8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 2: Ratu Dua Matahari


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Kubah sinar merah kini mengurung posisi Putri Aninda Serunai. Jin Gurba berdiri menunggu hasil dari ilmu Kurungan Petir-nya.


Zerz! Zerz! Zerz…!


Di dalam kurungan kubah itu, tubuh Aninda Serunai mendapat setruman kilatan-kilatan sinar merah yang melesat dari dinding kubah sinar. Puluhan sengatan selevel kekuatan petir alam menyengat tubuh sang putri terus-menerus. Namun, tidak ada tanda-tanda bahwa setruman itu melukai atau melemahkan Aninda Serunai.


Zerzz!


Giliran aliran sinar merah dari Tongkat Jengkal Dewa yang unjuk kekuatan. Cukup satu aliran sinar tanpa putus menyerang dinding kubah besar tersebut, lalu menjalarinya.


Bluarr! Dak!


Pada akhirnya, kubah sinar merah itu pecah seperti kaca dan raib di udara. Hancurnya kubah Kurungan Petir tersebut membuat tubuh Jin Gurba terhentak, menghantam sandaran batu tahta hingga retak.


Terlihat wajah Jin Gurba yang putih aneh itu memerah, seolah menunjukkan kemarahannya.


“Kau menang! Kau boleh menduduki tahta ini!” seru Jin Gurba mengaku kalah.


Zleff!


Tiba-tiba fisik Jin Gurba menghilang seperti dimakan oleh angin.


Aninda Serunai lalu melesat melayang menuju kursi tahta dengan tangan kanan tetap memegang Tongkat Jengkal Dewa. Ia mendarat lembut lalu duduk di tahta.


“Semua prajurit!” teriak Aninda Serunai memanggil.


Maka, dalam waktu singkat, semua prajurit yang masih ada di dalam ruangan dan semua yang mendengar panggilan itu, berdatangan beramai-ramai. Tidak berapa lama, mereka semua berbaris seperti orang yang siap mengikuti upacara.

__ADS_1


Aninda Serunai kembali berdiri dengan wajah yang dingin.


“Jin Gurba telah aku kalahkan. Tahta kini ada di bawah kakiku sebagai penerus Prabu Raga Sata. Sekarang aku adalah Ratu Aninda Serunai, Ratu Dua Matahari, Ratu Kerajaan Siluman!” teriak Aninda Serunai. “Siapa yang menentang keratuanku? Maju!”


Mengetahui bahwa dengan mudahnya Aninda Serunai mengalahkan Jin Gurba yang sakti mandraguna, jelas tidak ada yang berani maju. Mereka sangat yakin, jika maju, maka matilah mereka.


“Prajurit mengabdi setia kepada Ratu Dua Matahari!” teriak seorang pemimpin prajurit sambil turun berlutut dengan dua dengkul.


“Prajurit mengabdi setia kepada Ratu Dua Matahari!” teriak serentak ratusan prajurit yang hadir saat itu. Mereka semua kompak turun berlutut.


“Bagus! Keputusan tepat!” puji Aninda Serunai. Lalu perintahnya, “Sebarkan berita ini. Panggil semua pejabat dan pemimpin prajurit Kerajaan Siluman. Bersihkan semua bangkai manusia ini!”


“Baik, Gusti Ratu!” jawab mereka semua serentak.


Ratu Aninda Serunai lalu melangkah pergi meninggalkan tahta. Ia pergi menuju ke kamar miliknya. Sebagai putri di istana itu, jelas ia memiliki kamar, sama halnya dengan Putri Sri Rahayu yang kini menjadi permaisuri di Kerajaan Sanggana Kecil.


Tidak berapa lama, ruangan balairung utama telah bersih, berganti dengan kehadiran para pejabat dan petinggi prajurit. Antara pejabat, petinggi militer dan pemimpin Pasukan Siluman bisa dibedakan dari jenis pakaiannya.


“Gusti Ratu Dua Matahari tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu dalam.


Dari pintu yang ada di sudut belakang, masuk melangkah sosok Ratu Aninda Serunai dengan tampilan barunya yang begitu megah, jelita dan aura kewibawaannya begitu tinggi. Ia terlihat begitu segar dengan usianya yang masih tergolong sangat muda untuk menjadi seorang ratu.


Di balakangnya mengawal sepuluh dayang dan dua pengawal wanita cantik berwajah kembar. Keduanya mengenakan pakaian sama warna putih. Gaya rambut panjangnya juga sama, diikat dengan sejumlah pita. Warna pita yang berbeda menjadi pembeda di antara mereka. Gadis berpita merah bernama Kenang Hati dan yang berpita putih bernama Kenang Indah. Keduanya dinamai Siluman Satu Rupa.


