8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 13: Korban Selamat


__ADS_3

*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


“Bidadari Wajah Kuning!” teriak Setan Ngompol tiba-tiba, sambil menunjuk ke arah jauh.


Teriakan itu menghentikan keributan kecil antara Murai Manikam dan Limarsih.


Petra Kelana dan Nenek Rambut Merah ikut melihat ke arah tunjukan Setan Ngompol yang berjalan agak terpisah.


Mereka berlima melihat seorang wanita muda berwajah cantik tapi warna kuning pisang, sedang berlari terhuyung. Wanita berpakaian putih dan berambut putih itu terus berlari menuju ke arah Petra Kelana dan rekan-rekan.


“Bidadari!” sebut Petra Kelana terkejut.


Clap!


Petra Kelana tiba-tiba menghilang dan muncul begitu saja di hadapan wanita yang memang Bidadari Wajah Kuning adanya.


Wanita tua berfisik muda itu berlari terhuyung, lalu jatuh ke depan. Namun, sebelum ia mencium bumi, Petra Kelana lebih cepat menangkap peluk tubuhnya.


“Tubuhku beracun, Petra!” kata Bidadari Wajah Kuning cepat memberi tahu, sambil ia menahan sakit karena ia sedang menahan pengaruh racun yang menyirami tubuhnya.


“Aku kebal racun!” kata Petra Kelana.


Tuk tuk tuk!


Petra Kelana cepat menotok beberapa titik pada tubuh Bidadari Wajah Kuning.


Jess!


Tanpa rasa sungkan atau permisi lebih dulu, Petra Kelana menusukkan satu jari telunjuknya yang bersinar putih ke dada sekal nenek muda itu. Bidadari Wajah Kuning pun tidak marah atau protes, ia tahu apa maksud tindakan Petra Kelana itu, yaitu untuk mencegah racun lebih dulu menyerang jantung.


Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol dan dua gadis cantik, segera datang mendekati posisi keduanya.


Setelah sinar pada jari telunjuknya padam, Petra Kelana lalu menarik jarinya dan membaringkan tubuh Bidadari Wajah Kuning ke tanah.


“Untuk sementara nyawamu aman, tetapi aku tidak bisa menyingkirkan racun ganas ini,” kata Petra Kelana. Ia lalu memandang Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol. “Apakah kalian bisa?”


“Aku hanya bisa mengompol, tidak bisa menyedot racun. Hahaha!” jawab Setan Ngompol.


“Tapi kau mahir menyedor air susu!” celetuk Nenek Rambut Merah.


“Hahahak…!” gelak Setan Ngompol kian keras dan panjang. Namun, tiba-tiba dia berhenti tertawa dan mengaduh, “Aduh! Adu adu adu, aku mau ngompol!”


Setan Ngompol buru-buru berlari menjauh dari mereka. Pada satu tempat, dia berhenti dan bocorlah keran dagingnya.

__ADS_1


“Hah! Hihihi…!” kejut Murai Manikam dan Limarsih, lalu keduanya tertawa menertawakan Setan Ngompol.


Nenek Rambut Merah dan dua orang tua lainnya tidak begitu mengindahkan Setan Ngompol yang beser.


Sementara itu, di tempat yang cukup jauh, tiga nenek putih yang mengejar Bidadari Wajah Kuning memilih bersembunyi dan mengintip dari kejauhan.


“Apakah kita habisi saja mereka semua, Reka Wani?” tanya Surti.


“Benar, tokoh tuanya hanya Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol,” kata Sunik Rangkai pula setengah berbisik.


“Tidak bisa, ada rombongan pasukan kerajaan yang datang!” sangkal Reka Wani selaku pemimpin operasi mereka.


Sunik Rangkai dan Surti melemparkan pandangannya ke lain arah, searah dengan penglihatan Reka Wani.


Dari jalan di balik tanah tinggi, muncul serombongan prajurit berseragam hitam-hitam. Salah satunya membawa bendera biru gelap bergambar sayap burung emas tanpa kepala dan badan.


“Kita mundur dulu, setelah itu kita pantau dulu siapa yang bisa kita sergap. Pokoknya besok siang kita harus sudah bergabung dengan Tebaklupa dan Serak Buto di Jalur Bukit!” kata Reka Wani.


Ketiga nenek serba putih itu lalu mundur secara senyap meninggalkan tempat pengintaiannya.


“Kau bertemu dengan tiga nenek itu?” tanya Petra Kelana.


“Iya. Kalian tahu?” heran Bidadari Wajah Kuning yang dalam kondisi menahan sakit.


“Mereka tadi mengejarku di belakang. Mereka licik!” desis Bidadari Wajah Kuning.


Clap!


Petra Kelana langsung menghilang dan muncul di area sekitar tempat ketiga nenek putih tadi mengintai. Namun, daerah itu sudah kosong dari manusia lain.


