
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
Setelah menghancurkan Topeng Satu dari Lima Siluman Topeng, Permaisuri Kerling Sukma selanjutnya dikeroyok oleh Topeng Dua dan Topeng Tiga.
Chang Chi Men berhadapan dengan Topeng Empat dan Topeng Lima melawan Bo Fei. Reksa Dipa melawan Siluman Seratus Rupa. Surya Kasyara berduet dengan Sugigi Asmara melawan Si Tinju Api.
Sekarembun melawan Siluman Bola Kilat. Semai Lena melawan Siluman Cemeti Kutuk.
Sementara Pengawal Bunga lainnya, yaitu Nyi Mut, Tangpa Sanding, Legam Pora, Sebilah Rengkuh, Sumi, Gebuk Bertabuh, Gemara, Hantam Buta, Lintang Salaksa, dan Warok Genang, bertarung dalam pengeroyokan lawan.
Dewi Bayang Kematian ternyata memutuskan untuk membantu Pasukan Pengawal Bunga. Ia terlibat dalam pengatasi anggota Kelompok Tinju Dewa dan Kelompok Jago Sodok. Para lelaki itu pun semakin bersemangat mengeroyok sang dewi.
“Kau mengambil pusaka yang bukan milikmu, Nisanak!” kata Murai Manikam.
“Oh ya? Lalu siapa pemilik pusaka ini jika bukan aku? Kau lihat, aku tidak mati di tangan pusaka ini!” kata Putri Aninda Serunai seraya tersenyum sinis.
“Pusaka itu adalah hak suami kami, kakakmu sendiri, Aninda!” sahut Permaisuri Sri Rahayu.
Agak mendelik sepasang mata Murai Manikam mendengar kata “suami kami”. Ia memang belum mengenal orang-orang cantik itu.
“Pusaka itu telah diwariskan oleh Putri Bibir Merah kepada Joko Tenang, murid Ki Ageng Kunsa Pari, bukan dirimu, Nisanak!” tandas Murai Manikam.
“Dan Joko Tenang adalah suami kami sekaligus kakakmu, putra tertua Ningsih Dirama!” tandas Tirana pula.
“Apa?!” kejut Aninda Serunai.
“Apakah kau tidak tahu bahwa aku menikahi kakakmu?” tanya Sri Rahayu.
“Aku tidak peduli!” teriak Aninda Serunai tiba-tiba marah. “Aku tidak peduli kau menikah dengan siapa, Sri Rahayu! Aku tidak peduli pusaka ini milik siapa! Jika kalian tidak suka, maka rebutlah pusaka ini!”
Zerrzz…!
Blar blar blar…!
Aninda Serunai kembali menghentakkan tangan kanannya yang memegang Tongkat Jengkal Dewa. Enam larik sinar merah seperti listrik melesat menyerang keenam wanita cantik itu.
Kecuali Permaisuri Tirana, wanita cantik lainnya harus menghindar dengan cepat, karena serangan sinar merah itu terhitung sangat cepat.
Nyaris saja bagi Kusuma Dewi tersambar oleh sinar itu. Ia menghindar melompat ke samping. Saking terburu-burunya dia sampai menabrak dinding gua.
Lima ledakan terjadi kembali melubangi dinding gua. Sementara satu sinar tidak dihindari oleh Tirana. Ia membiarkan aliran sinar pusaka itu mengenai ilmu perisainya yang bernama Kulit Dewi Gaib.
__ADS_1
Aliran sinar merah itu langsung menjerat seluruh lapisan Kulit Dewi Gaib dan terus menyengat tanpa putus. Hal itu mengejutkan Tirana, sebab ia merasakan bahwa sinar itu bisa saja menjebol ilmu perisainya jika dibiarkan terus menyengat.
Melihat keadaan Tirana, Sri Rahayu cepat bertindak.
Sess sess! Bluar bluar!
Sri Rahayu melesatkan dua sinar merah berpijar langsung kepada adik tirinya. Laksana ilmu tanpa isi, kedua sinar itu hanya meledak nyaring saat mengahantam tubuh Aninda Serunai. Namun, itu tidak membuat Aninda terluka sedikit pun atau terdorong mundur. Bahkan kain pakaiannya tidak ada yang rusak. Padahal ilmu Amarah Siluman Sri Rahayu bertenaga besar.
Meski demikian, itu membuat serangan sinar merah dari Tongkat Jengkal Dewa terputus. Dengan demikian, ilmu perisai Kulit Dewi Gaib dan Tirana dapat selamat.
“Kusuma Dewi, kau harus keluar, bantu di luar!” perintah Tirana yang menilai tingkat kesaktian Kusuma Dewi akan sulit menghadapi kecepatan serang Tongkat Jengkal Dewa.
“Baik!” sahut Kusuma Dewi patuh. Ia segera berkelebat ke luar dan memilih lawan.
“Serang bersama!” teriak Tirana lagi.
Wess! Tuss! Zesss! Sess! Ziing!
Secara bersamaan, keempat permaisuri dan Murai Manikam melakukan serangan dengan ilmu sakti mereka masing-masing.
Sri Rahayu menerbangkan segumpal asap merah tebal. Sandaria melesatkan segaris sinar kuning dari ilmu Tusuk Nyawa. Yuo Kai melesatkan sinar putih samar dari ilmu Bidikan Mata Langit. Tirana melesatkan Bola Kulit Langit, yaitu bola sinar berwarna biru.
Sementara Murai Manikam melesatkan sinar kuning menyilaukan sebesar kepala orang dari ilmu Bulan Kiamat, salah satu ilmu tertingginya.
Bluar! Bduar! Bluomm…!
