8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 32: Tongkat Jengkal Dewa


__ADS_3

*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


 


Nini Kuting adalah salah satu pendekar yang dulu berambisi memiliki pusaka Tongkat Jengkal Dewa. Dia salah satu orang di masa lalu yang pernah melihat kesaktian dan keganasan pusaka itu. Bahkan ia pernah melihat sesakti apa orang yang berhasil memiliki pusaka itu. Ia adalah pelaku sejarah petaka Tongkat Jengkal Dewa yang pernah membunuh ratusan pendekar putih dan hitam.


Ketika melihat benda merah berbentuk silinder sejengkal itu bekerja, ia langsung dapat mengenalinya.


Di saat para pendekar yang ada di seberang jurang berebutan ingin menyeberang ke mulut gua, ia cepat memperingatkan.


“Tahan! Jangan menyeberang!” teriak Nini Kuting yang masih berada di seberang. “Itu Tongkat Jengkal Dewa!”


“Apa? Tongkat Jengkal Dewa!”


Ramai terdengar suara terkejut orang-orang yang pernah mendengar cerita pusaka itu. Atau orang-orang yang pernah menjadi pelaku sejarah kelam pusaka tersebut.


“Memangnya kenapa kalau itu Tongkat Jengkal Dewa? Kalau kalian takut mati, dari awal kalian seharusnya tidak datang ke sini!” teriak seorang kakek botak yang tadi berhasil menyeberang balik dari seberang.


Kakek botak itu berjubah putih. Ia dikenal bernama Gundul Sejati. Memang dasarnya kepalanya sudah tidak bisa menumbuhkan rambut.


Gundul Sejati berjalan melewati para mayat hangus mendekati posisi Tongkat Jengkal Dewa.


Jerss!


Tangan kanan Gundul Sejati tiba-tiba diselimuti api berwarna biru. Rupanya dia ingin menjadikan ilmunya sebagai peredam keganasan pusaka yang seolah tanpa pemilik.


Ia yakin, ilmunya bisa menaklukkan kesaktian pusaka itu.


“Hahaha! Kalian jangan menyesal karena telah memberi aku kesempatan lebih dulu!” teriak Gundul Sejati.


“Kau akan mati, Gundul!” seru Nini Kuting memperingatkan dari seberang jurang. Meski ia adalah seorang alirang hitam, tetapi ia tidak tega melihat korban yang tewas sedemikian banyaknya.


“Peduli apa kau, Nini Kuting!” balas Gundul Sejati. “Kau mencoba mencegah semua orang untuk mendapatkan pusaka itu, supaya kau bisa menjadi orang pertama yang memilikinya. Aku tidak akan terpedaya!”


“Dan matilah kau, Gundul!” maki Nini Kuting.


Gundul Sejati lalu membungkuk untuk meraih benda pusaka di tanah tersebut.


Zerrzz…!


“Aaak…!” pekik Gundul Sejati panjang ketika tangannya meraih dan menggenggam Tongkal Jengkal Dewa, seiring munculnya aliran sinar merah yang menggurita menyengat si botak.


“Hihihi…!” tawa Ratu Puspa yang berlari kecil dengan riang mendekat ke posisi Gundul Sejati.


Tindakan wanita cantik berperawakan liar itu membuat orang-orang terkejut.


“Ratu Puspa!” sebut lirih Putri Manik Sari di seberang, ia kenal dengan Puspa, ratu liar yang sempat membuat onar di acara pesta makan Kerajaan Sanggana Kecil.


Puspa senang melihat Gundul Sejati kejang, yang menurutnya gaya badan yang artistik.


“Jangan mendekat, Nisanak!” teriak salah seorang pendekar mengingatkan.


Teriakan itu membuat Puspa yang tertawa jadi berhenti dan mendadak melotot garang. Ia berhenti dalam jarak yang masih aman dari Gundul Sejati yang tersengat.


“Setan Bugil! Siapa yang berani melarang Puspa? Maju sini! Biar Puspa garuk jadi kepala parut!” teriak Puspa marah sambil melotot ke posisi pendekar tadi.

__ADS_1


“Kelapa parut, Nisanak! Hahaha!” ralat pendekar yang lain, pembawaannya cukup santai.


