8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 6: Puspa di Telaga


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


 


Joko Tenang didampingi oleh Ratu Getara Cinta dan Permaisuri Tirana saat pergi menemui Ratu Puspa. Mereka harus pergi menunggu ke dermaga Telaga Fatara. Masalahnya, Ratu Puspa sedang berseru ria dengan Pasukan Penjaga Telaga memancing ikan.


“Hai, Joko Ayaaam! Hihihi…!” teriak Puspa dari atas satu perahu yang tidak terlalu jauh dari dermaga.


Di perahu itu, Puspa bersama Garis Merak, Swara Sesat dan Adi Manukbumi. Tampak Puspa begitu menikmati liburan tengah bulannya.


Puspa mengangkat tangannya yang memegang dua ekor ikan sebesar batang tangannya.


“Joko Ayam Kecebur! Puspa dapat ikan besar! Hihihi!” teriak puspa lagi sambil menunjukkan ikannya.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang.


“Hihihi…!” tawa Ratu Getara Cinta dan Tirana agak panjang. Mendapat ikan sebesar itu di Telaga Fatara bukanlah kebanggaan, karena di telaga ini ikannya super besar, bukan super kecil.


Sementara Garis Merak dan Swara Sesat hanya tersenyum dalam artian menertawakan ratu galak itu. Pada awal-awal, mereka selalu dibentak oleh Puspa dan menyebut mereka dengan banyak sebutan “lucu-lucu”. Garis Merak dan Adi Manukbumi harus sabar hati sebagai prajurit penjaga telaga saja. Swara Sesat lebih beruntung, sesadis apapun ia dicaci maki, ia selalu tersenyum karena ketuliannya.


“Kemarilah!” panggil Joko Tenang dari dermaga.


“Hihihi! Akhirnya Joko Ayam Jago memanggil Puspa!” ucap Puspa sambil tertawa girang. Lalu perintahnya kepada Garis Merak, “Kita merapat, Puspa kangen dengan Ayam Jago, ayam betinanya banyak. Hihihi!”


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Garis Merak patuh. Ia lalu memegang kemudi dan memutar arah.


Swara yang mendapat kode dari Garis Merak, segera mendayung bersama Adi Manukbumi.


“Perahunya tidak seperti kuda, lambat!” rutuk Puspa.


Puspa lalu memutuskan menolakkan kakinya dan berkelebat cepat meninggalkan perahu. Menggunakan ilmu peringan tubuhnya yang tinggi, Puspa bisa berlari di atas permukaan air telaga.


“Gusti Ratu ada ikan besar!” teriak Garis Merak saat melihat bayangan hitam besar bergerak di kedalaman air telaga.


Joko Tenang dan kedua istrinya juga melihat kemunculan bayangan hitam besar di dalam air telaga. Mereka terkejut dan khawatir.


“Ratu Puspa, ada ikan di bawahmu!” teriak Tirana kencang.


“Ya, ini ikan pancinganku sendiri! Hihihi!” sahut Puspa yang tidak memahami maksud Tirana dan Garis Merak.


Di perahu, Swara Sesat dan Adi Manukbumi hanya bisa mengerenyit ngeri. Untuk berbuat sesuatu pun mereka akan terlambat.


Bruass!


“Aaak…!” jerit Puspa panjang melengking. Ia begitu terkejut dan histeris, kala tiba-tiba dari dalam air menyeruak makhluk besar yang langsung membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan deretan gigi gergajinya.


Semuanya menjadi tegang melihat serangan hewan air raksasa sebesar perahu itu. Joko Tenang bahkan sudah siap dengan tinju yang sudah menghijau. Namun, ketika melihat apa yang terjadi, ia menahan serangannya.


Puspa yang menjerit nyaring dan berkepanjangan, menopang kedua tangannya pada bagian depan kepala ikan monster itu, sementara tubuhnya agak jauh dari gigi-gigi ikan.


“Aaak…!” Sambil masih jejeritan seperti perawan yang benar-benar ketakutan melihat kecoa, Puspa menjadikan kepala ikan itu sebagai tolakan kakinya. Lalu tubuhnya berkelebat cepat dan berlari kembali di atas permukaan air menuju dermaga.


Sementara ikan besar itu kembali masuk ke dalam air telaga.


“Aaak…!”


Bdugk!

__ADS_1


Puspa akhirnya sampai di dermaga dengan jeritannya yang melengking nyaring. Dia langsung menubruk peluk tubuh Joko Tenang. Kerasnya tubrukan itu membuat Joko Tenang jatuh terjengkang, sementara tubuh Puspa menindihnya.


Puspa tidak peduli bahwa ia telah menubruk Joko. Saking tegangnya, dia langsung bangun separuh badan dan menengok ke belakang tanpa jeritan lagi. Wajahnya terlihat tegang dan pias. Ini kondisi yang sangat jarang terjadi pada seorang Puspa.


