8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mata Batu 28: Giliran Prabu Menak Ujung


__ADS_3

*Maut di Tahta Baturaharja (Mata Batu)*


 


Pemberontakan di Istana Baturaharja telah selesai dengan tewasnya semua pemimpin pemberontak. Kini judulnya bukan lagi pemberontakan, tetapi mengambil hak konstitusi.


Matahari pagi mulai naik meninggi. Kekacauan yang terjadi di waktu subuh belum dirapikan. Siluman Gigi Biru yang sudah tunduk pada perintah Permaisuri Sandaria, diberi kewenangan untuk memobilisasi Pasukan Walang Kekek agar tidak melakukan perlawanan tambahan yang sia-sia. Jika ada pasukan yang mencoba melarikan diri dari Ibu Kota, mereka akan bertemu dengan pasukan Mahapati Turung Gali dan Senopati Batik Mida yang sedang menuju ke tempat itu.


Kedua punggawa sakti itu telah diperintahkan untuk membunuh pasukan apa pun yang muncul dari arah ibu kota Jayamata.


“Menak Ujung! Keluar, kau!” seru Pangeran Kubur ke arah Kaputren. Ia sudah tidak sabar untuk menuntut nyawa Keluarga Istana Baturaharja yang dibantai oleh Menak Ujung dan orang-orangnya.


“Tidak aku sangka ternyata kau masih hidup, Banggarin!” kata Prabu Menak Ujung sambil melangkah keluar dari Kaputren. Ia berpenampilan hijau gelap berpadu warna hitam dan kuning emas. Tangan kirinya sudah memegang sebuah keris warna biru gelap.


Bersama Menak Ujung keluar Jurig, anjing besar kesayangannya.


“Karena aku yang akan membalas kembali kematian semua keluargaku!” seru Pangeran Kubur.


“Hahaha…!” tawa Menak Ujung. Ia terus berjalan hingga berhenti tidak jauh dari pagar gaib miliknya.


Menak Ujung memandangi orang-orang yang ada di belakang Pangeran Kubur. 


“Hihihi!” tawa Sandraia sambil melambaikan tangan kepada Menak Ujung yang sedikit pun tidak membalasnya.


“Siapa wanita-wanita ini? Kesaktian yang terpancar terasa mengerikan dibanding para pemberontak itu,” pikir Menak Ujung dalam hati. Ia lalu beralih kepada Pangeran Kubur, “Aku sangat tahu, kau tidak akan bisa mengalahkan kesaktianku jika tidak mengandalkan orang lain, Banggarin. Anggap saja dirimu tidak ada. Jika kalian memang ingin merebut tahta Baturaharja, langsung saja turunkan orang paling sakti di antara kalian untuk menghadapiku. Aku tidak mau harus buang-buang tenaga berulang kali!”


“Itu artinya kau sudah siap untuk menyesal, Menak Ujung!” sahut Raja Akar Setan.


“Gusti Permaisuri, siapa yang kau perintahkan untuk menghadapi Raja Menak Ujung itu?” tanya Putri Sagiya kepada Permaisuri Yuo Kai.


“Adik Sandaria, bunuh Menak Ujung!” perintah Permaisuri Yuo Kai.


“Aaah!” pekik Sandaria girang sambil mengerutkan batang hidung mungilnya. Ia lalu buru-buru menghampiri Permaisuri Yuo Kai. Tangannya menggapa-gapai hendak meraih tangan Permaisuri Pertama.


Permaisuri Yuo Kai memberikan tangan kanannya kepada Sandaria. Sandaria buru-buru meraih tangan itu dan dan mencium punggung tangan madunya.


“Hihihi…!” tawa Putri Sagiya melihat tingkah Sandaria yang girang seperti bocah dapat hadiah permen gagang.


Sandaria lalu berjalan menuju depan Kaputren dengan gaya sedikit angkuh. Dagunya yang semanis ujung biji mangga matang itu sedikit diangkat.


“Kalian dua orang tua, serahkan urusan nyawa Menak Ujung kepada Sandaria imut!” kata Sandaria. “Ini perintah Permaisuri Pertama!”

__ADS_1


Tanpa berkomentar, Pangeran Kubur dan Raja Akar Setan berbalik mundur.


Kini berhadapanlah sosok besar nan garang Prabu Menak Ujung dengan Sandaria yang bertubuh kecil mungil dan indah, tetapi mengandung maut yang sangat berbahaya.


“Hihihi…!” tawa Sandaria kepada Menak Ujung. “Pasti kau sangat kesal melihatku, Ujung Menak!”


“Menak Ujung!” bentak Menak Ujung meralat, tampak ia sangat emosi kepada Sandaria. “Awalnya kau aku sambut dengan baik, kau membuatku tertawa, tapi pagi ini kau justru mau membunuhku!”


“Maafkan aku, Ujung, eh Menak Ujung. Sebenarnya hati lembutku tidak tega jika aku harus memukuli orang tua sepertimu. Tapi apa boleh buat, cerita kekejamanmu terlalu tidak bisa diterima!” kata Sandaria.


