
*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*
Sebanyak enak puluh lima orang berperawakan pendekar menerobos hutan pada malam hari itu. Beberapa di antaranya memiliki kelainan atau cacat fisik. Ada yang berjalan dengan bantuan tongkat karena hanya memiliki satu kaki, atau satu kakinya pendek sebelah. Ada yang tidak memiliki tangan, atau satu tangan saja. Ada yang ketika berjalan kepalanya menyentak ke samping berulang-ulang karena memiliki penyakit gangguan syaraf.
Adapula yang bertingkah seperti anak kecil meski fisiknya dewasa. Terdengar pula suara tawa cekikikan seorang perempuan meski tidak ada perkara yang lucu, ditimpali oleh suara tawa lelaki yang sangat bass.
Mereka mengikuti beberapa orang prajurit Sanggana Kecil yang membawa suluh.
Setelah menelusuri hutan yang sangat gelap, mereka berlanjut menyeberangi padang rumput menuju gerbang utama benteng Istana Sanggana Kecil.
Ketika menyeberangi padang rumput, mereka bisa melihat keramaian di sisi timur. Di sana dibangun tenda-tenda yang ditempati oleh mantan pasukan Kerajaan Siluman yang kini berstatus prajurit Kerajaan Sanggana Kecil. Perkemahan itu diterangin oleh suluh-suluh bambu yang tinggi-tinggi.
“Prajurit, bukankah itu para prajurit Kerajaan Siluman?” tanya Siluman Mata Sebelah, seorang lelaki berusia empat puluhan yang mata kirinya tertutup dan mata lainnya terbuka, mirip aktor dan penyanyi dangdut Jaja Miharja jika bertanya “Apaan tuh?”
“Benar, itu pasukan Kerajaan Siluman yang kalah perang dan kini menjadi prajurit Kerajaan Sanggana Kecil,” jawab prajurit Sanggana Kecil yang mengawal para pendekar tersebut.
“Wah! Aku tidak tahu jika Ratu Aninda mengirim pasukan menyerang Kerajaan Sanggana Kecil!” kata Siluman Mata Sebelah terkejut kepada rekannya, Siluman Lidah Kelu.
“Di antala pasukan yang dikilim ada Pasukan Siluman Tingkat Dua,” kata Siluman Lidah Kelu. Ia seorang wanita cantik berusia tiga puluhan tahun. Ia memiliki cacat pada lidahnya sehingga bicaranya cadel. Ialah Panglima Pasukan Siluman Generasi Pertama.
“Hah! Jika begitu, Pasukan Siluman Tingkat Dua dinikahkan semua?!” teriak Siluman Kuping Buntu begitu terkejut. Ia sampai memajukan wajahnya ke dekat wajah Siluman Lidah Kelu, membuat gadis cantik itu refleks menarik wajahnya ke belakang.
“Jika orang berbincang jangan ikut komentar!” hardik Siluman Mata Sebelah sambil menarik belakang leher baju Siluman Kuping Buntu.
“Jelas ini masalah yang sangat serius. Siapa yang bilang ini masalah sepele? Setahuku, semua Siluman Tingkat Dua itu tidak ada yang menikah!” kata Siluman Kuping Buntu berapi-api kepada Siluman Mata Sebelah yang menariknya, sampai-sampai rekannya itu mengerenyit karena terciprat embun gua bergigi.
“Muncrat, Kuping Buntu!” maki Siluman Mata Sebelah kesal setelah menyeka wajahnya.
“Hahaha!” tawa pendekar yang lain yang melihat nasib Siluman Mata Sebelah.
“Mata Setan, apakah kita akan tinggal di sini?” tanya Siluman Lidah Kelu kepada pendekar bonsai berambut kepang tunggal sepanjang bokong. Berkat tindakannya yang menyusup ke dalam Istana Siluman, ia bisa tahu lebih cepat rencana Ratu Aninda Serunai terhadap Pasukan Siluman Generasi Pertama.
Atas informasi dari Siluman Mata Setan, seluruh Pasukan Siluman Generasi Pertama segera melarikan diri dari wilayah Kerajaan Siluman. Mereka langsung pergi menuju Sanggana Kecil.
