
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
“Yang Mulia Gusti Ratu Lembayung tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu taman.
Saat itu, Senggara Bolo alias Pendekar Raja Kawin bersama empat orang istrinya duduk menunggu di sebuah gazebo besar berbahan kayu warna hitam. Gazebo persegi panjang itu memiliki enam tiang tanpa ada dinding satu pun. Bentuknya panggung dengan ketinggian empat anak tangga. Gazebo itu memiliki dua tangga pada setiap sisi ujungnya.
Di atasnya telah tersedia tilam merah nan indah berhias bantal-bantal berwarna kuning. Di depan tilam ada meja kayu berukir berkaki pendek.
Tampak di pintu taman, berjalan anggun dalam kewibawaannya sebagai seorang ratu, Lembayung Mekar dalam balutan busana warna merah terang berhias tepian warna emas. Begitu cantik meski usianya sudah tergolong matang sebagai seorang wanita. Selain dikawal oleh pengawal pribadinya yang seorang perempuan cantik tapi berwajah dingin, Ratu Lembayung juga dikawal oleh sepuluh dayang dan sepuluh prajurit Pasukan Pengawal Ratu.
Melihat kedatangan Ratu Lembayung Mekar yang langsung menuju ke gazebo, Pendekar Raja Kawin dan keempat istrinya segera bangun berdiri dan menunggu. Mereka berlima sudah memekarkan senyum sejak jauh-jauh jarak.
“Lihatlah, begitu cantik jelitanya cintaku,” kata Senggara Bolo kepada istri-istrinya tentang Ratu Lembayung Mekar. Pujian yang tidak ditanggapi oleh para istrinya.
Setibanya di gazebo, Ratu Lembayung Mekar naik lewat tangga yang berada di belakang tilam.
“Hormat sembahku, Gusti Ratu!” ucap Senggara Bolo ketika Ratu Lembayung Mekar telah berada di atas lantai gazebo dengan senyum mekar mengembang.
Senggara Bolo dan keempat istrinya turun berlutut dan menjura hormat.
“Bangunlah, Senggara Bolo!” perintah sang ratu. Ia lalu duduk di tilam.
Pengawal pribadi Ratu duduk bersimpuh di sisi kanan tilam. Sementara para dayangnya duduk berbaris bersimpuh di belakang tilam.
“Silakan!” kata Ratu Lembayung Mekar.
Senggara Bolo dan keempat istrinya kembali duduk.
“Sudah berapa banyak wanita yang kau nikahi, Senggara?” tanya Ratu Lembayung Mekar.
“Hahaha! Baru dua puluh satu kali,” jawab Senggara Bolo setelah tertawa santai.
“Rencanamu, berapa banyak wanita yang akan kau nikahi?” tanya Ratu Lembayung Mekar lagi.
“Dua puluh dua. Jika aku bisa mendapatkan wanita yang terakhir, maka aku akan berhenti menikah lagi,” jawab Senggara Bolo yang sengaja ingin menggiring rasa penasaran sang ratu.
__ADS_1
“Lalu siapa wanita yang kedua puluh dua itu?” tanya Ratu Lembayung Mekar dengan tatapan serius kepada Pendekar Raja Kawin.
“Wanita terakhir itu adalah dirimu, Gusti Ratu,” jawab Senggara Bolo.
Terkejutlah Ratu Lembayung Mekar dan pengawal pribadinya. Sang pengawal yang bersenjatakan pedang, langsung menarik gagang pedangnya agar keluar dari sarangnya. Ratu Lembayung Mekar cepat memberi isyarat tangan agar prajuritnya itu menahan tindakannya.
Senggara Bolo hanya tersenyum melihat reaksi pengawal sang ratu.
“Hihihi! Apakah kau sudah tahu siapa sekarang diriku, Senggara?” tanya Ratu Lembayung Mekar yang didahului tawa pendek.
“Aku tahu, kau tetap wanita yang paling membuatku jatuh hati. Suamimu Raja Galang Madra telah tewas. Maka aku segera datang ke Ibu Kota ini hanya untuk melamarmu. Aku tidak akan membiarkanmu dipinang oleh lelaki lain,” ujar Senggara Bolo, pura-pura belum tahu bahwa Ratu Lembayung sudah bersuami baru.
“Bagaimana bisa aku memilih lelaki yang lebih buruk daripada lelaki yang aku miliki sekarang?” tanya Ratu Lembayung Mekar.
“Apa maksudmu, Gusti Ratu?” tanya Senggara Bolo.
“Justru aku yang ingin bertanya kepadamu, Senggara. Apa maksudmu datang dengan berpura-pura tidak tahu bahwa aku sudah memiliki seorang raja?”