“Lalu apa yang akan kau lakukan, Permaisuri Sandaria?” tantang Menak Ujung.


“Aku memberimu pilihan. Apakah kau akan akan keluar sendiri dari kurunganmu, atau aku harus menghancurkan kurunganmu?” kata Sandaria.


“Hahaha! Aku tidak akan keluar dari Cangkang Dewaku. Aku ingin melihat, apa yang bisa kau lakukan untuk menghancurkan ilmu dahsyatku ini!” kata Menak Ujung.


“Baiklah, tapi sayang, kita tidak akan banyak bermain-main!” kata Sandaria.


Sandaria lalu melangkah mundur mengambil jarak. Selanjutnya, Sandaria melompat ke punggung Satria.


Mulailah Sandaria beraksi. Ia melukis sesuatu di udara menggunakan ujung tongkat birunya. Lukisan yang tercipta adalah diagram sinar kuning berbentuk lingkaran yang berdiri tegak. Di dalam lingkaran ada lingkaran-lingkaran kecil.


Sandaria lalu menusukkan tongkatnya kepada diagram.


Zeeeng!


Diagram itu tiba-tiba berputar cepat di tempat seperti mesin, menimbulkan suara desingan yang nyaring dan panjang. Putaran membuat diagram bersinar lebih kuning.


“Yee yee yee…!” teriak Sandaria begitu menikmati suasananya.


Terbelalak mereka semua melihat jenis ilmu yang tidak biasa itu. Menak Ujung yang awalnya bisa tenang, mendadak berdebar.


“Satu, dua, sepuluuuh!” teriak Sandaria kencang.


Zeng zeng zeng…!


Diagram sinar kuning itu menembakkan bola-bola sinar kuning tanpa henti. Daya tembaknya begitu cepat seperti senapan mesin.


Blar blar blar…!


Puluhan ledakan dahsyat terjadi menghancurkan pagar gaib Cangkang Dewa. Sementara Menak Ujung yang terkejut bukan alang kepalang, bingung harus berbuat apa hingga raganya hancur lebur tanpa bisa ke mana-mana.

__ADS_1


Bangunan Kaputren hancur lebur tidak berwujud seperti dihujani puluhan rudal. Siapa pun yang ada di dalam Kaputren dijamin mati.


“Selesai!” teriak Sandaria sambil menunjuk ke langit. Hidungnya mengerut, sementara ujung lidahnya menjulur ke samping dan sedikit digigit agar tidak seperti lidah anjing.


Permaisuri Yuo Kai, Putri Sagiya, Pangeran Kubur, dan Raja Akar Setan, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kedahsyatan ilmu Putaran Dewa Perang Sandaria.


“Hah, tidak seru. Padahal aku ingin sekali memukul kepala orang jahat itu!” gerutu Sandaria.


“Lalu di mana Menak Ujung, Gusti Permaisuri?” tanya Pangeran Kubur.


“Hahaha! Pertanyaan bodoh apa itu, Banggarin?!” hardik Raja Akar Setan.


“Hihihi!” tawa Sandaria. “Kau bisa punguti daging dan tulangnya, tapi jangan sampai tertukar dengan daging dan tulang anjingnya. Hihihi!”


Ramai dan padatnya ledakan sinar-sinar kuning membuat Pangeran Kubur tidak sempat melihat hancurnya tubuh Menak Ujung.


“Baturaharja sudah kita rebut, Menak Ujung sudah kita bunuh, apa yang akan kau lakukan, Prabu Banggarin?” tanya Putri Yuo Kai.


“Aku serahkan keputusan Kerajaan Baturaharja kepada Gusti Prabu Dira,” jawab Pangeran Kubur.


“Kita harus menunggu kedatangan Mahapati dan Senopati untuk merapikan Istana dan Ibu Kota. Saat ini Gusti Prabu sedang menikah, mungkin akan butuh waktu satu hari untuk menunggu kedatangan Prabu Dira,” kata Permaisuri Yuo Kai.


“Eh eh eh, Kakak Yuo Kai!” panggil Sandaria. “Kata Kakang Prabu, Kakak Yuo Kai pandai membuat teh ya?”


“Benar,” jawab Permaisuri Yuo Kai.


“Ayo, kita rayakan kemenangan dengan minum teh buatan Permaisuri Negeri Jang!” teriak Putri Sagiya.


“Prabu Banggarin, rebus air!” perintah Sandaria.


Mendeliklah Pangeran Kubur mendapat perintah merebus air.


“Hihihi…!” tawa Putri Sagiya.


“Hahaha!” tawa Raja Akar Setan.


“Apakah di Istana sebesar ini tidak ada abdi yang bisa memasak air?” tanya Pangeran Kubur.


“Abdi mana yang memilih bertahan di saat perang seperti ini?” timpal Raja Akar Setan.


Pangeran Prabu hanya terdiam. (RH)

__ADS_1


__ADS_2