8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 20: Lumpuhnya Ilmu Bayangan


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


“Pendekar buta. Apakah perempuan ini yang mengetahui penyergapan ini? Biasanya orang sakti buta memiliki kepekaan yang lebih tajam dari orang sakti biasa,” ucap Siluman Bayang Seribu dalam hati. “Sepertinya aku berhadapan dengan perempuan hebat.”


“Kakak Pendekar bisa lihat, semuanya sudah mati. Tinggal kita yang belum bertarung,” kata Sandaria kepada Siluman Bayang Seribu.


“Apakah ada pilihan lain bagiku selain bertarung?” tanya Siluman Bayang Seribu.


“Para pemimpin siasat keramaian ini harus mati. Jadi, tidak ada cara lain selain bertarung. Apa jadinya jika siasat kalian menyergap kami berhasil? Kami pasti ada yang mati. Pembunuh harus dibunuh! Tidak ada pilihan lain. Maafkan kami, Kakak Pendekar!” tandas Sandaria sambil tersenyum.


“Tidak ada pilihan lain ya? Baiklah,” kata Siluman Bayang Seribu yang tahu-tahu di belakangnya ada puluhan sosok serupa dirinya. Kini Siluman Bayang Seribu memiliki pasukan baru.


Para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil lainnya bereaksi biasa saja. Berbeda dengan Pasukan Pengawal Bunga, mereka terkesiap terkejut melihat ilmu bayangan Siluman Bayang Seribu, terutama Reksa Dipa yang juga memiliki ilmu bayangan bernama Sukma Bayang Wujud.


Meski demikian, tampak Sandaria tenang-tenang saja. Ia hanya tersenyum dengan keimutannya yang tidak buram oleh temaramnya malam.


Tanpa suara, tiba-tiba puluhan sosok kembar Siluman Bayang Seribu berlompatan melesat menerjang Sandaria beramai-ramai. Namun, meski diserang secara massal seperti itu, Sandaria tidak bertindak apa-apa. Ia membiarkan tubuhnya dihujani oleh puluhan bayangan itu.


Namun, tidak terjadi apa-apa terhadap diri Sandaria saat serangan massal bayangan itu menabrak dirinya. Justru bayangan-bayangan itu yang akhirnya hilang dengan sendirinya. Tidak lebih diterpa angin yang bergerak, itulah yang dirasakan oleh Sandaria.


“Wanita itu salah ilmu melawan Permaisuri Serigala,” komentar Kerling Sukma yang memiliki guru buta lebih sakti dari Sandaria. Lalu ia melanjutkan, “Sebagai orang buta, Sandaria tidak akan terpengaruh oleh bayangan sebanyak itu, jika bayangan itu sifatnya hanya pengecoh. Berbeda dengan bayangan dari ilmu Sukma Bayang Wujud milik Reksa Dipa, bayangan yang bisa membunuh langsung.”


Melihat Sandaria tidak bereaksi dan masih diam, Siluman Bayang Seribu memutuskan bertindak. Siluman Bayang Seribu melesat maju dengan kedua tangan berbekal sinar hijau. Orang-orang yang menyaksikan pertarungan itu, tidak bisa melihat pergerakan Siluman Bayang Seribu karena berlindung dibalik gerakan massal sosok palsunya.


Namun, Sandaria tidak melihat, tetapi dia merasakan. Karenanya, dia tahu dengan jelas pergerakan lawannya dan kira-kira sehebat apa ilmu yang ada di kedua tangan musuh. Sandaria membiarkan Siluman Bayang Seribu datang kepadanya.


Dari balik rapatnya bayanganya yang menyerbu tubuh Sandaria, Siluman Bayang Seribu menyeruak sambil membanting kedua sinar hijaunya.


Ses! Bluar!


Kedua sinar itu melesat pendek menghancurkan tanah yang diiringi suara ledakan yang keras. Di tanah hanya tercipta kubangan yang cukup untuk mengubur seekor kambing.


Siluman Bayang Seribu hanya bisa mendelik mendapati Sandaria hilang begitu saja dari tempatnya. Tahu-tahu wanita mungil itu muncul agak jauh di belakang Siluman Bayang Seribu sambil tertawa kecil, seolah sedang menertawakan lawannya.


Siluman Bayang Seribu cepat berbalik dengan tatapan tajam. Kemudian dia mendelik, karena Sandaria dengan jelas mengeluarkan lidahnya, bukan maksud untuk bergaya centil seperti biasa, tapi memang dijulurkan lurus ke bawah bermaksud meledek.


“Hihihi!” tawa Sandaria yang membuat Siluman Bayang Seribu panas hati.

__ADS_1


Siluman Bayang Seribu dengan gusar menghentakkan kedua lengannya ke arah Sandaria.


Clap!


Tiba-tiba sepuluh sosok serupa Siluman Bayang Seribu telah berdiri mengepung posisi Sandaria.


“Hihihi! Ini baru lawan!” ucap Sandaria seraya tersenyum.


Selanjutnya, sepuluh sosok palsu Siluman Bayang Seribu bergerak bersama dengan gerakan yang berbeda-beda. Mereka mengeroyok Sandaria. Masalahnya, meskipun Sandaria buta, ia menggunakan rasa sebagai mata, sehingga semua anggota tubuhnyanya menjadi mata.


Tak! Bles! Tak! Bles…!


