
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Pak! Wuss!
Bidadari Wajah Kuning memukulkan kedua telapak tangannya di lantai dengan tenaga dalam tinggi. Tiba-tiba muncul pusaran angin, samar-samar berwarna kuning, dengan pangkal berdiameter kecil yang menyentuh lantai dan ujung atas berdiameter beberapa tombak menyentuh langit-langit koridor besar itu.
Pusaran angin itu meciptakan angin kencang bagi sekitar.
Mahapatih Datuk Bibir Kuning tidak memiliki cara untuk mengatasi pusaran angin yang menyedot itu, selain berusaha melarikan diri.
Namun, baru saja Datuk Bibir Kuning hendak pergi, tiba-tiba Bidadari Wajah Kuning sudah muncul menghadangnya. Gerakan si nenek genit terlalu cepat.
Datuk Bibir Kuning langsung menghentakkan kedua tangannya dengan telapak menempel.
Bless! Sest! Bluar!
Sama-sama sinar kuning melesat dalam jarak pendek dan ledakan tenaga sakti terjadi. Datuk Bibir Kuning yang kalah tingkat kesaktian dan tenaga, jadi terpental mundur dan masuk ke dalam pusaran angin yang meliuk-liuk.
Akibatnya, tubuh tua Datuk Bibir Kuning langsung dibawa berputar dalam pusaran angin. Dengan demikian Bidadari Wajah Kuning bisa rehat sejenak.
Si nenek cantik sejenak melemparkan pandangannya kepada pertarungan antara Pangeran Lidah Putih dengan Raja Tanpa Istana. Kedua pendekar tua sakti itu bertarung dengan sengit.
Bidadari Wajah Kuning kembali beralih kepada pusaran anginnya. Bisa terlihat obyek manusia yang sedang diputar berulang-ulang di dalam pusaran angin.
Pak!
Bidadari Wajah Kuning kembali memukul lantai.
Wuut! Bdak!
Tiba-tiba tubuh Datuk Bibir Kuning terlempar keluar dari pusaran angin kuning, kemudian menghantam dinding Istana dengan begitu keras. Si kakek jatuh berdebam ke lantai dalam kondisi tidak begitu baik, tapi belum mati. Dari celah bibirnya dan lubang hidungnya mengalir darah segar.
__ADS_1
Suasana tiba-tiba berubah hening karena pusaran angin kuning telah lenyap.
Bluarr!
Namu, tiba-tiba suasana kembali dibisingkan oleh peraduan dua ilmu dari Petra Kelana dan Raja Tanpa Istana. Kedua orang tua sakti berbeda fisik itu saling terlempar hebat.
Sementara itu, Datuk Bibir Kuning telah bergerak bangkit dengan jari-jari tangan bersinar kuning. Sebentar ia memasang kuda-kuda yang menghadap kepada Bidadari Wajah Kuning. Ia lalu melakukan gerakan tangan bertenaga dalam tinggi.
Wut! Ces!
“Wakk!”
Ketika Datuk Bibir Kuning menghentakkan tangan kirinya ke samping kanan dengan jari-jari mencengkeram, tiba-tiba dari sisi kanan kepala Bidadari Wajah Kuning, muncul bayangan sinar kuning berwujud telapak tangan mencengkeram. Hal itu mengejutkan Bidadari Wajah Kuning bukan main. Refleks nenek cantik itu memasang punggung tangan kanannya melindungi sisi wajahnya.
Akibatnya, sinar kuning berwujud jari-jari itu menusuk punggung tangan kanan si nenek. Ia pun menjerit, karena kulit tangannya jadi terbakar tanpa api, seperti disundut bara panas.
Wut!
Kemudian, Datuk Bibir Kuning kembali menghentakkan tangan kanannya ke kiri dengan gaya serupa. Tiba-tiba dari sisi kiri kepala Biadari Wajah Kuning muncul bayangan sinar kuning berwujud cengkeraman. Namun, kali ini Bidadari Wajah Kuning gesit menghindarkan kepalanya karena sudah mengantisipasi.
“Kau memaksaku menari, maka aku akan mengajakmu menari lelaki tua!” teriak Bidadari Wajah Kuning.
Pada satu kesempatan, Bidadari Wajah Kuning melesat maju menghampiri Datuk Bibir Kuning.
Bak! Seet!
Setibanya di depan Datuk Bibir Kuning, si nenek cantik menghentakkan kaki kanannya ke lantai. Tiba-tiba dari sekeliling mereka berdua melesat naik dinding sinar kuning dari lantai berbentuk lingkaran. Tingginya sampai ke langit-langit yang tinggi.
