8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
PCR 25: Mertua VS Menantu


__ADS_3

*Pelabuhan Cinta Ratu (PCR)*


 


Anjas melesat cepat ke arah Sri Rahayu seperti serangan awal tadi.


Tek! Press! Bluarr!


Pada jarak tertentu, tangan kiri Anjas melesatkan sebutir kerikil ke depan. Pada saat yang sama, Anjas mengerahkan ilmu Surya Langit Jagad di tangan kanannya. Sinar putih menyilaukan mata muncul bercokol di tangan kanannya.


“Surya Langit Jagad!” sebut Joko Tenang terkejut di atas atap, saat melihat ilmu yang sudah lama tidak ia lihat. Ilmu Surya Langit Jagat miliknya yang kini tersegel sudah tidak orisinil, karena kini berwarna hijau menyilaukan, bukan lagi putih menyilaukan seperti milik Anjas.


Melihat kemunculan ilmu Surya Langit Jagad, Sri Rahayu segera tahu bahwa ilmu itu sangat pamungkas, meski ia tidak tahu namanya. Sri Rahayu cepat memasang ilmu perisai tambahan pada dirinya.


Anjas melihat kerikilnya terpental balik seolah menghantam benda tidak terlihat di depan. Anjas langsung menyimpulkan bahwa dinding yang tadi ditabraknya ada. Maka tangan kanannya langsung menghantamkan ilmu Surya Langit Jagat pada Dinding Tanpa Wujud.


Ledakan dahsyat pun terjadi dengan kehancuran sinar putih menyilaukan di udara. Dinding Tanpa Wujud juga hancur dan lenyap.


Ternyata Anjas tidak khawatir bahwa kekuatan ilmu Surya Langit Jagad akan membunuh langsung Sri Rahayu.


Adu kekuatan sakti antara ilmu Surya Langit Jagad dengan Dinding Tanpa Wujud memberi efek keras terhadap Sri Rahayu.


Tubuh sang permaisuri yang sepenuhnya telah diselimuti oleh asap merah sebagai ilmu perisainya, terlempar jauh dan jatuh bergulingan di lantai pelataran. Sri Rahayu yang terluka, terlihat dari darah yang keluar dari celah bibirnya, segera bangkit dan menetralkan kembali fokus pandangannya.


Tahu-tahu sosok Anjas sudah sangat dekat dengannya, melancarkan serangan Tinju Pecah Karang bertubi-tubi. Serangan tiba-tiba itu masih sanggup dilayani oleh Sri Rahayu. Ia juga memiliki tingkat kecepatan yang tinggi.


Clap!


Tahu-tahu Sri Rahayu menghilang dari pandangan. Anjas langsung berbalik dan melesat kepada sesuatu. Benar saja, Sri Rahayu tahu-tahu muncul melayang di udara dengan tubuh sepinggang di selimuti asap merah.


Sess! Sess!


Kedatangan Anjas disambut oleh serangan asap-asap merah yang bergerak menyerang seperti lidah-lidah monster. Anjas tahu itu adalah asap beracun, karenanya ia langsung injak rem dengan pakem.


Wes wes wes…!


Anjas menggunakan pukulan berangin untuk membuyarkan asap-asap merah itu sebelum menyentuh tubuhnya. Ia tahu, asap itu beracun dan rasa panasnya terasa di kulit meski tidak tersentuh.


Sess sess! Bluar bluar!

__ADS_1


“Hukh!” keluh Anjas dan terpental terjengkang.


Tiba-tiba saja dari dalam gumpalan asap merah pada tubuh Sri Rahayu, melesat dua sinar merah berpijar dari ilmu Amarah Siluman. Serangan itu mengejutkan Anjas, terlebih jarak yang cukup dekat.


Anjas hanya bisa mengandalkan ilmu perisai Lapisan Pemelihara Nyawa. Meski kedua sinar merah berpijar itu meledak setengah depa dari tubuh Anjas, tetap saja Anjas terpental dan jatuh terjengkang. Beruntung dia tidak mengalami luka dalam.


Namun….


Sess sess! Bluar bluar!


Lagi-lagi dua sinar merah berpijar melesat dari atas, karena Sri Rahayu naik ke udara. Seperti pertarungan awal, Anjas kembali buru-buru melesat menjauh, membuat dua sinar itu menambah kehancuran pada lantai pelataran.


Namun, pihak Istana tidak perlu khawatir, sebab Istana kini punya para karyawan di bidang pemeliharaan aset, yang bisa bekerja cepat dalam memperbaiki berbagai kerusakan bangunan Istana.


Kembali ke pertarungan.


Tiba-tiba sosok Sri Rahayu hilang dari pandangan semua orang. Anjas segera sadar bahwa Sri Rahayu masuk ke alam anta beranta. Bukan hal sulit bagi Anjas untuk mendeteksi keberadaan Sri Rahayu, mungkin Anjas memiliki koneksi WiFi yang kuat.


Anjas lalu duduk bersila, bukan karena ngambek, tetapi untuk bersiaga dengan ilmu Jarum Neraka.


Sreet!