Tanpa berpindah-pindah dari tempat berdirinya, Sandaria menghadapi semua serangan nyata bayangan itu dengan kecepatan gerakan tongkat birunya. Seperti seorang guru yang sedang melatih murid-muridnya, Sandaria menangkis dengan tongkatnya dan balas memukul dengan tongkat itu juga.


Meski kecil, jangan tanya sebesar apa tenaga dalam Sandaria saat menangkis dan memukul. Satu per satu sosok palsu Siluman Bayang Seribu dipukul sehingga lenyap begitu saja seperti setan.


“Gila benar, satu pun ilmu bayanganku tidak ada yang berguna,” rutuk Siluman Bayang Seribu dalam hati.


Hingga akhirnya, kesepuluh bayangan palsu Siluman Bayang Seribu lenyap semua, setelah dipukuli satu demi satu seperti menghukumi anak-anak nakal.


Pasukan Pengawal Bunga benar-benar diberi pertunjukan mahal. Mereka hanya bisa terkagum-kagum melihat si mungil cantik jelita beraksi serius, meski lawannya memiliki kesaktian di bawahnya.


Bluar! Blar!


Sambil memiringkan tubuhnya menghindari satu sinar hijau, Sandaria mengadu ujung tongkat birunya dengan satu sinar lainnya. Ledakan tenaga sakti terjadi yang membuat Sandaria terjajar dua tindak tanpa mengalami luka dalam atau luar.


Sementara Siluman Bayang Seribu yang dalam posisi berlari, langsung terpental agak menyamping dan jatuh di bawah pepohonan bambu.


Sementara satu sinar hijau lainnya meledak di tanah.


Siluman Bayang Seribu bangun dengan dada terasa sesak.


Seperti orang yang indera penglihatannya normal, Sandaria tiba-tiba berlari cepat kepada Siluman Bayang Seribu.


“Waw!” pekik Hantam Buta melihat Sandaria yang menyerang Siluman Bayang Seribu bertubi-tubi dengan permainan tendangan yang begitu apik.


Meski sepasang kakinya kecil, tetapi kecepatan dan kekuatannya membuat Siluman Bayang Seribu terdesak dan kewalahan.

__ADS_1


Duk! Pak!


Pada puncak serangannya, Sandaria melakukan tendangan kapak yang datang dari atas ke bawah. Siluman Bayang Seribu yang terdesak hanya bisa mencoba menahan dengan silangan tangan di atas kepala.


Meski kepalanya selamat dari tumit Sandaria, tetapi tingginya tenaga tendangan itu memaksa Siluman Bayang Seribu terlutut di tanah. Lalu satu tendangan berputar mengibas menampar wajah kiri Siluman Bayang Seribu. Wanita berpakaian hitam itu terbanting keras ke samping kanan.


“Waaah! Gusti Permaisuri meniru gayaku!” pekik Sugigi Asmara kegirangan.


Memang gaya itu mirip dengan cara Sugigi Asmara melumpuhkan sesorang lawannya tadi. Setelah melakukan salto dengan tendangan kapak, membuat musuh terlutut, Sugigi Asmara mengeksekusi dengan kibasan kerisnya.


Saat bangkit dari jatuhnya, Siluman Bayang Seribu cepat melompat mundur menjauh.


Siluman Bayang Seribu lalu berdiri dengan sikap sempurna. Ia menghirup napas sedalam-dalamnya.


Sandaria bersiap, ia tahu bahwa musuhnya akan mengeluarkan ilmu pamungkasnya.


Ses ses ses…!


Bersamaan dengan menyala birunya sepasang mata Siluman Bayang Seribu, sosok bayangan sinar biru yang samar tanpa kaki melesat cepat dari dalam tubuh si wanita, langsung menyerang ke arah Sandaria.


Yang spesial pakai telor adalah bahwa bayangan sinar biru samar itu bukan hanya satu, tetapi banyak tanpa henti bersusulan, sehingga bayangan itu seperti sebarisan pasukan hantu.


Tuss! Ctar ctar ctar…!


“Akh!”


Tanpa mencoba untuk menghindar, Sandaria hanya menyambut serangan satu baris bayangan sinar biru berwujud orang itu dengan ilmu Tusuk Nyawa. Selarik sinar kuning lurus dan kecil menusuk bayangan sinar biru itu. Satu bayangan sinar biru yang terkena, akan menimbulkan ledakan nyaring.


Maka terjadilah ledakan yang ramai dan sangat rapat. Begitu bising suasana malam itu. Tahu-tahu Siluman Bayang Seribu menjerit ketika ujung sinar putih milik Sandaria menembus dada dan jantungnya.


Tamat sudah riwayat salah satu tokoh prajurit siluman Kerajaan Siluman. Dengan matinya Siluman Bayang Seribu, berarti anggota Siluman Sepuluh tinggal Siluman Tangan Seribu yang tersisa dan masih hidup.


“Yeee!” teriak Sandaria sambil menunjuk kepada rombongan para madunya.


Sementara itu, perkemahan habis semua dilalap api. Strategi jebakan yang diusulkan Permaisuri Yuo Kai tampaknya cukup mahal. Namun, itu disepakati oleh semua permaisuri. Mungkin mereka merasa sebagai istri-istri sultan, jadi rugi agak banyakan tidak masalah.


“Ambil kuda-kuda kalian! Kita lanjutkan perjalanan!” seru Tirana kepada Pasukan Pengawal Bunga.

__ADS_1


Tirana adalah permaisuri yang memimpin rombongan itu. (RH)


__ADS_2