
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Ternyata kebutaan massal yang diderita oleh Raja Anjas Perjana Langit dan rombongannya hanya bersifat sementara. Satu jam kemudian setelah mereka tidak bisa melihat, pandangan mereka kembali bisa melihat dengan jelas tanpa efek samping.
“Gadis Cadel, aku bisa melihat kembali!” sorak Joko Tingkir girang sambil menghamburkan diri hendak memeluk Siluman Lidah Kelu.
“Aku juga sudah bisa melihat!” kata Siluman Lidah Kelu sambil memegang muka Joko Tingkir agar tidak terus maju ambil kesempatan dalam kegelapan, karena mereka jauh dari api unggun yang dinyalakan oleh Setan Ngompol.
Joko Tingkir segera melepaskan wajahnya dari Siluman Lidah Kelu. Ia melihat anak panah masih bersarang di paha kiri Siluman Lidah Kelu. Joko Tingkir lalu membuka bajunya, menunjukkan badannya yang kekar berkotak-kotak.
“Apa yang mau kau lakukan, Tingkil?” tanya Siluman Lidah Kelu.
Breeet!
Joko Tingkir hanya tersenyum sambil merobek panjang kain bajunya.
“Lukamu itu harus dibalut agar darahnya tidak banyak terbuang saat panahnya dicabut,” kata Joko Tingkir.
“Jangan dicabut dulu. Biar aku buat ramuannya dulu,” kata Lanang Jagad yang menghampiri mereka dan melihat luka Siluman Lidah Kelu.
“Eh, tidak boleh. Nanti kau mengambil kesempatan di atas luka orang lain!” larang Joko Tingkir cepat.
“Aku ini tabib, Tingkir. Jika salah penanganan, luka calon istrimu ini bisa jadi lebih buruk,” tandas Lanang Jagad.
“Aku juga tabib, tabib cinta. Hahaha!” kata Joko Tingkir lalu tertawa sendiri.
“Aku cari daun obatnya dulu,” kata Lanang Jagad lalu melangkah pergi.
“Biar aku saja yang membuat ramuannya,” kata Joko Tingkir. Ia lalu beralih kepada Siluman Lidah Kelu, “Tunggu sebentar, Sayang. Aku akan buatkan ramuan untuk lukamu.”
Siluman Lidah Kelu hanya merengut.
Joko Tingkir segera mengejar Lanang Jagad. Pangeran Derajat yang juga terkena panah diminta agar jangan langsung mencabut panahnya sampai ramuannya tersedia.
Singkat cerita, akhirnya Joko Tingkir lah yang membuat ramuan. Dia pula yang menangani luka pada paha Siluman Lidah Kelu. Si gadis cadel mau tidak mau harus menerima kebaikan dan kepedulian Joko Tingkir.
“Telima kasih, Tingkil,” ucap Siluman Lidah Kelu seusai lukanya diperban.
__ADS_1
“Jadi aku diterima sebagai calon suami?” tanya Joko Tingkir.
“Tidak!” ketus Siluman Lidah Kelu.
“Sepertinya aku harus lebih berjuang,” ucap Joko Tingkir seraya tersenyum hambar.
Malam itu, Anjas dan rombongan memutuskan bermalam di tengah hutan tersebut. Para prajurit Pasukan Murka Kegelapan diperintahkan untuk mengumpulkan ratusan mayat yang berserakan pada satu lubang besar.
Raja Anjas lalu mengumpulkan rombongannya.
“Pendekar yang terluka aku anggap gugur. Jadi mereka tidak aku izinkan untuk melanjutkan perjalanan,” tegas Anjas.
Terkejutlah ketiga pendekar yang terluka, yaitu Arya Permana, Pangeran Derajat dan Siluman Lidah Kelu.
“Gusti Prabu, tapi kami masih bisa bertarung dan mati pun kami siap!” kata Arya Permana. Jelas ia tidak terima keputusan itu. Dendam masih ada di dalam dadanya. Meski pembunuh kakeknya telah mati, tetapi dalang di belakang pembunuh itu belum mati.
“Aku yang bertanggung jawab dalam kelompok ini. Aku yang bertanggung jawab jika ada pasukanku yang mati. Aku ingin memastikan bahwa pendekar yang turun adalah yang benar-benar siap secara raga dan nyawa. Kalian bertiga aku tetapkan tidak ikut. Besok pagi, kembalilah dan tunggu kami di Kademangan Uruk Sowong!” tandas Anjas.
“Jika Gadis Cadel tidak boleh ikut, maka aku pun tidak ikut. Aku akan menjaganya,” kata Joko Tingkir.
“Seharusnya kau bertukar raga dengan Arya Permana, Tingkir,” kata Anjas menanggapi keputusan Joko Tingkir.