“Mungkin. Istana ini besar dan masih kosong,” jawab Siluman Mata Setan, orang yang sudah pernah masuk ke dalam Istana Sanggana Kecil.
“Asiiik! Kita bisa punya kamar di istana!” sorak girang wanita gemuk berwajah semarak. Wanita berpakaian warna ungu terang itu bernama Siluman Otak Kurcaci. Pendekar siluman yang daya kecerdasannya rendah, kontras dengan tubuhnya yang subur.
“Iya, kau bekerja sebagai tukang bersih-bersih kakus!” celetuk Siluman Mata Sebelah.
__ADS_1
“Ih, malu ah membayangkan milik-milik kalian,” kata Siluman Otak Kurcaci sambil tertawa genit dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Hahaha…!” Meledaklah tawa mereka mendengar daya tangkap pikiran gadis gemuk berwajah lucu itu.
“Hihihi! Hahaha!”
Siluman Bocah Cantik dan Siluman Bocah Beruang yang sering tertawa-tawa sendiri dalam rombongan, semakin kencang tertawa karena rekan-rekannya tertawa berjemaah.
Akhirnya, mereka melewati jembatan dan pintu gerbang benteng Istana Sanggana Kecil.
“Wuaaah!” desah kagum sebagian para pendekar penyandang disibalitas itu.
Mereka kemudian diarahkan ke Aula Dewi Bunga, ruangan yang diotorisasi oleh Ratu Getara Cinta. Meski demikian, kali ini Joko Tenang hadir di ruangan itu bersama Permaisuri Sri Rahayu dan ibu mertuanya, Ratu Sri Mayang Sih. Sang ratu dikawal oleh Lima Pangeran Dua Putri.
Para pendekar siluman itu terperangah melihat kemegahan Aula Dewi Bunga yang penuh keindahan.
“Sembah kami Pasukan Siluman Genelasi Peltama, Gusti Plabu, Gusti Latu, Gusti Pelmaisuli!” ucap Siluman Lidah Kelu lantang, tanpa merasa risih dengan kecadelannya. Ia turun berlutut menghormat.
“Sembah kami Pasukan Siluman Generasi Pertama, Gusti Prabu, Gusti Ratu, Gusti Permaisuri!” ucap pendekar siluman yang lainnya sambil turun berlutut.
Joko Tenang tersenyum ketika mendengar kecadelan Siluman Lidah Kelu. Sebenarnya ia ingin tertawa, tetapi ia tahan sehingga hanya berbuah senyuman.
Joko Tenang teringat pada masa remajanya yang jatuh bersama Kerling Sukma ke dasar jurang lalu bertemu Nara. Ada masa ketika ia dan Kerling Sukma menjadi cadel bersama.
Pasukan Siluman Generasi Pertama adalah pasukan siluman generasi awal yang mendedikasikan pengabdiannya kepada Bidadari Asap Racun.
“Wahai pendekar-pendekar Pasukan Siluman Generasi Pertama! Mulai saat ini, Kerajaan Sanggana Kecil adalah rumah kalian!” seru Sri Rahayu. “Jika kalian adalah abdiku, maka kalian juga adalah abdi dari Prabu Dira Pratakarsa Diwana!”
Dengan hadirnya Pasukan Siluman Generasi Pertama di Istana itu, maka bertambah pesatlah jumlah pasukan pendekar yang dimiliki oleh Kerajaan Sanggana Kecil.
Usai pertemuan dengan Pasukan Siluman Generasi Pertama, Ratu Sri Mayang Sih pergi menuju ke kamarnya. Ia dikawal oleh Lima Pangeran Dua Putri.
Ketika mereka sedang menelusuri koridor istana menuju kamar Ratu, tepatnya ketika sampai pada pertigaan lorong, tiba-tiba ada serangan.
Tuk tuk tuk…!
Sesosok bayangan yang tidak jelas, karena begitu cepatnya bergerak, menotok ketujuh muda-mudi pengawal sang ratu.
“Ak!” pekik Ratu Sri Mayang Sih terkejut, karena tahu-tahu sosok bayangan berpakaian putih itu menyambar tubuhnya dan membawanya ke balik dinding.
