
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Putri Aninda Serunai akhirnya kembali menginjakkan kakinya di Istana Siluman. Setibanya di Istana, dia langsung pergi menemui Jin Gurba.
“Hahahak…!”
Suara tawa Jin Gurba terdengar membahana di seluruh tembok Istana, memberi kesan keangkeran. Jika belum melihatnya, yang terbayang pastilah sosok lelaki tinggi besar seperti raksasa kecil, mata lebar mendelik dan bertanduk. Dia pasti tidak berbaju dan hanya bercawat dengan warna kulit merah, atau hijau seperti kolor hijau, atau biru seperti jin milik Aladin, atau kuning seperti yang mengambang di kali.
Namun, ketika Putri Aninda Serunai bertemu dengannya, ternyata sosok Jin Gurba adalah seorang lelaki tinggi kurus berkulit putih seputih kapas. Kepalanya botak pinggir kanan, kiri, dan belakang, tetapi bagian atas ditumbuhi rambut warna merah yang panjang hingga bokong. Rambut panjang itu diikat oleh banyak ring-ring kecil dari logam sehingga mirip kepangan. Kepalanya memang bertanduk, tapi hanya dua tanduk kecil seperti taji ayam jago pada bagian dahi.
“Putri Aninda Serunai, putri haram Raga Sata!” sebut Jin Gurba dengan suara yang seperti memakai speaker tersembunyi.
“Jangan menyebutku anak haram, Jin Gurba!” seru Aninda Serunai lantang dengan menyebut langsung nama Jin Gurba.
“Lancang kau, Putri Aninda Serunai!” hardik Siluman Tangan Merah, lelaki tinggi besar yang memiliki kulit tangan semerah kepiting rebus. Ia diangkat sebagai Mahapati Kerajaan Siluman sejak Jin Gurba mengambil alih tahta.
“Setelah aku mengambil tahta, jangan lari kau Siluman Tangan Merah!” ancam Aninda Serunai. Lalu katanya kepada Jin Gurba yang duduk di singgasana, “Raja yang mati seharusnya diteruskan oleh anak-anaknya, bukan oleh nenek moyangnya. Kau menyalahi aturan, Jin Gurba!”
“Hahahak! Tidak aku sangka anak haram Raga Sata seorang pemberani yang buta mata!” kata Jin Gurba dengan tawa yang meremehkan. “Aku tawarkan kepadamu sekali saja. Mengabdi atau mati?”
“Kau tahu apa yang aku miliki sekarang, Jin Gurba?” tanya Aninda Serunai sambil mencabut Tongkat Jengkal Dewa yang ada pinggang belakangnya.
“Hemm!” gumam Jin Gurba dengan mata yang kian melotot memperhatikan benda yang ada pada tangan si gadis cantik berbibir merah itu.
“Ini adalah Tongkat Jengkal Dewa, senjata tanpa tanding,” kata Aninda Serunai.
“Apa?!” kejut Jin Gurba yang terdengar jelas.
Keterkejutan juga ditunjukkan oleh reaksi wajah Mahapati Siluman Tangan Merah dan Senopati Siluman Jarum yang ada di tempat itu. Mereka sama-sama tahu tentang pusaka Tongkat Jengkal Dewa, yang melegenda milik Ratu Bibir Darah.
“Jika aku berikan kepadamu, aku yakin kau pun akan enggan menyentuhnya, Jin Gurba. Jadi aku yang memberi pilihan, serahkan tahta itu baik-baik atau kau mati sebagai jin!” ujar Aninda Serunai.
__ADS_1
“Hemmrr!” Jin Gurba tidak langsung menjawab. Ia hanya duduk menggeram seperti binatang buas.
“Karena akulah yang berhak meneruskan kepemimpinan ayahandaku di saat Sri Rahayu sudah bergabung dengan musuh!” teriak Aninda Serunai.
“Hanya kematian yang pantas untukmu, Anak Haram!” teriak Jin Gurba murka sambil menghantamkan telapak tangan kanannya pada tangan singgasana yang terbuat dari batu merah.
Broks! Zess!
Seiring hancurnya batu tangan kursi tahta, seberkas sinar merah pekat berpijar melesat mengerikan kepada Aninda Serunai, sampai-sampai gadis itu tidak sempat menghindar, tapi memang dia tidak berniat menghindar.
Bluar!
Ledakan sinar merah itu terjadi di tubuh depan Aninda Serunai. Namun, gadis itu hanya tetap berdiri di tempatnya dengan penampilan yang tetap sempurna. Bahkan pakaiannya pun tetap utuh. Sepasang mata indahnya tajam menatap kepada Jin Gurba.