Sebelumnya, Siluman Satu Rupa adalah pengawal pribadi Putri Sri Rahayu di dalam Istana. Kini mereka ditarik untuk menjadi pengawal Ratu Aninda Serunai.


“Sembah hormat!” teriak seorang prajurit yang menjadi komando protokol Istana.


“Sembah hormat kami kepada Gusti Ratu Dua Matahari!” seru semua pejabat dan punggawa prajurit sambil turun berlutut dengan kedua kakinya. Suara mereka menggema memenuhi seluruh ruang balairung hingga ke ruangan lainnya.


Ratu Aninda Serunai berjalan penuh karisma menuju ke singgasananya. Ia naik ke kursi tahta, menghadap kepada para abdinya. Kenang Hati dan Kenang Indah berdiri di sisi kanan dan kiri tahta, tapi agak mundur ke belakang.

__ADS_1


“Bangkitlah, kalian semua!” perintah Ratu Aninda Serunai, lalu duduk di kursi tahta.


Para hadirin segera bangkit dari hormat berlututnya.


“Perlu kalian ketahui semua. Aku sekarang memiliki pusaka Tongkat Jengkal Dewa yang membuatku sakti tidak terkalahkan oleh ilmu apa pun. Siapa pun yang berniat memberontak, maka mati hukumannya. Mengerti!” seru sang ratu galak.


“Mengerti, Gusti Ratu!” jawab mereka serentak.


“Mantri Tata Kerajaan!” sebut Ratu Aninda Serunai.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut seorang lelaki separuh abad yang mengenakan jubah jabatannya yang berwarna merah gelap. Jenis ring logam yang melingkar di kepalanya menunjukkan bahwa ia adalah pejabat kemantrian. Ia bernama Dulai Gambir.


“Laporkan jenis-jenis pasukan yang semua kita miliki!” perintah Ratu Aninda Serunai.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Dulai Gambir. Ia lalu melaporkan tanpa melihat data lagi karena semua sudah terhapal di dalam kepalanya, “Ada Pasukan Pengawal Prabu yang dipimpin oleh Siluman Pedang, tetapi dia sudah tewas dalam tugasnya dan belum ditunjuk penggantinya. Ada Pasukan Penjaga Istana yang dipimpin oleh Panglima Siluman Api-Api. Ada Pasukan Pertahanan Benteng yang dipimpin oleh Panglima Siluman Pagar Maut. Ada pasukan khusus Pasukan Murka Kegelapan yang dipimpin oleh Panglima Siluman Potong Dua. Ada empat panglima lain yang memimpin pasukan luar. Ada Pasukan Siluman Generasi Pertama yang mengabdi kepada Putri Sri Rahayu, Pasukan Siluman Tingkat Dua yang mengabdi kepada Gusti Ratu, dan Pasukan Siluman Generasi Puncak yang mengabdi kepada mendiang Prabu Raga Sata. Dan yang terakhir ada Pasukan Teliksandi Siluman Tanpa Nama.”


“Mahapati dan Senopati telah mati di tanganku,” kata Ratu Aninda Serunai datar.


Segera ramailah kasak-kusuk bagi mereka yang belum tahu tentang kematian kedua pejabat tinggi itu.


“Aku menunjuk Datuk Bibir Kuning sebagai mahapati yang baru. Siluman Pagar Maut menggantikan Senopati Siluman Jarum yang membawahi semua panglima dalam dan luar!” titah Ratu Aninda Serunai.


“Terima kasih atas kepercayaan besar yang diberikan Gusti Ratu kepada hamba!” ucap seorang lelaki tua berjubah merah gelap seraya menghormat. Lelaki tua berambut putih gondrong itu memelihara kumis dan jenggot pendek yang sama-sama putih. Uniknya, kedua bibir tuanya berwarna kuning mencolok, seolah usai makan kunyit. Ia yang bernama Datuk Bibir Kuning. Sebelumnya dia menjabat Mantri Dalam Istana.


“Terima kasih atas kepercayaan besar yang diberikan Gusti Ratu kepada hamba!” ucap Panglima Siluman Pagar Maut sambil menghormat pula.


“Mahapati dan Senopati nanti harus mengajukan beberapa nama calon Mantri Dalam Istana dan pengganti Panglima Pasukan Pertahanan Benteng!” perintah Ratu Aninda Serunai.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap keduanya.


“Hari ini juga, aku ingin semua nama dari Pasukan Siluman Generasi Pertama, Tingkat Dua dan Generasi Puncak diberikan kepadaku, termasuk nama prajurit-prajurit yang disusupkan di berbagai tempat!” perintah sang ratu. “Kirim utusan untuk memanggil guruku Siluman Ratu Siluman dan Lima Siluman Putih!” (RH)

__ADS_1


__ADS_2