8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 10: Isu Pusaka Tanpa Tanding


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


Muni Kelalap menatap tajam kepada Siluman Gendut dan Sepa Maraga. Mereka berdiri di antara para pendekar yang duduk lesehan menjadi pelanggan di Rumah Makan Nyi Blotot itu.


Para pendekar yang sedang makan sempat dibuat terkejut oleh serangan yang dilakukan oleh Muni Kelalap. Namun kemudian, mereka kembali melanjutkan makan dan minumnya. Bahkan mereka menganggap ketiga pendekar yang berseteru adalah hiburan yang tersaji di tengah-tengah mereka.


“Muni Kelalap! Apa maksudmu menyerang kami di depan banyak orang?!” hardik Siluman Gendut marah sambil menunjuk si nenek bertongkat kayu.


“Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!” balas Muni Kelalap tidak kalah ngegasnya,


“Perbuatan apa yang aku lakukan, hah?!” bantah Siluman Gendut.


“Kaulah yang menyebar berita rahasia tentang pusaka tanpa tanding yang ada di Gua Lolongan!” tuding Muni Kelalap keras.


“Itu fitnah!” bantah Siluman Gendut keras pula.


“Buktinya lihat, begitu banyak para pendekar yang datang menuju Gua Lolongan. Ini semua pasti gara-gara mulutmu yang tidak bisa menyimpan rahasia!” tukas Muni Kelalap.


“Mulutku Sukanya makan, bukan membocorkan rahasia. Aku mendengar langsung dari sejumlah pendekar yang singgah di Desa Lamongan ini, bahwa mereka mendengar ada pusaka tanpa tanding di Gua Lolongan. Aku tahu, selain jajaran pemimpin Kelompok Tinju Dewa, hanya kau dan Domba Hidung Merah yang tahu rahasia lengkap tentang pusaka itu. Justru aku curiga bahwa mulut tuamu yang telah membocorkan rahasia itu. Awalnya aku pun tidak tahu jika pusaka itu bisa membuat orang yang memilikinya menjadi tidak terkalahkan oleh kesaktian apa pun!” cecar Siluman Gendut.


“Hah, tidak terkalahkan!” ucap lirih sejumlah pendekar yang kentara bahwa mereka baru tahu tentang informasi tersebut.


Mulailah muncul suara basak-bisik di antara para pelanggan rumah makan itu. Joko Tingkir dan Putri Manik Sari yang mendengar perdebatan itu, jadi serius pula menyimak tanpa berkomentar.


“Kurang ajar! Kau kini membawa-bawa nama Domba Hidung Merah!” teriak gusar Muni Kelalap lalu berkelebat cepat di udara, ke arah posisi Siluman Gendut. Batang tongkatnya mengibas keras sehingga menciptakan suara gesekan tongkat dengan udara.


Daks!


Tanpa menghindar, Siluman Gendut justru memasang batang tangan besarnya menangkis tongkat bertenaga dalam tinggi itu.


Hasil dari peraduan tongkat dan tangan itu menimbulkan sebaran ledakan tenaga ke sekitar, membuat setiap meja di rumah makan itu bergetar seperti terkena getaran gempa vulkanik. Makanan para pengunjung pun ikut bergetar, tapi tidak sampai berantakan atau tumpah.


Sementara Siluman Gendut tetap kokoh tanpa terpengaruh atau terluka oleh hantaman keras tongkat Muni Kelalap. Namun, kemudian dia cepat melompat mundur.


“Hentikan pertarungan kalian!” seru seseorang agak keras tiba-tiba.


Seruan itu disusul oleh kelebatan seorang pemuda berpakaian merah berikat kepala merah. Rambutnya gondrong sebahu. Ia membawa selingkaran cemeti berwarna abu-abu di pinggangnya. Ketika dia mendarat di antara jarak kedua petarung, maka terlihatlah bahwa ia pemuda yang tampan. Ia adalah Siluman Cemeti Kutuk. Ia pernah muncul bersama Putri Aninda Serunai ketika datang ke Perguruan Tiga Tapak.


Namun, di tempat itu ia menutup identitas aslinya. Di rumah makan itu dia bertindak sebagai keamanan. Dialah yang berdiri di dekat kasir sebagai satpam restauran.


“Jika kedua pendekar ingin bertarung, lakukanlah di luar sana, jangan mengganggu kenyamanan para pelanggan kami!” seru Siluman Cemeti Kutuk tegas.


“Nenek nakal itulah yang memulai kekacauan ini!” tukas Siluman Gendut mendelik.


“Kurang ajar!” umpat Muni Kelalap mendelik pula.


“Lalu siapa yang bertanggung jawab mengganti kerugian kami?” tanya Siluman Cemeti Kutuk sambil memandang keduanya bergantian.


“Nih!” seru Siluman Gendut sambil melemparkan beberapa keping uang logam kepada Siluman Cemeti Kutuk.


