
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
Dengan kesaktiannya, Dewi Geger Jagad membuat sebongkah batu berbentuk balok dari dinding penjara dasar jurang itu. Dengan kesaktiannya pula, Dewi Ara dapat mengetahui adanya sebuah lorong besar di balik salah satu dinding, seolah lorong itu memang sengaja dibuat sebagai jalan keluar.
Tentang adanya lorong besar, Dewi Geger Jagad sudah mengetahuinya sejak di hari ia terbangun. Namun, ia sengaja tidak menyinggungnya, ia memang ingin coba-coba hidup bersama Joko Tenang lebih dulu hingga kehamilannya jelas. Setelah itu, perubahan suasana antara ia dan Joko Tenang, membuatnya memutuskan hidup bersama di tempat itu hingga masa melahirkan. Ternyata, dalam proses hidup bersama itu, ia dan Joko Tenang semakin akrab dan cocok. Hingga akhirnya pertengkaran mereka terjadi.
Bluarr!
Atas permintaan Dewi Ara, Joko Tenang meninju satu titik pada dinding yang sebelumnya telah rusak oleh kekuatan Tinju Dewa Hijau. Namun, kali ini Joko Tenang menonjok dengan kekuatan kecil. Dinding itu hancur terbatas dan menciptakan sebuah lubang besar. Maka terlihatlah sebuah lorong besar yang gelap gulita tanpa penerangan.
Beberapa waktu sebelumnya, pertengkaran keduanya berakhir damai dengan mengalahnya Dewi Ara. Demi cintanya kepada bayinya dan demi cintanya kepada Joko Tenang, Dewi Ara mau menjadi istri Joko Tenang dan menjadi Dewi Bunga kedelapan dengan beberapa syarat. Syarat itu Joko Tenang terima meski dengan berat hati. Joko Tenang berpikir, mungkin hanya itulah jalan tengah yang bisa ditempuh.
Dewi Ara duduk bersila dengan menggendong Arda Handara. Joko Tenang duduk bersila di belakang calon istrinya.
Batu yang bukan jenis bercahaya itu lalu naik perlahan melayang di udara.
“Pegangan yang kuat!” kata Dewi Ara kepada Joko Tenang.
Joko Tenang lalu memeluk pinggang Dewi Ara dengan kuat, membuat wanita cantik itu mendelik indah. Namun, ketika batu berbentuk balok besar itu melesat terbang, kecepatannya biasa-biasa saja, hanya tiga puluh kilometer per jam.
“Aku pikir akan sekencang angin,” ucap Joko Tenang kecewa.
“Hihihi!” tawa pelan Dewi Ara. Ia kini tampil dengan pakaian hitam-hitam dan rambutnya terurai tanpa kepangan.
Joko Tenang lalu menarik kembali tangannya agar lepas dari perut dan pinggang Dewi Ara. Namun, giliran Joko Tenang yang mendelik dan gerakan tangannya terhenti. Tangan kiri Dewi Ara ternyata dengan cepat memegang tangan Joko, lalu kembali menariknya agar memeluk.
Joko Tenang hanya tersenyum bahagia, bukan tersenyum genit. Namun, tidak ada komentar tentang situasi mesra itu. Meski Dewi Ara juga diam, tetapi dalam hatinya berbunga-bunga.
Batu terbang terus melesat di dalam kegelapan menyusuri lorong. Meski gelap gulita, tetapi keduanya dapat mengetahui bahwa trek lorong batu itu menanjak tajam. Entah siapa yang bisa membuat lubang dalam batu sebesar dan sepanjang itu.
“Di antara istri-istrimu, siapa yang paling kau cintai, Joko?” tanya Dewi Ara membuka obrolan di dalam kegelapan itu.
“Semuanya sangat aku cintai dan mereka semua sangat mencintaiku,” jawab Joko Tenang.
“Aku tidak percaya jika tidak ada seorang pun dari istri-istrimu yang paling kau cintai,” kata Dewi Ara. “Berarti anak pertamamu adalah putra Ratu Getara Cinta?”
“Benar, jika semuanya baik-baik saja,” jawab Joko Tenang yang kini lebih merapatkan badan depannya ke punggung calon istri ke sepuluhnya, bahkan ia meletakkan dagunya di bahu kanan Dewi Ara.
__ADS_1
“Aku berharap anak Ratu Getara adalah perempuan, sehingga tahta akan menjadi milik putraku yang berikutnya,” kata Dewi Ara, sudah memperlihatkan ambisinya.
“Ada sesuatu di depan,” kata Joko Tenang.
Keduanya melihat ada cahaya hijau nun jauh di depan, tetapi bukan seperti cahaya matahari. Cahaya itu membuat Dewi Ara mempercepat lesatan batu terbangnya.
Semakin dekat mereka terhadap sumber cahaya itu, maka semakin jelaslah bahwa cahaya itu adalah sebuah lapisan sinar hijau yang menjadi dinding buntu bagi lorong.
Fuf! Blar!
Tanpa harus menghentikan laju batu terbangnya, Dewi Ara melesatkan sinar merah sekecil biji jeruk. Ledakan tenaga terjadi yang menghancurkan dinding sinar hijau itu. Selanjutnya, penerbangan dalam bumi itu terus melesat menyusuri lorong yang sejenis.
