
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Pendekar Tanpa Nyawa, Bocah Kuas Hitam, Juragan Pedang Monyet, Nini Jarum Gaib, dan Gelak Bisu, berjalan cepat menuju gerbang utama Istana Siluman.
Di belakang mereka ada ribuan prajurit dari Pasukan Penjaga Istana dan Pasukan Pertahanan Benteng. Dua pasukan itu dipimpin langsung oleh Panglima Siluman Semanis Madu. Petinggi militer itu adalah seorang prajurit wanita yang masih muda lagi cantik. Warna kulitnya yang hitam sawo matang memang membuat cantiknya menjadi manis, tetapi belum ada yang pernah membuktikannya bahwa dia semanis madu.
Sejumlah pendekar sakti golongan hitam dan pasukan luar Istana itu, bergerak menuju ke dalam Istana setelah mendengar ada serangan dan pertarungan di dalam.
Gerakan pasukan itu benar-benar seperti hendak menggerebek dalam Istana.
Namun, sebelum barisan terdepan memasuki pintu besar Istana, berkelebat dua sosok wanita berpakaian putih-putih. Keduanya bergaya sama dan memiliki paras yang sama, karena keduanya kembar. Mereka adalah Kenang Hati dan Kenang Indah, berjuluk Siluman Satu Rupa.
Awalnya Siluman Satu Rupa diperintahkan oleh Permaisuri Sri Rahayu untuk pergi membantu Ratu Sri Mayang Sih, tetapi keduanya justru mendapat berita bahwa pasukan di luar Istana siap bergerak.
Setelah berunding kilat, keduanya mengambil keputusan alternatif. Karena melihat kubu Ratu Sri Mayang Sih banyak orang di Taman Batu, keduanya memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih penting.
Siluman Satu Rupa memutuskan untuk mempengaruhi para prajurit penjaga dalam Istana dengan menebar kabar provokasi.
“Pasukan Pertahanan Benteng akan menyerang ke dalam, jangan biarkan mereka masuk!”
Itu perintah Siluman Satu Rupa kepada para prajurit. Maka wajar jika ketika pasukan pimpinan Siluman Semanis Madu hendak masuk ke dalam Istana, ada tiga lapis barisan prajurit yang menutup pintu utama Istana, yang kini ada di belakang Siluman Satu Rupa.
“Berhenti!” seru Siluman Satu Rupa bersamaan.
Langkah Pendekar Tanpa Nyawa dan yang lainnya jadi berhenti.
Siluman Semanis Madu yang baru beberapa hari menjabat sebagai Panglima Pasukan Pertahanan Benteng, segera maju.
“Apa yang kau lakukan, Siluman Satu Rupa?!” bentak Siluman Semanis Madu.
Tiba-tiba seorang prajurit datang berlari dan berhenti di antara kedua pihak dan berteriak keras.
“Ratu Aninda Serunai sudah kalaaah!”
“Appa?!
Para pendekar golongan hilang terkejut bukan main. Bahkan Siluman Satu Rupa yang baru tahu dari teriakan prajuritu itu, juga terkejut.
“Bagaimana bisa, Ratu yang kesaktiannya tanpa tanding bisa dikalahkan?” ucap Bocah Kuas Hitam.
“Siapa yang mengalahkannya?” tanya Nini Jarum Gaib yang tidak segera terjawab.
“Siluman Satu Rupa, siapa yang mengalahkan Gusti Ratu Aninda Serunai?” tanya Siluman Semanis Madu.
“Gusti Prabu Dira, suami Putri Sri Rahayu!” jawab Kenang Hati lantang.
__ADS_1
“Apakah ada orang yang menyebutku?” tanya satu suara dari sisi dalam Istana.
Barisan prajurit yang menutupi pintu utama Istana segera membuka diri menciptakan jalan.
Dari dalam muncul melangkah pendekar sekaligus raja tersakti, Joko Tenang alias Prabu Dira Pratakarsa Diwana. Ia melangkah bersama dengan Permaisuri Sri Rahayu yang kondisinya kembali sehat bugar.
“Ratu Aninda Serunai telah tumbang! Kerajaan Siluman kini diduduki dan dikuasai oleh Ratu Sri Mayang Sih!” seru Sri Rahayu lantang dan bertenaga dalam tinggi, sehingga didengar oleh semua prajurit hingga ke benteng Istana.
“Tongkat Jengkal Dewa ada pada pemuda berbibir merah itu!” sebut Nini Jarum Gaib saat melihat Tongkat Jengkal Dewa yang terselip di sabuk Joko Tenang.
“Aku belum percaya kalian bisa mengalahkan orang tersakti di dunia jika aku belum membuktikannya!” kata Pendekar Tanpa Nyawa datar.
Nenek berbadan besar itu maju beberapa langkah ke hadapan Joko Tenang dan Sri Rahayu.
Joko Tenang pun maju beberapa langkah, meninggalkan istrinya tetap di belakang.
“Silakan buktikan, Tetua. Kini orang tersakti itu adalah aku. Tetua bisa mengerahkan ilmu tertinggi,” ujar Joko Tenang.
“Baik. Jika seranganku tidak bisa membunuhmu, maka inilah pertama kali aku dikalahkan, dan kau memang pendekar tersakti!” kata Pendekar Tanpa Nyawa. Ia lalu berteriak kepada semua orang, “Menjauhlah kalian semua!”
Bress!
