
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Dua pisau terbang tanpa gagang melayang diam di udara, tepat sejangkauan dari wajah Siluman Gendut dan Sepa Maraga. Sekali maju saja pisau itu, maka tamatlah riwayat mereka berdua.
Keduanya tegang dengan jantung berdebar cepat. Beberapa butir keringat muncul di dahi keduanya. Tangan kanan Sepa Maraga masih kuat menggenggam gagang pedangnya.
Sementara di depan sana, sosok Permaisuri Yuo Kai berdiri dengan kecantikan jelitanya yang dingin.
Set! Tep!
“Akh!” jerit Sepa Maraga tinggi ketika satu dari pisau tanpa gagang itu melesat dan menancap di jidatnya.
Itu terjadi saat Sepa Maraga bergerak cepat mengibaskan pedangnya ke atas, bermaksud menepis pisau yang mengancam wajahnya. Namun, sebelum pedang itu mengenai target, pisau yang diserang lebih dulu melesat menancap di tengah jidatnya. Ia pun tumbang jatuh ke belakang.
Set! Tseb!
“Aaak!”
Siluman Gendut pun menjerit ketika ia melakukan gerakan untuk menyelamatkan wajahnya.
Saat Siluman Gendut bergerak, pisau terbang satunya langsung melesat ke arah wajah. Gerakan Siluman Gendut adalah memasang telapak tangan kirinya di depan wajahnya, sambil kepala gemuknya bergerak ke samping. Ia menjadikan tangan kirinya tumbal.
Pisau terbang itu langsung melesat maju dan menusuk telapak tangan Siluman Gendut yang menjadi perisai. Pisau menancap tembus di telapak tangan kiri. Meski demikian, Siluman Gendut bisa selamat dari kematian dan bisa menghindar.
Wuss! Zesss! Bluarr!
Dalam kondisi terluka dalam, Siluman Gendut masih berani mengerahkan pukulan mautnya dari tangan kanan. Sebuah sinar seperti komet hijau tapi samar, melesat dari tinju jarak jauh Siluman Gendut.
Yuo Kai yang sudah siap langsung menusukkan kedua tangannya yang menyatu, melepaskan ilmu Bidikan Mata Langit. Sinar putih yang nyaris tidak terlihat melesat ganas menghantam sinar hijau Siluman Gendut.
Ledakan dahsyat dari peraduan dua tenaga sakti yang berbeda tingkat terjadi. Yuo Kai terjajar dua tindak saja. Sementara Siluman Gendut terpental keras dan cukup jauh ke dekat tebing batu. Darah terlompat-lompat dalam batuknya.
Zesss! Boksr!
Sosok Yuo Kai sudah melompat naik ke udara sambil kembali melesatkan ilmu Bidikan Mata Langit. Sangat cepat sinar putih yang nyaris tidak terlihat itu menghantam dada Siluman Gendut. Dada orang yang doyan makan tersebut jebol sekaligus mengakhiri nyawanya.
“Kau begitu cantik dan berwibawa dengan menunggang anjing besar itu, Dewi!” kata Limarsih begitu senang, seolah melihat adiknya sudah meraih kesuksesan.
“Kau juga ikut ingin berebut pusaka di Gua Lolongan?” tanya Kusuma Dewi serius tanpa begitu mengindahkan pujian dan luka tangan kakaknya.
__ADS_1
“Guru yang ingin,” jawab Limarsih.
“Jangan lakukan, ini jebakan berbahaya yang dibuat oleh golongan hitam!” tandas Kusuma Dewi.
Sementara itu di pusat pertarungan yang mematung, kecuali Tirana dan Kudapaksa. Tirana bertanya kepada Datuk Kramat yang dipunggunginya. Sang datuk juga mematung.
“Siapa kau, Kek?”
“Aku Siluman Harimau Hitam,” jawab Datuk Kramat pelan dengan suara seraknya, kekuatan fisiknya mulai melemah.
“Apakah kau orang Kerajaan Siluman?” tanya Tirana.
“Bukan.”
“Lukamu terus mengeluarkan darah, Kek. Kenapa kau dikeroyok sedemikian banyak orang?” tanya Tirana yang berdiri bertolak punggung sambil menatap kepada Kudapaksa.
“Aku difitnah. Mereka menuduhku telah mendapatkan pusaka tanpa tanding yang aku sendiri tidak mengerti,” jawab Datuk Kramat.
“Rupanya perancang huru-hara ini menyebar fitnah dan kabar bohong di mana-mana, agar terjadi banyak pertarungan,” kata Tirana.
“Siapa orang yang memfitnahku itu?” tanya Datuk Kramat.
“Keparat terlalu! Rupanya Malaikat Dewa Raja Iblis berulah lagi! Grrr!” geram Datuk Kramat.
Tirana tidak berinisiatif untuk mengabarkan bahwa pemilik nama yang disebut Datuk Kramat sudah mati.
“Apakah kau menuju Jurang Lolongan, Kek?” tanya Tirana lagi sambil tetap memperhatikan keadaan.
