8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 34: Duel Tokoh Seratus Tahun


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


 


“Hormat Perguruan Bukit Dalam kepada Dewi Mata Hati!” ucap murid-murid Perguruan Bukit Dalam tanpa menyebut nama Joko Tenang.


Para lelaki muda hanya bisa memendam kekagumannya saat melihat kecantikan Permaisuri Nara, meski memiliki mata yang penuh berwarna hitam.


Para wanita muda hanya bisa memendam kekagumannya saat melihat ketampanan Joko Tenang, yang melangkah dengan senyum manisnya karena mendapat sambutan meriah seperti itu, meski tidak semeriah sambutan Kerajaan Sanggana terhadap Raja Anjas Perjana Langit.


“Selamat datang di perguruanku, Dewi Mata Hati!” sambut Ki Rawa Banggir.


“Perguruanmu semakin ramai, Rawa Banggir,” kata Nara.


“Hormatku kepada Ketua Perguruan Dalam!” ucap Joko Tenang menghormat di saat istrinya tidak menghormat.


Joko Tenang juga kemudian menghormat kepada Serigala Perak dan Pendekar Seribu Tapak.


“Hormatku kepada Kakek Guru Pendekar Seribu Tapak, dan Nenek Serigala Perak!” ucap Joko Tenang sambil menjura hormat.


“Izinkan aku tahu, Dewi. Siapa pemuda tampan yang bersamamu ini?” tanya Ki Rawa Banggir.


“Suamiku.”


“Hah!” kejut Ki Rawa Banggir.


“Appa?!” pekik Pendekar Seribu Tapak dan Serigala Perak benar-benar terkejut. Keduanya memang belum tahu bahwa Dewi Mata Hati telah menjadi istri kelima Joko Tenang.


Seketika Pendekar Seribu Tapak dan Serigala Perak berubah gelisah, pasalnya ada yang sangat mengganjal di hati mereka berdua.


“Jika kau adalah istrinya Joko, lalu… lalu bagaimana nasib Kerling Sukma?” tanya Pendekar Seribu Tapak agak tergagap.


“Kalian tidak usah mempermasalahkan apa yang ada di kepala kalian. Aku menikah dengan Joko karena permintaan muridku sendiri!” tandas Nara.


“Aku dan semua istri tidak mempersoalkan pernikahan kami, jadi aku harap Kakek Guru dan Nenek Serigala Perak tidak mempersoalkannya pula,” kata Joko Tenang.


Mendengar kata “semua istri”, Ki Rawa Banggir hanya menaikkan alis. Ia segera paham bahwa Joko Tenang menganut paham cinta seperti dirinya, lebih dari satu.


“Tapi aku sangat tidak percaya jika Dewi Mata Hati mau berbagi suami,” ucap Ki Rawa Banggir, tetapi hanya di dalam hati.


Sementara Pendekar Seribu Tapak dan Serigala Perak hanya diam dengan wajah yang tidak nyaman. Dewi Mata Hati tahu bahwa keduanya tidak suka karena dirinya menjadi bagian dari istri-istri Joko Tenang.


Pendekar Seribu Tapak dan Serigala Perak sangat tahu bahwa Dewi Mata Hati adalah wanita berusia lebih seratus tahun, guru dari Kerling Sukma yang juga adalah istri Joko, dan mantan kekasih Ki Ageng Kunsa Pari yang adalah guru dari suaminya.


“Suamiku bernama Joko Tenang, alias Prabu Dira Pratakarsa Diwana, raja Kerajaan Sanggana Kecil di utara Gunung Prabu!” ujar Dewi Mata Hati kepada Ki Rawa Banggir.

__ADS_1


Terkejutlah mereka semua mendengar status raja Joko Tenang.


“Sembah hormat kami kepada Gusti Prabu Dira!” ucap Ki Rawa Banggir seraya turun berlutut menjura hormat.


Hal yang sama dilakukan oleh para istri Ki Rawa dan murid-muridnya. Demikian pula dengan Pendekar Seribu Tapak dan Serigala Perak.


Tindakan mereka itu mengejutkan Joko Tenang.


“Bangunlah, para Tetua! Aku juga seorang pendekar, jadi saat ini anggap aku sebagai seorang pendekar saja!” kata Joko Tenang.


Mereka yang menghormat pun bergerak bangkit kembali.


“Hahaha! Dunia ini memang aneh, Nara!” seru seorang lelaki tua yang didahului dengan tawanya.


Tahu-tahu di antara mereka telah hadir sosok kurus berjubah hijau gelap.


“Hormatku, Guru Hijau!” ucap Joko Tenang sambil turun berlutut menghormat kepada Iblis Timur alias Malaikat Kipas Hijau, salah satu guru langsung Joko Tenang.


Mendelik Ki Rawa Banggir karena jadi tahu bahwa Joko adalah murid Tiga Malaikat Kipas. Itu artinya, Joko Tenang sangat pantas hadir dalam pertemuan itu.


