
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Sress! Sress!
Topeng Dua dan Topeng Tiga melepaskan jaring sinar merah untuk menangkap tubuh Kerling Sukma. Namun, Permaisuri Ketiga gerakannya terlalu cepat.
Sret! Sret!
Gagal dengan jaring sinar, Topeng Dua dan Topeng Tiga melesatkan sinar merah tanpa putus berbentuk rantai besar. Dengan lihai Kerling Sukma menghindari rantai sinar itu hanya dengan meliukkan tubuhnya yang lentur.
Setelah itu, Kerling Sukma melesat maju dengan kecepatan tinggi. Kompak keduanya melejit naik ke udara dengan serangan siap di tangan.
Sest! Sest! Tum tum!
Blar blar! Blar blar!
Dari atas udara, Topeng Dua dan Topeng Tiga melesatkan sinar biru gelap seperti mata panah yang tumpul dan besar. Dua sinar itu melesat, tetapi kemudian meledak di tengah jarak saat masing-masing dihantam oleh segaris sinar putih menyilaukan. Sinar biru hancur, tetapi sinar putih menyilaukan tetap melesat dan menghancurkan tubuh Topeng Dua dan Topeng Tiga.
Chang Chi Men juga berhadapan dengan anggota Lima Siluman Topeng, yaitu Topeng Empat.
Sress! Ses! Sret! Crak crak!
Chang Chi Men mendapat serangan jala sinar merah. Dengan sepuluh jari dan kuku tangan yang panjang menyala merah, Chi Men merobek jala sinar itu di udara hingga musnah.
Topeng Empat menyusulkan sinar merah berwujud rantai besar. Dengan dua kali tebasan kuku dari ilmu Cakaran Naga Langit, rantai sinar itu juga putus.
Blet! Buk!
Wanita berusia matang berjuluk Dewi Selendang Maut itu, melesatkan selendangnya dan berhasil melilit kaki kanan Topeng Empat yang melompat. Topeng Empat ditarik jatuh menghantam tanah.
Zerzz!
“Aaak!” jerit Topeng Empat saat merasakan tubuhnya tersengat listrik yang tidak terlihat. Seketika ia mengejang lemas. Ia terkena ilmu Selendang Petir Neraka.
Crekr!
Chi Men lalu melompat bersalto dan mendaratkan lututnya ke perut Topeng Empat. Selanjutnya, cakaran membara tangan kiri Chi Men dengan mudah ditusukkan ke leher wanita bertopeng itu.
Di saat itu, Bo Fei juga sedang bertarung sengit melawan Topeng Lima.
Set! Paks! Tseb!
Pedang Bo Fei melesat terbang ke udara. Pada saat itu, ia melesat maju kepada musuh dengan telapak tangan kanan bersinar biru. Topeng Lima juga maju dengan telapak bersinar merah.
Kedua telapak tangan itu saling adu. Meski tidak menimbulkan ledakan seperti peraduan ilmu yang lainnya, tetapi kedua wanita itu saling terdorong ke belakang dengan mulut Bo Fei menyemburkan darah.
__ADS_1
Topeng Lima sebenarnya juga mengeluarkan darah melalui mulutnya, tetapi tertutupi oleh topeng.
Namun, tiba-tiba tubuh Topeng Lima mengejang dan agak melengkung ke depan, saat pedang terbang Bo Fei yang baru saja safari berkeliling datang menusuk punggung lawan. Tusukan itu tembus sampai ke dada.
Set!
Ketika pedang itu tertarik mundur lalu melesat kembali, Topeng Lima jatuh berlutut dan kemudian tumbang dengan bersimbah darah.
Dengan demikian, riwayat Lima Siluman Topeng tamat.
Bo Fei juga jatuh terlutut karena lukanya yang cukup parah.
Di sisi lain, dalam menghadapi Reksa Dipa, Siluman Seratus Rupa sudah mengenakan topeng warnah merahnya. Wajah tampannya jadi tertutupi dengan wajah topeng bermata melotot dengan kumis tebal yang juga berwarna merah.
Blar blar blar…!
Lima bayangan wujud Reksa Dipa yang berlesatan naik ke udara melemparkan sepuluh sinar merah. Dengan gerakan yang begitu gesit ke sana ke mari, Siluman Seratus Rupa mampu menghindari semua serangan yang menghancurkan tanah pertarungan.
Sess! Sess! Bluar!
Justru Siluman Seratus Rupa dengan cepat melesatkan sinar merah berwujud piringan dalam jarak yang dekat. Reksa Dipa sulit menghindar dan hanya mencoba bertahan dengan hentakan kedua tangannya menyambut.
Dari kedua telapak tangan Reksa Dipa muncul sinar hijau yang menahan piringan sinar itu. Ledakan tenaga terjadi keras yang mementalkan Reksa Dipa jauh ke belakang dan menghantam bongkahan batu.
“Hoekh!” Reksa Dipa muntah darah.