Tiba-tiba tubuh si nenek di selimuti sinar biru gelap yang berpijar mengerikan. Semua pendekar dan prajurit yang ada di atas teras depan Istana itu segera mundur, memberi arena yang kosong dan lebih luas. Termasuk Sri Rahayu mundur dan berkumpul bersama Siluman Satu Rupa.
“Ilmu Hancur Sembilan Bulan!” sebut Juragan Pedang Monyet yang mengenal ilmu tersebut.
Zwesss!
Hentakan pertama ke atas memunculkan sembilan sinar kuning di atas posisi Joko Tenang. Posisinya mengurung dengan melayang. Joko Tenang tidak melakukan persiapan apa-apa, seolah sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi terhadap dirinya.
Bluarr!
Hentakan kedua ke bawah membuat kesembilan sinar kuning itu langsung berlesatan bersamaan menghantam raga Joko Tenang.
Sembilan ledakan dahsyat yang luar biasa terjadi menutupi tubuh Joko Tenang. Puluhan orang yang berada dalam radius jangkauan kekuatan ledakan itu, berpentalan, termasuk Sri Rahayu dan para pendekar lainnya.
Para prajurit yang posisinya paling dekat harus bernasib nahas. Mereka berjengkangan dengan kondisi terluka dalam, terlihat dari darah yang keluar lewat mulut-mulut mereka.
Kebulan debu kehancuran masih menutupi sosok Joko Tenang. Belum diketahui seperti apa nasibnya setelah dihujani Sembilan Bulan. Yang jelas, teras batu bertangga itu hancur lebur tanpa bentuk lagi. Tangga batu pun hancur berantakan.
Dan ketika debu sudah mulau menipis dan tertiup angin, bayangan sosok Joko Tenang terlihat masih berdiri di posisinya, meski ketinggiannya harus lebih turun ke bawah karena kubangan batu yang tercipta.
Sri Rahayu yang tegang bisa bernapas lega karena melihat suami tercintanya tetap utuh. Hasil itu jelas menunjukkan bahwa Joko Tenang kini kebal terhadap segala kesaktian.
Mendeliklah Pendekar Tanpa Nyawa melihat hasil dari serangannya. Sungguh, sedikit pun tidak melukai Joko Tenang.
“Hormat kami, Gusti Ratu Sri!” seru banyak prajurit di dalam Istana.
__ADS_1
Itu menunjukkan bahwa rombongan Raja Anjas telah hadir dalam kondisi selamat.
Tidak berapa lama, Raja Anjas dan Ratu Sri Mayang Sih muncul bersama para pendekarnya. Tidak ketinggalan sosok Raksasa Biru yang bertubuh paling besar dan tinggi.
“Pendekar Tanpa Nyawa! Hahaha!” teriak Petra Kelana sambil menunjuk si nenek berpakaian abu-abu, lalu tertawa senang. “Tidak aku sangka kita akan melepas rindu di sini!”
“Jaga mulutmu, Petra Kelana!” hardik Pendekar Tanpa Nyawa yang mengenal Pangeran Lidah Putih. Sebenarnya ia terkejut melihat keberadaan Petra Kelana di antara kelompok musuh, tetapi ia redam rasa terkejut itu.
“Hahaha! Aku jadi ingat kisah cinta kita yang penuh tantangan!” sahut Petra Kelana.
“Beruntung kita tidak bertemu lebih awal!” sahut Bidadari Wajah Kuning. Ia mengenal tiga tokoh golongan hitam yang berkesaktian paling tinggi dalam kelompok musuh.
Anjas lalu melompat turun ke dalam kubangan dan berdiri di sisi Joko Tenang.
“Kau tidak apa-apa, Joko?” tanya Anjas.
“Tidak, Ayahanda. Aku sudah menjadi orang tidak terkalahkan,” jawab Joko Tenang lirih.
“Baguslah!” ucap Anjas.
“Bagaimana, Tetua? Apakah kau masih memerlukan pembuktian bahwa aku bisa mengalahkanmu,” tanya Joko Tenang kepada Pendekar Tanpa Nyawa.
“Aku tidak perlu pembuktian lagi. Aku hanya ingin tahu nama orang yang aku hadapi sekarang ini,” kata Pendekar Tanpa Nyawa.
“Aku Prabu Dira Pratakarsa Diwana atau Joko Tenang. Aku adalah murid Ki Ageng Kunsa Pari dan Tiga Malaikat Kipas!” jawab Joko Tenang dan sengaja membawa nama kedua gurunya.
Mendelilklah para pendekar golongan hitam yang mengenal siapa adanya Ki Ageng Kunsa Pari dan Tiga Malaikat Kipas.
“Kau akan tahu siapa aku dari orang-orangmu. Aku akui, ini adalah kekalahan pertamaku,” ujar Pendekar Tanpa Nyawa.
Tiba-tiba….
“Kita diseraaang!”
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang prajurit dari jauh, yang datang dengan berkuda kencang.
“Kita diserang Pasukan Setaaan!” teriak prajurit itu lagi. (RH)
****************
NOVEL BARU
Semoga semua Readers selalu sehat. Om Rudi hari ini mulai merilis episode pertama novel baru berjudul DEWI DUA GIGI, seiring akan tamatnya 8 DEWI BUNGA SANGGANA sekitar sebulan ke depan.
Semoga Readers suka dan tetap mau menjadi Readers setia bagi Om Rudi. Thanks.
__ADS_1