Hal itu mengejutkan Datuk Bibir Kuning. Jika jarak lawan dalam sejaungkauan seperti itu, ilmu Cakaran Elang Gaib-nya sulit berfungsi, tetapi masih bisa dipakai menyerang langsung. Dan ternyata, cara seperti itu kurang nendang dibandingkan jarak jauh seperti tadi.
Di dalam kurungan sinar itu, Bidadari Wajah Kuning langsung menari seperti seorang penari sungguhan. Ia menari gemulai dengan gerakan tangan dan jari yang indah, ditambah gerakan pinggul yang menghentak-hentak mendebarkan jantung tua si kakek. Meski sambil menari, si nenek cantik bisa menghindari semua serangan Datuk Bibir Kuning.
Namun, upaya Datuk Bibir Kuning tidak butuh waktu lama, karena tiba-tiba ia berubah lemas dan sulit bernapas. Ilmu Bidadari Menari telah menyebarkan racun gaibnya. Gerakan Datuk Bibir Kuning berubah pelan dan lemah, sementara kedua matanya mulai mendelik dan mulutnya menganga lebar, seolah sedang berusaha menarik udara sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Di saat Datuk Bibir Kuning sedang membutuhkan napas buatan, Bidadari Wajah Kuning justru terus menari. Maka terdiamlah sang mahapatih, bukan karena dia pasrah, tetapi karena memang sudah mati perlahan. Meski si kakek sudah mati, si nenek cantik tetap saja menari jaipong tanpa musik, dengan pinggul besar yang menghentak-hentak, seolah masih hendak menggoda mayat Datuk Bibir Kuning.
Setelah kelar satu lagu, barulah Bidadari Wajah Kuning berhenti menari. Saking asiknya menari, sampai-sampai ia baru sadar bahwa Datuk Bibir Kuning sudah innalillahi.
Ia lalu melenyapkan kembali ilmu kurungannya. Namun setelah itu, ia mengerenyit karena merasakan sakit yang perih pada luka di tangan kanannya.
“Kurang ajar, tanganku bisa jadi tidak cantik lagi,” rutuk Bidadari Wajah Kuning. Namun, kemudian ia tersenyum genit, “Ah, Gusti Prabu pasti mau mengobatiku. Ini kan hanya di tangan.”
Bidadari Wajah Kuning memutuskan untuk menyaksikan lebih dulu pertarungan langka dua pendekar tua tingkat tinggi.
Petra Kelana dan Raja Tanpa Istana sudah sama-sama naik ke udara sambil bakupukul dan bakutendang. Saking level tingginya, pukulan itu tidak beradu kulit, tetapi beradu lapisan tenaga sakti. Jika dilihat, mereka bertarung seperti main-main, karena tinju atau tendangan tertahan sejauh satu jengkal dari kulit. Meski demikian, hentakan dan hantamannya begitu terasa kuat.
Mereka terus saling serang dan tangkis hingga kepala keduanya menyentuh langit-langit Istana. Itu tidak menghentikan mereka, karena keduanya kembali bergerak turun sambil tetap berkelahi.
Blar! Blar!
Tepat ketika kaki keduanya menyentuh lantai, keduanya langsung saling lepaskan sinar kesaktian. Kedua sinar ilmu tidak saling bertabrakan, tapi saling mengenai masing-masing. Hebatnya, meski keduanya saling terlempar terjengkang, mereka tidak menderita luka apa pun.
“Apakah akan seperti ini terus pertarungannya, Lidah Putih?” tanya Raja Tanpa Istana ketika ia sudah kembali berdiri tegak.
“Hahaha!” tawa Petra Kelana santai.
“Petra Kelana! Apakah kau butuh bantuanku?” teriak Bidadari Wajah Kuning dari jauh.
Agak terkejut Petra Kelana mendengar suara Bidadari Wajah Kuning. Ia menengok sebentar. Dilihatnya ada satu mayat yang tidak jauh dari tempat si nenek berdiri.
“Tidak perlu. Aku takut kau justru menagih minta dikawini karena aku utang budi kepadamu!” sahut Petra Kelana.
“Hei, lelaki tidak tahu diri! Siapa yang sudi menikah denganmu, hah?!” sahut Bidadari Wajah Kuning kesal.
“Hahaha!” Petra Kelana justru tertawa. Ia lalu kembali fokuskan perhatiannya kepada Raja Tanpa Istana.
“Ayo, keluarkan kesaktian hebatmu, Lidah Putih!” tantang Raja Tanpa Istana.
__ADS_1
“Hahaha! Baiklah, Kawan. Ayo kita mulai pertarungan hidup matinya!” kata Petra Kelana. (RH)