Pemuda tampan itu dengan mudah menangkap semua kepingan uang tersebut sekali sabetan tangan.


“Sekalian aku bayar ganti ruginya, biar nenek itu malu aku yang membayarkan kerusakan dari perbuatannya! Ayo kita pergi, Sepa!” seru Siluman Gendut lalu mengajak Sepa Maraga pergi meninggalkan rumah makan itu.

__ADS_1


“Setan buntet!” maki Muni Kelalap lalu berlari kecil kemudian berkelebat ke luar rumah makan, mengejar Siluman Gendut dan Sepa Maraga yang sudah lebih dulu berkelebat ke luar.


Setelah itu, terlihat sejumlah pelanggan di tempat itu bangkit berdiri, padahal makanan mereka masih belum habis. Mereka pun terlihat tergesa-gesa tanpa lupa bayar makanan ke kasir.


Sementara Siluman Cemeti Kutuk kambali ke posisinya sebagai sekuriti di dekat kasir.


“Kenapa mereka berubah terburu-buru setelah pertarungan tadi?” tanya Joko Tingkir heran.


“Aku rasa mereka ingin segera ke Gua Lolongan untuk mendapatkan pusaka yang diributkan tadi,” terka Putri Manik Sari.


“Oooh, jadi karena cerita yang katanya di Gua Lolongan ada pusaka sakti, yang membuat para pendekar ini beramai-ramai mau pergi ke Gua Lolongan,” kata Joko Tingkir menyimpulkan.


“Aku jadi penasaran, pusaka apa sebenarnya yang ada di Gua Lolongan,” kata Putri Manik Sari.


“Jika Putri tertarik pergi ke Gua Lolongan, dengan setia aku akan mendampingi jika Putri suka. Jika tidak mau, ya aku lebih baik langsung ke Jurang Lolongan,” kata Joko Tingkir.


“Kau harus menemaniku, Tingkir. Jika aku terluka dalam pertarungan lagi, siapa yang mau mengobatiku?” kata sang putri.


“Hahaha!” Joko Tingkir hanya tertawa jumawa.


Seiring itu, makanan pesanan mereka berdua datang dibawakan oleh pelayan.


“Silakan, Den Pendekar, silakan!” kata pelayan itu sambil meletakkan sejumlah makanan di atas meja.


Tiba-tiba Joko Tingkir mendelik saat memandang sekilas ke pintu masuk Rumah Makan Nyi Blotot itu. Joko Tingkir melihat seorang wanita cantik berpakaian hijau muda. Ia buru-buru mengubah duduknya jadi menghadap ke kanan, menyampingi posisi meja dan membelakangi arah pintu.


Wanita cantik yang adalah Dewi Bayang Kematian itu, menjadi pusat perhatian pelanggan lelaki yang sempat melihatnya masuk. Para lelaki itu terpesona karena melihat area depan Dewi Bayang Kematian yang ekstra menantang.


Dewi Bayang Kematian mengedarkan pandangannya ke seantero ruangan rumah makan itu, hinga ke sudut-sudut. Ia tidak peduli para lelaki yang memandanginya atau mencuri-curi pandang. Itu hal biasa yang ia alami. Ia sadar diri dengan tingginya pesona yang ia miliki, apalagi berada di tempat ramai seperti itu.


“Tidak, aku hanya pegal, jadi aku miring sebentar,” kata Joko Tingkir santai.


Namun, saat itu juga, Dewi Bayang Kematian berjalan ke sisi kanan rumah makan. Ia berjalan menuju meja Joko Tingkir dan Putri Manik Sari.


“Tingkir!” panggil Dewi Bayang Kematian agak keras.


Joko Tingkir agak terkejut ketika namanya dipanggil dengan agak kencang. Ia tidak langsung menengok, tapi pura-pura tidak mendengar. Justru Putri Manik Sari yang menengok memandangi kedatangan Dewi Bayang Kematian.


“Tingkir!” panggil Dewi Bayang Kematian setengah membentak.


Barulah pada panggilan kedua itu, Joko Tingkir menengok ke belakang. Joko Tingkir tersenyum lebar saat melihat Dewi Bayang Kematian sudah berdiri di dekat meja mereka.


“Eh, Dewi. Rupanya kau ada di sini juga?” sapa Joko Tingkir sambil tetap tersenyum kuda.


“Siapa wanita ini?” tanya Dewi Bayang Kematian pelan, tetapi nadanya ditekan.


“Sahabatku. Temanku,” jawab Joko Tingkir sambil membenarkan kembali duduknya.


“Sahabat? Teman, ya?” tanya Dewi Bayang Kematian untuk menegaskan.


“Iya, Putri Manik Sari adalah sahabatku,” tandas Joko Tingkir.


“Jika putri ini adalah sahabatmu, lalu aku sebagai apamu?” tanya Dewi Bayang Kematian.

