8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 17: Pengiriman Bantuan


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


Belang adalah serigala yang diutus oleh Sandaria untuk menyampaikan surat kepada Prabu Dira Pratakarsa Diwana. Sepanjang malam ia berlari kencang menuju Kerajaan Sanggana Kecil. Karenanya, wajar jika Belang tiba di Istana Sanggana Kecil pada pagi hari.


Kedatangan Belang yang seorang diri tanpa tuannya sempat mengejutkan Joko Tenang dan para permaisurinya. Namun, setelah membaca isi surat Permaisuri Serigala, legalah mereka semua.


Isi surat itu berbunyi:


“Dari permaisurimu yang paling imut menggemaskan. Sebagai seorang utusan, kami telah diserang oleh orang Kerajaan Baturaharja. Ada kabar gembira. Senopati Baturaharja sudah memihak kepada kita. Saat ini dia ditugaskan untuk memberantas pemberontakan di Kadipaten Kelang. Kabar buruknya, Senopati Baturaharja meminta bantuan untuk mengatasi pemberontakan Kelompok Jago Sodok di Kadipaten Kelang. Senopati Baturaharja menunggu bantuan kita di Desa Kayu Manis di Kadipaten Segang. Permaisurimu yang paling imut menunggu jawaban sayang karena aku rindu.”


“Hahaha!” tawa Joko Tenang usai membaca surat dari Sandaria, surat yang ditulis oleh Sugigi Asmara.


Joko Tenang yang saat itu sudah bisa duduk di kursi, lalu memberikan suratnya kepada Ratu Getara Cinta. Sang ratu hanya tartawa kecil membaca surat itu, membuat Kerling Sukma jadi penasaran.


“Permaisuri paling imut, tapi aku permaisuri paling menggairahkan!” kata Kerling Sukma yang memancing tawa kecil Joko Tenang dan Ratu Getara Cinta.


“Tuliskan surat balasan untuk Permaisuri Serigala!” perintah Joko Tenang yang kelumpuhannya tinggal tersisa tiga puluh persen.


Ratu Getara Cinta lalu menyiapkan kain dan tinta.


“Dari rajamu yang selalu perkasa di segala medan. Penyerangan terhadap utusan dan permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil adalah pernyataan perang. Setelah surat ini aku terima, aku langsung mengirim pasukan untuk menggulingkan Prabu Menak Ujung. Permaisuri Mata Hijau akan aku kirim untuk membantu Senopati Baturaharja memberantas pemberontak di Kadipaten Kelang. Setelah menikah dengan Putri Sri Rahayu, aku akan langsung menyusul ke Baturaharja. Tunggulah cintamu ini di tahta Baturaharja. Prabu Dira Pratakarsa Diwana.”


Joko Tenang mendikte, sedangkan Ratu Getara Cinta menuliskannya di kain pesan.


Usai itu, surat pun dikaitkan pada kalung Belang. Serigala itu langsung pergi kembali menempuh perjalanan ekspres menuju tempat peristirahatan Permaisuri Sandaria.


“Permaisuri Mata Hijau, selain dua Pengawal Bunga, bawalah lima pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana pergi ke Desa Kayu Manis di Kadipaten Segang. Berangkat pagi ini juga!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Kerling Sukma patuh.


“Tetap waspada, ada kemungkinan ini adalah jebakan pula!” pesan Joko Tenang.

__ADS_1


“Baik, Kakang Prabu. Aku mohon diri untuk bersiap,” ucap Kerling Sukma lalu menghormat dan pergi.


Setelah itu, Joko Tenang memanggil Mahapati Turung Gali, Senopati Batik Mida, Ratu Lembayung Mekar, Adipati Pangeran Kubur, Senandung Senja, dan Nyai Kisut.


“Adipati Pangeran Kubur, apakah kau sudah memberi tahu cucumu bahwa kau adalah kakeknya?” tanya Joko Tenang sebelum ia membahas masalah pengiriman pasukan ke Kerajaan Baturaharja.


Terkejutlah Adipati Pangeran Kubur, Senandung Senja dan Nyai Kisut. Pangeran Kubur tidak menyangka bahwa Prabu Dira akan mengungkapkan hal itu di depan Senandung Senja yang bernama asli Putri Wilasin


“Maafkan hamba, Gusti. Selama ini hamba hanya memandangi Putri Wilasin dari jauh,” jawab Adipati Pangeran Kubur yang bernama asli Prabu Banggarin.


Kian terkejut Senandung Senja dan Nyai Kisut.


“Karena sudah waktunya kami mengirim pasukan untuk menggulingkan Prabu Menak Ujung, sudah seharusnya kalian pun terbuka dan unjuk diri kepada musuh. Terlebih kepada sesama kerabat,” kata Joko Tenang. Lalu katanya kepada Senandung Senja, “Putri Wilasin, kau masih memiliki seorang kakek, yaitu Pangeran Kubur, yang nama aslinya adalah Prabu Banggarin.”


