8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
BMP 11: Membebaskan Kekasih


__ADS_3

*Bibir Merah Pendekar (BMP)*


 


Setelah berbincang sebentar sebagai satu keluarga, Joko Tenang dan Tirana berpamitan untuk pergi. Joko Tenang tidak menyebutkan bahwa mereka akan pergi ke Kerajaan Siluman. Sebelum berpisah, Tirana masih sempat memberi kecupan kasih sayang kepada neneknya Joko dengan Kecupan Malaikat. Hal itu memberi pengaruh baik kepada kaki Rumih Riya yang lumpuh.


Joko Tenang dan Tirana berkuda kencang menuju ke daerah yang jauh dari permukiman. Ada satu hal yang akan dilakukan oleh Joko Tenang di tempat sepi itu, jelaasnya bukan ronde keempat untuk Tirana.


Fuuut…!


Joko Tenang meniup peluit bambu pemberian Resi Putih Jiwa, kencang dan panjang.


Kaaak!


Ternyata mereka butuh lima belas hitungan untuk bisa mendengar suara koakan Gimba di langit. Gimba muncul di langit. Ia melesat cepat laksana jet tempur F-16.


Sebentar saja, angin kepakan Gimba sudah menerpa kencang tubuh Joko dan Tirana. Belum lagi Gimba mendaratkan kakinya ke tanah, tubuh Joko Tenang dan Tirana sudah melompat tinggi ke udara lalu mendarat halus di punggung Gimba.


Gimba pun langsung terbang naik. Joko dan Tirana tidak pakai duduk lagi, mereka tetap berdiri laksana dua orang pendekar sakti yang menantang angin dan alam luas. Dada dan kepala mereka sedang diisi semangat perjuangan untuk membebaskan orang tercintanya.


“Naik ke puncak tertinggi gunung itu, Gimba!” teriak Joko Tenang.


Kaaak!


Gimba berkoak mengiyakan.


Sementara itu di Penjara Atap Langit.


Penjara Atap Langit adalah sebuah ruangan batu kecil. Di dalamnya ada satu dipan batu, satu meja batu dan satu kursi batu. Di atas meja ada sebuah kendi dan sebuah gelas. Namun, ruangan itu tidak memiliki satu dinding. Dindingnya adalah udara terbuka yang bisa melihat bebas ke alam lepas. Jika melompat keluar melalui jalan itu, maka akan jatuh ke bawah yang dasarnya tidak terlihat karena begitu jauhnya.


Di atas dipan batu duduk bersila seorang gadis cantik jelita berpakaian serba merah terang. Ia tidak lain adalah Putri Sri Rahayu. Ruangan itu dipenuhi oleh aroma bunga mawar nan lembut yang bersumber dari tubuh Putri Sri Rahayu.


Putri Sri Rahayu duduk bersemadi di atas dipan dengan sepasang mata yang terpejam. Meski dalam kondisi dipenjara, tetapi Putri Sri Rahayu dapat bersemadi dan berlatih meningkatkan ketinggian tenaga saktinya.


Sudah beberapa pekan lamanya Putri Sri Rahayu dipenjara, sejak kepulangannya dari Perguruan Tiga Tapak. Ia dianggap bersalah karena jatuh cinta kepada seorang pendekar aliran putih. Hal itu sangat bertentangan dengan prinsip ayah dan kerajaannya.


Kaaak!


Tiba-tiba pendengaran Putri Sri Rahayu mendengar suara koakan burung di kejauhan. Seketika matanya terbuka.

__ADS_1


“Kakang Joko!” sebutnya pelan.


Ia lalu turun dari dipan batunya dan beranjak berdiri menghadap ke alam luas. Di depannya ada sebuah dinding gaib yang tidak terlihat. Meski sisi ruangan itu terlihat terbuka, tetapi itu tidak bisa ditembus.


Wess!


Tiba-tiba sesuatu yang sangat besar lewat di depan mata Putri Sri Rahayu, tepatnya lewat di depan jendela berdinding gaib itu. Sesuatu besar itu sempat menutupi lubang besar ruangan penjara tersebut.


Sesuatu yang besar itu tidak lain adalah Gimba yang terbang memutari Menara Langit yang tinggi menjulang seolah ingin menyentuh langit. Gerakan terbang memutari sisi luar Menara Langit bertujuan mencari letak penjara tempat Putri Sri Rahayu dikurung.


Putri Sri Rahayu yang sebelumnya pernah melihat Gimba dari jauh, yakin bahwa itu adalah burungnya Joko Tenang yang perkasa.


Putri Sri Rahayu berdiri menunggu untuk beberapa lama.


Tiba-tiba, tepat di depan lubang itu muncul seekor burung rajawali raksasa berbulu kuning kecokelatan yang terbang melayang di tempat. Kemunculan burung raksasa yang bermata tajam itu mengejutkan Putri Sri Rahayu.