__ADS_1


“Yaaa, kau adalah…” kata Joko Tingkir jadi bersikap bingung. Seolah ia kehilangan atau kehabisan kata-kata.


“Aku adalah kekasih Tingkir!” kata Putri Manik Sari tiba-tiba sambil meletakkan piring yang sedang dipegangnya ke meja. Ia lalu bangkit berdiri dan dengan wajah tidak bersahabat ia berdiri menghadap kepada Dewi Bayang Kematian.


Pose berdiri Dewi Bayang Kematian dan Putri Manik Sari yang saling berhadapan dengan tatapan tampak bermusuhan, membuat para pelanggan lelaki bersemangat memandangi keduanya.


“Wah, pasti sengit pertarungan ini!” ucap seorang pelanggan di meja lain.


“Ini pasti rebutan terong!” celetuk seorang pendekar berperawakan seram, karena wajahnya brewok dan berjerawat batu.


“Bukan, Kang. Ini mah rebutan singkong,” timpal temannya yang berperut gendut.


“Hahaha! Lelaki bau kencur seperti itu saja diperebutkan,” kata pendekar lain sambil tertawa.


“Aku pegang yang besar!” kata yang lain lagi.


“Aku yang sederhana saja,” kata yang lain pula.


“Kalau yang sederhana kalah, kau harus bayar, Gampur!”


“Tenang saja. Utangmu masih banyak padaku, tinggal potong saja. Hehehe!” timpal pendekar yang bernama Gampur.


Merasa ditantang oleh wanita yang disebut putri itu, Dewi Bayang Kematian justru tersulut amarahnya. Ia maju ke depan lebih merapat kepada Putri Manik Sari.


“Hahaha…! Asiiik!”


Para lelaki di rumah makan itu tiba-tiba tertawa kegirangan melihat ketegangan di sisi kanan.


“Sejak kapan kau menjadi kekasih Tingkir, Putri Genit? Sejak dua hari lalu aku masih sebagai kekasih Tingkir. Lalu kau siapa, hah?!” kata Dewi Bayang Kematian, seolah ingin menabrakkan dadanya ke dada Putri Manik Sari.


“Sejak hari ini aku menjadi kekasih Tingkir. Jika kau tidak terima, kau berani apa?” kata Putri Manik Sari tidak kalah sengit.


Pertengkaran itu kali ini membuat Joko Tingkir panik, berbeda ketika Dewi Bayang Kematian bertengkar dengan Limarsih, ia dengan seenaknya lenggang kangkung membiarkan kedua wanita yang memperebutkannya bertarung.


“Tenang tenang tenang! Semua bisa dibicarakan secara lembut!” kata Joko Tingkir sambil bangun dan bergerak cepat ke tengah-tengah kedua wanita itu bermaksud melerai.


Namun, tindakan Joko Tingkir itu justru membuat kedua wanita cantik tersebut memerah wajahnya karena malu dan murka. Pasalnya, tangan kanan Joko Tingkir mampir di dada besar Dewi Bayang Kematian dan tangan kirinya hinggap di dada sederhana sang putri.


“Tingkiiir…!” teriak kedua wanita itu tinggi dan panjang.


Sadar akan perbuatan kedua tangannya, Joko Tingkir jadi mendelik terkejut. Entah dia pura-pura tidak sadar atau memang tidak sengaja menyentuh kedua bukit wanita cantik itu.


Baks!


“Hukh!” keluh Joko Tingkir dengan tubuh terlempar deras ke jendela rumah makan, ketika Dewi Bayang Kematian dan Putri Manik Sari secara bersamaan menghantamkan pukulannya ke perut pemuda itu.


Joko Tingkir yang tubuhnya tersangkut di jendela rumah makan, meringis kesakitan. Dua pukulan bersamaan kedua wanita itu mengandung tenaga dalam yang tinggi. Joko Tingkir merasakan seluruh isi perutnya serasa hancur, bahkan rasa mules mendadak muncul ke ujung saluran pembuangannya.


Dewi Bayang Kematian kembali adu mulut dengan Putri Manik Sari. Namun, Joko Tingkir memilih melompat ke luar lewat jendela. Lalu berlari pergi.


“Lelakinya kabur!” teriak seorang pendekar yang melihat Joko Tingkir kabur.


Teriakan pendekar itu menyadarkan Dewi Bayang Kematian dan Putri Manik Sari. Ketika mereka memandang kepada Joko Tingkir, pemuda itu sudah berlari terbirit-birit.

__ADS_1


“Tingkir asem! Mulai kini aku campakkan kau sebagai kekasihku!” teriak Dewi Bayang Kematian begitu jengkel.


Dewi Bayang Kematian lalu berbalik pergi meninggalkan Putri Manik Sari. Sementara sang putri memilih duduk kembali dengan wajah merengut asam manis. Ia memilih melanjutkan makannya. (RH)


__ADS_2