8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 9: Pesan Gulung Lidah


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


“Ada yang aneh dengan Surina Asih,” kata Joko Tenang kepada Tirana usai meninggalkan Surina Asih.


“Karena dia takut kepada Kakang Prabu?” tanya Tirana.


“Salah satunya. Bagaimana aku tidak tersinggung, aku yang setampan ini, memiliki istri banyak yang semuanya secantik bidadari, tapi ketika dia melihatku, justru ketakutan seperti melihat setan hutan,” rutuk Joko Tenang.


“Hihihi!” tawa Tirana mendengar dumelan suaminya.


“Ada satu hal lagi. Kau ingat dia menyebut nama siapa saat mengusirku?” tanya Joko.


“Jika tidak salah, nama Ningsih,” jawab Tirana.


“Itu nama depan ibuku. Entah apakah memang namanya yang kebetulan sama, atau memang orang yang dimaksud Surina adalah sama?” kata Joko.


“Agar kita tidak menerka-nerka, lebih baik kita tanyakan kepada Surina,” kata Tirana.


“Lebih baik kita pergi ke rumah Demang, karena Surina adalah anaknya. Mereka juga pasti mengenal orang yang namanya Ningsih yang disebut Surina,” kata Joko.


Joko Tenang lalu menanyakan rumah kediaman Demang Yono Sumoto kepada warga. Setelah mendapat petunjuk, Joko dan Tirana berkuda mendatangi kediaman Demang.


Namun, di dalam perjalanan menuju kediaman Demang Yono, tiba-tiba Joko dan Tirana dikejutkan oleh seseorang yang muncul tiba-tiba.


“Bibi… Bibi…!” panggil seorang lelaki dari arah belakang lari kuda Joko dan Tirana.


Lari kuda yang tidak begitu kencang memang memungkinkan seseorang bisa mengejar kuda Joko dan Tirana. Pasangan suami istri itu menghentikan laju kudanya dan melihat siapa orang yang memanggil.


“Rasa-rasanya aku kenal suara itu,” kata Tirana sebelum melihat orang yang memanggil.


“Bidadari!” teriak seorang lelaki dengan girang, ketika Tirana memandang kepadanya. “Hahaha…! Tititi… tidak aku sangka, kikiki… kita akan bertemu di sisisi… sini!”


Joko Tenang dan Tirana hanya tersenyum lebar kepada lelaki gendut yang baru saja mengejar mereka.


Orang itu adalah seorang lelaki gemuk dan gendut. Ia mengenakan pakaian putih yang ketat, membuat lemak-lemak tubuhnya terlukis jelas.


“Kami pun tidak menyangka kau akan muncul di sini, Gulung Lidah,” kata Tirana seraya tersenyum gembira.


“Aku lalala… lama menunggumu, Bibi... Bidadari!” ujar lelaki gendut bernama Gulung Lidah itu. Ia berjuluk Siluman Gagap, salah seorang siluman bawahan Putri Sri Rahayu.


“Kau ada kepentingan denganku?” tanya Tirana, masih tersenyum karena baginya Gulung Lidah adalah sosok yang lucu, meski lelaki gendut itu tidak suka melucu.


“Tititi… tidak. Aku hanya ririri… rindu kepada Bibi… Bibi… Bidadari. Kekeke… kepentinganku adalah mememe… menunggu Jojojo….”


“Jodoh?” potong Joko Tenang, bemaksud menjahili Gulung Lidah.

__ADS_1


“Bububu… bukan! Mememe… menunggumu, Joko!” ralat Gulung Lidah.


Mendengar itu, Joko Tenang jadi menaikkan sepasang alisnya.


“Aku sesese… sempat khawatir bahwa kau akan dadada… datang bukan dengan Bibi… Bidadari, tetapi dengan istri yang lalala… lain. Sesese… sekarang aku bibibi… bisa lega, kau dadada… datang dengan Bibi… Bidadari. Hahaha!”


“Kau juga jatuh hati kepadaku?” tanya Joko Tenang.


“Sesese… sembarangan!” sentak Gulung Lidah mendelik kepada Joko. “Kau pipipi… pikir aku ini lelele… lelaki jadi-jadian?”


“Hahaha…!” tawa Joko dan Tirana.


“Cococo… coba kau lihat ke gunung di sana, Joko!” kata Gulung Lidah sambil menunjuk jauh.


Joko Tenang dan Tirana mengalihkan pandangannya ke arah tunjukan Gulung Lidah. Mereka melihat sebuah gunung yang memang mereka ketahui adalah wilayah Kerajaan Siluman. Di sana ada bagian gunung yang menjulang tinggi sampai menggapai awan.


“Bibi… Bidadari Asap Racun menunggumu di Pepepe… Penjara Menara Langit. Bidadari dipenjara oleh ayahnya. Bidadari mememe… menunggumu datang untuk membebaskannya!” ujar Gulung Lidah.