Anjas merentangkan kedua lengannya. Maka pada sekeliling tubuhnya muncul sinar-sinar merah berwujud jarum-jarum besar, kali ini Anjas mencetak ratusan Jarum Neraka. Jangan tanya di pabrik mana mencetaknya.


Srets! Trebs!


Anjas segera bertindak dengan mengayunkan kedua tangannya ke arah kanan atas. Maka separuh dari Jarum Neraka melesat cepat beramai-ramai ke kanan atas. Namun, pada jarak tertentu, semua jarum itu tertahan oleh sesuatu yang tidak tampak.


Press! Bluar!


Terlalu cepat Anjas membaca. Tahu-tahu dia sudah di depan sesuatu yang tidak terlihat itu, menghantamkan Surya Langit Jagad. Ledakan dahsyat terjadi.


Blukk!


Tiba-tiba di udara muncul sosok Sri Rahayu yang melesat jatuh ke lantai pelataran. Namun, Sri Rahayu cepat bangun. Tampak ada darah segar pada bibir bawahnya hingga melumuri dagu. Darah itu cepat ia seka dengan lengan bajunya.


Anjas kembali mendesak dengan kecepatan Bayang-Bayang Malaikat. Kali ini Sri Rahayu berinisiatif menyambut serangan mertuanya dengan adu serangan fisik langsung.


Sepasang telapak tangan Sri Rahayu bercahaya merah seperti batu pualam. Oh, para penonton harus kecewa. Mereka tidak bisa membaca gerakan pertarungan keduanya, terlebih jarak tonton yang sejauh kursi lapangan sepak bola. Pertarungan fisik itu terlalu cepat seperti setan kebirit.

__ADS_1


Adu kecepatan terjadi, saling serang, saling tangkis dan menghindari. Anjas yang untuk sementara kebal dari racun, tidak berani menangkis langsung telapak tangan Sri Rahayu. Ia hanya mengelak lalu menyerang balik. Jadi itu adalah pertarungan fisik yang terbatas.


Sebenarnya Anjas bisa melawan ilmu Telapak Pualam Merah Sri Rahayu dengan Jari Alam Kematian, tetapi ia tidak mau merusak fisik indah menantunya. Keunggulan kecepatan Bayang-Bayang Malaikat membuat Anjas tidak tersentuh.


Namun kemudian, Anjas melesat mundur.


Sreet! Seset!


Anjas merentangkan sepasang lengannya, menciptakan pasukan Jarum Neraka yang langsung dilesatkan menghujani Sri Rahayu.


Sri Rahayu menghindar dengan cara melejit naik ke udara. Seiring itu, mendadak muncul asap hitam pekat yang kemudian menyelimuti tubuh bawah permaisuri itu. Sementara pasukan Jarum Neraka hanya menyasar ruang kosong, lalu hilang dengan sendirinya.


Di atas udara sana, kini Sri Rahayu tampil mengerikan dengan asap hitamnya.


“Ilmu petir itu sangat berbahaya,” kata Tirana kepada Ratu Getara Cinta. Ia sudah pernah menyaksikan ilmu Petir Awan Hitam ketika membunuh Grayugantang yang berjuluk Malaikat Pedang Air. “Tapi aku yakin Gusti Mulia memiliki kesaktian yang begitu tinggi.”


“Permasalahan ini benar-benar rumit, tetapi bisa diberi peluang untuk diselesaikan dengan keputusan Hakim Agung,” kata Ratu Getara Cinta.


“Aku berani memutuskan pertarungan ini karena aku bisa merasakan tingkat kesaktian Raja Anjas. Namun, yang harus diwaspadai oleh Raja Anjas adalah kesaktian Mutiara Ratu Panah,” kata Nara dengan wajah konsisten mengarah ke arah pertarungan.


“Aku jadi penasaran dengan benda pusaka itu,” kata Kerling Sukma.


“Sepertinya aku perlu menambah ilmu baru untuk menyamakan kesaktianku dengan para permaisuri,” kata Kusuma Dewi pula.


“Kau menjadi yang terlemah karena kau terlambat berguru, Kusuma,” kata Nara. “Setelah perkara Jurang Lolongan usai, kau akan ajari beberapa ilmu yang lebih tinggi dari kesaktianmu saat ini.”


“Terima kasih, Permaisuri Nara,” ucap Kusuma Dewi.


Sri Rahayu yang melayang tinggi di udara, separuh tubuhnya diselimuti asap hitam pekat yang bergulung-gulung tidak buyar oleh angin hutan yang berembus. Yang mengerikan dari asap hitam itu adalah munculnya sesekali kilatan-kilatan listrik.


Anjas pun bersiaga.


Sreet! Seset…!


Anjas kembali mengeluarkan Jarum Neraka. Pasukan jarum sinar merah itu langsung dilesatkan ke atas.


Zerzz zerzz zerzz…!


Tiba-tiba dari dalam gumpulan besar asap hitam itu muncul melesat aliran petir-petir yang menghancurkan jarum-jarum sinar merah dalam waktu singkat.

__ADS_1


Zerzz zerzz zerzz…!


Setelah itu, petir-petir dari ilmu Petir Awan Hitam berlesatan menyerang Anjas. (RH)


__ADS_2