“Apakah kau merasakan sesuatu yang berbeda, Joko?” tanya Dewi Ara.
“Iya. Udara yang kita hirup terasa lebih banyak,” jawab Joko Tenang. “Tapi untuk apa memasang dinding sinar seperti itu? Aku melihat tidak ada fungsinya.”
“Pasti itu dipasang oleh Dewa Kematian dan memiliki fungsi tertentu yang mungkin hanya dia yang tahu.
“Dewa Kematian pernah membunuhmu. Jika kau berniat bertarung kembali dengannya, bukankah kau kembali akan dikalahkan, Sayang? Terlebih kau sudah tertidur selama puluhan tahun. Tentunya Dewa Kematian memiliki kesaktian yang lebih tinggi. Mungkin pula dia sudah mempersiapkan diri untuk hari pertemuan nanti,” kata Joko Tenang.
“Perkataanmu ada benarnya, Joko. Kemungkinan besar aku akan kalah. Itu artinya aku tidak akan bisa membalas dendamku.”
“Menjadi Dewi Bunga mungkin jalan terbaik bagimu untuk membalas dendam. Mungkin kau sudah pernah merasakan kehebatan ilmu itu di tangan Dewa Kematian?”
Akibatnya, wajah dan bibir keduanya nyaris saling tempel. Buru-buru Dewi Ara mengembalikan wajahnya menghadap ke depan. Sambil tersenyum malu, Dewi Ara mendorongkan tangannya ke wajah Joko agar menjauh ke belakang. Joko Tenang hanya tersenyum diperlakukan seperti itu.
Penerbangan dalam bumi itu terus melesat menanjak. Sesekali lorong itu berbelok melengkung. Mereka tidak tahu akan dibawa ke mana pada akhirnya oleh lorong tersebut.
Namun, setelah melesat cukup lama, akhirnya mereka menemui jalan buntu. Batu terbang itu berhenti melesat. Dia mengambang di udara lorong. Di depan mereka ada dinding batu.
“Aku merasakan bahwa dinding ini begitu tebal. Mungkin Tinju Dewa Hijau-mu bisa menjebolnya, Joko,” kata Dewi Ara.
Joko Tenang lalu langsung melompat ke dinding ujung lorong.
Bumm!
Tinju Joko Tenang yang menyala hijau menghantam hancur dinding tersebut. Namun, masih ada dinding. Joko Tenang masih perlu menghancurkannya lagi lebih dalam.
Bumm!
__ADS_1
Dinding batu yang Joko tinju kembali hancur, tetapi masih ada lapisan dinding yang tersisa. Namun, harapan segera muncul, ada bias cahaya terang yang meresap masuk ke dalam lorong melalui retakan besar pada batu dinding.
“Siap menyerang!”
Tiba-tiba mereka berdua mendengar suara teriakan laki-laki yang berasal dari tempat jauh.
“Sepertinya di balik dinding ini sedang ada peperangan,” kata Joko Tenang kepada Dewi Ara.
“Satu kali lagi, Joko!” kata Dewi Ara.
Bluarr!
Joko Tenang kali ini melesatkan sinar hijau bayangan tinjunya ke dinding batu yang sudah retak besar.
“Seraaang!”
Bersamaan dengan hancurnya dinding pembuntu itu, cahaya menyilaukan segera membias masuk ke dalam lorong. Kebulan debu tebal tercipta di mulut lubang itu. Dan saat itu pula, terdengar ada teriakan komando yang kini lebih jelas terdengar.
Zezz zezz zezz…!
Joko Tenang dan Dewi Ara merasakan ada suara serangan. Namun, Dewi Ara berinisiatif melesat maju ke mulut lorong dengan batu terbangnya. Ia bangun berdiri dengan rambut panjangnya yang langsung berkibar tertiup angin kencang. Ia langsung memasang ilmu Perisai Dewi Merah karena melihat ada serangan.
Zing!
Seketika di depan tubuh Dewi Ara muncul lapisan sinar merah berbentuk bidang lingkaran yang menutupi mulut lorong. Ternyata dari arah depan melesat hujan sinar hijau yang jumlahnya puluhan.
Blar blar blar…!
Ledakan dahsyat beruntun terjadi memekakkan gendang telinga, ketika puluhan sinar hijau yang menargetku mulut lorong membentur ilmu perisai Dewi Ara.
“Oee oee…!”
Suara ledakan yang begitu bising tersebut membuat bayi dalam gendongan Dewi Ara menangis kencang, seolah merasakan rasa sakit pada dirinya.
“Tahan!” teriak seorang tua kencang.
Dewi Ara terkejut melihat pemandangan yang ada di depan bawahnya. Ia berdiri menghadap ke arah sebuah bukit. Di pinggang bukit, ada puluhan orang berpakaian putih-putih yang menghadap langsung kepadanya, seolah memang menantikan kedatangannya.
Di kaki bukit, ada ratusan orang yang mendongak memandang pula ke arah posisi Dewi Arah.
__ADS_1
Dewi Ara telah sampai di Perguruan Bukit Dalam pimpinan Ki Rawa Banggir alias Ganesa Putih.
Saat itu, Ki Rawa Banggir dan puluhan tokoh tua aliran putih sedang menyambut kedatangan rombongan tamu, yaitu para permaisuri dari Kerajaan Sanggana Kecil alias para istri Joko Tenang. (RH)