“Bangunlah, Joko. Aku jadi tidak enak. Aku dengar kau sudah menjadi raja bergelimang harta dan tertindih bebukitan! Hahahak!” kata Iblis Timur lalu tertawa keras terbahak.


“Jaga bicaramu, Iblis Timur!” hardik Nara.


Wess!


Clap!


“Hahaha…!”


Sosok Iblis Timur mendadak hilang, membuat serangan Nara mengenai ruang kosong. Namun, suara tawa Iblis Timur tetap terdengar membahana ke seluruh sisi jurang.


Suara tawa Iblis Timur membuat para tokoh sakti di atas Awan Batu jadi memusatkan perhatian ke daerah bukit.


Sosok palsu Nara juga cepat menghilang begitu saja.


Blar blar blar…!


Kecuali Nara, mereka semua dikejutkan oleh tujuh kali suara ledakan di udara lepas. Terlihat di udara pada sisi selatan, ada ledakan dari sinar kuning dan hijau, tanpa terlihat ada yang bertarung.


“Apa yang kau lakukan, Nara?” tanya Joko Tenang.


“Orang-orang Tiga Malaikat Kipas tidak akan berhenti bergurau jika tidak dibuat diam,” jawab Nara. “Ilmu Kembaran Dewi akan membuat Iblis Timur sibuk daripada membuat kebisingan di depanku.”


Tiba-tiba sosok berjubah kuning dan hijau gelap muncul di tempat yang jauh, tetapi masih bisa mereka saksikan keberadaannya. Sosok itu adalah Nara palsu dan Iblis Timur.

__ADS_1


Kedua orang berusia di atas seratus tahun itu bertarung dengan kecepatan tangan dan kaki yang tidak terlihat, karena sedemikian cepatnya. Peraduan dua tenaga dalam yang tinggi seolah perkara biasa saja, tidak menimbulkan luka dalam sedikit pun.


Sosok Nara dan Iblis Timur kini berlari cepat di udara seperti dua hewan bersayap, saling bertarung tanpa jelas siapa yang menyerang dan siapa yang menangkis.


Blar blar blar…!


Sejumlah ledakan tenaga sakti bersuara nyaring terjadi beberapa kali dalam pertarungan itu. Tiba-tiba keduanya hilang begitu saja. Tahu-tahu muncul di tempat lain dan terus bertarung.


Kecuali Nara sendiri, semuanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin Nara memiliki ilmu bayangan sehebat itu.


“Izinkan kami beristirahat dulu, Rawa Banggir,” ujar Nara kepada Ki Rawa Banggir, tanpa peduli dengan pertarungan bayangannya melawan Iblis Timur.


“Silakan, Dewi Mata Hati, Gusti Prabu. Muridku akan mengantar kalian ke kamar istirahat!” kata Ki Rawa Banggir.


Joko Tenang dan Nara lalu beranjak pergi mengikuti murid perguruan yang sudah disiapkan untuk mengantar tamu.


Sementara Pendekar Seribu Tapak dan Serigala Perak memilih terus menyaksikan pertarungan tingkat tinggi yang tergelar.


Bluam!


Tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat. Sosok Iblis Timur muncul melesat deras keluar dari balik udara. Namun, ia melesat dalam posisi tubuh melengkung ke belakang. Iblis Timur jatuh keras menghantam tanah keras di kaki bukit.


“Hentikan, Nara!” teriak Iblis Timur yang cepat bangkit tanpa terluka fisik sedikit pun.


Namun, Nara yang muncul keluar dari alam lain tidak menyahut, mungkin karena dia hanya bayangan.


Tum tum tum!


Alangkah terkejutnya Iblis Timur melihat dua jari Nara mengeluarkan sinar putih menyilaukan mata. Selanjutnya melesat berbentuk garis sinar putih menyilaukan sebanyak tiga larik.


Wusss!


Bluar bluar bluar!


Langsung saja Iblis Timur mengibaskan tangan kanannya yang sudah mencabut kipas berwarna hijau dari balik jubahnya.


Angin dahsyat laksana badai berembus cepat disertai ada serat-serat sinar hijau yang banyak.


Ketika angin bersinar hijau menghadang tiga sinar putih menyilaukan, tiga ledakan dahsyat terjadi. Bahkan tanah keras sekitar turut berledakan. Bukit dibuat bergetar samar.


Sosok palsu Nara terpental cukup jauh dan akhirnya menghilang.


Setelah itu, suasana berubah hening. Iblis Timur yang masih memasang kuda-kuda, menunggu sejenak.


Sementara di atas bukit, Nara yang asli dan Joko Tenang dihadang oleh seseorang saat mendekati rumah panggung panjang. Orang yang menghadang mereka adalah Dewa Kematian.

__ADS_1


“Nara, izinkanlah aku bertemu dengan cicitku!” (RH)


__ADS_2