“Setan apa itu tadi?” tanya Puspa masih tegang sambil menengok memandangi air telaga.


Ia belum berpindah dari atas tubuh Joko yang juga pasrah menunggu, menunggu Puspa bangun, bukan menunggu diperjakai. Puspa segera memandang kepada Ratu Getara Cinta dan Tirana.


“Mana itu Joko Ayam? Apakah dia dimakan setan air itu?” tanya Puspa, seolah benar-benar tidak sadar bahwa Joko ada di bawahnya.


Ratu Getara Cinta menjawab dengan tunjukan ke arah suami mereka. Tirana hanya tersenyum lembut kepada Puspa.


Puspa mendelik heran. Matanya bergerak melirik, lalu menghadapkan wajahnya ke depan bawah.


“Hihihi! Joko Ayam, kenapa kau ada di bawah Puspa? Kau pasti mau berbuat jahat kepada Puspa yang sekarang cantik!” kata Puspa benar-benar terkejut mendapati Joko ada di bawahnya. Ia pun tertawa alami, seolah-olah ia tidak sedang pura-pura bercanda.


“Bisakah kau turun dulu, Ratu Puspa cantik? Lututmu menyakiti pahaku,” kata Joko dengan tenang.


“Hihihi…!” tawa panjang Puspa sambil bergerak bangun dari tubuh Joko.


“Hekh!” keluh Joko karena Puspa masih sempat-sempatnya bangun dengan tangan menekan kuat perutnya. Lalu ucapnya lirih, “Untung bukan Jokoku yang di tekannya.”


Akhirnya Joko dan Puspa sudah sama-sama berdiri, bukan Joko saja.


“Heh! Setan air apa tadi itu? Yang mau berani-beraninya memakan Puspa!” tanya Puspa lagi, serius.


“Itu ikan di telaga ini. Jadi ikan tangkapanmu itu sangat kecil, Ratu,” ujar Tirana seraya tertawa kecil.


“Hah! Ini ikan kecil?” ucap ulang Puspa sambil mengangkat ikat yang talinya masih terpegang oleh tangannya. “Jadi yang tadi itu ikan?”


“Benar, para pendekar di sini sudah terbiasa menangkap ikan besar yang bisa memakan manusia itu,” kata Ratu Getara Cinta.


“Aku tidak akan mengizinkanmu pergi berburu ikan itu jika kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Joko.


“Eh, beraninya dagang ayam dengan Puspa!” kata Puspa mendelik kepada Joko.


“Baiklah jika kau tidak mau, prajuritku tidak akan menemanimu berburu ikan besar itu. Kau tidak akan bisa menangkap ikan itu sendirian,” kata Joko lalu berbalik.


“Eeeh!” pekik Puspa sambil membuang dua ikan tangkapnya ke telaga. Ia buru-buru menangkap tangan kanan Joko. “Iya, Puspa akan menjawab.”


“Pertanyaan pertama. Kenapa Puspa tiba-tiba muncul di istanaku?” tanya Joko langsung sambil berbalik menghadap kepada Puspa.


“Eh, Joko Ayam sudah tidak takut dengan Puspa. Kenapa tidak lari lagi seperti ayam mau dikawini? Hihihi!” kata Puspa mengalihkan pembicaraan.


“Eit, jawab pertanyaanku!” kata Joko mengingatkan.


“Iya, iya. Puspa rindu mau kejar-kejar Joko Ayam, hihihi…!” jawab Puspa. “Eh, sekarang malah tidak bisa lari. Hihihi…! Pasti karena Joko Ayam kawin terus. Hihihi…!”


Puspa tertawa terkikik berkepanjangan sampai-sampai berjongkok memegangi perutnya. Asumsinya adalah Joko sudah tidak bisa lari karena suka kawin.


“Apakah kau mengirim pakar tambangmu ke sini?” tanya Joko Tenang lagi.


“Hihihik!” Puspa tidak langsung menjawab, ia menghabiskan dulu tawanya. Setelah tawanya berhenti, barulah dia menjawab, “Aku kirim semua penambangku demi Joko Ayam. Hihihi! Mereka semua sedang dalam perjalanan.”


“Semua?” tanya Ratu Getara Cinta. Sebagai mantan ratu di Kerajaan Tabir Angin, wajar jika ia terkejut.


“Iya!” jawab Puspa mengangguk tersenyum lebar.

__ADS_1


“Lalu siapa yang menambang di Tabir Angin jika semua penambang kau kirim ke sini, Puspa?” tanya Ratu Getara Cinta.


“Aku tutup!” jawab Puspa singkat.


Mendeliklah Joko Tenang dan kedua istrinya mendengar jawaban itu. Pikir mereka, bagaimana bisa Puspa mengirim seluruh tenaga tambang ke Kerajaan Sanggana Kecil sedangkan tambang di Kerajaan Tabir Angin ditutup?