“Wanita gila!” rutuk pendekar lain, tapi pelan.


Sementara Gundul Sejati sudah tumbang tanpa nyawa seiring lenyapnya sinar merah. Tongkat Jengkal Dewa yang digenggamnya jatuh pula ke lantai gua.


“Barang bagus, bagus buat jitak kepala ular! Hihihi!” ucap Puspa girang sambil berjingkrak mendekati Tongkat Jengkal Dewa. Ia membungkuk untuk memungut benda maut itu.


Yang menonton jadi tegang.


“Jangan disentuh!” teriak Abna Hadaya sambil melompat cepat menerkam tubuh Puspa dari samping.


Puspa terkejut saat tahu-tahu tubuhnya dipeluk seseorang dan mengajaknya berguling-guling menuju jurang. Namun, keduanya berhenti hanya sejangkauan dari bibir jurang. Posisi keduanya saling bertindihan ala Drama Korea. Puspa di bawah, si aki-aki di atas. Apes bagi Puspa dan menang banyak bagi Abna Hadaya. Tangan kiri Abna bertopang pada dada kanan Puspa, sedangkan bibir berkumisnya menempel di pipi kanan sang ratu.


“Hahahak…!”


Seketika ketegangan yang tercipta ambyar berganti tawa banyak pendekar.


Mendelik marah Puspa mendapati kondisinya.


“Berat, Kerbau!” maki Puspa yang memang tertindih badan besar.


Duk! Dak!


“Aaak!” pekik Abna Hadaya penuh klimaks ketika lutut kanan Puspa menghantam pangkal pahanya dengan keras.


“Hahaha…!” tawa para pendekar semakin keras.


Abna menganga lebar memperlihatkan rongga mulutnya yang penuh darah sisa luka dalamnya, wajahnya merah dengan urat bertonjolan tegang, sepasang matanya menangis dan memerah. Kantong azimatnya terasa hancur tanpa sedikit pun kenikmatan. Tubuhnya melengkung kesakitan di atas tubuh Puspa.


Apes bagi Abna Hadaya, tubuhnya jatuh tepat di bibir jurang, lalu tergeser sedikit dan jatuh.


“Akk!” jerit Abna Hadaya.


“Ki Renggut Jantung jatuh!” teriak seorang pendekar terkejut.


Namun, suara erangan Abna Hadaya tidak menjauh, tetap berada di dekat Puspa yang sudah berdiri.


“Hihihi!” tawa Puspa saat melihat ada lima jari tersangkut di tanah bibir jurang yang keras.


Puspa maju ke jurang untuk melongok. Ia melihat Abna Hadaya menggantung dengan wajah mendongak mengerenyit. Dengan posisi seperti itu, sebenarnya Abna bisa melompat naik, tetapi tenaganya hilang gegara pusat energinya dihakimi oleh lutut Puspa.


“Tarik aku, Nisanak Cantiiik!” teriak Abna Hadaya sambil menahan sakit, yang denyutannya luar biasa ke seluruh urat syaraf dan persendian.


“Hihihi! Puspa memang cantik,” ucap Puspa tertawa-tawa.


Dari luar gua berkelebat tiga sosok orang. Mereka mendarat di antara mayat yang bergelimpangan. Ketiga orang itu tidak lain adalah Nenek Rambut Merah, Setan Ngompol dan Hantu Kaki Tiga. Bau pesing menyengat seketika menerpa penciuman sebagian pendekar, tergantung arah angin.


“Cuih! Pesing kambing dari mana ini?!” maki seorang pendekar wanita yang menjadi konsumen dadakan aroma pesing Setan Ngompol.


“Setan Ngompol! Coba kau taklukkan pusaka itu, siapa tahu berjodoh!” teriak seorang pendekar tua yang tidak suka dengan Setan Ngompol karena seteru masa lalu.


“Apakah itu pusakanya?” tanya Hantu Kaki Tiga ketika melihat Tongkat Jengkal Dewa di tanah.


“Cepat ambil, Kang!” kata Setan Ngompol.

__ADS_1


“Jangan!” seru Nenek Rambut Merah. “Kita datang belakangan, tidak tahu apa yang terjadi. Jika mengambilnya tidak apa-apa, lalu kenapa orang sebanyak ini diam saja dan tidak berebut?”


