar itu!” perintah Tirana.


“Baik, Gusti Permaisuri,” ucap Tangpa Sanding patuh.


Sinar putih menyilaukan yang menimbulkan suara sangat keras itu, muncul membias dari dasar jurang yang ada di Gua Lolongan. Bahkan Aninda Serunai pun terkejut dengan kejadian itu.


Ketika sinar itu membias dari dalam jurang, Putri Manik Sari dan para pendekar di seberang jurang sangat terkejut, sampai-sampai mereka mundur lebih ke dalam gua.

__ADS_1


Namun kemudian, sinar itu lenyap begitu saja dan suara pun kembali hening. Telinga para pendekar jadi berdenging sebentar yang kemudian normal kembali.


Aninda Serunai jadi merasa terusik. Ia pergi ke bibir jurang dan melongok melihat ke bawah. Namun, hanya ada kegelapan yang gulita.


Zoss!


Aninda Serunai lalu melemparkan sebola sinar biru muda menyilaukan mata ke dalam jurang. Ia menunggu.


Bluar!


Sinar itu akhirnya meledak di udara di dalam perjalanannya yang tidak sampai ke dasar. Aninda Serunai hanya melihat dinding jurang yang dilalui dan diterangi oleh bola sinarnya. Ia sedikit pun tidak melihat dasar dari jurang itu.


“Terlalu dalam,” ucap Aninda Serunai lirih. “Jurang apa sebenarnya ini?”


Sementara itu, di kalangan para pendekar juga terjadi kegaduhan dengan adanya peristiwa singkat yang mengejutkan tadi.


“Sepertinya aku pernah mendengar cerita tentang ciri-ciri jurang yang mengeluarkan sinar putih menyilaukan sampai langit,” kata Setan Ngompol.


“Sepertinya guru pernah bercerita, Rambut Merah,” kata Hantu Kaki Tiga.


“Aku ingat, ini ciri-ciri yang menunjukkan makam Dewi Geger Jagad,” kata Setan Ngompol tegang.


“Apa?!”


Maka isu tentang makam Dewi Geger Jagad menyebar cepat seperti api disiram bensin.


“Guru, siapa Dewi Geger Jagad itu?” tanya Limarsih. Ia memilih ikut gurunya daripada ikut adiknya.


“Wanita iblis sakti yang sudah mati puluhan tahun lalu. Namun, tidak ada yang tahu di mana ia berakhir,” jawab Nenek Rambut Merah.


“Ayo!” kata Aninda Serunai kepada ketiga abdinya seraya melangkah pergi meninggalkan gua itu.


Ketiga siluman berwajah tampan itu segera mengawal Putri Aninda Serunai.


“Oee… oee… oee…!”


Putri Aninda Serunai terpaksa kembali berhenti.


Mereka semua dikejutkan oleh suara gema tangis seorang bayi. Suara itu berasal dari dalam gua, tepatnya dari dalam jurang.


“Kejadian apa ini sebenarnya?” tanya Putri Manik Sari kepada dirinya sendiri. Ia tidak habis pikir dengan keanehan yang terjadi sejak jatuhnya Joko Tenang.


“Bagaimana mungkin di dalam jurang ada seorang bayi?” tanya pendekar yang lain.

__ADS_1


“Pasti itu bayi setan penunggu jurang ini!” terka pendekar lain.


“Setannya pasti sudah marah karena keributan di sini.”


“Ayo!” ajak Aninda Serunai lagi kepada ketiga prajuritnya. Ia tidak mau pusing memikirkan keanehan itu.


Namun, suara gema tangis bayi yang begitu jelas itu kini sudah tidak terdengar.


Setelah itu, tidak terjadi peristiwa aneh lagi. Yang tersisa hanyalah cerita geger yang kemudian cepat viral di kalangan pendekar.


Para pendekar muda yang tidak tahu-menahu cerita tentang Dewi Geger Jagad, segera bertanya kepada para pendekar tua atau mencari informasi ke “Mbah Gugel”.


Sementara itu, Tangpa Sanding sudah kembali dari mencari informasi di Gua Lolongan.


“Lapor, Gusti Permaisuri!” ucap Tangpa Sanding setelah kembali ke rombongan.


“Sampaikan!” perintah Tirana.


“Sinar itu keluar dari dalam jurang tempat Gusti Prabu jatuh. Cerita yang beredar dari para pendekar, sinar itu tanda bahwa jurang itu adalah makam Dewi Geger Jagad,” lapor Tangpa Sanding.


“Makam Dewi Geger Jagad,” ucap ulang Tirana.


“Benar. Katanya dia wanita sakti kejam yang sudah mati puluhan tahun yang lalu,” jelas Tangpa Sanding.


“Siapa? Dewi Geger Jagad?” tanya Dewi Bayang Kematian ikut nimbrung. “Setahuku dia wanita sakti yang cintanya pernah jadi rebutan orang-orang sakti. Menurut cerita guruku, jika ingin tahu secantik apa Dewi Geger Jagad, maka bandingkan dengan wanita tercantik yang ada sekarang. Jika wanita tercantik itu belum bisa membuat para lelaki bertaruh nyawa demi menarik perhatiannya, maka kecantikannya belum bisa mengalahkan Dewi Geger Jagad.”


“Berarti kami semua kalah cantik,” kata Murai Manikam.


“Hihihi!” tawa Dewi Bayang Kematian.


“Selain itu, Gusti,” ucap Tangpa Sanding lagi. “Tadi juga terdengar ada suara tangisan bayi dari dalam jurang. Hamba mendengarnya langsung.”


“Tangis bayi?” ucap ulang beberapa dari wanita jelita itu.


“Tadi ketika aku jatuh, aku tidak sedikit pun melihat dasar jurang itu. Hanya kegelapan semata,” kata Tirana.


“Meski tidak masuk akal, tetapi itu menunjukkan bahwa di dalam jurang itu ada orang yang hidup,” kata Sri Rahayu.


“Semoga saja itu, Kakang Prabu,” ucap Kusuma Dewi.


“Ayo, kita bergegas menuju Jurang Lolongan sesuai perintah Kakang Prabu!” kata Tirana memutuskan.


Rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan menuju Jurang Lolongan. (RH)

__ADS_1


__ADS_2