“Lebih baik biarkan saja. Untuk sementara kita terima kemurahan hati Ratu Puspa, setelah tambang di Gunung Prabu berjalan, barulah pekerja itu kita kirim pulang secara bertahap,” kata Tirana.


“Hihihi! Tirana memang pintar!” kata Puspa sambil tertawa dan menunjuk Tirana.


“Siang ini aku dan para permaisuriku akan pergi ke Jurang Lolongan untuk pertarungan besar, apakah kau mau ikut?” tanya Joko Tenang.


“Puspa mau berburu ikan besar dulu. Puspa mau goreng ikan besar dulu,” jawab Puspa.


Pada saat itu, perahu yang dinaiki Garis Merak dan kedua rekannya merapat di dermaga.


“Garis Merak, Ratu Puspa ingin mendapatkan satu ikan besar!” seru Joko kepada Garis Merak.


“Baik, Gusti Prabu!” sahut Garis Merak penuh semangat. Lalu perintahnya kepada Adi Manukbumi, “Panggil prajurit Penjaga Telaga lainnya. Kita berburu sekarang!”


“Baik,” ucap Adi Manukbumi patuh.


“Gusti Ratu, ayo naik lagi ke perahu!” teriak Garis Merak memanggil.


“Hihihik!” tawa Puspa lalu melompat dan berkelebat di udara lalu mendarat di dak perahu. (RH)


*******************************


Kisah Covid-19 Author (Bag.3)


 


Karena sudah yakin bahwa saya terkena Covid-19, maka mulailah saya mengabari atasan saya di Kantor Berita Islam MINA (minanews.net), tempat saya melakukan amal saleh (kerja di bidang perjuangan agama Islam). Saya juga mengabari atasan saya di radio dakwah. Saya juga mengabari jamaah pengajian saya. Saya pun konsultasi via WA pada lembaga medis kemanusiaan MER-C yang akrab dengan saya.


Pertanyaan mereka yang pertama kepada saya, “Memang sudah tes?”


Jawaban saya, “Belum. Tapi gejalanya Covid.”


Saya jelaskan begini dan begitu. Mereka pun akhirnya mempercayai.


Saya pun buat pengumuman di catatan novel “Delapan Dewi Bunga Sanggana” tentang terpaparnya saya dan tentang adanya peluang kematian. Jika saya mati, tentunya novel tidak akan selesai dan pengumuman itu bermaksud mencegah para Readers “sakit hati” jika itu terjadi, karena cerita Joko Tenang akan tamat sebelum tamat.


Bahkan saya mengungkapkan kepada istri berapa jumlah utang-utang saya. Sebagai orang yang berstatus beramal soleh setiap hari dan bertahun-tahun dalam keagamaan, saya tidak mau mati kemudian roh saya terhalang hanya gegara utang belum dibayar. Catatan rincian utang pun saya kirim ke sahabat pengajian dan pimpinan, jika-jika saya ditakdirkan mati lewat Covid-19 tolong bantu lunaskan.


Setelah catatan utang itu saya sebar kepada orang-orang tertentu yang bisa membantu, saya merasa lega dan saya pun siap mati jika memang sudah ajal.


Saya memang mengalami penderitaan ketika sakit Covid ini. Namun, lihatlah reaksi orang-orang terdekat saya. Dalam hitungan dua hari, atasan di Kantor Berita Islam MINA mengirimkan paket sembako, madu dan obat herbal, padahal jarak rumah saya jauh, harus melewati dua kota (Bogor dan DKI).


Atasan di radio langsung memberi tips-tips obat dan perkuat imun, ditambah transfer uang 500 rb rupiah untuk beli obat.


Perwakilan jamaah pengajian galang dana untuk saya dan datang menjenguk langsung ke rumah, tanpa takut tertular.


Teman di lembaga medis kemanusiaan MER-C langsung telepon saya dan memberikan arahan, tanpa menyuruh saya ke puskesmas yang jauh lokasinya. Mereka mengerti kondisi kesulitan yang saya alami. Mereka langsung minta alamat untuk segera mengirimkan obat gratis kepada saya. Hari itu juga obat sampai dalam beberapa jam saja.


Respon Readers Pendekar Sanggana dan Delapan Dewi Bunga sungguh luar biasa. Semuanya mendoakan, sebagian memberi tips-tips, baik dari pembaca yang pernah terpapar Covid-19 atau yang mengetahui obat yang cocok. Sampai-sampai saya yang bingung sendiri karena begitu banyaknya tips dari Readers dan berbagai pihak.


Dengan sakit ini, saya merasakan keberkahan dari kuatnya rasa kekeluargaan, baik di dalam lingkungan perjuangan, lingkungan sekitar, hingga di kalangan para Readers Pendekar Sanggana. Bantuan sembako dan uang mengalir, meski tidak banyak, tapi sangat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. SAKIT MEMBAWA BERKAH. (Bersambung)

__ADS_1


 


Bag. 4 baru tips-tips pengobatan hingga sehat.


__ADS_2