Namun, Reksa Dipa cepat bangun dan duduk bersimpuh. Ia cepat melakukan gerakan-gerakan tangan bertenaga dalam.
Zwess! Blar!
Reksa Dipa mengencangkan genggaman kedua tangannya di depan dada. Seketika muncul lapisan sinar merah sebagai perisai. Ternyata dinding perisai itu kuat, karena serangan Siluman Seratus Rupa meledak musnah tanpa menggeser sedikit pun posisi duduk Reksa Dipa.
“Hah!” sentak Reksa Dipa dengan sepasang tangan menghentak dan mulut terbuka lebar.
Zerzzz…! Wuss!
Dari sepasang telapak tangan dan dalam mulut Reksa Dipa, melesat banyak aliran sinar merah halus seperti ratusan serat listrik tanpa putus.
Siluman Seratus Rupa yang baru mendarat cepat mengirimkan segelombang angin pukulan untuk menghambat serangan itu. Namun, lesatan ujung-ujung sinar merah halus itu tidak hilang dan berhasil menerobos angin bertenaga dalam tersebut. Justru tubuh Siluman Seratus Rupa tertarik terisap oleh serat-serat sinar, kemudian terjerat.
“Aakk!” jerit Siluman Seratus Rupa saat ratusan ujung serat sinar itu menembus seluruh tubuhnya.
Ilmu Reksa Dipa yang bernama Ajian Serat Darah itu tidak hanya menembus kulit-kulit Siluman Seratus Rupa, tetapi juga menjeboli topeng dan wajah di baliknya. Ujung-ujung serat sinar itu bahkan tembus ke tubuh belakang.
Ratusan serat sinar merah itu mengangkat tubuh Siluman Seratus Rupa di udara dan bertahan, melakukan proses penyedotan kesaktian. Ilmu yang jarang Reksa Dipa gunakan itu bisa menyedot kesaktian korban satu atau dua ilmu.
Maka berakhirlah hidup Siluman Seratus Rupa.
__ADS_1
Dalam pertarungan lain, Surya Kasyara berduet maut dengan Sugigi Asmara.
Bung!
Si Tinju Api yang kedua tinjunya diselimuti kobaran api seperti pemain debus, menghantamkan tinjunya kepada Surya Kasyara. Dengan hindaran gaya mabuknya, dia memasang bumbung sakti untuk ditinju.
“Fruuut!” semprot Surya yang mengenai wajah Si Tinju Api.
“Aaak!” jerit Si Tinju Api karena menahan perih pada kulit wajahnya.
Tsuk!
“Aaak!” jerit Si Tinju Api lagi saat Sugigi Asmara membokongnya dengan tusukan keris di pinggang.
Si Tinju Api refleks mengibaskan tinjunya ke belakang.
Wuss!
Tinju api lelaki besar itu lewat tipis dari bibir seksi Sugigi Asmara. Jika telat sedikit saja wanita itu mundur, alamat buruk nasib gigi-gigi tersebut.
Dengan terluka pada wajah dan pinggang belakang, Si Tinju Api memilih melompat mundur. Selanjutnya ia pasang kuda-kuda dengan mata yang mengintip.
Ses ses ses…!
Si Tinju Api menghentakkan sepasang tangan kekarnya bergantian. Dari tinju itu berlesatan bola-bola api satu per satu.
Surya Kasyara dan Sugigi Asmara jadi sibuk mengelaki bola-bola api. Keduanya melompat ke sana, melompat ke sini, seperti orang yang sedang bermain.
Bdluk!
Bodohnya. Tanpa kata sepakat, keduanya justru saling bertabrakan di udara ketika sedang menghindari serangan bola api.
Blup!
“Aaa! Kakang Surya! Aku terbakar!” teriak Sugigi Asmara panik karena terkena satu bola api. Meski tidak membuatnya hancur atau terpental, tetapi bagian depan bajunya terbakar.
Surya Kasyara cepat berusaha memadamkan api pada pakaian Sugigi Asmara dengan tepukan-tepukan kedua tangannya, sambil berusaha menghindari bola api yang lain.
Api berhasil dipadamkan. Namun, alangkah malu dan marahnya Surya Kasyara melihat kondisi akhir Sugigi Asmara. Buru-buru dia membuka bajunya dan memberikannya kepada Sugigi Asmara untuk menutupi aurat atasnya.
“Aku bunuh kau, Kerbau Sawah!” teriak Surya Kasyara begitu marah.
Buk!
Namun, sebelum serangan Surya Kasyara sampai kepada Si Tinju Api, tiba-tiba lelaki besar itu tersungkur keras, karena ada terjangan dari belakang.
“Senopati Batik Mida!” sebut Surya Kasyara terkejut tapi senang.
__ADS_1
“Uruslah calon istrimu, Surya! Ini bagianku!” kata Senopati Batik Mida yang datang ke tempat itu membawa tiga ratus orang prajurit. Bersama pasukannya juga ada sepuluh pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana Kecil.
“Baik, Senopati!” ucap Surya Kasyara senang. (RH)