“Benar. Apakah kalian juga?”
“Hanya suamiku dan istrinya yang pergi.”
“Hmm!” gumam Datuk Kramat memikirkan kalimat Tirana.
Tirana lalu berseru kepada para pengeroyok Datuk Kramat.
“Wahai, para pendekar dan para kisanak nisanak! Kalian telah termakan fitnah dan kabar bohong! Pertarungan yang kalian lakukan adalah sia-sia dan hanya akan membunuh diri sendiri!”
“Kau pasti bersekongkol dengan lelaki tua itu untuk menguasai pusaka tanpa tanding!” tukas Kudapaksa. “Suruh lelaki aneh itu menyerahkan pusaka tanpa tanding jika ingin pergi membawa nyawa!”
__ADS_1
“Nisanak! Jika kau tidak menginginkan pusaka itu, jangan ikut campur!” teriak Nenek Rambut merah dari posisi mematungnya.
“Aku tidak ingin banyak nyawa tidak bersalah yang menjadi korban kesia-siaan. Meski pusaka itu ada, sesakti apa pun kalian, kalian tidak akan bisa memilikinya. Kami tahu tentang pusaka yang kalian maksud, dan kami tahu siapa orang di balik jebakan besar ini!” seru Tirana lantang yang didengar oleh semua orang.
Para pendekar yang menjadi penonton akhirnya ramai sendiri mendengar pengungkapan itu. Namun, mereka terbelah sikap dan keyakinan.
Setelah mendengar seruan Tirana, Limarsih dengan gembira berkata kepada adiknya.
“Dewi, tadi malam aku bertemu dengan Joko Tenang. Dia sangat tampan, Dewi! Hihihi!”
“Aku harus mengingatkan Guru agar tidak terjebak dalam perebutan pusaka ini,” kata Kusuma Dewi sambil memandang kepada Nenek Rambut Merah. Ia mengabaikan perkataan Limarsih. Lalu katanya kepada Limarsih, “Oh iya, aku adalah istrinya Joko Tenang, jadi kau sebagai kakak ipar, tidak boleh menaruh hati kepada suamiku!”
“Hah!” desah kejut Limarsih.
Sementara Kusuma Dewi sudah berkelebat ke tengah persimpangan lalu berlari kecil ke hadapan Nenek Rambut Merah. Ia meninggalkan Limarsih yang masih ternganga, terbuai dalam keterkejutannya.
“Guru!” sebut Kusuma Dewi kepada Nenek Rambut Merah.
“Apa yang kau lakukan, Dewi?” tanya Nenek Rambut Merah dengan wajah asam, terbawa oleh kemarahan karena ia tidak bisa bergerak.
“Guru, kami tahu siapa orang-orang yang berada di balik keramaian kabar pusaka ini. Ini jebakan untuk membunuh para pendekar, terutama pendekar aliran putih. Aku harap Guru tidak terlibat!” ujar Kusuma Dewi kepada si nenek yang adalah gurunya juga.
Nenek Rambut Merah adalah orang yang telah menolong Kusuma Dewi, Limarsih, Parsuto, dan Curaina, ketika mereka jatuh ke dalam jurang berkabut tujuh tahun yang lalu. Kemudian mereka berempat dilepas. Nenek Rambut Merah tidak begitu peduli dengan jalan hidup keempat muridnya itu, apakah mau berbuat baik atau jahat.
“Orang Kerajaan Siluman telah memfitnah Siluman Harimau Hitam agar kalian saling bertarung dan mati. Pada kenyataannya, Siluman Harimau Hitam tidak tahu-menahu tentang pusaka itu!” kata Tirana lagi.
“Guru, aku sekarang menjadi seorang permaisuri. Aku dan permaisuri yang lain sedang dalam tugas untuk mencegah bencana ini terjadi,” kata Kusuma Dewi lembut.
“Kau sekarang menjadi permaisuri? Dari kelompok gerombolan, sekarang kau menjadi permaisuri?” tanya Nenek Rambut Merah sambil menatap tajam kepada Kusuma Dewi. Ia seakan sulit untuk percaya dengan kata-kata muridnya itu. Namun, jika melihat rombongan serigala itu, tidak menutup kemungkinan, meski tidak ada seorang pun prajurit yang terlihat, kecuali pasukan pendekar.
“Benar, Guru. Aku bertemu dengan kekasih lamaku yang adalah seorang raja muda,” jawab Kusuma Dewi seraya tersenyum.
“Baik! Aku dan Hantu Kaki Tiga akan berhenti, tapi hentikan ilmu patung ini!” teriak Nenek Rambut Merah.
“Baik. Jika kalian bersikeras mengharapkan pusaka itu, kami tidak bisa mencegah kalian untuk membuang nyawa di Gua Lolongan!” seru Tirana.
Wuss!
Tirana kembali melepaskan embusan angin halus ke segala arah. Mereka semua yang mematung, kembali bisa bergerak setelah diterpa angin tersebut. (RH)
__ADS_1