Gimba harus mengepakkan sayapnya agar bisa bertahan melayang pada ketinggian itu. Putri Sri Rahayu melihat di atas kepala Gimba berdiri gagah sosok Joko Tenang yang tersenyum kepadanya. Ia pun melihat keberadaan Tirana yang berdiri di punggung Gimba.


Sebenarnya Putri Sri Rahayu tidak menyangka Joko akan datang lewat udara. Ia menyangka Joko akan lewat pintu dan tangga, lalu bertarung dengan banyak pendekar siluman prajurit Kerajaan yang berjaga.


“Putri! Apakah kau bisa mendengarku?!” teriak Joko Tenang mengandung tenaga dalam.


“Baik! Mundurlah!” sahut Joko Tenang. Joko lalu berteriak kepada Gimba, “Gimba! Bawa aku ke penjara itu!”


Kaaak!


Gimba berkoak lalu terbang berbelok dan menghilang dari pandangan Putri Sri Rahayu karena terbatasi oleh ruangan. Putri Sri Rahayu lalu mundur dan berdiri di sudut ruangan, menjauhi dinding gaib.


Gimba muncul lagi di depan sana, tetapi lebih jauh dan dalam Gerakan terbang dari jauh menuju ruang penjara. Joko Tenang yang berdiri di atas kepala burung, sudah memasang kuda-kuda dengan lutut agak di tekuk.


Pada jarak tertentu, Joko Tenang melompat jauh ke depan sebelum Gimba menabrak Menara batu itu. Gimba langsung berbelok saat Joko melompat.


Joss!


Saat melompat ke arah dinding gaib penjara, tangan kanan Joko berwarna hijau tanpa bersinar. Ia mengerahkan ilmu Tinju Dewa Hijau.


Buuum!


Joko Tenang menghantamkan tinju kanannya ke dinding gaib. Suara dentuman yang begitu keras terdengar bersamaan munculnya percikan sinar merah akibat hantaman itu. Menara itu bahkan terguncang sejenak.

__ADS_1


Suara dentuman keras itu mengejutkan para penghuni Kerajaan Siluman, termasuk Prabu Raga Sata yang sedang mendapat laporan bahwa ada kemunculan burung raksasa di wilayah udara Kerajaan.


“Senopati Siluman Jarum, periksa apa yang terjadi!” perintah Prabu Raga Sata kepada perwiranya.


“Baik, Gusti Prabu!” ucap lelaki bertubuh sedang dan berpakaian ungu. Lelaki berkumis berusia empat puluh lima tahu itu adalah Patih Siluman Jarum. Ia tidak terlihat menyandang senjata apa pun.


Kembali ke Penjara Menara Langit.


Joko Tenang mendarat di lantai penjara. Suasana sudah tenang. Putri Sri Rahayu tersenyum lebar memandang kepada Joko Tenang. Selama ia dipenjara, kedatangan Joko Tenang adalah hal yang sangat ia tunggu-tunggu.


“Putri Sri, aku sangat rindu kepadamu!” kata Joko Tenang begitu gembira lalu merangsek masuk hendak memeluk Putri Sri Rahayu.


“Tahan, Kakang!” seru Putri Sri Rahayu cepat sambil ulurkan tangan kanannya ke depan.


Joko pun berhenti mendadak.


“Ingat, aku masih wanita berkulit racun!” kata Putri Rahayu.


“Hahaha! Maklum, aku sudah terbiasa memeluk perempuan,” kata Joko sambil tertawa.


“Bagaimana kau bisa merindukan aku di saat kau berada di antara istri-istrimu yang cantik-cantik?” tanya Putri Sri Rahayu dengan tatapan curiga.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang. “Rindu dan cinta itu bukan seperti benda keras, yang jika diberikan sebagian kepada satu orang maka ia akan berkurang. Cinta dan rindu itu seperti udara, jika ruangannya ditambah lebih banyak, maka ia akan semakin banyak.”


“Semakin lihai lidahmu bicara cinta, Kakang,” kata Putri Sri Rahayu. “Ayo, waktunya kau bertemu dengan Ayah dan Ibu!”


“Ayo!” seru Joko sambil menyambar tangan Putri Sri Rahayu yang tertutupi oleh kain tangan bajunya.


Joko menarik dan membawa Putri Sri Rahayu berlari keluar dari ruang penjara itu. Keduanya lalu melompat jauh dan terjun bebas menuju bawah yang tidak terlihat dasarnya.


“Hahaha…!” tawa Joko Tenang dalam luncuran jatuhnya.


“Hihihi…!” tawa Putri Sri Rahayu dengan posisi tengkurap di udara dan batang tangan tetap dipegang oleh Joko.


Mereka berdua seperti penerjun payung yang lompat dari atas pesawat tanpa parasut di punggung.


Kaaak!


Tiba-tiba terdengar suara koakan Gimba. Dan tahu-tahu di bawah mereka muncul bentangan sayap Gimba yang lebar, menyambar tubuh keduanya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2