“Kita akan tetap pada rencana. Setibanya di Kadipaten Banyukuat, kita langsung menyerang ke Istana Siluman!” kata Anjas menetapkan.
Akhirnya, mereka beristirahat dengan menerapkan penjagaan yang ketat. Anjas dan Petra Kelana tidak tidur, mereka memilih berbincang-bincang. Empat dari Lima Pangeran bertugas berjaga. Joko Tingkir pun memilih berjaga, alasannya untuk menjaga Siluman Lidah Kelu.
Joko Tingkir sudah berjanji kepada Siluman Lidah Kelu bahwa ia tidak akan berbuat kurang ajar. Karena itulah dia bisa berjaga tidak jauh dari posisi si gadis cadel. Namun ujung-ujungnya, Joko Tingkir tertidur pula dalam posisi terduduk bersandar pada batang pohon.
Ratu Sri Mayang Sih tidur di dekat Putri Pelangi. Sementara Putri Embun tidur di dekat Pageran Derajat. Lanang Jagad tidur di dekat Arya Permana. Tembangi Mendayu bersama kakaknya. Nenek Rambut Merah tidak begitu jauh dari Setan Ngompol. Ia tidak terganggu oleh bau pesing lelaki gemuk itu.
Para prajurit musuh yang tersisa masih bernyawa, dibiarkan bebas pergi ke mana saja.
“Keriting, ada sesuatu yang bergerak di balik pohon sana,” bisik Pangeran Botak kepada Pangeran Keriting sambil menatap tajam ke sebuah batang pohon yang tumbuh sepuluh tombak di depan.
“Apa yang kau lihat?” tanya Pangeran Keriting berbisik pula. Ia memandang serius ke arah pandangan sahabatnya.
“Seperti bayangan sebuah kepala manusia yang sedang mengintip, lalu bersembunyi lagi,” jawab Pangeran Botak.
“Ayo kita sergap dari dua arah!” kata Pangeran Keriting sambil bangkit berdiri. Lalu teriaknya, “Ayo!”
__ADS_1
Pangeran Keriting langsung berkelebat cepat masuk ke dalam kegelapan. Pangeran Botak juga melesat ke arah yang berbeda. Keduanya lalu menghilang di dalam kegelapan.
Tidak berapa lama.
“Kena kau!” teriak Pangeran Keriting sambil melesatkan tinju jarak jauh.
Sest! Bum! Bluar! Bsruak!
Pada saat yang sama, dari arah lain Pangeran Botak melesatkan satu sinar putih. Awalnya batang pohon dibuat rompal besar oleh tinju jarak jauh Pangeran Keriting, kemudian hancur oleh sinar putih Pangeran Botak.
Serangan keduanya tidak menemukan seorang pun manusia. Pohon besar itu akhirnya tumbang dan menambah kebisingan bagi mereka yang tertidur.
Semua yang tertidur dibuat terlompat, seperti mayat yang mendengar suara malaikat kubur.
Joko Tingkir cepat bersiaga di dekat Siluman Lidah Kelu. Yang lain pun cepat bangun berdiri dan memperhatikan daerah sekeliling.
“Apakah kalian melihat seseorang?” tanya Anjas kepada kedua pangeran. Ia dan Petra Kelana sudah datang ke tempat Pangeran Keriting dan Pangeran Botak menyerang.
“Aku melihatnya,” jawab Pangeran Botak.
“Hahahak!” tawa Joko Tingkir tiba-tiba.
Mereka semua memandang ke arah Joko Tingkir.
Awalnya mereka pikir Joko Tingkir hanya tertawa biasa karena bergurau dengan gadis taksirannya, tetapi kemudian mereka heran, sebab Joko Tingkir tertawa berkepanjangan, sementara Siluman Lidah Kelu memandanginya dengan keheranan.
“Joko Tingkir kemasukan setan hutan sepertinya,” kata Arya Permana kepada Lanang Jagad.
“Hahahak…!” Joko Tingkir mulai duduk berjongkok karena tidak bisa menahan tawanya. Selanjutnya, ia jatuh meringkuk di tanah hutan sambil terus tertawa kencang.
Sebagian dari mereka segera mendekati Joko Tingkir dan Siluman Lidah Kelu.
“Apa yang terjadi denganmu, Tingkir?” tanya Tembangi Mendayu heran.
“Joko! Hahaha! Hentikan, Joko! Hahaha…!” teriak Joko Tingkir di sela-sela tawanya.
“Mungkin aku bisa menghentikan tawanya,” kata seseorang dari belakang mereka tiba-tiba.
Mereka yang sudah mengerumuni Joko Tingkir, segera menengok ke belakang.
__ADS_1
“Gusti Prabu!” sebut mereka serentak saat mengenali orang yang tahu-tahu muncul di belakang mereka. Mereka semua segera menjura hormat. (RH)