Namun, guncangan pada mulut gua hingga gua seberang jurang sangat terasa. Rompalan-rompalan dari langit-langit gua juga berguguran. Angin keras yang tercipta dari ledakan serentak itu bertiup kencang hingga ke luar gua dan ke atas jurang.
“Hihihi…!” tawa Aninda Serunai penuh kesenangan melihat dirinya sedikit pun tidak mengalami cedera, hanya rambut dan kain pakaiannya yang berkibar oleh daya ledak itu. Ia lalu berteriak keras, “Apakah kalian masih belum percaya? Ayo, keluarkan semua kesaktian kalian yang paling hebat! Sebelum aku membunuh kalian semua!”
“Lebih baik kalian mundur. Dia tidak akan bisa dicederai!” seru Murai Manikam kepada para istri Joko Tenang.
“Tidak, kami harus bertahan hingga suami kami tiba!” bantah Tirana. Namun, kemudian perintahnya, “Keluar semua!”
Yuo Kai, Sandaria, Sri Rahayu, dan Murai Manikam segera melesat ke luar gua, tetapi tidak Tirana.
Pada kedua tangan Tirana telah bercokol bola sinar yang memiliki dua warna, yaitu hijau dan kuning.
Brossrr!
Sambil melompat ke atas, Tirana melesatkan ilmu Bola Dua Maut-nya. Ilmu bertenaga sakti lebih tinggi dari ilmu Bola Kulit Langit itu menghantam tubuh Aninda Serunai bersamaan, membuat daya rusaknya dua kali lipat.
Dinding dan lantai gua di belakang Aninda Serunai hancur dahsyat, menciptakan lubang besar dan kabut debu. Namun, tetap saja Aninda Serunai utuh di tempat berdirinya.
__ADS_1
Zerrzz!
Kali ini Aninda Serunai membalas melesatkan aliran sinar merah kepada Tirana yang masih berada di udara.
“Permaisuri Tirana!” teriak Putri Manik Sari dari seberang. Ia cemas melihat posisi Tirana di udara. Meski Tirana adalah permaisuri dari kerajaan yang membunuh ayahnya, tetapi ia tidak membenci permaisuri yang dinilainya baik hati itu.
Bress!
Tirana tahu bahwa posisinya di udara akan sangat membuatnya dalam bahaya, tetapi ia sudah perhitungkan untuk mencoba cara lama, yaitu menggunakan jasa ilmu Lorong Laba-Laba.
Tirana menyambut ujung sinar merah itu dengan membentang sinar merah berwujud jaring laba-laba. Ternyata sinar merah dari Tongkat Jengkal Dewa masuk ke dalam sinar jaring laba-laba.
Aninda Serunai mendelik melihat sinar pusakanya bisa ditangkal. Lega pula Putri Manik Sari yang ada di seberang jurang.
Bress! Zerrzz!
Tiba-tiba di udara, tepatnya di sisi kanan Aninda Serunai, muncul sinar merah jaring laba-laba yang sama, yang dari dalamnya melesat keluar aliran sinar merah dari Tongkat Jengkal Dewa. Sinar itu langsung mengenai kepala Aninda Serunai. Namun, sinar itu tidak menyetrum Aninda Serunai, hilang begitu saja.
“Hihihi…!” tawa kencang Aninda Serunai melihat upaya Tirana yang dianggapnya lucu.
Tiba-tiba Aninda Serunai berkelebat, bukan menyerang Tirana, tetapi berdiri di tengah-tengah mulut gua dan menghadap ke arah Tirana, seolah tidak ingin membiarkan Tirana pergi ke luar gua.
Zerrzz! Tek!
Aninda Serunai menghentakkan tangan kanannya yang memegang Tongkat Jengkal Dewa. Satu aliran sinar merah kembali melesat tanpa putus menyerang Tirana. Permaisuri Kedua itu bergerak cepat ke samping, menghindari sinar listrik yang terus melesat dan menyengat dinding udara di atas jurang.
Pada saat yang sama, dari belakang, Kusuma Dewi melesat membokong Aninda Serunai. Ia menusukkan samurainya ke punggung Aninda Serunai. Namun, sedikit pun ujung pedang Kusuma Dewi tidak masuk menembus kulit Aninda Serunai.
Blamm! Wuss!
Dari dalam tubuh Aninda Serunai meledak tenaga sakti tanpa wujud ke segala arah, menghantam tubuh Kusuma Dewi. Permaisuri Ketujuh itu terpental jauh ke belakang sambil menyemburkan darah melalui mulut.
Ilmu Letupan Bunga Matahari itu bukan ilmu biasa-biasa saja untuk mengusir gerombolan lelaki nakal, tetapi kesaktian tingkat tinggi yang dimiliki oleh Aninda.
Sementara untuk Tirana, Aninda Serunai menghentakkan lengan kirinya. Angin dahsyat yang menderu laksana badai maut tercipta dan berembus memenuhi ruang gua menuju ruang terbuka di atas jurang.
Tirana yang tetap mengandalkan ilmu perisainya, tidak bisa menghindar. Namun, ia harus terkejut, karena angin dari ilmu Badai Istana Siluman itu mampu menerbangkan tubuh Tirana.
“Permaisuri Tiranaaa!” teriak Putri Manik Sari lagi, saat melihat tubuh Tirana diterbangkan ke atas jurang lalu meluncur jatuh.
“Tiranaaa!” teriak Yuo Kai pula yang bisa melihat dari luar gua.
“Permaisuri Tiranaaa!” jerit Sandaria pula yang bisa merasakan apa yang dialami oleh madunya.
__ADS_1
Semua permaisuri dan Murai Manikam terkejut.
“Hihihi…!” tawa Aninda Serunai sambil berbalik menghadap ke arah luar gua, ke arah para permaisuri yang lain. (RH)