Punggung Ratu Sri Mayang Sih menempel di dinding dan tubuh depannya dihimpit oleh tubuh seorang lelaki bertubuh kekar dan kuat. Wajah lelaki itu diletakkan di samping kanan kepala Ratu Sri Mayang Sih, sehingga sang ratu tidak bisa melihat wajah orang yang menyerangnya, bahkan melakukan tindak pidana pelecehan.
__ADS_1
“Raja Anjas!” sebut Ratu Sri Mayang Sih lirih agak ragu. Ia menerka karena mengenali aroma harum tubuh lelaki yang menghimpitnya.
“Hahaha!” tawa lelaki pelan, tapi terdengar nyaring di telinga sang ratu. Lelaki itu lalu menarik kepalanya.
Cup!
Satu kecupan lembut mendarat di pipi kanan Ratu Sri Mayang Sih, membuat wanita janda itu terkejut dan wajahnya berubah memerah malu.
Setelah lelaki gagah itu menarik kepalanya, barulah Ratu Sri Mayang Sih bisa melihat wajah tampan Raja Anjas Perjana Langit. Namun, tubuh sang raja masih menempel pada tubuh depan Ratu Sri Mayang Sih, tapi sudah tidak menekan seperti semula.
“Apakah kau merindukanku, Ratuku Sayang?” tanya Raja Anjas pelan dan lembut. Wajahnya begitu dekat dengan wajah cantik Ratu Sri Mayang Sih.
“Tidak!” jawab Ratu Sri Mayang Sih ketus. “Sebelum kau melecehkanku, aku memang rindu. Tapi tidak sekarang!”
Ratu Sri Mayang Sih mendorong dada raja Anjas cukup kuat, sehingga lelaki itu terdorong keluar dari balik dinding, membuat ketujuh pengawal sang ratu yang berdiri kaku dapat melihat keberadaannya.
Raja Anjas menengok kepada tujuh pemuda itu sambil tersenyum manis kepada mereka. Raja Anjas lalu melepaskan totokan pada tubuh ketujuh pengawal sakti itu dari jarak jauh. Setelah itu, Raja Anjas kembali menghampiri Ratu Sri Mayang Sih.
“Pagi siang malam aku merindukanmu, Ratu. Namun setibanya di hadapanmu, aku justru mendapat keketusan dan dorongan. Jika demikian, aku pergi lagi saja ke istriku!” ujar Raja Anjas.
“Jangan coba-coba kembali kepada istrimu di saat kau bersamaku!” sentak Ratu Sri Mayang Sih seraya mendelik kepada Raja Anjas.
Perkataan Ratu Sri Mayang Sih membuat Raja Anjas tersenyum lebar.
“Jika aku banding-banding….”
“Kau jangan membandingkanku dengan istri-istrimu!” sentak Ratu Sri Mayang Sih lagi.
“Tidak. Aku hanya membandingkan kecantikanmu di kala senang dan di kala marah. Sepertinya lebih cantik saat kau marah. Jadi aku lebih suka jika kau dikala marah….”
“Raja Anjas!” pekik Ratu Sri Mayang Sih gusar sambil hendak memukul ayah dari Joko Tenang itu.
“Jangan, Sayang,” ucap Raja Anjas sambil menangkap tangan sang ratu dan justru kemudian mengecup punggung tangan halus itu.
Nyess!
Muncul aliran indah di dalam tubuh Ratu Sri Mayang Sih yang menoel hati. Ada senyum tipis yang muncul di bibir merahnya.
“Kalian kembalilah!” perintah Ratu Sri Mayang Sih kepada ketujuh pengawalnya.
Lima Pangeran segera berbalik, sementara Putri Pelangi dan Putri Embun tetap berdiri saling pandang. Mereka bingung harus kembali ke mana, sebab selama ini mereka tidur dan berjaga di kamar Ratu Sri.
__ADS_1
Melihat kebingungan kedua gadis cantik itu, kompak Pangeran Basah dan Pageran Botak menarik tangan kedua rekan wanita mereka.
Sementara itu, Raja Anjas dan Ratu Sri dengan mesra pergi menuju ke kamar ratu. Bukan maksud untuk apa-apa, tetapi sekedar untuk melepas rindu, juga ada hal penting yang harus mereka bicarakan bersama. (RH)