“Eh, ada pasukan Kerajaan Sanggana Kecil datang!” kata Murai Manikam yang langsung mengenali bendera pasukan yang dilihatnya muncul di salah satu ujung jalan.


Perhatian Nenek Rambut Merah dan Limarsih segera dialihkan ke arah rombongan pasukan yang baru muncul.


Petra Kelana sudah kembali di antara rekan-rekannya.


“Aku tidak melihat keberadaan tiga nenek yang mengejarmu, Bidadari,” kata Petra Kelana kepada Bidadari Wajah Kuning, tetapi pandangannya ke arah rombongan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil. Lalu tanyanya, “Pasukan kerajaan mana itu?”


“Sanggana Kecil,” jawab Murai Manikam.


“Waktu yang tepat,” kata Petra Kelana. “Mungkin Rakitanjamu ada dalam rombongan.”


Petra Kelana lalu berjalan ke tengah jalan yang akan dilalui oleh pasukan Kerajaan Sanggana Kecil.


Ketua prajurit pasukan pejalan kaki memberi tanda berhenti ketika mereka tiba di dekat posisi Petra Kelana. Rombongan itupun berhenti, termasuk dua kereta kuda.

__ADS_1


“Ada pendekar yang menghadang, Gusti Prabu!” lapor Hantam Buta kepada Joko Tenang yang duduk di dalam bilik kereta kuda.


“Coba pastikan siapa mereka dan apa maunya!” perintah Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap Hantam Buta lalu memacu kudanya ke barisan depan.


Setelah kepergian Hantam Buta, Joko Tenang menyibak sedikit tirai jendela bilik kereta. Melalui celah yang kecil Joko Tenang mengintip. Dilihatnya keberadaan dua orang gadis yang dikenalnya, yaitu Murai Manikam dan Limarsih. Joko Tenang juga mengenali Nenek Rambut Merah dan Setan Ngompol yang pernah mengeroyok Dewi Bayang Kematian.


Joko Tenang juga melihat keberadaan sesosok tubuh yang tergeletak di dekat ketiga wanita di sana.


“Ayo, Sayang. Mereka adalah Nenek Rambut Merah bersama Murai Manikam dan Limarsih,” ajak Joko Tenang sambil membuka pintu bilik kereta.


Melihat orang yang turun dari kereta mewah adalah Joko Tenang dalam balutan kerajaannya, Limarsih seketika terpesona dengan bibir yang tanpa sadar terbuka sedikit.


Adapun Murai Manikam hanya tersenyum melihat kemunculan sang prabu, ia sudah sering melihat Joko Tenang dalam penampilan megahnya selama di Istana. Namun, hatinya mendadak senang dan berdaun-daun melihat kemunculan Joko Tenang yang tidak disangka-sangka.


“Kisanak, siapa kau dan apa maksudmu menghentikan rombongan Gusti Prabu Dira?” tanya Hantam Buta kepada Petra Kelana.


“Aku Petra Kelana, Pangeran Lidah Putih. Aku kenal dengan rajamu. Kami ingin bertemu dengan Tabib Rakitanjamu. Apakah dia ada dalam rombongan ini?” ujar Petra Kelana.


“Aku mengenalnya, Hantam Buta!” kata Joko Tenang dengan tubuh yang berkelebat melayang di udara lalu mendarat seperti burung di sisi kuda Hantam Buta. Lalu katanya kepada Hantam Buta, “Mundurlah!”


Hantam Buta segera membalikkan kudanya dan kembali ke dekat kereta bersama Warok Genang.


Sementara Permaisuri Mata Hijau datang berjalan dengan kawalan para dayangnya. Pengawal Bunga Lintang Salaksa yang turun dari kudanya, ikut mengawal di belakang Kerling Sukma.


“Hormatku, Gusti Prabu!” ucap Petra Kelana, sambil membungkuk hormat kepada Joko Tenang dan Kerling Sukma yang begitu anggun dan jelita.


Joko Tenang hanya mengangguk berwibawa.


“Aku berhadapan dengan tetua siapa?” tanya Joko Tenang. Meski ia tahu bahwa Petra Kelana adalah salah satu tokoh di Jurang Lolongan, tetapi ia tidak kenal nama dan julukannya.


“Aku Petra Kelana, Pangeran Lidah Putih, Gusti Prabu,” jawab Petra Kelana.


“Hormat hamba, Gusti Prabu, Gusti Permaisuri!” ucap Murai Manikam yang sudah datang menghampiri pasangan suami istri itu.


Joko Tenang dan Kerling Sukma tersenyum menyambut Murai Manikam.


Menyusul pula kedatangan Limarsih.


“Hormatku, Joko, Permaisuri!” ucap Limarsih menjura hormat, membuat Joko Tenang tersenyum karena sapaannya masih seperti teman biasa.


“Gusti Prabu, maafkan hamba, karena harus menyampaikan berita duka bahwa Nenek Emping Panaswati telah tewas dibunuh,” ujar Murai Manikam.


“Apa?!” kejut Joko Tenang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2