Kian terkejut Senandung Senja dan Nyai Kisut. Kedua wanita itu menatap Pangeran Kubur dengan tatapan tidak percaya. Sementara Pangeran Kubur tersenyum lembut kepada cucunya.


“Tapi, Gusti Prabu. Selama ini kami mengetahui bahwa seluruh keluarga Prabu Arta Pandewa telah habis tanpa tersisa. Bagaimana mungkin tiba-tiba ada orang yang mengaku kakek dari Putri Wilasin? Aku curiga Pangeran Kubur hanya mengaku-aku sebagai Prabu Banggarin untuk mengambil kesempatan!” kata Nyai Kisut dengan kata-kata yang cepat tanpa koma dan hanya dengan satu titik.


“Aku yang menjamin bahwa Pangeran Kubur adalah Prabu Banggarin. Dia adalah benar ayah dari Prabu Arta Pandewa yang selama ini disangka telah mati,” kata Permaisuri Nara.


“Benar, cucuku,” jawab Pangeran Kubur.


“Hihihi!” tawa Senandung Senja, tapi pendek. Ia terlihat tidak begitu gembira, bahkan bersikap hampir biasa saja.


Melihat tidak ada ungkapan yang begitu emosional dari Senandung Senja kepada kakeknya, Joko Tenang lalu melanjutkan arahannya.


“Baiklah. Aku harap kalian bisa terbiasa antara kakek dan cucu. Pangeran Kubur, Senandung Senja, dan kau, Nyai Kisut, kalian harus tampil terdepan dalam peperangan ini karena ini adalah untuk kalian. Pasukan Kerajaan Sanggana Kecil akan dipimpin langsung oleh Permaisuri Negeri Jang. Aku meminta bantuan dua ribu pasukanmu, Ratu Lembayung. Apakah diperkenankan?”


“Sebagai calon permaisuri kesembilan, tentunya aku izinkan pasukan Balilitan berperang untuk Kerajaan Sanggana Kecil,” kata Ratu Lembayung Mekar yang akan berada di istana itu hingga hari pernikahan Joko Tenang dengan Putri Sri Rahayu.


“Dengan demikian, Mahapati Turung Gali akan memimpin dua ribu pasukan Balilitan dan Senopati Batik Mida akan memimpin tiga ratus pasukan Sanggana Kecil!” perintah Joko Tenang.

__ADS_1


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Turung Gali dan Batik Mida bersamaan.


“Aku ikut, Kakang Prabu!” sahut Putri Sagiya. “Aku sempat kecewa karena tidak ada perang di barat Gunung Prabu. Jadi, aku harus ikut kali ini!”


“Baiklah, Adinda. Tolong kau pastikan keselamatan kedua permaisuri. Permaisuri Serigala akan bergabung bersama kalian,” kata Joko Tenang.


“Siap, Kakang Prabu!” teriak Putri Sagiya semangat, membuat kakak tirinya tersenyum.


“Setelah pertemuan ini, segeralah berangkat ke Kerajaan Baturaharja!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Kakang Prabu,” ucap Permaisuri Yuo Kai yang sudah mengubah panggilannya kepada Joko.


“Setelah pernikahanku dengan Putri Sri Rahayu, aku akan menyusul kalian!” tandas Joko. Lalu perintahnya, “Kalian pergilah mempersiapkan diri!”


Semua abdi yang menghadap segera menghormat dan membubarkan diri.


“Putri Sri Rahayu!” panggil Joko Tenang.


Putri Sri Rahayu yang hendak pergi pun menahan diri.


“Ada apa, Kakang?” tanya Putri Sri Rahayu.


“Apakah kau sudah mengirim kabar kepada ayahmu tentang hari pernikahan kita?” tanya Joko.


“Sudah. Seharusnya Ayahanda bisa datang tepat waktu,” jawab Putri Sri Rahayu. “Oh iya, Kakang. Aku harus mengembalikan Mutiara Ratu Panah kepada Kakang.”


“Kenapa? Bukankah aku mengambilnya teruntuk Prabu Raga Sata?” tanya Joko Tenang.


“Tidak adil jika Kakang yang bertaruh nyawa mengambil mutiara ini, tetapi justru Ayahanda yang memilikinya,” kilah Putri Sri Rahayu.


Ia lalu mengeluarkan sebuah mutiara yang berwarna ungu. Mutiara Ratu Panah itu lalu ia berikan kepada Joko Tenang .

__ADS_1


“Apakah kau yakin ayahmu akan datang?” tanya Joko Tenang setelah menerima mutiara tersebut.


“Aku yakin Ayahanda akan datang. Ayahanda memiliki kepentingan dengan Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab Putri Sri Rahayu. (RH)


__ADS_2