Terkesiap Jin Gurba dan para punggawanya melihat kenyataan yang terjadi di depan mata mereka. Sepasang mata Jin Gurba seolah hendak melompat keluar dari rongganya. Ia jadi sadar bahwa ia telah berhadapan dengan manusia super, lebih hebat dari Wonder Woman.
“Prajurit! Bunuh Anak Haram itu!” teriak Jin Gurba. Ia bermaksud melihat seperti apa kehebatan Aninda Serunai.
Breg breg breg!
“Seraaang!” teriak para prajurit berseragam hijau gelap itu ramai-ramai.
Aninda Serunai tetap menatap kepada Jin Gurba tanpa memberi gerakan gaya apa pun. Ia membiarkan puluhan prajurit itu datang kepadanya dari segala penjuru, dengan pedang-pedang yang seolah haus darah.
Blast!
“Akk! Akr! Akk…!”
Puluhan prajurit itu berjeritan setelah tubuh mereka dihantam ledakan tenaga dahsyat tanpa wujud, yang meledak dari tubuh Aninda Serunai. Mereka semua terpental jauh dengan muntahan darah dari mulutnya masing-masing. Semuanya jatuh berdebam di lantai Istana hingga ada yang jatuh bertumpuk.
Semuanya tergeletak menggeliat dan mengerang kesakitan. Sejumlah prajurit yang kurang kuat daya tahan tubuhnya langsung permisi dari kehidupan, mungkin merek tipe prajurit perokok dan malas olahraga.
“Mahapati! Senopati!” teriak Jin Gurba lagi.
__ADS_1
Mahapati Siluman Tangan Merah dan Senopati Siluman Jarum yang berwajah rusak, kompak melompat berkelebat di udara.
Zuss! Sets!
Sambil melompat dari jarak jauh itu, keduanya melesatkan serangan. Mahapati Tangan Merah melepaskan bola sinar merah besar sebesar kerbau hamil yang sangat panas. Senopati Siluman Jarum melesatkan puluhan jarum sinar ungu.
Bluarr!
Zerzzz!
“Aakk…! Akhr…!”
Aninda Serunai membiarkan dua ilmu itu mengenai tubuhnya. Puluhan jarum sinar tidak ada gunanya. Sementara sinar merah besar meledak dahsyat tanpa pertimbangan, sebab lantai istana hancur dan para prajurit yang bergelimpangan pada jarak dekat jadi terbakar api.
Pada saat kehancuran itu, tubuh Mahapati dan Senopati kini tertahan di udara dalam sengatan aliran sinar merah tanpa putus dari Tongkat Jengkal Dewa. Kedua prajurit sakti itu menjerit panjang.
Bruss!
Melihat kedua orang kepercayaannya di ujung maut, Jin Gurba cepat melesatkan salah satu kesaktian hebatnya.
Sinar merah berwujud garis lengkungan cembung yang lebar, melesat hanya sekejap dan menebas tubuh Aninda Serunai.
Lagi-lagi Aninda Serunai tidak apa-apa, sementara Mahapati dan Senopati telah mengembuskan napas terakhir di udara. Dengan terhentinya aliran sinar merah Tongkat Jengkal Dewa, maka kedua tubuh punggawa itu jatuh ke lantai dalam status mayat. Tubuh keduanya hangus tanpa api.
“Hihihi…! Kau sudah lihat sendiri, Jin Gurba. Kesaktian apa pun tidak akan mempan terhadapku. Meski kau perintahkan seluruh prajurit Kerajaan Siluman untuk membunuhku, percuma!” seru Aninda Serunai yang didahului dengan tawa kemenangannya.
“Baik, jika yang satu ini tidak bisa membuatmu bertekuk lutut, maka akan aku tinggalkan tahta ini untukmu!” seru Jin Gurba bertaruh.
“Oh, rupanya kau memilih jalan damai dengan bertaruh? Baiiik, baiiik!” kata Aninda Serunai.
Jin Gurba lalu berdiri dengan sepasang mata melotot mengerikan.
Zletss! Bluss!
__ADS_1
Tiba-tiba di atas langit-langit ruangan yang tinggi, muncul hamparan sinar merah yang luas seperti bentangan kain persegi empat yang lebar. Selanjutnya, seperti secepat lemparan besi dari langit ke bumi, hamparan sinar itu jatuh ke bawah membentuk perangkap seperti kuba sinar yang mengurung Aninda Serunai. (RH)