Mendelik sepasang mata Senggara Bolo karena Ratu Lembayung langsung menembaknya, bukan menembak hatinya, tetapi menembak niatan buruknya.
“Hahaha!” tawa Senggara Bolo pendek. Ia berusaha tetap santai. “Demi mendapatkanmu sebagai pendamping hidupku yang terindah, aku akan menghadapi segala rintangan yang mencoba mencegahku. Jikapun memang harus berhadapan dengan rajamu itu, Gusti Ratu.”
“Sepertinya aku begitu diremehkan olehmu, Gusti Ratu,” kata Senggara Bolo.
“Bukan kau yang diremehkan, tetapi kau yang tidak sadar akan batas kemampuanmu!” kata Ratu Lembayung Mekar. “Aku seorang ratu, tetapi kau masih berani melamarku di saat kau sudah memiliki banyak istri. Aku sudah memiliki raja, tetapi kau masih tetap datang hanya untuk melamarku. Dan kau pun melampaui batasanmu dengan berani masuk langsung ke dalam Istana.”
“Semua prajuritmu tidak akan mampu menahanku ….”
“Semua prajurit memang tidak mampu menahanmu, tetapi satu orang suami bisa membunuhmu, Kisanak!” kata seseorang yang memotong perkataan Senggara Bolo.
Suara lelaki itu mengejutkan mereka semua. Namun, bagi Ratu Lembayung Mekar, keterkejutannya berlanjut dengan kebahagiaan.
“Kakang Prabu,” ucap Ratu Lembayung Mekar seraya tersenyum. Ia tersenyum kepada pengawal pribadinya yang juga tersenyum.
Sementara Senggara Bolo dan keempat istrinya terlihat agak tegang. Mereka tegang, tetapi berusaha terlihat tenang.
__ADS_1
Mereka semua memandang ke arah pintu taman. Namun, tidak terlihat ada tanda-tanda orang akan datang.
Cring!
Tiba-tiba ada suara lonceng terdengar.
“Hihihi!”
Setelah itu muncul pula suara tawa perempuan, terkesan memberi suasana horor di pagi itu.
Clap!
Grerr!
“Huaa!” pekik para prajurit sampai terlompat jatuh ketika tiba-tiba di dekat mereka muncul lima makhluk besar, yaitu lima serigala, lengkap dengan tiga orang yang menunggangi.
Maka terlihatlah Sandaria yang tertawa menggemaskan di atas punggung serigala paling besar. Kemunculan rombongan itu jelas membuat Ratu Lembayung Mekar begitu bahagia. Pandangannya fokus kepada Joko Tenang yang langsung tersenyum manis kepadanya.
Sementara itu, bagi Senggara Bolo dan keempat istrinya, selain terkejut menyaksikan kemunculan binatang-binatang yang tidak pernah mereka duga sedikit pun, mereka juga terkejut melihat keberadaan Janila yang pakaiannya kotor oleh darah, ditambah adanya tubuh Manar yang terkulai tidak bergerak dan bersimbah darah.
“Hormat cintaku kepada Kakang Prabu dan Permaisuri Sandaria!” ucap Ratu Lembayung Mekar seraya menjura hormat sekedarnya, yang diikuti oleh penghormatan semua prajurit dan abdi.
Namun tidak bagi Senggara Bolo. Ia lebih mementingkan untuk memeriksa kondisi dua istrinya yang datang bersama Joko Tenang.
“Manar!” teriak Senggara Bodo sambil buru-buru berkelebat dan mendarat di dekat Belang, serigala yang ditunggangi oleh Janila.
“Maafkan aku, Kakang. Aku tidak bisa menjaga adik Manar,” ucap Janila sedih.
Senggara Bolo tidak mendengarkan kata-kata Janila, ia memilih cepat meraih jasad Manar dan membawanya ke gazebo.
Joko Tenang lalu turun dari punggung Bintang. Kemudian dia menghampiri Satria dan meraih tangan Sandaria, membantunya untuk turun karena ia tetap masih kecil. Alangkah bahagianya Sandaria diperlakukan begitu istimewa oleh suaminya.
“Serangan tadi adalah jebakan, Kakang. Mereka adalah pendekar bayaran yang dibayar oleh putra Menteri Keuangan Kerajaan,” kata Janila.
“Kurang ajar!” maki Senggara Bolo mendendam.
__ADS_1
“Aku sudah memerintahkan penangkapan semua orang yang terlibat mencelakai istrimu, Kisanak!” kata Joko Tenang yang sudah duduk di tilam empuk, diapit oleh Ratu Lembayung di sisi kanan dan Permaisuri Sandaria di sisi kiri.
Senggara Bolo menatap tajam kepada Joko Tenang. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. (RH)