“Putri Sri Rahayu dipenjara di ujung atas sana?” tanya Joko, seakan penyampaian Gulung Lidah kurang jelas.


“Bebebe… benar. Bububu… bukankah kau punya bububu… burung?”


“Benar.”


“Baik, aku akan mengikuti saranmu, Gulung Lidah,” kata Joko. “Tapi aku harus ke rumah Demang dulu, ada urusan penting yang harus aku dahulukan.”


“Baik, tidak mamama… masalah. Yang penting tututu… tugasku sudah selesai. Aku juga sususu… sudah senang, akhirnya bisa bertemu Bibi… Bidadari. Hahaha!”


“Senang bertemu denganmu, Gulung Lidah,” kata Tirana pula.


“Aku papapa… pamit ya!” ucap Gulung Lidah sambil senyum-senyum memandang kepada Tirana. Ia mundur-mundur dan ….


Bsruk!


Satu kaki Gulung Lidah terperosok ke dalam sebuah lubang tanah yang berisi air. Namun, itu tidak membuatnya jatuh, tapi cukup membuat Joko Tenang dan Tirana tertawa sambil pergi bersama kudanya.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke kediaman Demang Yono Sumoto. Kedatangan Joko Tenang dan Tirana menjadi pusat perhatian beberapa prajurit yang berjaga di kediaman cukup besar itu.


“Kami ingin bertemu dengan Demang, Prajurit,” kata Joko Tenang setelah turun dari kudanya di depan gapura kecil gerbang pagar halaman.


“Tapi, Kisanak berdua siapa?” tanya prajurit penjaga pintu halaman.


“Aku Joko Tenang dan ini istriku Tirana. Kami pendekar pengembara, tetapi ada hal penting yang ingin kami tanyakan kepada Demang,” jawab Joko Tenang santun.


“Tunggu sebentar,” kata prajurit itu. Ia lalu pergi meninggalkan satu temannya tetap di tempat itu.

__ADS_1


Tampak agak jauh di teras rumah, seorang sosok tua menatap dengan tatapan yang serius. Ia berpakaian hitam dengan blangkon warna cokelat. Meski tua karena rambut dan kumisnya sudah berwarna putih, tetapi fisiknya masih terlihat cukup bugar.


“Siapa, Turigan?” tanya lelaki tua itu sebelum prajurit tersebut tiba kepadanya.


“Seorang pendekar bernama Joko Tenang dan istrinya, Gusti,” jawab prajurit yang bernama Turigan. “Katanya sih ada hal penting yang mau ditanyakan kepada Gusti.”


“Suruh masuk!” perintah lelaki tua yang adalah Demang Yono Sumoto adanya.


“Baik, Gusti.”


Turigan lalu kembali ke tempat tugasnya dan mempersilakan Joko dan Tirana masuk. Dua orang lelaki pembantu di kediaman itu segera mengambil alih kuda Joko.


Ketika Joko Tenang dan istrinya semakin dekat ke teras rumah, Demang Yono jadi kerutkan kening saat melihat jelas bibir merah tamunya. Seketika ia teringat dengan putrinya, yaitu Ningsih Dirama.


Mengingat kembali putri kesayangannya yang harus ia buang ke Hutan Angker 24 tahun lalu, memberi adukan emosi penyesalan di dalam dirinya. Namun, tidak mungkin ia bersedih di hadapan tamu.


“Mari, silakan masuk, Pendekar. Silakan duduk!” sambut Demang Yono Sumoto sambil terus memandangi wajah Joko Tenang.


“Terima kasih, Ki,” ucap Joko Tenang.


Di teras rumah besar itu tidak ada kursi, tetapi bagian terasnya bersih dan nyaman untuk duduk lesehan. Joko dan Tirana lalu duduk bersila di lantai teras dan menunggu tuan rumah juga ikut duduk.


“Marti!” panggil Demang Yono.


“Saya, Gusti!” sahut seorang wanita gemuk sambil datang kepada majikannya. Wanita gemuk itu hanya mengenakan pinjung hitam. Rambutnya sudah hampir memutih semua. Ia bernama Marti, abdi lama di keluarga Demang.


Marti mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa tamu yang datang.


Deg!


Terhentak jantung Marti saat ia melihat wajah Joko Tenang.


“Ambilkan minuman untuk tamuku!” perintah Demang Yono.


“I… iya, Ndoro!”  ucap Marti tiba-tiba gugup.


“Kenapa, Marti?” tanya Demang Yono heran melihat kegugupan Marti.


“Ti… tidak, Ndoro. Hehehe! Tamunya tampan dan cantik sekali,” kilah Marti.


“Sudah sana, buruan!” perintah Demang Yono.


“Iya, Ndoro!”


Marti lalu berbalik masuk. Ia berjalan tergesa-gesa, tapi bukan ke dapur, melainkan ke sebuah kamar. (RH)

__ADS_1


__ADS_2