Setan Ngompol dan Hantu Kaki Tiga melihat kembali ke sekitar. Semua mata tertuju kepada mereka bertiga yang baru datang, diselingi memandang keributan antara Puspa dan Abna Hadaya.


Di saat itu, tubuh Nini Kuting melesat terbang bersama tongkatnya yang melesat cepat. Ia mendarat di tengah-tengah gua depan.


“Puluhan tahun yang lalu, di saat kalian belum lahir atau masih ingusan, aku sudah memperebutkan pusaka itu. Beberapa pendekar tua di antara kalian juga demikian. Pusaka ini hanya akan membunuh kalian. Tidak ada orang yang bisa memilikinya kecuali pendekar yang berbibir merah!” teriak Nini Kuting.


“Aku berbibir merah!” teriak seorang pendekar wanita muda senang.


Ia dan dua pendekar wanita lainnya cepat bergerak bersamaan berebut memungut Tongkat Jengkal Dewa.


“Bodoh!” maki Nini Kuting keras melihat pergerakan ketiga wanita konyol lain ibu lain guru itu.


Zerrzz!


“Aaak…!”


Adegan kematian kembali terjadi. Tiga wanita berbibir merah gincu itu tersengat sinar merah dan mengejang.


Nenek Rambut Merah dan kedua saudara seperguruannya hanya mendelik memandangi kejadian di depan mata mereka. Meski dekat, tapi jarak mereka masih aman.


“Aku nasihati kalian semua!” teriak Nini Kuting lagi. “Jika kalian masih sayang nyawa, tinggalkan pusaka itu, abaikan kesaktiannya. Pulanglah!”


Terciptalah keriuhan seperti suasana pasar murah. Para pendekar itu jadi dilanda kebingungan, keraguan, kekecewaan, dan ketidakpercayaan.


“Meski aku sudah tua, tapi aku masih sayang nyawa,” kata Nini Kuting lalu melangkah pergi dengan langkah wajar, menerobosk kerumunan di mulut gua.


“Aku ikut kau, Nini Kuting!” teriak Abna Hadaya yang sudah naik karena ditarik oleh Puspa.


“Puspa ikut Kerbau Ganteng! Hihihi!” kata Puspa pula lalu sambil tertawa-tawa berjalan mengikuti langkah Abna Hadaya yang berjalan terpincang.


Sejenak Abna Hadaya mencari keberadaan Domba Hidung Merah, tetapi ia tidak menemukannya. Tampaknya kakek saingan cintanya itu sudah pergi.


“Apa yang harus kita lakukan, Kakang?” tanya Setan Ngompol kepada Hantu Kaki Tiga sebagai kakak seperguruan.


“Kita mundur dulu untuk melihat perkembangannya!” kata Hantu Kaki Tiga.


Mereka bertiga pun berbalik untuk mengambil posisi menjauhi posisi pusaka, yang baru saja membunuh tiga orang wanita muda.


Para pendekar yang ada di seberang mulai berlompatan menyeberang kembali, membuat ruangan gua depan itu semakin padat.


Namun seiring itu, orang-orang yang meyakini perkataan Nini Kuting, mulai meninggalkan gua satu demi satu membawa kekecewaan.


“Jauhi pusaka itu!” teriak seorang nenek tiba-tiba sambil melesat masuk ke gua lewat atas.


Cruk!


Si nenek tidak mendarat, ia menancapkan tongkat bambunya pada dinding bagian atas gua. Ia lalu berdiri enteng di atas batang tongkatnya dan menatap ke bawah, kepada khalayak ramai. Nenek itu adalah Emping Panaswati, salah seorang anggota keluarga besar pewaris pusaka Tongkat Jengkal Dewa.


“Pusaka itu sangat berbahaya, jangan coba-coba mendekatinya!” seru Emping Panaswati. “Aku adalah Nenek Tongkat Lentur, nenek buyut dari pewaris sah pusaka itu!”


Mendengar itu, gegerlah para pendekar.


“Beri jalan, beri jalan! Orang cantik mau lewat!” kata Ki Ageng Kunda Poyo yang di belakangnya berjalan Dewi Bayang Kematian. (RH)

__ADS_1


__ADS_2